
3 bulan kemudian…
Kehidupan biasa saja kini menjadi luar biasa bagi seorang Bianca. Bagaimana tidak, wanita karir berubah menjadi seorang ibu rumah tangga yang mengasuh seorang balita.
Bia rela melepaskan jabatannya di perusahaan yang telah dirintis oleh mendiang ayahnya lalu menyerahkan kepada Nathan, mungkin itu adalah pilihan yang tepat untuk Bia saat ini mengingat Bia sering sakit.
Ya, akhir akhir ini Bia sering pusing dan mual. Imun tubuh Bia saat ini sedang menurun, mungkin karena kelelahan bekerja siang dan malam.
Siang bekerja di kantor, malam bekerja di kamar, begitulah kegiatan Bia selama 3 bulan ini.
Bia sangat menikmati hidupnya saat ini, apalagi sosok Nathan yang mampu memanjakan dirinya, serta Aura yang kini sudah aktif belajar berjalan.
Suasana dingin seperti menusuk tulang belulang namun tak membuat Bia beranjak dari balkon kamarnya. Ia menatap kearah bintang yang tengah berpijar. Bia yakin itu adalah ayah dan ibunya. Bia meyakini hal itu karena sang ayah pernah mengatakan bahwa diantara bintang yang paling terang itu adalah orang yang tengah merindukan kita.
Tangan Bia tak sampai untuk menggapai. Andaikan saja ayahnya masih berada disampingnya saat ini, mungkin dia akan bahagia melihat anak semata wayangnya sudah hidup bahagia bersama keluarga kecilnya.
Nathan yang baru memasuki kamar tertegun melihat Bia menatap hamparan langit malam.
"Bia… Masuk! Angin malam tidak bagus untuk kesehatanmu," ujar Nathan.
Bia seketika menoleh. Ia tersenyum saat melihat Nathan hanya mengenakan kimono baju tidur. Sama dengan dirinya.
"Iya." Dengan patuh Bia menutup pintu balkon dan menghampiri Nathan yang hendak beranjak tidur.
"Nath," panggil Bia mesra.
Nathan hanya menautkan alisnya melihat gelagat Bia yang sedikit aneh menurutnya.
"Kenapa? Mau di goyang lagi?" seloroh Nathan.
Bia langsung melemparkan pukulan kecil di lengan Nathan membuat sang empu mengaduh kesakitan.
"Sakit tau, Bi."
"Kamu sih, kalau ngomong ngasal aja," gerutu Bia.
Melihat ekspresi Bia tak bersahabat, Nathan tahu jika Bia memang tidak ingin di goyang malam ini.
"Kamu kenapa? Sakit kepala lagi? Atau merasa mual lihat aku disini?" tebak Nathan.
Sudah hampir satu minggu Bia mengatakan bahwa sering tiba tiba pusing lalu akan mual saat berdekatan dengan Nathan namun, semua itu akan hilang jika keduanya saling bergelut diatas ranjang saling menyalurkan hasratnya.
"Nath… Pengen makan nasi goreng," rengek Bia.
Seketika Nathan mengerutkan dahinya saat melihat jam di atas nakas menunjukkan pukul 10 malam. Yang benar saja? permintaan macam apa ini? Nathan hanya mampu mengumpat dalam hati.
"Tapi Bi… Udah malam." protes Nathan.
__ADS_1
"Kamu tau gak sih, aku lagi gak bisa tidur. Sekilas pengen nasi goreng. Buatun ya," rengek Bia dengan manja.
Eh, sejak kapan Bia menjadi sosok yang manja? Ah, semenjak kesehatan menurun Bia semakin aneh aneh saja permintaannya.
"Aku goyang aja ya biar bisa bobok. Kan biasa gitu, main goyang goyangan langsung tepar deh," bujuk Natah.
Bukan Bia jik tidak bisa menaklukkan Nathan. Dengan terpaksa Nathan turun ke dapur untuk memenuhi keinginan Bia yang terus saja merengek seperti anak kecil. Padahal Aura saja tidak mengkek seperti Bia ini.
Bia senantiasa mengikuti Nathan kemana pun Nathan bergerak hingga membuat Nathan sedikit kesusahan dalam memasak nasi goreng.
"Bi, kamu tunggu aja di meja. Kalau nempel terus kapan siapnya?" protes Nathan.
"Tapi aku maunya nempel kayak gini." Dengan suara manja Bia bergelutan manja di salah satu lengan Nathan hingga membuat Nathan kesusahan untuk bergerak.
Hampir 30 menit pekerjaan Nathan baru selesai karena ulah Bia. Jika Bia tidak mengganggu maka 5 menit pun sudah jadi.
Nathan menghidangkan permintaan Bia. Dengan mata berbinar Bia segera melahap nasi goreng buatan Nathan.
"Pelan pelan, aja," seru Nathan.
Bia melahap dengan sangat bergirah, seolah oleh dirinya sedang berebut makanan dengan orang lain.
Lagi lagi Nathan harus mengernyitkan dahinya saat Bia sudah siap menyantap hingga kandas, hal itu membuat Nathan menggelengkan kepalanya.
"Serius kamu Bi?"
_____
Semenjak Bia memilih melepaskan jabatannya, ia lebih sering menghabiskan waktu bersama dengan Aura.
"Papa."
Bahkan Aura sudah bisa memanggil Nathan dengan jelas.
Melihat Nathan, Aura segera tertatih untuk menghampirinya dengan Bia yang dengan sigap berada di belakang Aura.
"Papa." Lagi lagi Aura berceloteh membuat Nathan semakin merasa gemas terhadap Aura.
"Aura mau mamam?" tanya Nathan.
"Mam mam." Aura menunjuk ke dalam rumah.
"Aura udah makan tadi," sela Bia.
Nathan yang menggendong Aura segera mengalihkan pandangannya kepada Bia yang wajahnya terlihat sedikit pucat. Padahal tadi malam dia habis makan banyak. Apakah Bia sakit?
"Kamu sakit, Bi?" Nathan segera menempelkan telapak tangan ke kening Bia.
__ADS_1
"Tidak panas," gumam Nathan.
"Aku gak papa kok Nath, mungkin sedikit kelelahan saat menjaga Aura aja."
Nathan pun mempercayai ucapan Bia.
Sebelum Nathan berangkat ke kantor, Nathan memberikan pesan panjang lebar agar Bia tidak memaksa diri untuk menjaga Aura. Selain ada mbak Lia, Aura juga telah memiliki seorang suster yang menjaga Aura. Dasar Bia nya saja yang keras kepala ingin selalu ada dalam setiap gerak gerik Aura.
"Ingat kan?"
"Bia mencium telapak tangan Nathan. "Iya. Aku ingat kok. Kamu jangan pulang malam ya! Kalau pulang bawa martabak manis, yang manis kaya aku," pinta Bia.
"Tapi Bi, aku gak bisa pulang cepat. Nanti malam ada dinner bersama CEO PT RAPI tapi tenang aja, pesankan kamu aman kok."
Sedikit merasa kecewa namun Bia sadar betul itu adalah konsekuensinya dengan kedudukan Nathan saat ini. Sama seperti dirinya saat itu, bahkan Bia telah khatam pahit manis saat menjabat sebagai seorang direktur.
Sepeninggal Nathan, Bia tidak kuasa lagi untuk menahan gejolak dalam perutnya. Setelah memberikan Aura kepada susternya, Bia segera berlari menuju kamar mandi untuk mengeluarkan cairan bening dari perutnya.
Bia sudah menahan saat Nathan menghampirinya, namun karena tidak ingin membuat Nathan cemas, Bia menahan rasa mualnya.
Disaat bersamaan mbak Lia datang dan melihat Bia yang semakin pucat.
"Astaga, Nyonya Bia," seru Mbak Lia.
Tubuh Bia sudah melemas, untung saja mbak Lia dengan sigap menahan tubuh Bia. "Nyonya sakit? Saya panggilkan dokter Mada ya."
Dengan segera Bia menolak. "Jangan Mbak. Aku gak mau Nathan kepikiran. Karena saat ini Nathan sedang memperjuangkan proyek yang ada di Bali," ujar Bia.
"Tapi Nyonya…."
"Mbak Lia dengerin aku. Aku gak papa, mungkin hanya kelelahan saat bermain dengan Aura. Dan memang mbak Lia tahu kan kalau aku kurang fit?"
Lia akhirnya mengalah dan membawa Bia ke kamarnya agar bisa beristirahat.
Sebenarnya dalam hati Lia merasa penasaran dengan kesehatan Bia yang dianggapnya tidak wajar. Bagaimana tidak, suhu tubuh Bia normal, selera makan Bia juga normal, hanya saja saat pagi ia harus mengeluarkan cairan yang ada di dalam perutnya. Ingin rasanya Lia memanggil dokter Mada untuk memeriksa Bia namun kembali lagi kepada ucapan Bia tadi, bahwa itu hanya akan membuat Nathan khawatir dan mengganggu pekerjaannya.
.
.
.
.
Rasanya pengen Up untuk besok pagi, tapi aku lagi berbaik hati jadi up sekarang.
Tahu gak pukul berapa sekarang?
__ADS_1
pukuk 23: 30 WIB lho, 🙄🙄
Astaga... 🤧🤧 mana nih jejak kalian untu Author remahn ini?