Bukan Pernikahan Impian

Bukan Pernikahan Impian
Kekhawatiran Bia


__ADS_3

Ponsel Nathan berdering. Ia menautkan alisnya kala melihat siapa yang menghubunginya.


"Rafa," lirih Nathan. Tumben, batin Nathan.


Nathan segera mengangkat panggilan tersebut. Di ujung ponsel sana tanpa basa basi Rafa segera menanyakan keberadaan Tuannya. Pasalnya siang in akan ada pertemuan penting dengan seorang klien.


Nathan pun mengernyit. Bukankah Anyer sudah ke kantor setelah mengantar Bia?


"Memangnya Tuan Anyer pergi kemana?" tanya Nathan.


"Kalau aku tahu tak mungkin aku menanyakan kepadamu. Yang aku tahu tadi pagi beliau menyuruhku menghandle pekerjaan kantor. Tetapi pertemuan ini tidak bisa di wakilkan," jelas Rafa.


Bia yang mendengarkan percakapan kedua ajudan tersebut merasa penasaran kemana perginya Anyer setelah mengantarkan dirinya.


"Kenapa tidak kamu telepon saja? Malah menelepon kesini. Kan kamu itu tangan kanannya, bukan saya."


"Ah sudahlah, tidak ada gunanya menelepon dirimu." kesal Rafa kemudian mematikan ponselnya sepihak.


Nathan pun meletakkan kembali ponselnya. Bia masih menatap Nathan dengan sejuta rasa penasaran.


"Anyer hilang?" tanya Bia.


"Mana mungkin Tuan Anyer hilang. Siapa yang mau menculiknya?"


.


.


.


.


Anyer menuruti kemauan Mela. Ia pun menebus Mela dari Madam Rena yang menjadi mucikari Mela selama ini.


Sungguh di luar nalar. Bahkan ia belum sempat menyentuh tubuh istrinya kini tubuhnya sendiri sudah ternoda oleh seorang ******.

__ADS_1


Mela merasa sangat puas bisa keluar dari tangan Madan Rena yang hanya menikmati hasil kerjanya saja. Sedangkan Mela hampir tak diberikan uang hasil kerjanya dengan alasan hutang orang tuanya masih belum lunas.


Mela yang malang harus terjun ke dalam kubangan lumpur penuh dosa. Madam Rena menjual Mela pada lelaki hidung belang dengan harga tinggi karena Mela saat itu masih tersegel.  


Menjalani pekerjaan menjijikkan seperti ini bukanlah kemauan Mela namun, keadaan yang membuatnya seperti ini hingga membuat Mela menjadi candu akan penjelajahan.


"Sudah puas?!" sentak Anyer setelah berhasil menembus Mela.


"Galak banget sih. Tapi aku suka. Kamu terlihat lebih menggoda."


"Tutup mulutmu! Sekarang serahkan rekaman itu dan pergilah dari hadapanku sekarang juga!" bentak Anyer.


Mela tak ingin menyerah. Bagaimanapun ia harus tetap bisa bertahan hidup. Dan suatu keberuntungan bahwa lelaki yang ia jadikan sasaran adalah seorang Anyer yang mempunyai kekuasaan di penjuru Negeri ini.


"Baiklah aku akan menghapusnya tetapi… Bisakah kamu memberikan tempat tinggal untukku? Kamu tahu kan aku tidak mempunyai siapa siap?" 


Lagi lagi  Anyer memijit pelipisnya. Oh Tuhan cobaan apa ini?


"Kalau kamu tidak mau aku akan…."


Mela melirik Anyer dan segera menghapus video panasnya. Baiklah misi pertama berhasil. Mela tertawa ria dalam hati.


Sementara itu Bia dan Nathan juga berusaha menghubungi Anyer tapi sayang ponsel Anyer tidak aktif. 


"Nath, kita cari kemana?" Bia terlihat panik.


Nathan yang mengemudikan mobilnya mencoba untuk menenangkan Bia. 


"Bu Dir, tenang ya. Tuan Anyer sudah besar mungkin beliau mempunyai urusan lain."


Bia hanya menatap keluar jendela. Pikirannya tidak tenang. Ia takut akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


Mobil telah terparkir di halaman rumahnya. Bia segera turun dari mobil untuk memastikan bahwa Anyer ada di dalam rumah.


"Mbak Lia…." panggil Bia 

__ADS_1


Lia yang mendengarkan namanya dipanggil segera menghampiri asal suara tersebut.


"Nyonya… Ada apa?" 


"Mbak Lia lihat Anyer di rumah?" tanya Bia tanpa sadar.


"Lho bukannya tadi berangkat bersama nyonya?" 


Bia segera mengecek kamar. 


Nihil, tak ada sosok Anyer di dalam sana.


"Nath, kita cari dimana?" 


Sungguh hati Nathan ikut sedih melihat Bia seperti ini. Baru saja tadi ia melihat keceriaan sang atasan kini Nathan harus menyaksikan kepanikan Bia untuk mencari sosok Anyer. Padahal Anyer sudah besar dan mempunyai kekuasan di Negeri ini. Jika ada apa apa tinggal telepon saja, kan beres.


Satu jam berlalu, Nathan berusaha keras untuk menghibur Bia dengan membawanya ke taman terdekat. Meski suasana masih terik tetapi pepohonan rindang membuat suasana dingin.


"Bu Dir, sejak kapan anda menjadi kacau seperti ini hanya masalah seorang laki laki. Jujur saya sangat kecewa kepada anda. Ini bukanlah Bu Dir yang saya kenal." keluh Nathan. 


Lelaki itu menatap nanar wanita yang berstatus sebagai atasanya tersebut. Wanita yang tidak pernah mempunyai kekasih selama memegang perusahaan. Wanita yang tegar dan kuat kini pupus hanya demi seorang Anyer yang bahkan Nathan ketahui bahwa Anyer masih mempunyai kekasih.


Malam pun tiba. Lelah dengan pikirannya Bia memilih menunggu kedatangan Anyer di rumah bersama dengan Nathan. 


Nathan tak tega meninggalkan Bia dalam kekhawatirannya. 


Tepat pukul tujuh malam Anyer membuka pintu rumah mewah itu. Rumah milik keluarga istrinya. Miris bukan? Seorang suami menumpang hidup kepada istrinya. 


Jika iya, itu hanya Anyer.


"Anyer." Bia menatap Anyer yang baru saja memasuki rumah. Wajah lelah Anyer terlihat sangat jelas membuat Bia mengurungkan niatnya untuk menanyakan kemana saja ia dari tadi.


"Sudah pulang?" Bia mendekat namun, ia ragu untuk menyalam tangan Anyer seperti pada umumnya seorang istri menyambut kedatangan suaminya meskipun Anyer mengatakan ingin memulai dari awal.


"Aku lelah. Aku istirahat dulu ya." Anyer tak kuasa menatap Bia setelah apa yang ia lakukan hari ini. Sungguh Anyer merasa malu pada dirinya sendiri. Masih pantaskah ia untuk Bia? Wanita apa adanya dengan sejuta kepolosannya?

__ADS_1


 


__ADS_2