
Terlihat Aura tengah membangunkan Bia. Sebuah tepukan kecil mengenai pipi Bia membuatnya harus terbangun dan membuka matanya.
Ia bahkan terkejut saat melihat Aura telah berada di kamarnya, sementara Nathan masih tertidur dengan memeluk sebuah guling.
"Aura?" gumam Bia.
Bia pun segera menarik tubuh mungil anak itu lalu menghujani dengan ciumannya.
Tak ada penolakan, bocah kecil itu malah semakin tertawa membuat Nathan sedikit terusik.
"Sayang, bangunin papa," bisik Bia pada bocah kecil yang mungkin belum paham akan perintah.
"Papapa," celoteh Aura.
Bia mengangguk sambil memberi sebuah arahan untuk mencubit hidung Nathan.
Dengan gerakan merangkak Aura segera menghampiri Nathan yang masih memejamkan matanya. Sesuai gerakan yang Bia contohkan, Aura pun segera mengikuti Bia untuk mencubit hidung Nathan.
Nathan mulai mengerjap saat merasakan sesuatu yang tengah menepuk nepuk hidungnya. Saat hendak menarik tangan tersebut Nathan baru sadar jika itu tangan Aura.
"Sayang… Papa masih ngantuk," lirih Nathan.
"Papa harus bangun. Kata Mama, cuti Papa sudah habis." Bia membuat suaranya bak seperti anak kecil membuat Nathan menahan tawanya.
"Kenapa melihat seperti itu?" Bia heran saat melihat Nathan terus menatapnya.
"Meskipun baru bangun tidur, kamu masih aja tetap cantik. Sungguh aku sangat beruntung." Nathan segera mendekat ke arah Bia lalu melayangkan sebuah kecupan singkat pada keningnya.
"Selamat pagi istriku."
Bia tersipu malu. Beginilah rasanya saat sebagai seorang istri yang sesungguhnya. Mendapatkan perlakuan hangat dan penuh cinta.
Saat malam ada yang mengucapkan selamat malam begitu juga saat pagi.
Tiba tiba saja Aura datang untuk menjatuhkan tubuhnya dalam tubuh Bia yang masih berbalut selimut tebal. Sontak mata Bia dan Nathan saling menatap sebelum mereka memeluk tubuh mungil Aura.
..._____...
Bia menuruni tangga bersama dengan Nathan yang menggendong Aura dengan satu tangannya, sementara satu tangannya menggandeng tangan Bia.
Pagi ini perasaan Bia sangat berbunga. Terlihat dari wajahnya yang berseri.
"Pagi Nyonya, ini ada paketan untuk anda. Tetapi saya tidak tahu siapa pengirimannya karena tidak ada nama sang pengirim." Lisa memberikan sebuah kotak berwarna coklat.
"Ini apa, Mbak?" tanya Bia.
"Tidak tahu, Nyonya."
Meski penasaran Bia lebih memilih meletakkan kotak tersebut di atas meja.
Nathan meminta untuk sarapan terlebih dahulu. Sementara Aura sudah berada di tangan Mbak Lia.
__ADS_1
"Makan yang banyak biar bertenaga," ujar Nathan.
"Tanpa makan banyak aku sudah bertenaga. Kamu tidak tahu jika badanku sudah hampir melar seperti ini."
Nathan dan Bia menikmati hidangan yang telah tersaji di atas meja.
Setelah selesai sarapan, Bia merasa sangat penasaran dengan paketan yang ditujukan untuk dirinya.
Mungkin dari salah satu teman?
Ah, Bia lupa jika dirinya hampir tidak punya teman. Lalu siapa yang mengirim paketan itu? Karyawan kantor? Mungkin saja.
Perlahan Bia membuka bungkus dengan perasaan bahagia namun, setelah Bia melihat apa isinya Bia langsung menjerit dan melemparkan kotak tersebut.
"Aaaa…." teriak Bia.
Hal itu membuat Natan segera menghampiri Bia dengan penuh khawatir.
"Astaga…." pekik Nathan tak kalah heboh.
Nathan segera mendekap tubuh Bia untuk menenangkan.
Sebuah kotak berisi bangkai anak ayam yang berlumur darah serta sebuah surat bertuliskan Kalian harus membalas atas perbuatan kalian!!
"Tenang, Bi." Nathan terus memeluk erat Bia. Sementara Bia mencengkram kemeja Nathan dirinya masih merasa sangat ketakutan.
Mendengar teriakan Bia, Mbak Lia langsung berlari menuju ruang tengah dimana Bia dan Nathan saling memeluk
Tak kalah heran, mbak Lia juga hampir menjerit namun, ia segera menutup mulutnya.
"Mbak Lia panggil satpam untuk membereskan semuanya. Jangan tinggalkan Aura sendirian," titah Nathan pada Lia sebelum membawa Bia naik ke lantai atas.
Bia masih menyembunyikan wajahnya dalam ceruk leher Nathan. Entah apa salahnya hingga ada orang yang tega kepadanya mengirimkan sesuatu yang membuat Bia sangat ketakutan. Jika dilihat lagi, selama ini Bia tidak mempunyai musuh. Bahkan dengan rekan bisnisnya Bia merasa tidak mempunyai masalah.
"Nath, aku takut," lirihnya pada Nathan.
"Tenang. Ada aku disini. Kamu jangan khawatir. Semua akan baik baik saja."
Nathan menarik selimut hingga menutupi dada Bia. Kali ini pikiran Nathan juga semakin tidak tenang. Ia segera mengambil ponsel lalu mendial nomor yang telah tersimpan di sana.
"Aku butuh bantuan kalian lagi." Hanya itu yang Nathan ucapkan sebelum mematikan ponselnya.
"Nath, kamu mau kemana?" rengek Bia.
Nathan yang hendak berdiri di tahan oleh Bia.
"Aku hanya ingin mengecek CCTV sebentar."
Bia menggeleng. "Tidak. Kamu tidak boleh pergi kemana mana. Kamu harus ada disini. Aku takut."
"Iya. Aku tidak akan pergi kemana. Tapi kamu harus tenang. Oke."
__ADS_1
Bia menuruti ucapan Nathan.
Sungguh Nathan tidak tenang jika ada seseorang yang hendak meneror rumah tangganya yang belum genap 2 hari.
Nathan berpikir keras atas peristiwa yang baru saja terjadi. Apakah ini adalah ulah salah satu karyawan yang bermain kucing kucingan saat itu. Dimana mungkin mereka merasa dendam karena Nathan membongkar penggelapan dana saat itu.
Nathan menatap Bia yang sudah mulai terpejam. Dengan gerakan pelan, Nathan melepaskan genggaman tangan Bia. Ia tidak bisa tenang jika belum menemukan sang pelaku.
...____...
Mobil yang dikendarai Nathan telah berhenti di sebuah gedung yang menjulang tinggi. Sebelum turun, ia memang kaca mata hitamnya seperti biasanya. Karena itu adalah ciri khas dari Nathan.
Tak seperti biasanya, kini para karyawan membungkuk hormat saat Nathan melewati mereka. "Selamat pagi, Pak."
Sebenarnya Nathan sangat tidak nyaman dengan keadaan seperti ini. Dengan seperti ini menimbulkan jarak antara Nathan dengan karyawan lainnya.
Kali ini Nathan memasuki ruangan Bia karena memang ada yang harus dikerjakan. Tak berselang lama, Dila datang dengan membawa setumpuk file untuk meminta bubuhan tanda tangan Bia.
"Pak, ini laporan anggaran kita untuk bulan ini. Sebenarnya ini harus ditandatangani oleh Bu dir. Oh, iya Bu dir dimana? Apakah itu tandanya Bu dir kalah?"
Nathan menatap Dila tajam. "Kamu bisa bicara baik tidak?" tanya Natan.
"Maaf Pak."
Setelah membaca dengan teliti terpaksa Nathan menandatangani file yang di bawa oleh Dila. Namun hanya satu yang tidak Nathan tanda tangani. "Aku tidak bisa menandatangani ini. Biarlah Direktur yang menandatanganinya."
Dila mengambil kembali map. "Apa ada kenadaa? Biar saya revisi?"
"Tidak. Aku hanya merasa itu bukan wewenang."
Dila pun mengangguk lalu berundur diri meninggalkan ruangan Nathan.
"Aku jadi penasaran, siapa yang sudah berani meneror kami," gumam Nathan.
Sementara itu di dalam kamar Bia kembali menjerit lagi saat terbangun dari tidurnya. Apalagi melihat sosok Nathan sudah tidak ada.
"Nath," panggil Bia.
Mendengar teriakan Bia, lagi lagi Mbak Lia segera menuju kamar Bia. Dengan terpaksa ia harus membawa Aura masuk kedalam kamar karena tidak ada yang menjaga Aura.
"Ada apa Nyonya?" Lia ikut panik.
"Dimana Nathan, Mbak?" tanya Bia.
"Tuan Nathan sudah berangkat ke kantor tadi, Nyonya."
Mata Bia seketika menangkap bocah mungil yang sedang bersama dengan Lia. Tiba tiba saja hatinya tergerak untuk menggendong bocah tersebut.
Saat ini Aura bisa menenangkan hati Bia yang tengah gelisah.
Namun, dalam relung hatinya Bia masih mengingat jelas isi surat tersebut. Sebenarnya siapakah yang sedang memiliki dendam terhadap dirinya.
__ADS_1
Apakah Rico, ayah Aura?
Hanya Author yang tahu, batin Bia.