
Bia menyesali keputusannya untuk berangkat satu mobil dengan Anyer. Tak ada percakapan atau musik yang bisa di dengar. Rasa canggung membuat keduanya terdiam. Sama sama gengsi untuk menyapa meski terkadang keduanya masih suka mengejek.
Anyer sengaja menjalankan mobilnya dengan kecepatan rendah mengingat jalanan juga sudah macet. Beberapa kali Bia harus mendesah karena mobil harus sabar menunggu mobil di depannya berjalan lagi.
"Kapan sampainya?" gerutu Bia.
"Nanti juga sampai," sahut Anyer.
Posisi duduk Bia sudah tidak nyaman. Sungguh ia benar benar ingin cepat sampai di kantor. Ia juga harus menyiapkan beberapa file yang harus dibawa saat meeting nanti.
Anyer hanya melirik sekilas. Dirinya pun juga sama dengan Bia. Sebelum meeting ia harus menyelesaikan beberapa pekerjaan di kantor.
Ponsel Bia berdering. Siapa lagi yang akan menghubungi Bia jika bukan Nathan.
Bia segera mengangkat. Terdengar suara panik dari seberang telepon.
"Bu dir dimana? Saya hanya ingin mengingatkan jika kita akan ada meeting pagi ini. Semoga anda mengingatnya."
"Kamu pikir aku sudah pikun. Aku juga tahu, Nath. Ini juga masih di jalan, macet. Sudahlah dari kamu sibuk menungguku, siapakan saja file file yang akan di butuhkan untuk nanti. Sebagian file ada di ruanganku."
"Baik Bu dir. Serahkan semua kepada saya."
Anyer melirik Bia yang mematikan ponsel dengan rasa kesal.
Tak lama kemudian, Anyer juga merogoh ponselnya yang berada di saku. Dengan segera ia menyodorkan ke arah Bia.
Bia menakutkan alisnya tak mengerti.
"Mahal bengong. Cepat ambil, saya sedang nyetir," ujar Anyer.
Dengan canggung Bia segera mengambil ponsel Anyer.
"Telepon Rafa sekarang!" perintah Anyer.
Lagi lagi Bia mengerut sambil memandangi ponsel Anyer yang sudah berada di tangannya.
Anyer mendesah pelan.
"6969 itu passwordnya."
Mata Bia terbelalak seketika saat mendengar kode yang diberikan Anyer kepadanya. Bahkan ia juga bergidik geli.
__ADS_1
"Kenapa?" ketus Anyer.
"Dasar mesum," cibir Bia pelan.
Anyer masih fokus dengan jalanan di depannya. "Sepertinya otak kamu yang terlalu mesum."
"Jelas jelas kamu yang mesum." Bia tetap tak ingin kalah.
"Bagaimana kamu bisa beranggapan kalau itu angka mesum? Sudahlah. Cepat telepon sekarang!" titah Anyer lagi.
Dengan nurut, setelah menekan angka yang disebutkan oleh Anyer, Bia segera mencari kontak Rafa kemudian menekan panggilan telepon.
Setelah tersambung, Bia segera menyerahkan kembali kepada Anyer namun, Anyer malah melotot ke arah Bia.
"Kamu tau kan saya sedang menyetir? Pegang dan dihidupkan loudspeakernya!" titah Anyer.
Dengan malas, Bia menuruti kemauan Anyer. Setelah panggilan tersambung, Anyer segera menurunkan perintah kepada Rafa. Ternyata Anyer menyuruh Rafa untuk menghandel pekerjaan di kantor pagi ini dan menyiapkan berkas keperluan meeting.
Anyer memilih langsung ke hotel dimana akan diadakan meeting.
"Kamu serius ingin kesana sekarang?" tanya Bia memastikan.
Anyer mengangguk. "Iya. Jadi kamu berharap kita pergi kemana dulu? Bukankah kita sudah sarapan?" tanya Anyer balik.
"Kenapa harus takut. Tinggal bilang kalau kamu istri saya."
Bia terkekeh pelan. "Istri?" cibir Bia.
"Kamu gak takut kalau akan menjadi trending topik pekan ini? Bagaimana dengan Lisa pasti dia akan sangat kecewa." lanjut Bia.
Anyer terdiam enggan membalas ucapan Bia. Ia memilih fokus pada keadaan jalan.
Begitu juga Bia. Merasa ada yang salah dengan ucapannya tadi, ia juga memilih diam.
Mobil yang Anyer kemudi telah masuk didepan semua hotel berbintang. Dan benar saja, disana juga sudah ada beberapa kameramen yang siap membidik objek yang mereka butuhkan sebagai bahan gosip ataupun berita hot.
Setelah Anyer segera memasang kacamata hitamnya. Begitu juga dengan Bia. Setelah merapikan anak rambutnya dan juga memasang kacamata, ia pun turun dari mobil Anyer.
Tak butuh hitungan detik, Anyer dan Bia sudah disambangi oleh dua orang wartawan dan dua orang kameramen dan wartawan. Mereka siap menguliti apa yang dilihatnya. Karena selama ini Anyer tidak pernah terlihat menggandeng wanita manapun. Dan kali ini ada seorang wanita bersamanya.
Anyer segera menarik tangan Bia. Lalu menutup kepala Bia dengan jasnya. Bia sangat terkejut. "Apa yang kamu lakukan, Anyer!" sentak Bia.
__ADS_1
"Sudah kamu nurut saja. Ada wartawan sedang menuju kesini. Kamu sini merapat. Ingat, kamu jangn banyak gerak," ancam Anyer.
"Tapi An…" Bia belum sempat melanjutkan protesnya, tubuhnya sudah di seret mendekat. Anyer melingkarkan tangan ke pinggang Bia. Sebisa mungkin Anyer berusaha menutupi identitas Bia.
"Tuan… Tolong beri kami waktu sebentar," ujar wartawan.
Anyer menghentikan langkahnya. "Maaf kami sedang buru buru," tolak Anyer.
Meskipun wartawan mendapat penolakan dari Anyer, mereka sudah berhasil mengambil beberapa foto Anyer yang tengah memeluk Bia. Tak hentinya wartawan menjepret poto mereka.
"Tuan tolong sebentar saja. Apa ini kekasih anda?"
"Tuan… Tolong jawab sebentar!"
Anyer sama sekali tak mengidahkn panggilan dari para wartawan. Kini dirinya dan Bia sudah masuk ke dalam hotel, sementara para wartawan di larang masuk.
Setelah kondisi aman, Anyer segera mengambil jasnya kembali. Bia mengerucut. Rambut yang sudah tertata rapi kini terlihat sudah acak acakan.
"Kamu apa apaan sih An? Lihat rambut ini berantakan lagi." keluh Bia.
"Iya iya. Sory."
Bia mendongak. Ucapan yang langkah keluar dari muluy Anyer. Tumben lelaki itu mau mengalah cepat.
"Dasar. Pagi tempe sore kedelai." cibir Bia.
"Tadi bisa bilang gak masalah kalau ketemu wartawan mau bilang kalau saya istrinya, tapi pas udah kedatangan malah berusaha buat menyembunyikan, Huh." lanjut Bia dengan sinis.
Sementara itu Anyer memilih diam. Ia tidak tahu jika keputusannya tadi adalah keputusan salah. Menyembunyikan sosok Bia. Anyer hanya takut jika ada yang melihat wajah Bia.
Bisa saja sebagai musuhnya akan memancing dirinya untuk menjatuhkan perusahaan melalui orang terdekat. Itulah mengapa Anyer menyembunyikan status pernikahan mereka.
"Saya hanya belum siap mempublikasikan." sanggah Anyer.
"Bilang saja kamu takut ketahuan kalau sudah menikah? Takut hubungan kamu dengan Lisa berantakan? Ngaku saja!" cibir Bia lagi
"Kamu…!" geram Anyer.
Bia malah berlalu. Entah mengapa pengakuan Anyer tadi membuat dadanya berdenyut. Atau mungkin dirinya saja yang merasa berlebihan menganggap status pernikahannya meski, ia tahu jika Anyer sama sekali tidak pernah menganggap pernikahan mereka.
"Tunggu!" teriak Anyer. Namun sayang, Bia tak merespon panggilan Anyer. Ia terus berjalan saja. Anyer yang tidak suka diabaikan segera mengejar langkah Bia.
__ADS_1
JAN LUPA TINGGALKAN LIKE DAN KOMEN TABUR BUNGA 🌹🌹 DAN KOPI ☕☕
SEMOGA YANG MENABUR KEBAIKAN MENDAPATKAN REJEKI YANG MELIMPAH. AMIN 🙏🏻