
..."Aku sudah berjanji...
...bahwa aku akan ...
...membuatmu...
...bahagia selamanya."...
...NATHAN...
Hai Author sapa diatas nih...
Tap like sebelum baca.
Tinggalin komen setelah baca sebab setiap satu like dan satu kata dalam kolom komentar adalah mood booster bagi Author remahan ini. Jadi please tinggalin jejak kalian 🙏🏻
Selamat Membaca...
Nathan dan Bia masih merasa canggung setelah kepergian wanita tersebut. Memilih masuk terlebih dahulu dan menyantap makan siang yang telah diantar, Bia masih enggan melihat Nathan karena rona pipinya telah bersemu. Begitu juga dengan Nathan, tak habisnya ia menggaruk tengkuknya. Jika boleh jujur Nathan merasa bahagia jika seandainya yang diucapkan oleh wanita itu adalah sebuah kenyataan yang ada namun, sayang itu hanya pandangan orang lain saja tanpa mengetahui fakta sesungguhnya.
"Bu dir, seperti saya harus memesan kamar lagi," ujar Nathan tiba tiba.
Bia yang masih mengunyah segara menatap tajam kearah Nathan. "Apa maksudmu?"
"Saya tidak ingin orang berpikir lain tentang… Tentang kita Bu dir." Nathan sedikit ragu.
Bia membuang nafas kasarnya. "Tidak boleh Nathan! Kamu dengar gak sih? Aku bilang tidak yak artinya tidak boleh. Ngerti 'kan?" tegas Bia.
Nathan hanya mampu menelan saliva. Jika saja posisi Nathan adalah suaminya, maka dengan senang hati Nathan mengiyakan permintaan Bia.
"Oke aku mengerti!" Bia menjeda ucapannya. "Untuk malam ini aja ya! Besok kita cari penginapan di kota. Bagaimana?" rayu Bia. Nada bicara Bia pun sudah melembut.
"Baiklah. Hanya malam ini saja ya!" tegas Nathan.
💐 💐 💐
__ADS_1
.
.
.
Pukul 3 sore Anyer baru tiba di kantor. Para karyawan dengan sopan memberi hormat kepada bos besarnya. Mereka menundukkan kepala tanda menghormati Anyer. Namun, ada yang janggal dalam tatapan mereka saat melihat Anyer datang bersama dengan seorang wanita yang lumayan cantik dengan rambut panjang serta rok yang terlalu tinggi belahan sampingnya.
Mela merasa sangat puas meski dengan jelas ia melihat tatapan tidak suka dari beberapa karyawan Anyer.
Setelah sampai di ruang kerja, Anyer segera memanggil Rafa.
"Rafa, sekarang Mela akan menjadi sekertarisku untuk sementara. Pastikan kamu jika Siska akan kembali bekerja setelah cuti melahirkan selesai!" Baru saja Rafa masuk, Anyer sudah menurunkan titahnya.
Sambil melihat ke arah Mela, Rafa memperhatikan Mela dari ujung kaki hingga kepala dan yang terakhir ia segera beristighfar saat menyadari penampilan sosok wanita tersebut.
"Siapa ini, Tuan? Dari mana anda mendapatkan ondel ondel seperti ini?" tanya Rafa polos.
Mela menatap Rafa sinis. Mungkin mata Rafa sudah rabun atau Rafa tidak pernah melihat seorang wanita yang cantik? Pikir Mela.
Untuk kali pertama Rafa melihat Mela ia sudah menunjukkan ketidaksukaannya kepada Mela. Dari aura yang Rafa lihat Mela terlihat mempunyai maksud lain dibalik semua ini.
Selama Rafa mendampingi Anyer, Rafa tidak pernah melihat Anyer membuat keputusan sepihak tanpa mendiskusikan kepada dirinya. Bahkan kadang Rafa yang harus menentukan keputusan tersebut. Lalu apa ini? Bahkan Rafa juga tidak mengenal siapa sosok Mela, sudah berapa lama mereka saling mengenal, bertemu dimana mereka. Rafa malah pusing memikirkan semuanya.
"Saya mengerti, Tuan. Tetapi… mengapa dengan mudah dia menjabat sebagai sekretaris? Masih banyak prosedur yang harus dilalui terlebih dahulu Tuan jika ingin menjabat sebagai sekretaris." Rafa memberi peringkat kepada Anyer.
"Aku atu kamu bos di sini?" tanya Anyer.
Baiklah, kali ini Rafa harus mengalah. Tetapi dia tidak ingin tinggal diam jika ternyata Mela mempunyai niat terselubung.
.
.
Setelah mandi, Bia keluar kamar untuk menikmati suasana menjelang malam di tepi pantai. Niatnya hanya ingin melihat dengan jelas keindahan pantai tersebut tetapi, Bia malah semakin terhipnotis untuk bermain air laut. Menunggu ombak kecil menyapu kakinya. Bia tertawa lepas saat dirinya di hantam ombak lalu tubuhnya oleng dan terjatuh. Disitu Bia juga di sapu oleh ombak darat.
__ADS_1
Nathan hanya mengamati keluguan Bia dalam bermain air. Kedua simpul bibirnya ia tarik lebar. "Bu dir, sudah cukup anda menanggung beban ini. Anda harus bahagia. Jika pada akhirnya Tuan Anyer tidak bisa membahagiakan anda. Saya adalah orang pertama yang akan maju membuat anda bahagia selamanya," lirih Nathan.
Sekilas Bia melihat Nathan sedang melihat ke arahnya dan Bia pun segera melambaikan tangannya memangil Nathan.
Merasa Bia memanggil tanpa bersuara, Nathan pun memastikan apakah memang dirinya yang tengah dipanggil Bia dengan cara menunjuk dirinya sendiri.
Bia di bawah sana pun segera mengangguk.
Nathan dan Bia tanpa sadar bak seperti anak kecil yang sedang diberi kebebasan oleh orang tuanya untuk bermain air.
Keduanya tertawa lepas dan saling melemparkan air hingga membuat pakaian mereka basah kuyup.
Semakin lama ombak pun semakin kuat menyapu daratan. Membuat kedua anak manusia itu memulih mengakhirinya.
"Nath, ombaknya semakin besar. Naik yuk!" ajak Bia.
Kaos Nathan yang berwarna putih pun sudah basah begitu juga baju Bia.
Dengan patuh Nathan mengikuti sang atasannya naik keatas. Sebenarnya dia pun juga sudah merasakan dingin.
Bia yang berjalan di samping Nathan harus bersusah payah menelan ludah kasarnya. Bagaimana tidak, Bia bisa melihat dengan jelas bentuk tubuh Nathan yang kekar. Apalagi bagian perutnya yang berbentuk kotak kotak. Seperti Nathan adalah lelaki yang rajin berolahraga.
"Bu dir anda kenapa?" Nathan menyadari bahwa Bia tengah senyum senyum tidak jelas. Pakaian basah Bia membuat bagian dadanya berbentuk dengan jelas.
Oh Tuhan cobaan apa lagi ini. Mengapa mata ini dengan cepat ternodai?
"Nath kamu gak kedinginan gitu?" tanya Bia asal.
Nathan menggeleng. "Tidak," dustanya.
Nathan tidak mengkin mengatakan sejujur bahwa ia sebenarnya telah merasakan kedinginan.
"Baguslah," lanjut Bia.
🍃🍃🍃 Bersambung 🍃🍃🍃
__ADS_1