
Anyer menunggu Bia dengan uring uringan. Waktu pulang kantor sudah lewat satu jam namun, hingga saat ini Bia belum juga sampai di rumah. Anyer sudah berusaha untuk menelepon tetapi panggilannya tak terjawab.
Saat ini juga Anyer harus menyusul Bia ke kantornya jika tidak, itu akan menjadi masalah besar baginya.
Namun, saat Anyer hendak mengambil kunci mobil, derap langka kaki nyaring terdengar. Anyer segera berbalik badan.
"Kamu dari mana?" todong Anyer.
"Saya dari kantorlah, masa dari sawah?"
"Jangan bercanda kamu, Bianca! Saya serius" sentak Anyer.
Bia yang baru saja pulang kerja sudah harus menahan amarahnya. Jujur ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi kepada Anyer.
"Saya serius, Anyer. Kamu kenapa sih?" tanya Bia. Sebisa mungkin Bia tak ingin bertengkar dengan Anyer. Tubuhnya sudah lelah untuk meladeni sikap Anyer yang kadang kekanak kanakan
"Jam berapa ini? Sudah lewat satu jam dengan jadwal pulang kantor. Kamu keluyuran kemana? Kamu tau tidak, malam ini oma menyuruh kita untuk ke rumah!" tegas Anyer.
Bia mengernyit. "Lalu apa hubungannya dengan saya? Kita kan tinggal pergi saja, apa susahnya sih," cibir Bia.
"Sudahlah, berdebat denganmu tidak akan ada habisnya! Cepat sana mandi, pakai pakaian yang bagus!" titah Anyer.
Bia melenggang meninggalkan Anyer.
Di dalam kamar, Bia malah merebahkan tubuhnya di ranjang. Pekerjaan satu hari kadang membuatnya merasa lelah. Sesekali Bia pernah mengeluh karena beratnya tanggung jawab yang harus ia emban. Namun, seketika ia menyadari jika itu semua memang harus dipertahankan.
Satu satunya aset peninggalan orang tuanya. Ah, mata Bia malah memerah kala mengingat sosok ayahnya. Bahkan Bia merasa ini semua hanya sebatas mimpi buruk baginya.
"Malah tiduran." Suara Anyer saat menemukan Bia diatas ranjang.
"Kita harus ke rumah papa, Bianca!"
__ADS_1
Bia bangkit dengan rasa malas. "Iya bawel, kamu tahu kan saya baru saja pulang kerja masih lelah. Beri waktu dong!" gerutu Bia.
Anyer menatap Bia tajam. "Kamu mau mandi sendiri atau mau saya mandikan sekarang?"
Bia segera meloncat. Pilihan macam apa itu. "Kamu jangan macam macam ya!"
Setelah kepergian Bia, Anyer malah menertawakan Bia. Padahal Anyer hanya iseng saja. Siapa juga yang mau memandikan anak perawan orang sembarang. Jika saja Bia memang memilih ingin dimandikan, sudah dipastikan Anyer akan kabur lebih dulu.
Setelah hampir setengah jam perjalanan, kini kedua pasangan muda itu telah sampai di rumah kebesaran Subardjo.
Anyer dan Bia sudah disambut oleh para pelayan di rumah itu.
Begitu sampai di dalam, ternyata kedatangan keduanya telah di nanti oleh anggota keluarga Anyer. Bia tersenyum kala mendapatkan sambutan hangat dari keluarga Anyer. Namun, hanya satu yang tak merespon kedatangannya dengan ramah. Yaitu sang mama mertua.
Sejak awal pertemuan, wajah Siska memang tak pernah menunjukkan senang terhadap Bia.
"Syukurlah kalian sudah datang. Oma pikir kalian nyasar." celetuk Oma.
"Ya, mana tahu aja. Soalnya semenjak menikah kamu tidak pernah menjenguk rumah ini."
"Sudahlah, Ma. Jangan buat mereka malu. Ayo, kalian pasti belum makan kan?" Aryo menggiring kedua pengantin muda untuk makan bersama.
Di meja besar telah tersaji berbagai menu masakan mewah bak seperti di sebuah restoran besar. Oma begitu baik, begitu juga Aryo. Namun, mengapa sangat berbeda dengan Siska yang tetap mengacuhkan dirinya.
Karena Bia anggota baru di dalam keluarga itu, Bia tidak banyak bicara. Ia hanya akan berbicara seperlunya saja.
Setelah selesai makan malam. Oma memerintah kedua pasangan muda itu untuk menunggu di kamarnya. Entah apa yang akan dibicarakan hingga harus berbicara di kamar.
Bia pun mengikuti langkah Anyer menuju kamar Oma. Sementara Siska merasa sangat penasaran, sebenarnya mertuanya akan membicarakan hal penting apa hingga private seperti ini.
"Kamu biasa aja. Oma tidak akan memakanmu," cibir Anyer.
__ADS_1
"Aku tahu," ujar Bia.
Setelah sampai di kamar oma, ternyata oma telah menunggu kedatangan keduanya.
"Sini duduk." Oma Risa menepuk sofa, memberi kode agar Bia duduk di sampingnya.
"Oma langsung saja, sebenarnya apa yang ingin oma bicarakan hingga harus berbicara di kamar?" tanya Anyer to the point.
Oma Risa menggeleng. Memang cucunya ini tidak pernah bisa sabaran.
"Oma jangan hiraukan dia. Oma sehat kan? Maaf ya setelah menikah kami belum sempat mengunjungi Oma. Oma tahu kan Bia dan Anyer, kami masih sama sama sibuk dengan pekerjaan kami," tutur Bia.
Oma Risa mengernyit. "Anyer?" Oma membeo.
"Jadi kamu memanggil suami kamu dengan sebutan Anyer?" lanjut oma lagi.
Bia tersentak kaget. Apakah pengucapan untuk Anyer salah. Padahal memang itu namanya. Bia menatap kepada Anyer untuk mendapat jawaban namun, sayangnya lelaki itu mengangkat kedua bahunya, seolah mengatakan bahwa ia juga tidak tahu.
Bia terdiam. Berpikir keras dimana letak kesalahannya.
"Kamu sudah menikah, tidak sepantasnya kamu memanggil suami kamu dengan sebutan nama. Kamu harus bisa menghormati suami kamu. Jika kamu memanggil suami kamu dengan sebutan nama saja, itu artinya kamu tidak menghargai suami kamu. Jadi oma minta tolong, ubah cara kamu memanggil suami kamu dengan panggilan Mas atau Abang, atau apalah. Yang penting tidak menyebut namanya secara langsung." Panjang lebar oma memberi wejangan hanya masalah Bia memanggil Anyer tanpa embel embel mas atau sebagainya itu.
Sungguh lucu bukan? Bia hanya mampu menahan tawanya.
"Iya Oma. Bia minta maaf. Mulai sekarang Bia akan memanggil cucu oma dengan sebutan Mas Anyer." Bia menatap Anyer seolah sedang mengejeknya.
**Jan lupa kasih Like dan komentar kalian dong.
Nah, kasih saweran juga lebih bagus lagi biar othor kentang ini makin rajin update.
Kalau kalian punya poin jangan pelit bagi sama othor ya 😊😊**
__ADS_1