
Membuang nafas kasar, Anyer memilih mengakhiri meeting siang ini dengan sebuah permintaan maaf.
Tak ada yang mengetahui apa yang telah terjadi namun, klain memakluminya.
Begitu juga Rafa yang tidak tahu apa apa. Atas perintah Anyer, Rafa menggantikan sebentar saat dirinya pergi.
Melaju dengan kecepatan tinggi, Anyer segera menuju rumah sakit yang terlah di beritahukan oleh ayahnya.
Dalam perjalanan ia menduga duga siapa yang sedang sakit. Pikiran utamanya menuju pada Oma. Tak ingin membuat kesalahan, Anyer menyalip kendaraan yang berada di depannya.
Setelah sampai, Anyer segera menuju ruangan yang di katakn ayahnya tadi.
Pintu terbuka. Semua mata mentap kearah Anyer. Begitu juga dirinya, menatap satu persatu yang ada dalam ruangan hingga pndangan terakhir berhenti pada sosok Wijaya yang terbaring lemah.
"Anyer, sini!" panggil Oma.
Dengan patuh, kaki Anyer melangkah menuju Oma yang berdiri di samping Wijaya.
"Pak, mari kita mulai sekarang!" titah Oma.
Bia dan Anyer tercengang kala keduanya di tarik bersamaan dan di dudukan di sebuah kursi yang telah disiapkan oleh Lia.
"Ini maksudnya apa?" tanya Anyer bingung.
__ADS_1
Begitu juga dengan Bia. "Mbak Lia, ini apa maksudnya?"
Aryo maju berdiri di sisi Wijaya seolah ada yang ingin di sampaikan namun, semua hanya tertahan di kerongkongan saja.
"Tenang Wi, kami berjanji akan menjaga putrimu," bisik Aryo.
Tanpa terasa mata Wijaya menerteskan air matanya. Perasaanya semakin lega jika ada yang akan menggantikan sosoknya dalam hidup Bia.
"Pah, Oma. Tolong jelaskan ada apa ini?" desak Anyer.
Tak ingin membuang waktu, Oma Risa segera menyuruh pak penghulu yang sudah mereka bawa untuk menikahkan Anyer di depan Wijaya yang tak terbaring lemah.
"Pak tolong segera nikahkn mereka!" perintah Oma Risa.
"Apa? Menikah?" Serentak mereka.
"Pa, Oma. Gak bisa begitu dong! Ma…" Protes Anyer.
Siska menggeleng. Kali ini ia tidak bisa membela anaknya meski sebenarnya ia tidak setuju.
"Non, ini semua adalah keinginan terakhir Tuan. Jadi saya mohon, demi Tuan," lirih Lia.
Bia hanya menatap wajah sang ayah hanya memberi anggukan lemah. Sementara tangannya terulur meraih tangan Bia dan Anyer.
__ADS_1
Keduanya hanya terdiam dan saling melempar pandangan.
Ingin rasanya Anyer memberontak tetapi, melihat Wijaya yang tak berdaya membuatnya merasa iba.
"Pah, katakan ini tidak benarkan?" Bia belum terima.
"Bagaimana ini bapak, ibu? Akan di lanjutkan atau tidak?" tanya penghulu yang sudah siap untuk menikahkan mereka.
"Jadi Pak," seru Oma.
"Nak, ini kami lakukan untuk membuat papa kamu bahagia. Katakan, kamu ingin membahagiakan papa bukan?" Oma Risa mengelus pundak Bia.
Mata Bia terasa panas. Meski ia memang berharap segera menikah tetapi, bukan dengan keadaan seperti ini.
Mbak Lia memberi anggukan, begitu juga Wijaya.
Akhirnya dengan tekad, Bia mengeluarkan nafas berat dan mengangguk.
Sementara Anyer, lelaki itu tak punya pilihan lainya. Ancama Oma pasti akan tetap berlaku yaitu, di coret dari daftar KK dan keluarga Subardjo.
Akhirnya sebuah pernikahan sah terlaksa meski dalam keadaan yang tidak di inginkan.
Hanya butuh satu tarikan nafas Anyer meminang Bia di depan Ayahnya.
__ADS_1
Semua menitihkan air mata, tak terkecuali dengan Wijaya. Akibat sebuah benturan di kepalanya mengakibatkan sebuah ganguan syarafnya hingga ia kesulitan untuk berbicara.