Bukan Pernikahan Impian

Bukan Pernikahan Impian
Bab 21


__ADS_3

Masih bagai mimpi buruk, Bia menangis sambil menggenggam tangan Wijaya. 


Tangan Wijaya terulur mengusap lembut rambut Bia. Ingin rasanya ia mengatakan Sudahlah! Jangan menangis, Nak!


Bia menatap ayahnya. Sebenarnya pikiran Bia penuh dengan pertanyaan. Kenapa ayahnya tidak bisa berbica lagi. Apakah ayahnya terkena Stroke?


Bia semakin curiga ada yang sedang disembunyikan darinya.


Menatap Lia, Bia membuang nafasnya beratnya.


"Mbak Lia, kita harus bicara!" Bia terlihat serius.


Lia mengangguk. Mengikuti langkah Bia meninggalkan rungan Wijaya.


"Ada apa Nyonya?" Lisa penuh sopan.


Menatap Lia tajam. "Jawab jujur! Sebenarnya papa sakit apa? Apa papa terkena Stroke?" Nafas Bia naik turun.


Lia mendadak tegang. Meski dugaan Bia salah namun, ia tetap merasa bersalah.


Menyembunyikan penyakit Wijaya yang sesungguhnya. Ingin ia katakan detik ini juga namun, Lia sudah terlanjur janji untuk tidak mengatakan apapun kepada Bia sampai waktu itu datang.Yaitu Kematiannya.


"Mbak Lia!" Panggil Bia.


Lia tersentak. "Ah, iya." gugup Lia.


"Aku yakin Mbak Lia sedang menyembunyikan tentang penyakit Papa!"  todong Bia lagi.

__ADS_1


Lia hanya mampu menelan saliva. Mulutnya terasa  berat untuk mengucapkan sepatah kata.


"Sebenarnya ada pembuluh darah yang pecah sehingga mengganggu kinerja sarafnya." Lia mengatakan sejujurnya tentang keadaan Wijaya namun, tidak untuk penyakit kankernya.


"Oleh sebab itu, Tuan mengalami kesulitan untuk berbicara," lanjut Lisa lagi.


Mendadak tubuh Bia merasa lemas. Hal semacam ia sama sekali tidak mengetahuinya. Lia benar benar kelewatan!


"Kenapa Mbak Lia gak bilang sama aku? Jujur aku kecewa, Mbak!" Bia merasa emosi.


"Maafkn saya Nyonya. Bukan maksud saya untuk menyembunyikan ini semua, tapi…. Saya tidak ingin menambah beban pikiran anda." Lia tertunduk lesu.


"Kalu Mbak Lia katakan sedari awal, aku pasti akan segera carikan dokter spesial untuk Papa." Bia menggeleng menahan amarahnya.


Lisa tak sedikit pun berani untuk menatap Bia. Ia bahkan tak sanggup jika suatu saat ia tahu penyakit ayahnya. 


Lia terbelalak. "Tapi Nyonya…. "


Bia menoleh. "Tapi apa?"


Lidah Lia terasa kelu. Ia tidak tahu harus bagaimana. Jika ia melarang pasti Bia akan mempertanyakan. Namun, jika Bia sampai mencari dokter spesial untuk Wijaya, sudahlah…. Semua pasti akan terungkap.


"Tidak ada Nyonya. Hati hati." Hanya itu yang mampu Lia ucapkan.


🌺 🌺 🌺


Dering ponsel Anyer berbunyi. Tertera di ponselnya Love is calling. Tak butuh waktu lama, Anyer mengangkat.

__ADS_1


"Iya sayang, ada apa?" tanya Anyer seketika.


Sang penelepon terkekeh pelan.


"Aku hanya ingin memastikan saja apakah kamu pulang ke rumah atau…. Menginap lagi di sini?" 


"Malam ini aku pulang ke rumah. Kamu tidak keberatan kan?" Anyer memastikan.


"Tidak sayang. Ya sudah, selamat bekerja. Ummmchh."


Terdengan sebuah kecupan di akhir kalimat sebelum panggilan benar benar terputus.


Aku harus menyelesaikan masalah ini secepatnya. Batin Anyer.


Anyer membereskan berkas sebelum ia meninggalkan ruangannya. Berhubungan sudah waktunya pulang kantor, Anyer ingin segera pulang ke rumah untuk mengistirahatkan penatnya.


Mendadak Anyer mengingat kejadian beberapa jam yang lalu. Ia menatap sebuah cincin yang telah tersemat di jari manisnya.


Seperti mimpi di siang hari.  Ia benar benar sudah menikah. Bahkan bukan dengan wanita yang ia cintai. Anyer tersenyum sinis. Detik itu juga ia teringat pada sosok Bia. 


Ah, pasti wanita itu sudah berada di rumahnya. Mengingat ia sudah berpesan kepadanya sebelum ia pergi.


"Jika bukan karena penerus keluarga ini, saya tidak akan menikahi wanita itu," guman Anyer.


Hayoo...


sampai sini gimana komentarnya?

__ADS_1


__ADS_2