Bukan Pernikahan Impian

Bukan Pernikahan Impian
Berakhir


__ADS_3

Sudah hampir satu jam Anyer gelisah menunggu kedatangn Bia. Wanita yang sempat ia abaikan tadi belum juga sampai di rumah. Berulang kali Anyer mencoba menelepon Bia namun, Bia mengabaikannya. Begitu juga dengan Nathan yang tidak mengangkat teleponnya.


Lia dan Juminten hanya mampu memperhatikan Tuannya saja tanpa berani untuk mengetahui mengapa Tuannya sedari tadi hanya mondar mandir di ruang tamu.


Tak lama, derap langkah seseorang terdengar. Anyer segera bergegas membuka pintu dan berharap itu adalah Bia.


Benar saja dugaan Anyer, Bia memang sudah pulang. Namun yang membuatnya mematung adalah saat Bia terlihat tertawa kecil bersama dengan Nathan.


Tiba tiba saja hatinya merasa nyeri melihat kedekatan antara Bia dan Nathan.


"Kalian dari mana jam segini baru pulang?" ketus Anyer.


Bia mendadak bungkam setelah mengetahui Anyer yang membukakan pintu seraya melipat tangannya di depan dada.


Bia acuh. Ia memilih mengabaikan pertanyaan yang menerut dirinya tidaklah penting. Sementara Nathan juga mengikuti langkah Bia yang mengacaukan Anyer.


Anyer merasa geram saat pertanyaan tak di tanggapi dan malah di acuhkan.


"Bia, sekali lagi saya bertany. "Darimana kalian jam segini baru pulang?"


Bia pun berhenti sambil melihat sebuah benda yang melingkar di pergel tanggannya.


"Ini baru pukul delapan, Anyer. Kamu tenang saja saya tidak akan melampaui batas. Saya tahu aturan kapan saya harus pulang."


"Bu dir, saya permisi. Ini tasnya." Nathan menyodorkan sebuah kerja tas berwarna hitam. 


"Hati hati Nath," ucap Bia.


Nathan mengangguk lalu meningkatkan rumah Bia.

__ADS_1


Anyer masih terdiam tidak percaya bahwa Bia bisa berbicara lembut kepada Nathan tetapi selalu ketus terhadap dirinya.


"Bia tunggu!" Anyer mulai mengejar Bia yang sudah menuju kamarnya.


Dalam hati Bia sudah bertekad untuk kuat. Bia yang selama ini hidup bukanlah Bia yang cengeng. Mungkin benar ucapan Nathan. Jika tidak bisa di pertahankan untuk apa tetap bersama.


Anyer sengaja menunggu Bia yang sengaja berlama di kamar mandi demi menghindari Anyer. Tetapi, ia juga merasa lelah dan ingin cepar beristirahat.


"Bia maaf atas insiden sore tadi."


Bia yang baru keluar dari kamar mandi masih tetap mengacuhkan Anyer. Ia memilih segera merebahkan tubuhnya di ranjang tempat tidur.


"Bi,  tolong dengarkan saya sebentar."


Anyer mencoba meraih tangan Bia namun, sayangnya Bia segera menghempaskan.


"Cepat katakan apa yang ingin kamu katakan! Saya lelah ingin segera beristirahat," ketus Bia lagi.


Anyer menatap nanar mata Bia. Mengapa baru sekarang Anyer menyadari sorot sendu mata wanita tersebut. Selama ini Bia mampu menutupi kelemahan dengan berpura-pura menjadi wanita kuat namun, nyatanya ia adalah wanita biasa yang menyimpan sejuta kerapuhan.


"Baiklah, saya minta maaf saya sudah melakukan banyak kesalahan. Bisakah kita sekarang memulainya dari awal lagi?"  Anyer sedikit ragu mengungkapkan apa yang sebenarnya ia inginkan.


Jujur ia sangat tidak rela melihat Bia memilih bersandar kepada orang lain, meskipun itu adalah Nathan.


Hati Anyer selalu tidak terima jika Bia selalu memilih Nathan sebagai tempatnya mengadu namun, Anyer juga tidak bisa menuntut Bia lebih banyak sebab, pernikahan yang mereka jalani hanya sebatas status belaka.


"Mulai dari awal?" Bia membeo.


Bia tersenyum sinis. Miris bukan? 

__ADS_1


Setelah melihat wanita pujaan hatinya jalan bersama lelaki lain, dengan mudahnya Anyer mengatakan ingin memulai dari awal.


Bia bukan wanita bodoh. Jika selama diam bukan berarti dirinya rela di  perlakuan seperti ini oleh Anyer. Ini semua demi untuk menjaga nama baik keluarga serta nama baik perusahaannya. Meski tak bisa di pungkiri Bia pernah mengagumi sosok Anyer dan sekilas menyukai dirinya namun sekarang semua perasaan tersebut Bia tutup lagi. Bia memang memiliki trauma dalam hubungan asrama, maka sebelum dirinya masuk telalu dalam ia memilih melepas perasaannya.


"Bianca, beri saya kesempatan untuk memperbaiki semuanya."


Bia menarik nafas beratnya. Pikirkan masih kacau.


"Untuk apa saya memberikan kamu kesempatan jika di hati kamu itu ada wanita lain. Apa kamu pikir saya ini orang yang bodoh? Selama ini saya memang diam namun bukan berarti saya mendukung sikap kamu. Jika memang dari awal kamu sudah mencintai wanita lain mengapa kamu menikahi saya? Kamu berhak untuk menolaknya saat itu."


Dada Bia naik turun mengatur nafasnya namun apa daya, cairan bening sudah lolos terlebih dahulu. Bia menghapus kasar jejaknya.


"Saya akan memberi kamu satu kesempatan dengan syarat. Tinggalkan Lisa lalu jadikan saya wanita satu satunya dalm hidup kamu. Namun, jika kamu tidak bisa melakukan itu, lupakan saya. Mari kita akhiri pernikahan ini.


.


.


.


.


Jreng...jreng.. jreng..


Tunggu selanjutnya.


Oh iya selagi nungggu kisah Bia dan Anyer coba kalian singgah dulu di novel yang berjudul : Bukan Istri yang sempurna Karya Husna_az


__ADS_1


__ADS_2