
Anyer sudah menunggu kedatangan Bia. Ia merasa sangat penasaran, tidak biasanya Bia mengajak bertemu seperti ini.
Sementara itu Nathan yang ingin mengikuti Bia di tolak keras oleh Bia. Kali ini Bia benar benar ingin pergi sendiri tanpa Nathan.
"Kamu kerjakan saja tugas kamu di kantor! Tidak usah mengurus aku!" Bia segera melangkah meninggalkan Nathan.
Nathan masih berdiri menatap punggung Direkturnya. Ada rasa sesak di relung dadanya saat Bia mengacuhkan dirinya.
"Maaf, Nath."
Saat ini Bia harus menyelesaikan masalah pribadinya dengan Anyer
Bia ingin memastikan nasib masa depannya. Bertahan atau menyerah begitu saja. Bukan Bia tidak ingin berjuang namun, melihat kelakuan Anyer yang sudah kelewat batas Bia semakin ragu ingin mempertahankan Anyer.
Selama ini Bia diam karena masih menghargai nama baik keluarga meski tidak semua pihak mengetahui pernikahan ini.
Sesampainya di caffe Bia segera mencari keberadaan Anyer.
"Sudah lama menunggu?" tanya Bia.
Anyer segera mendongak lalu mempersilakan Bia duduk.
"Duduklah."
"Terimakasih."
Hingga beberapa menit tak ada percakapan diantar keduanya. Bia masih terdiam, begitu juga dengan Anyer yang merasa bingung dengan Bia.
"Ada sesuatu yang penting sehingga mengajak bertemu atau kamu merasa rindu?"
Bia tersenyum sinis. "Hanya ingin bertemu saja dan ingin memastikan apa kabar dengan hubungan pernikahan kita."
Anyer tersedak. Mendadak tubuhnya bergetar.
__ADS_1
"Maksud kamu?"
Bia tertawa pelan. "Kamu kenapa? Mengapa tegang seperti itu?" sindir Bia.
Anyer memperbaiki posisi duduknya. Tiba tiba saja perasaannya saat mendengar ucapan Bia.
"Kita ini suami istri, tinggal satu rumah tetapi jarang berkomunikasi loh. Apalagi pergi berdua. Aneh bukan?" Bia memaksakan senyumnya. Ia ingin tahu sejauh mana Anyer bisa membohongi dirinya.
"Ya karena kita sama sama sibuk. Bukan begitu?"
Bia hanya mengangguk pelan. Matanya masih menatap Anyer yang semakin salah tingkah.
Untuk menghilangkan rasa canggung, Bia segera memesan makanan. Begitu juga dengan Anyer.
Kali ini Anyer tidak bisa menebak isi hati Bia.
"Jadi apa tujuanmu meminta kita bertemu?"
"Bukan… Bukan begitu maksudku. Hanya aneh saja."
"Tidak ada yang aneh Anyer, kita sah sah saja. Bahkan jika kita melakukan suatu hal yang lebih, tidak ada yang protes. Benar tidak?"
Anyer semakin tidak mengerti dengan kelakuan Bia yang sangat aneh menurutnya.
"Tidak usah merasa bingung seperti itu. Baiklah jika kamu ingin tahu apa maksud dari pertemuan ini. Sebenarnya ada satu hal yang ini aku sampaikan." Bia sengaja menggantung ucapannya.
Beberapa kali Bia menatap Anyer. Ada rasa benci dan jijik saat menatap lelaki itu.
"Selama pernikahan ini, apakah kamu mencintaiku?" Bia sengaja menekan ucapannya.
Anyer pun menatap Bia. "Maksud kamu?"
"Jawab saja Anyer? Kenapa? Apa kamu belum bisa melupakan Lisa atau memang ada wanita lain?"
__ADS_1
Anyer terbelalak tak percaya. Apa yang akan dijelaskan kepada Bia. Tidak mungkin ia berterus terang jika memiliki hubungan partner dengan Mela.
"Kenapa diam?"
"Aku rasa itu pertanyaan bodoh."
"Baiklah disini aku bodoh." ucap Bia.
"Bi, sebenarnya ada masalah apa sih? Kenapa kamu aneh seperti ini?
Lagi lagi Bia tersenyum sinis. "Apa tidak ada yang ingin kamu jelaskan tentang Mela?" tanya Bia.
Anyer terkekeh. "Mela? Mela adalah sekretaris baruku, Bi. Kenapa kamu cemburu?"
Bia tertawa. Apa cemburu? Yang benar saja Anyer? Istri mana yang tidak merasa cemburu jika suaminya lebih memilih tidur dengan wanita lain?
"Hanya itu saja?" tanya Bia lagi.
Anyer mengangguk pelan. "Iya."
Dasar pembohong!
"Anyer, mari kita bercerai!"
🍃🍃 Bersambung 🍃🍃
Mana like dan komennya????
Novel sepi kek kuburan?? 🤧🤧
Oh ya, nih aku rekomend novel untuk kalian mampir ya!
__ADS_1