Bukan Pernikahan Impian

Bukan Pernikahan Impian
Bab 17


__ADS_3

Saat itu juga Lia berpamit untuk keluar. Sudah satu jam yang lalu ia menghubungi Aryo dan keluarga namun, hingga kini belum ada tanda tanda kedatangan mereka.


Lia gelisah. Wira wiri bimbang, antara ingin menelepon lagi atau tidak. Sementara keadaan Wijaya semakin memburuk meski sudah siuman.


Aryo yang mendapatkan kabar tentang Wijaya segera bergerak. Tak lupa ia membawa pasukannya yaitu sang ibu dan istrinya. Sedangkan Anyer yang berada di kantor ia hubungi agar segera meluncur ke rumah sakit.


"Syukurlah Tuan segera datang," ujar Lia dalam kegelisahannya.


"Maaf kami lama datang. Dimana Wijaya sekarang?" Aryo juga tak kalah panik dari Oma Risa yang berdiri di samping Lia.


"Tuan sudah ada di ruang rawat. Di sana juga ada Nona Bia yang baru saja datang," tutur mbak Lia.


"Baguslah itu. Eh, tapi dimana Anyer?" tanya Oma Risa.


"Dia masih dalam perjalanan, Ma. Sebentar lagi juga sampai," jawab Aryo.


Tak ingin berlama lama, Aryo segera masuk kedalam ruangan Wijaya untuk memastikan keadaan teman lamanya itu.


"Wi, kamu gak papa?" Aryo merasa iba. Wajah Wijaya terlihat pucat sayu.


Mendengar suara Aryo, Wijaya tersenyum dengan gelengan kepala. Sementara Bia tetap duduk memegangi tangan Bia.

__ADS_1


"Kamu yang tenang, sebentar lagi keinginanmu akan terwujud. Anak itu masih dalam perjalanan," bisik Aryo.


Ingin rasanya Wijaya mengucapkan sebuah kalimat namun, entah mengapa terasa sangat sulit hingg air matanya menetes.


"Wi, kamu harus kuat. Demi Bia." Sambung Oma Risa.


"Makasih ya Om, Oma," tutur Bia


Sebenarnya Bia pun juga ingin berterima kasih pada Siska namun melihat Siska acuh, niatnya ia urungkan.


"Iya. Kamu yang sabar ya." Oma Risa mengelus pucuk rambut Bia.


Bia tersenyum. Andaikan saja sejak dulu ada yang memperhatikan dia dan ayahnya mungkin semua tak akan seberat yang ia pikul. Setidaknya ada tempat berbagi.


Nathan dan Lia yang turut hadir di dalam ruangan cukup terkejut kala seorang lelaki paruh baya memakai sorban masuk.


Menyapa dengan salam lalu menghampiri Aryo.


"Bagaimana Pak?" tanya lelaki itu.


"Tunggu sebentar ya Pak. Anak saya belum datang." Aryo merasa tidak tenang. Ia mencoba menghubungi anaknya lagi. Menanyakan dimana ia sekarang.

__ADS_1


Bia pun juga terkejut dengan penampilan sosok lelaki tersebut. Dalam hati ia hanya membatin saja. Mungkinkah kerabat Aryo akan ada yang menikah?


"Coba hubungi lagi," saran Oma Risa.


Aryo patuh. Ia segera menelepon Anyer.


Sambungan pertama tidak ada jawaban namun, tak membuat Aryo putus asa. Ia tetap menelepon kembali.


"Ayo angkat Anyer!" gundah Aryo.


Rafa yang melihat telepon Anyer berkedip segera memberi isyarat kepada bosnya.


Anyer yang saat itu sedang meeting dadakan pun mengambil ponsel dan permisi untuk mengangkatnya.


"Kamu sudah sampai mana Anyer?"


Belum juga Anyer menyapa, ia sudah terkena semburan dari ayahnya.


"Masih di kantor, Pa," jawab Anyer santai. "Ada apa?" lanjut Anyer lagi.


"Kamu ini gimana sih? bikin malu papa aja. Sudah di bilang suruh datang ke rumah sakit cepat ini malah masih di kantor." Aryo sangat geram.

__ADS_1


"Iya, Anyer tahu. Tadi ada meeting dadakan dengan pak Heru salah satu klaen dari Surabaya. Kan gak mungkin Anyer abadikan, Pa. Lagian mau ngapain sih ke rumah sakit mendadak? Siapa yang sakit? Oma? atau Mama?"


"Dasar kamu anak gak peka! Pokoknya Papa tunggu kamu lima belas menit lagi! Kalau tidak, papa akan coret nama kamu sebagai ahli waris papa," ancam Aryo.


__ADS_2