
#Cerita ini hanya fiktif belaka, nama tokoh, nama tempat, dan semua yang adegan serta ritual di dalam novel ini adalah murni hasil khayalan author semata. Jika ada kesamaan maka itu hanya kebetulan dan tidak di sengaja.#
Pagi itu Wisnu dan Neneng datang menjenguk Ezza. Wiway segeramenyambut kedatangan mertuanya itu.
"Bagaimana keadaan Ezza?" tanya Wisnu
"Masih belum ada kemajuan ayah," jawab Wiway
"Hmmm," Wisnu segera masuk kedalam kamar Ezza dan melihat kondisinya secara langsung.
"Sampai kapan kau akan seperti ini nak, aku kira dengan menikahkan dirimu dengan wanita yang kau cintai akan membuat mu hidup bahagia. Tapi kenyataanya bukannya hidup bahagia kau malah menderita seperti ini,"
Wiway begitu gusar mendengar ucapan Wisnu, bagaimanapun wanita itu merasa bersalah dengan apa yang menimpa Ezza saat ini.
"Maafkan aku Za, benar yang ayah ucapkan bukannya memberikan kebahagiaan aku justru membawa kesialan untukmu," tukas Wiway kemudian mengusap air matanya.
"Kenapa kau menangis?" tanya Wisnu menghampiri Wiway
"Ah, aku tidak apa-apa kok ayah hanya kelilipan saja," jawab Wiway mencoba menyembunyikan kesedihannya.
"Jangan terlalu bersedih, aku akan mencoba meminta bantuan Kyai Umar untuk menyembuhkan Ezza. Aku yakin dia bisa menyembuhkannya," jawab Wisnu
"Iya ayah,"
Wisnu kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi Kyai Umar.
"Sebaiknya kau istirahat saja, biar Tante yang akan membereskan semuanya," tukas Neneng langsung mengambil sapu dari tangan Wiway
"Gak papa kok Tante, aku bisa melakukan semuanya,"
"Jangan ngeyel, aku tahu kau pasti begadang semalaman untuk menjaga suamimu. Lihat saja matamu sampai bengkak seperti itu. Sudah istirahat saja, aku tahu dalam situasi ini kamu harus tetap sehat agar bisa terus menjaga dan mendampingi Ezza. Jadi Kuy istirahat dulu," Neneng mendorong wanita itu memasuki kamarnya.
Wiway kemudian membaringkan tubuhnya di samping Ezza, rasa kantuk yang menderanya membuat ia terlelap untuk sesaat di samping suaminya.
Tak lama Wiway terbangun karena mendengar isakkan tangis yang membuat tidurnya terganggu. Ia begitu bingung ketika ia membuka matanya, ia melihat Wisnu dan Neneng menangisi Ezza yang terbujur kaku di depannya.
"Apa yang terjadi dengan Ezza ku, apa yang terjadi dengannya Tante," tanya Wiway mengguncang tubuh wanita itu.
"Kau harus sabar Wi, Ezza sudah meninggal kita semua, hiks, hiks," jawab Neneng kemudian memeluknya erat.
"Tidak mungkin, Ezza tidak mungkin mati. Aku tidak percaya, kau pasti bohong kan Tante," Wiway melepaskan pelukannya dan bergegas menghampiri Ezza
Ia menyingkap kain putih yang menutupi wajah suaminya dan menatapnya sendu. Wiway memeriksa denyut nadinya dan kemudian mendekatkan telinganya ke dada lelaki itu.
"Jangan bercanda sayang, aku tahu kamu sedang bercanda kan, aku tahu kau lelaki kuat jadi tidak mungkin kau akan pergi secepat ini. Aku tahu kau begitu menyayangi aku jadi aku yakin kau tidak akan pernah meninggalkan aku sendirian di sini. Cepat bangun sayang, buka matamu, lihat aku!" ucap Wiway mengguncang tubuh lelaki itu.
Tangisnya seketika pecah ketika Ezza tak bereaksi apapun.
"Jangan pergi, jangan tinggalkan aku, hiks, hiks," Wiway menangis sejadi-jadinya sembari memeluk jenazah suaminya.
"Bangun Wi!!"
Seketika Wiway membuka matanya ketika ia merasakan seseorang mengguncang tubuhnya.
Ia segera menoleh kearah Ezza dan memeriksa denyut nadinya.
"Syukurlah, dia masih hidup," ucapnya lega
__ADS_1
"Kamu pasti mimpi buruk ya, sampai kau menangis tersedu-sedu seperti itu?" tanya Neneng
"Iya Tante, aku takut sekali. Aku kira itu nyata tapi ternyata hanya mimpi."
"Iya Wi, sebaiknya kau jangan banyak pikiran ya, sekarang yang terpenting adalah kita harus mencari orang pintar yang bisa mengobati Ezza. Btw tadi Abang memintaku untuk membangunkan dirimu karena ia ingin membicarakan sesuatu denganmu," ucap Neneng
"Baik Tante, sekarang ayah dimana?" tanya Wiway
"Dia ada di beranda,"
"Ok Tante," Wiway segera turun dari ranjangnya dan berjalan menuju kedepan rumahnya.
"Apa yang ingin ayah bicarakan denganku?" tanya Wiway kemudian duduk disampingnya.
"Aku sudah mendengar semuanya dari Ki Lingga tentang Ezza dan bagaimana cara mengobatinya. Mungkin mereka belum memberikan dirimu karena masih menunggu waktu yang tepat. Sebagai seorang ayah aku tahu pasti kau pasti akan melakukan apapun untuk Ezza seperti waktu itu. Aku tidak bermaksud memisahkan mu dengan putraku, tapi aku hanya ingin yang terbaik buat kau dan juga Ezza. Sekarang kau sudah mendapatkan semua yang kau inginkan yaitu menjadi istri sah Ezza bahkan kau juga sudah mendapatkan hatinya. Aku tahu aku tidak pantas meminta kau mengorbankan dirimu untuk menyelamatkan putraku, tapi tidak ada pilihan lain untuk menyelamatkannya. Meskipun Ki Lingga masih belum memberitahukan dirimu karena ia sedang mencari alternatif lain tapi aku yakin dengan kau kembali ke alam keabadian kau adalah cara yang paling tepat menyelamatkan Ezza. Selain kau bisa menyelamatkannya kau juga bisa mengakhiri penderitaan mu sebagai mahluk jadi-jadian dan hidup bahagia di surga. Jika kalian benar-benar pasangan sejati maka Allah akan mempertemukan kalian berdua di surga nanti, jadi tunggulah Ezza di sana," ucap Wisnu berkaca-kaca.
"Aku mohon padamu Wi kali ini saja," imbuh Wisnu bersimpuh di kaki Wiway sembari menggenggam erat jemarinya.
"Dengan kembali ke alam baka selain menyelamatkan Ezza kau juga sudah membantu Ayah Aby untuk bisa menemui ajalnya. Bukankah kau dan Aby berkawan baik, jadi bagaimana keputusan mu Wi?" tanya Wisnu
"Baiklah ayah, jika memang itu yang terbaik aku bersedia melakukannya," jawab Wiway mantap
Malam harinya Wiway langsung mendatangi kediaman Lingga dan menyampaikan maksud kedatangannya.
"Apa kau sungguh-sungguh dengan apa yang kau katakan Wiway?" tanya Lingga
"Tentu saja, aku tidak keberatan. Aku ikhlas melakukan semuanya untuk kesembuhan Ezza," jawab Wiway
"Baiklah, jika itu kemauan mu kami tidak bisa menahannya. Besok pagi kita akan berangkat ke Bukit Gombel. Jadi persiapkan dirimu dan juga Ezza," ucap Lingga
"Baik Aki," jawab Wiway kemudian berpamitan dan meninggalkan tempat itu.
"Ini tidak bisa dibiarkan, dia tidak boleh mati. Aku tidak bisa membiarkan semua ini terjadi. Aku masih ingin menikmati hidupku aku masih belum mau matiiii!" seru NYI Sumi melemparkan semua benda-benda yang ada di dekatnya.
Wanita itu segera mengambil kunci mobilnya dan melesat meninggalkan rumahnya.
Ia menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Wiway.
"Aku harus bisa membujuknya sekarang atau aku yang akan mati bersamanya," Sumi menghela nafas panjang sebelum akhirnya memberanikan diri mengetuk pintu rumah Wiway.
*Tok, tok, tok!!
Tak lama Wiway keluar dari dalam rumah dan membukakan pintu untuknya.
Wanita itu terkejut ketika melihat kedatangan wanita itu ke rumahnya.
Sumi segera menahan lengan Wiway manakala wanita itu hendak menutup kembali pintu rumahnya.
Ia kemudian mendorong tubuh Wiway dan segera masuk kedalam rumah itu.
"Ternyata kau begitu beruntung Wewe Gombel, kau bisa menikah dengan lelaki yang kau cintai dan hidup bahagia bersamanya meski kalian berbeda," ucap Sumi kemudian melangkah masuk kedalam kamar Ezza.
"Jangan sentuh dia atau aku akan membunuhmu!" ancam Wiway membuat Sumi tertawa terbahak-bahak mendengarnya.
"Hahahaha, berani sekali kau mengancam ku Wewe Gombel. Kau pikir siapa dirimu hingga kau bisa membunuhku," jawab Sumi mendongakkan wajahnya.
"Asal kau tahu sehebat apapun dirimu, kau tidak akan pernah bisa mengalahkan aku Wewe Gombel!" tukas wanita itu kemudian menghempaskan tubuh Wiway hingga menghantam furniture rumahnya.
__ADS_1
"Untuk membunuh kau dan suamimu adalah perkara mudah bagiku, aku tinggal menjentikkan jari ku saja maka kalian berdua akan Langsung mati ditangan ku." ucap Sumi kemudian menyeret tubuh Wiway.
"Sekarang kau lihatlah, apa yang akan aku lakukan pada suami tercintamu itu,"
"Tolong jangan sakiti dia Nyai, aku mohon!" pinta Wiway bersimpuh di kaki Sumi.
"Aku sudah muak dengan dirimu yang berusaha mengkhianati diriku." sahut Sumi kemudian melepas tendangannya kearah Wiway yang terus menahan kakinya saat ia hendak mendekati Ezza.
Sumi segera menggerakkan tangannya dan menyentuh ubun-ubun Ezza. Tak lama Ezza berteriak kesakitan membuat Wiway tak tegan melihat penderitaannya.
"Arrgghhh!!" Ezza berteriak kesakitan sembari menggeliat diatas ranjangnya.
"Tolong hentikan Nyai, aku bersedia melakukan apapun asalkan kau mau melepaskannya," ucap Wiway bersujud di kaki Sumi
Wanita itu menyeringai mendengar ucapan Wiway.
"Apa kau sungguh-sungguh?" tanyanya mendongakkan wajah ayu Wiway
"Tentu saja, aku akan melakukan apapun untuk menyelamatkan suamiku ," jawab Wiway sungguh-sungguh
"Termasuk mengorbankan nyawamu untukku?" tanya Sumi menyunggingkan senyumnya.
"Tentu saja, aku akan menyerahkan nyawaku padamu dengan syarat kau harus menyembuhkan Ezza terlebih dahulu. Aku mau melihat Ezza kembali sehat seperti sedia kala, baru aku akan mengabulkan permintaan mu," jawab Wiway
"Hahahaha, baiklah sayang. Menyembuhkan Ezza adalah sebuah perkara kecil bagiku. Lihat saja, aku tinggal menjentikkan jari ku, maka suami tercinta mu akan segera membuka matanya dan tersenyum padamu," sahut Sumi
"Kalau begitu lakukan sekarang," jawab Wiway
"Tentu saja, tapi sebelumnya aku juga ingin mengajukan syarat seperti dirimu," ucap Sumi
"Baiklah, katakan apa syaratnya,"
"Kau harus menjadi Pengantin Iblis, bagaimana apa kau setuju?" tanya Sumi
"Baiklah, aku setuju," jawab Wiway menjabat tangan wanita itu.
"Good, aku harap kau akan datang untuk menjadi pengantin Iblis malam Selasa Kliwon nanti."
"Tentu saja aku akan datang, aku tidak akan pernah mengingkari ucapan ku sendiri."
"Ok, sekarang aku akan mengobati pangeran mu dulu," Sumi tersenyum bahagia mendengar ucapan Wiway.
Wanita itu kemudian kembali menyentuh ubun-ubun Ezza dan memejamkan matanya. Tidak lama beberapa benda-benda tajam keluar dari tubuh Ezza
Perlahan Ezza mulai membuka matanya dan menatap lekat kearah Wiway.
"Kau sudah sadar sayang," seru Wiway langsung memeluk erat lelaki itu.
"Alhamdulillah Wi, sekarang aku bisa melihat senyum manisnya." jawab Ezza menatap lekat wanita cantik itu.
"Syukurlah, kalau kau sudah siuman. Aku sangat senang mendengarnya," jawab Wiway
"Terimakasih Sayang sudah mnjaga dan merawat ku selama aku sakit. Aku benar-benar bangga memiliki istri seperti dirimu,"
"Aku juga bangga memiliki suami seperti dirimu,"
To be continued.....
__ADS_1
Jangan lupa kasih like, komen dan favoritkan ya guys. Terimakasih.