
#Cerita ini hanya fiktif belaka, semua adegan nama tokoh yang ada di novel ini hanyalah karangan author semata berdasarkan cerita rakyat setempat ataupun mitos yang beredar di masyarakat#
"Katakan saja apa yang harus aku lakukan untuk membalas kebaikanmu?" pemuda itu balik bertanya
"Aku sudah bosan tinggal di sini, jadi bolehkah aku ikut bersama mu," sahut gadis itu.
"Ikut denganku, apa maksudmu?" tanya pemuda itu penasaran.
"Aku ingin pergi dari tempat ini, bisakah kau membawaku pergi dari sini?"
"Memangnya kamu mau pergi kemana?"
"Kemana saja, asal aku bisa pergi dari tempat ini. Begitu banyak kenangan buruk di tempat ini, aku selalu berusaha pergi meninggalkan tempat ini tapi tidak pernah berhasil. Aku selalu saja kembali lagi ke tempat ini." ucapnya gusar
Pemuda itu menatap sekeliling rumah itu, dan kemudian keluar melihat sekiranya.
"Apa kau tinggal sendirian?" tanya pemuda itu lagi
Wanita itu mengangguk mengiyakan pertanyaan pemuda itu.
"Aku juga heran, kenapa bisa ada rumah di tengah-tengah bukit." ucap pemuda itu meraba bulu kuduknya yang mulai berdiri.
"Kenapa tiba-tiba aku merasa merinding," pemuda itu menatap lekat gadis di depannya, dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Kakinya menyentuh lantai, berarti dia bukan hantu, tapi kenapa aku merasa ketakutan," ucapnya lirih
"Jadi bagaimana, apa kau akan membawaku pergi bersama mu?"
"Baiklah, hanya membawamu keluar dari tempat ini bukan masalah sulit."
"Kalau begitu, ayo cepat kita pergi dari sini sebelum matahari terbenam," ucap gadis itu menarik lengan pemuda itu.
"Kenapa buru-buru sekali,"
"Ikuti saja perintahku, jika kau ingin selamat." jawab wanita itu membuat pemuda itu semakin penasaran.
Ezza hanya mengikuti kemana gadis itu membawanya pergi. Keduanya terus berjalan menyusuri semak belukar meninggalkan bukit itu.
"Bukit Gombel??" Ezza menatap sebuah papan kayu bertuliskan Bukit Gombel.
"Sepertinya aku pernah mendengar nama tempat ini,"
"Kita sepertinya hanya berputar-putar saja di tempat ini, apa kau yakin kita tidak salah jalan?" tanya Ezza
"Seperti yang aku bilang sebelumnya, aku tidak akan bisa meninggalkan tempat ini. Entah ini kutukan atau bukan tapi aku selalu saja tersesat saat mencoba untuk meninggalkan rumah terkutuk itu," jawab gadis itu gusar
"Kau pasti sangat ketakutan tinggal sendirian di rumah itu, aku tidak bisa membayangkan seandainya aku menjadi dirimu," ucap Ezza.
"Baiklah, aku berjanji padamu akan membawamu keluar dari tempat terkutuk ini." ucap Ezza membuat langit seketika bergemuruh.
"Ada apa ini, apa akan segera turun hujan??" pemuda itu menatap kearah langit yang langsung gelap tertutup awan hitam. Kilat mulai menyambar-nyambar dan angin kencang berhembus membuat suasana bukit itu semakin mencekam.
Sementara itu gadis itu terlihat ketakutan, wajahnya seketika memucat ketika melihat matahari mulai perlahan menghilang.
"Kamu kenapa, apa kau ketakutan?. Mukamu pucat sekali dan tanganmu juga sangat dingin." tanya Ezza khawatir
"Cepat pergi dari sini dan tinggalkan aku,"
"Apa, meninggalkan mu. Tidak bisa aku Eza Sinatria tidak pernah ingkar janji. Aku tidak akan meninggalkan mu di sini sendirian, apalagi kau sepertinya sedang sakit. Aku tidak bisa meninggalkan mu seperti ini, aku tidak mau jadi pengecut. Apapun yang terjadi aku akan membawamu pergi dari sini jadi jangan takut lagi ok," ucap pemuda itu kemudian menggandeng lengan gadis itu dan mengajaknya pergi.
__ADS_1
"Kenapa tanganmu kasar sekali, dan juga kenapa rasanya sangat berat seperti aku sedang menarik seekor kerbau," imbuhnya sembari mengusap keringatnya.
"Sudah ku bilang tinggalkan aku, kenapa kau masih keras kepala," ucap gadis itu melepaskan tangannya
"Aku tahu kau ketakutan, tapi percayalah padaku, aku pasti bisa mencari jalan keluar dan membawamu pergi dari si....ni...." Ezza benar-benar terkejut melihat gadis itu berubah menjadi sosok menyeramkan
*Flashback off
"Jadi dulu Roy merundung mu di sini dan Wiway yang menyelamatkan mu," tanya Derry
"Benar, untuk itulah sekarang aku kembali lagi ke tempat ini, aku ingin membalas Budi atas apa yang Wiway lakukan padaku dulu. Sekarang saatnya aku menolongnya keluar dari Neraka ini. Sebagai seorang kekasihnya aku juga akan melakukan apapun untuk menyelamatkan nyawanya sama seperti yang ia lakukan untuk menyelamatkan nyawaku," ucap Ezza kemudian turun dari mobilnya.
"Benaran Lo mau masuk hutan menyeramkan itu tengah malam begini?" tanya Derry ketakutan
"Tentu saja,"
"Apa kau tidak takut dengan hantu dan para lelembut penghuni bukit itu?"
"Demi Wiway apapun akan aku lakukan, jangankan cuma demit bahkan tujuh samudra pun akan aku arungi jika itu untuk menyelamatkan Wiway sang kekasih hati," jawab Ezza
"Tenang, tar boro-boro nyebrang tujuh samudera. Batu nongol mbak Kun aja kamu pasti langsung kencing di celana bahkan mungkin langsung pingsan di tempat," goda Derry.
"Kau jangan pernah meremehkan aku anak muda, jika dulu aku berhasil membawa keluar Wiway dari tempat ini maka kali inipun aku harus berhasil. Tak peduli apapun rintangannya , lebih baik jalanin aja dulu masalah takut menyusul Kemudian," sahut Ezza
"Dih bisa gitu." cibir Derry
"Ikan hiu naik sekoci, bisa aja si," jawab Ezza membuat Derry langsung menarik sudut bibirnya.
"Ikan hiu sakit mah, kalau gitu gue ogah ikut ah," sahut Derry
"Dih gak setia kawin Lo, bukannya temenin gue malah nyerah gitu. Tapi sudahlah gak masalah toh biasanya memang pemeran utama harus menderita seorang diri biar lebih. menarik. Kalau begitu aku pergi dulu ya. Lo hati-hati di sini sendirian. Lebih baik segera masuk kedalam mobil dan kunci pintunya. Bila ada mahluk halus yang mengganggumu segera taburkan garam ini dan tusuk ginjalnya pake bambu kuning ini," ujar Ezza
Meskipun ini bukan kali pertama bagi Ezza memasuki Bukit Gombel, namun perasaan takut tetap saja menghantuinya, saat lelaki itu mulai menampakkan kakinya di kawasan perbukitan yang terkenal sebagai sarang Wewe Gombel di kalangan masyarakat Semarang dan sekitarnya.
Sebagai tempat pembantaian massal saat masa penjajahan Belanda tidak heran jika Bukit itu menjadi salah satu tempat terangker di wilayah Jawa tengah.
*Sreek, sreekk, srekk!!
Ezza semakin ketakutan ketika melihat semak belukar yang mulai bergoyang-goyang di iringi bunyi raungan binatang buas.
"Tamatlah riwayat ku kali ini," ucapnya gusar.
"Haish, kenapa dia diam saja saat seekor bab* hutan hendak menerkamnya," gadis itu segera membalikkan badannya dan berlari kearah Ezza ketika melihat seekor babi hutan hendak menyerangnya.
Seketika Babi hutan itu langsung berhenti ketika mahluk itu menatapnya nyalang.
"Pergi atau aku akan menjadikanmu sebagai makan malam ku baby!" ancamnya membuat binatang itu langsung menunduk dan pergi meninggalkannya.
"Ah, bereskan, cuma baby hutan kecil!" serunya menyombongkan diri
"Kenapa masih diam saja, cepat jalan atau harimau akan datang memakan mu!" seru wanita itu
"Aku gak bisa bergerak, kakiku kram," jawab Ezza lirih
"Terus???"
"Kalau kau benar-benar hantu yang baik maka tolonglah aku,"
"Terus??"
__ADS_1
"Terus apalagi??" sahut Ezza kesal
"Kali aja ada lanjutannya, misalnya jika ada yang menolong menyembuhkan kakiku maka aku akan memberikan imbalan yang setimpal. Jika ia seorang wanita maka dia akan aku jadikan sebagai istri gitu,"
"Bukankah aku sudah berjanji padamu akan membawamu keluar dari bukit laknat ini, jadi apalagi yang harus aku janjikan untuk mu,"
"That's right baby, baiklah kalau begitu aku akan menggendong mu," jawabnya riang
"Tidak perlu, kau tidak usah menggendong ku, kau cukup bantu aku menghilangkan kram di kakiku,"
"Kecil, aku pasti bisa menyembuhkan mu dengan cepat, karena aku adalah asisten mak Erot sewaktu aku masih hidup,"
"Anj*r, asisten mak Erot??" Ezza langsung melotot mendengar ucapan wanita itu
"Bukankah aku sudah berjanji padamu akan membawamu keluar dari bukit laknat ini, jadi apalagi yang harus aku janjikan untuk mu,"
"That's right baby, baiklah kalau begitu aku akan menggendong mu," jawabnya riang
"Tidak perlu, kau tidak usah menggendong ku, kau cukup bantu aku menghilangkan kram di kakiku,"
"Kecil, aku pasti bisa menyembuhkan mu dengan cepat, karena aku adalah asisten mak Erot sewaktu aku masih hidup,"
"Anj*r, asisten mak Erot??" Ezza langsung melotot mendengar ucapan wanita itu
"Wkwkwkwkwk," wanita itu terkekeh melihat ekspresi wajah Ezza
"Canda Bambang, gitu aja takut!" imbuhnya sembari membalikkan jempolnya.
Wanita itu kemudian membantu Ezza duduk dan meluruskan kakinya.
"Tahan bentar ya, pertama emang sakit banget, perih tapi .... setelah itu kamu akan merasakan kenikmatan yang luar biasa," ucap Wewe Gombel mengedipkan matanya
"Astoge, kata-katanya bikin gue traveling nj*r!" ucap Ezza membuat wanita itu tertawa terbahak-bahak
"Sadar woi!!" seru Derry membuyarkan lamunan Ezza
"astoge ternyata itu semua hanya lamunanku saja. Tidak ada Wiway apalagi bab* hutan disini yang ada hanya si Derry my baby," ledeknya sambil terkekeh.
"Sue Lo gue," sahut Derry
Tiba-tiba keduanya saling berpelukan ketika melihat sesosok wanita cantik muncul dihadapannya.
"Kali ini beneran demit Za, bukan boongan lagi!" seru Derry ketakutan.
"Aku rasa begitu Der, terus kita harus bagaimana??" jawab Ezza
"Mana garam yang aku kasih?" tanyanya gemetaran
"Aku tinggal di mobil,"
"Bambu kuning??" tanya Ezza lagi
"Sudah aku jadiin tiang bendera,"
"Jan becanda dudul," sahut Ezza
"Semuanya ada di mobil Za," sahut Derry
"Astoge, matilah kita,"
__ADS_1