
"Bagaimana Mbah apa semuanya beres?" tanya Dewi
"Maaf Ibu, sepertinya ada dukun lain yang mencoba mengobatinya. Dia bahkan membunuh semua siluman yang aku kirim untuk menyakiti pemuda itu,"
"Siapa dukun itu Mbah, apa dia lebih sakti dari dirimu?" tanya Dewi lagi
"Aku tak bisa menyebutkan namanya karena itu melanggar kode etik perdukunan. Tapi yang jelas dia punya klinik di dekat taman kota dan dia masih sangat muda," jawab dukun itu
"Itu pasti Aby, gak salah lagi," jawab Berlin
"Benar, tapi kenapa dia menolong Ezza, bukannya dia harusnya senang jika Ezza mati?" tanya Dewi
"Mungkin dia sengaja melakukan itu untuk mendapatkan simpati Wewe Gombel itu," jawab Berlin sinis.
*********
Pagi harinya di kampus.
Aby terlihat berdiri di depan pintu masuk utama kampus, sepertinya lelaki itu sedang menunggu seseorang.
"Pagi Mas Aby," sapanya ramah
Aby segera menarik lengan gadis itu dan membawanya ke ruang kerjanya.
"Ada apa sih Mas Aby mengajakku kesini?" tanyanya penasaran
"Jangan berlagak bodoh kamu, aku tahu kamu yang berusaha menyantet Ezza semalam. bukankah Ezza adalah lelaki yang kau cintai, tapi kenapa kamu malah ingin membunuhnya?" selidik Aby
"Aku bukan ingin membunuhnya, tapi aku hanya ingin memberinya pelajaran agar dia tidak macam-macam denganku," sahut Berlin
"Dasar bodoh, kalau kamu seperti itu bukannya ia semakin dekat denganmu malah sebaliknya ia akan semakin menjauhi mu bahkan membencimu," sahut Aby
"Lagipula kau juga kenapa menolongnya, bukankah kau harusnya senang jika dia mati," sahut Berlin
"Aku memang menginginkan Wiway menjadi milikku, tapi aku tidak akan pernah memakai cara kotor seperti dirimu," jawab Aby
"Sudahlah jangan Munafik, kita ini ada di perahu yang sama jadi untuk apa saling berdebat apalagi bermusuhan. Bagaimana jika kita bekerjasama, jadi kau bisa mendapatkan Wiway dan aku bisa mendapatkan Ezza?" tanya Berlin
**********
Seperti janji Kyai Umar, siang itu la mendatangi kediaman isya dan berbincang-bincang dengannya.
"Jadi apa yang ingin kamu ceritakan padaku Mas?" tanya lelaki itu ramah
__ADS_1
"Memangnya saya mau cerita apa Kyai?" tanya Ezza
"Ceritakan saja, apa yang menyebabkan hatimu gusar. Dan siapa yang membuatmu begitu ketakutan malam itu?" tanya Kyai Umar
Ezza hanya terdiam kemudian perlahan menceritakan semuanya tentang hubungannya dengan Wiway.
Ia juga menceritakan semua tentang bagaimana dia bertemu gadis itu dan kenapa begitu menyukainya.
"Apa saya ini kena pelet pak Kyai?" tanya Ezza
Kyai Umar hanya tersenyum mendengar pertanyaan Ezza.
"Sekarang kamu sendiri merasa di pelet apa tidak?" jawab lelaki itu balik bertanya
"Entahlah, tapi yang aku rasakan aku tulus mencintainya tanpa ada apapun yang membuat aku tergila-gila padanya. Dan tentang siapa yang menyebabkan aku takut malam itu adalah...." Ezza menghentikan ucapnya dan mengingat sosok lelaki yang membuat mahluk-mahluk gaib itu segera melepaskannya.
Ia masih ingat betul tatapan mata elangnya yang seketika membunuh para lelembut itu.
"Siapa dia??" tanya Kyai Umar membuyarkan lamunannya
"Entahlah, aku tidak bisa melihat jelas wajahnya. Tapi ada satu yang tak bisa aku lupakan darinya, yaitu tatapan matanya," jawab Ezza
"Kalau saran dariku sebaiknya kau memang harus melupakan gadis itu. Aku tahu melupakan seseorang itu butuh proses jadi pelan-pelan saja. Insya Allah nanti saya akan bantu wanita itu agar bisa kembali beristirahat dengan tenang di alamnya. Dan aku doakan Mas Ezza bisa cepat move on darinya dan segera mendapatkan penggantinya."
"Kalau nanti kamu berniat melakukan semua saran saya, jangan lupa temui saya di alamat ini," Kyai Umar kemudian memberikan sebuah kartu nama padanya.
"Baik Kyai, terimakasih." jawab Ezza kemudian mengantar lelaki itu sampai gerbang rumahnya.
************
Tak mau kalah dengan Aby, Wiway juga langsung menarik rambut Berlin dan menyeretnya ke tempat sepi.
"Aawww, lepaskan brengsek. Sakit tahu!!" seru Berlin mencoba melepaskan tangan Wiway yang masih menarik rambutnya.
"Sudah ku peringatkan padamu jangan pernah ganggu gue apalagi Ezza. Tapi sepertinya kau tidak pernah mendengarkan aku, kau pikir aku akan diam saja jika kau menyakiti lelaki yang aku cintai!" serunya kemudian menghempaskan tubuh Berlin hingga ia terjungkal ke lantai.
"Kau meremehkan aku Be," imbuhnya kemudian menarik kerah baju gadis itu.
Berlin hanya tersenyum sinis saat wanita itu mendongakkan wajahnya.
"Kau pikir aku takut dengan demit sepertimu," jawabnya menyeringai
Ia kemudian bangun dan merapikan penampilannya.
__ADS_1
"Dulu aku memang takut padamu, tapi tidak kali ini." sahut Berlin mendorong tubuh Wiway
Wiway ya geram segera bangun dan menyerang Berlin. Namun saat wiway hendak menyerangnya Berlin segera mengeluarkan sesuatu dari saku celananya yang membuat Wiway langsing beringsut mundur menjauh.
Melihat Wiway ketakutan membuat Berlin semakin menggerakkan benda di tangannya kearah Wiway.
Ia terkekeh melihat Wiway yang terus menjauhinya. Ditariknya lengan Wiway dan ia membenturkan kepalanya ke tembok.
"Sekarang kau harus mati untuk kedua kalinya Wiway," celotehnya sembari terus membenturkan kepala Wiway ke tembok.
Wiway berusaha melepaskan diri dari gadis itu dan membalas serangannya. Tapi ia selalu saja tak bisa menyentuhnya.
Jimat yang ada dalam diri Berlin membuatnya benar tak bisa membunuh gadis itu. Karena putus asa Wiwaypun menghilang dari tempat itu.
"Dasar pengecut, kau pasti takut padaku sekarang. Lihat saja aku pasti akan membunuhmu bagaimanapun caranya," ujar Berlin.
*******
"Kamu kenapa Wi?" tanya Aby ketika melihat gadis itu babak belur.
"Aku tidak apa-apa," jawabnya kemudian meneguk segelas air putih
"Tapi wajahmu?"
"Tidak masalah, sebentar lagi juga akan pulih," jawab Wiway.
"Bagaimana keadaan Ezza?" tanyanya lirih
"Sepertinya kita benar-benar harus menikah Wi," ucap Aby membuat Wiway tercengang mendengarnya
"Bukankah kita sepakat itu hanya trik agar Ezza membenciku, jadi jangan berharap lebih dari itu By," sahut Wiway
"Tapi kau harus melakukannya jika tidak mau Berlin kembali menyakitinya. Karena dia akan terus menyiksa Ezza jika tahu kau masih menyukainya."
"Cih, ternyata buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Dulu Dewi membunuhku hanya untuk merebut mas Galih dariku, dan sekarang putri mereka melakukan hal yang sama untuk memisahkan aku dengan Ezza." kenang Wiway
"Sudahlah jangan sedih, lagipula jika kita menikah itu hanya kontrak saja untuk menyelamatkan Ezza. Bukankah kau ingin menikmati hidupmu di kesempatan kedua mu ini. Percayalah padaku, aku akan membantumu mewujudkan semua keinginan mu Wi," ujar Aby
Wiway pun seketika luluh saat menatap mata dukun muda itu.
"Lakukanlah demi Ezza, kau pasti tidak mau dia kenapa-kenapa bukan," ucap Aby menghampiri gadis itu dan mengusap lembut rambutnya.
Wiway hanya mengangguk pelan. Setelah itu Aby mengajak gadis itu pergi meninggalkan kliniknya.
__ADS_1
Ia memawa gadis itu menuju sebuah butik. Setibanya di butik itu beberapa orang langsung menyambutnya dan menyuruhnya mencoba beberapa baju pengantin.