
*Tak, tak, tak!!
Wiway menoleh ke belakang memastikan bahwa tidak ada yang mengikutinya.
Siapa yang mengikuti ku, aku yakin sekali tadi ada seseorang yang mengikuti ku,
Ia kembali berjalan dengan cepat.
*Tak, tak, tak!!
"Kali ini aku gak bakalan kalah lagi," Wiway segera membalikkan badannya dan terkejut ketika melihat Neneng di belakangnya.
"Yah ketahuan deh, padahal tadi niatnya mau kagetin kamu Wi," sahut Neneng kecewa
"Memangnya ada apa Tan?" tanya Wiway
"Aku mau tanya, sama kamu?"
"Tanya aja Tan?"
"Hari ini cowokku ulang tahun, sebaiknya kasih kado apa ya?" tanya Neneng
"Kasih kis aja Tante," sahut Wiway
"What???, apa gak terlalu agresif itu Wi," jawab Neneng kaget
"Bukan kis itu Tante, tapi Kis: Kado istimewa,"
"Iya apa?"
"Beliin aja jam tangan couple atau cincin couple kaya aku sama ezza,"
"Memang masih pantes ya kalau Tante pakai gituan?" tanya Neneng
"Pantes aja Tante, apa mau Wiway beliin?"
"Boleh sayang, makasih ya calon mantu," sahut Neneng
"Sama-sama Tante,"
"Yaudah Tante berangkat kerja dulu ya, kamu hati-hati di jalan. Kalau ada apa-apa telpon Tante,"
"Siap 86 Tante," sahut Wiway kemudian melanjutkan perjalanannya.
************
"Gimana hasil penyelidikan kamu?" tanya Berlin
"Sepertinya aku tahu kenapa Roy mulai melunak terhadap Ezza,"
"Apa?"
"Tante Ezza adalah mantan atlet yang juga kekasih Mr. Saragih, jadi wajar kan bila Roy sekarang segan membully Ezza. Tentu saja selain takut tidak lulus mata kuliah Mr. Saragih, dia juga tidak mungkin mengalahkan Tante Neneng yang sudah tidak di ragukan kemampuan beladirinya, bukankah itu masuk akal?" sahut lelaki itu
__ADS_1
"Bener juga walaupun aku belum begitu yakin, karena aku tahu jika Mr. Saragih itu adalah dosen yang sangat profesional, tidak mungkin ia mencampur adukkan masalah pribadi dengan urusan kampus. Thanks atas infonya," Berlin kemudian memberikan amplop coklat berisikan uang kepada lelaki itu dan segera pergi meninggalkannya.
************
"Sampai jumpa Wi, sampai ketemu besok pagi,"
"Dadah Ka Mar and kak Sus, sampai ketemu lagi besok," Wiway kemudian berjalan meninggalkan tempat itu.
"Dimana Wiway?" tanya Aby keluar dari ruang kerjanya.
"Dia sudah pulang Mas, memangnya ada apa?"
"Papper bagnya ketinggalan,"
"Kejar aja Mas, kayaknya belum jauh deh,"
"Ok," Aby segera berlari menyusul Wiway.
"Kali ini kau tidak akan bisa lolos Wewe Gombel," ucap seorang lelaki terus mengikutinya.
Saat lelaki itu akan menyerangnya, Aby segera menarik pundak lelaki itu dan menghajarnya.
"Siapa kau berani ikut campur urusan ku," pekik lelaki itu saat tubuhnya terhempas setelah terkena pukulan keras Aby.
"Kau tidak perlu tahu siapa aku yang jelas aku tidak suka melihat dukun seperti mu mengganggunya," sahut Aby
"Oh ternyata kau menginginkannya juga, baiklah kalau begitu kita bersaing secara sehat untuk mendapatkan pusaka sakti yang ada di tubuh Wewe Gombel itu," ucap lelaki itu menyeringai kearahnya
"Kau pikir aku ini dukun seperti mu yang selalu menyiksa mahluk gaib untuk mendapatkan keuntungan,"
"Dasar brengsek," Aby segera menyerang lelaki itu hingga babak belur.
Berkali-kali Aby melepaskan pukulannya kepada lelaki itu hingga ia tak sempat membalas serangannya.
Lelaki itu jatuh terkapar dengan tubuh penuh luka, "Sekarang tamatlah riwayat mu dukun sialan!" seru Aby bersiap melepaskan tendangan mautnya, lelaki itu dengan cepat mengambil segenggam tanah dan melemparnya ke wajah Aby.
"Aarrgghhh, dasar anj*ng!" teriak Aby geram
Lelaki itu segera melarikan diri ketika Aby lengah.
"Dasar pengecut, lihat saja kalau kau berani menyentuhnya aku akan membunuhmu." Aby kemudian segera berlari menyusul Wiway.
"Wiway!!" serunya ketika melihat gadis itu berdiri di halte bus.
"Kenapa By?" tanya Wiway
"Papper bag kamu ketinggalan," ia segera menyerahkan benda itu pada Wiway
"Thanks ya udah di bawain, btw kenapa muka Lo babak belur gitu?" telisik Wiway
"Tadi aku baru saja menghajar dukun yang coba menyakiti mu. Sebaiknya kau berhati-hati mulai sekarang sepertinya dia bukan dukun kaleng-kaleng. Aku takut terjadi sesuatu denganmu," ucapnya khawatir
"Iya By, thanks ya infonya," jawab Wiway datar membuat lelaki itu langsung menariknya kedalam pelukannya.
__ADS_1
"Apa sedikitpun kau tidak bisa melihat ketulusan ku Wi?" tanya Aby menatapnya intens
"Maaf By, bukannya aku mengacuhkan mu tapi kau tahu kan aku sudah memberikan hatiku untuk Ezza jadi tidak mungkin aku berpaling dengan lelaki lain," jawab Wiway
"Kau tahu kalian berbeda kenapa kau masih saja memaksakan hubungan kalian, ingat Wi sampai kapanpun kalian tidak akan pernah bersatu. Bukannya kebahagiaan kau malah akan memberikan penderitaan bagi Ezza karena aku yakin keluarganya pasti akan menentang hubungan kalian jika mereka tahu jati dirimu yang sebenarnya," tuturnya
"Aku tidak peduli dengan semua itu. Aku juga tidak pernah berpikir untuk bersatu apalagi menikah dengannya karena itu sesuatu yang mustahil. Bagiku berada disisi saja aku sudah bahagia jadi aku tak berharap lebih dari itu, biarkan aku menikmati kebersamaan kami yang membuat ku merasakan apa yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Biarlah esok akan menjadi misteri," sahut Wiway kemudian melepaskan diri darinya.
"Baiklah jika itu memang sudah menjadi keputusan mu, aku tidak bisa memaksamu," sahut Aby
"Ok, kalau gitu aku pulang dulu ya," ucap Wiway kemudian segera naik Trans Jakarta yang berhenti di depannya.
Kau benar-benar kejam Wi, apa kau tidak tahu betapa sakitnya aku saat aku mendengar kau terus menyebut namanya.
Wiway segera duduk dan menatap layar ponselnya.
Hmmm, apa Ezza benar-benar sibuk hari ini sampai-sampai tak ada kabar,
"Halo, boleh aku duduk di sini?" tanya seorang lelaki menghampirinya.
"Silakan Mas," sahut Wiway segera bergeser ke samping.
"Pulang kerja ya?" tanya lelaki itu
"Kok tua eh tahu,"
"Ketahuan dari baunya asem," sahut lelaki itu terkekeh.
"Iyakah," sahut Wiway segera mencium keteknya
"Wkwkwkwk, canda kali Neng. Meskipun Neng bau asem tapi tetep manis kok," sahut lelaki itu
"Dasar modus!" ucap Ezza yang diam-diam mengawasi keduanya dari kejauhan.
"Makasih Mas, btw kamu tuh orang apa kolang-kaling sih, bikin aku susah berpaling," ucap Wiway disambut gelak tawa lelaki itu
"Awas ya kamu mulai kegenitan," a
"Bisa ae kamu Neng, btw boleh minta nomor kamu," ucap lelaki itu memberikan ponselnya
"Ehem!!" seru Ezza kemudian menghampiri keduanya dan menunjukkan cincin couplenya.
"Oh maaf," ucap lelaki itu kemudian meninggalkan Wiway
"Eh Ezza," ucap Wiway tersenyum menatapnya
"Awas aja kalau ketahuan genit lagi," sahut Ezza dingin
"Siapa sih yang genit sayang, aku kan cuma ngimbangin dia aja. Tengsinlah kalau seorang Ratu gombal gak bisa mengalahkan seorang playboy kaya dia," sahut Wiway
"Hmmm,"
"Hmmm, hmmm, hmmm," sahut Wiway membuat Ezza tersenyum menatapnya.
__ADS_1
"Entah kenapa aku selalu saja gak bisa marah sama kamu Wi. Kamu tuh kaya Wajan panas dan aku adalah mentega yang selalu meleleh saat menempel denganmu,"
"Eeaaaa!!"