
#Cerita ini hanya fiktif belaka, nama tokoh, nama tempat, dan semua yang adegan serta ritual di dalam novel ini adalah murni hasil khayalan author semata. Jika ada kesamaan maka itu hanya kebetulan dan tidak di sengaja.#
*Deg, deg!!!
Gilang segera beranjak dari duduknya, lelaki itu seakan merasakan ada kekuatan besar sedang menuju ke tempat itu.
"Ada apa Lang?" tanya Rangga
"Sttt," Gilang memberikan isyarat kepada kedua orang temannya untuk diam.
*Deg!!!
"Apa kalian dengar!" tanya Gilang
"Apaan?" sahut Rangga
"Suara derap langkah menuju kemari," sahut Gilang
"Tidak ada suara apapun," jawab Rangga
"Benar," sambung Barra
"Coba pakai kekuatan supranatural kalian dan dengarkan secara seksama. Aku bisa merasakan kehadirannya meskipun hanya sebentar," ucap Gilang
"Memang janda lebih menggoda ya," ucap Ezza kemudian mematikan lampu kamarnya.
*Dep!!
Tiba-tiba saja semua lampu di rumah itu langsung padam.
"Dia datang!!" Gilang segera berlari mencari keberadaan mahluk astral itu.
"Gosh, Gosh!!"
*Srak, srakk!!!
"Ayah!!!" Aby segera bergegas keluar dari kamarnya.
Ia segera duduk memejamkan matanya, pemuda itu menggunakan kekuatan Supranaturalnya untuk menemui ayahnya.
*Grep!!!
Gilang segera menepuk pundak sesosok mahluk yang berjalan mengendap-endap menuju kediaman Lingga.
*Buuugggghhh!!!
Sebuah pukulan keras menghantam tubuh Gilang hingga lelaki itu terhempas satu depa dari mahluk itu.
*Arrgghhh!!!
Gilang segera bangun dan mengejar mahluk itu, namun sayangnya mahluk itu menghilang dengan cepat hingga Gilang kehilangan jejaknya.
"Kemana dia!" Umpat Gilang sembari mengatur nafasnya.
"Aku harus mengejarnya, aku yakin dia adalah kunci dari kemalangan yang menimpa Wewe Gombel itu,"
Gilang segera menggunakan ajian Kijang Kencana untuk mengejar mahluk astral itu.
Lagi-lagi Gilang harus gigit jari saat harus kehilangan jejak Mahluk itu.
"Siapa dia, kenapa dia bisa berlari lebih cepat dari ajian Kijang Kencana, aku yakin sekali dia bukan orang sembarangan,"
"Apa kau menemukan sesuatu Lang?" tanya Rangga menyusulnya
"Dia sudah pergi," jawab Gilang lesu
"Kemana?" tanya Barra
__ADS_1
"Ke rumah masa depan kita eeaa,"
"Dih sue, masih sempat-sempatnya Lo ngelawak Lang, garing tahu!" celetuk Barra
"Biarin Weh, lagian kenapa Lo yang sensi?" jawab Gilang balik bertanya
"Dasar nyebelin,"
"Dasar baperan Lo!" sahut Gilang
"Sudah-sudah jangan adu mulut lagi, sekarang lebih baik kita mencari cara bagaimana mencegah mahluk itu datang lagi ke sini untuk mengganggu Ezza dan Wiway," ucap Rangga menengahi keduanya.
"Seperti rencana awal, Lo siap kan Bar?" tanya Gilang
"Ok," jawab Barra
"Sekarang saatnya!"
Rangga segera menjelma menjadi sosok Derry dan berjalan menuju kamar Ezza.
*Tok, tok, tok!!
"Sial, batu juga mau mulai pemanasan sudah ada iklan aja," keluh Ezza
Ia segera memakai kembali pakaiannya dan menutup tubuh Wiway dengan selimut.
"Tunggu dulu ya ayank, siaran langsungnya kita tunda dulu setelah iklan berikut ini," bisik Ezza kemudian mencium kening gadis itu
"Ok sayang, aku selalu setia menunggumu,"
Ezza segera keluar dan membuka pintu kamarnya.
"Lama banget Za, emangnya sudah mulai main golf nya?" goda Derry
"Baru pemanasan, tapi Lo udah ganggu!" sahut Ezza lesu
"Cepat katakan apa pesan dan kesannya?"
"Kamu di suruh menemuinya sekarang," jawab Derry
"Dimana dia??" tanya Ezza
"Ikut gue aja," Derry segera membawa Ezza ke ruang kerja Lingga.
"Masuk aja bro, sorry gue gak bisa nemenin Lo,"
"Iya gak papa Der, thanks ya," Ezza kemudian segera membuka pintu ruangan itu.
Lelaki itu segera masuk ke ruangan yang hanya diterangi oleh lilin saja.
"Ada apa Om memanggil ku?" tanya Ezza menghampiri seorang lelaki yang berdiri membelakangi meja kerjanya.
Ezza begitu terkejut saat lelaki itu membalikkan badannya dan menatapnya bengis.
*Bruugghh!
Seketika tubuh Ezza jatuh tak sadarkan diri di lantai.
"Gimana aktingku Lang, keren gak?" tanya Barra
"Good!!" jawab Gilang
"Syukurlah, walaupun cuma dapat B," sahut Barra membuat Gilang terkekeh mendengarnya
"Jangan baper, kuy masuk ke tubuh Ezza," ujar Gilang
Barra mengangguk dan segera merasuki tubuh Ezza.
__ADS_1
"Ingat Bar, tugas Lo hanyalah memancing mahluk itu keluar. Jangan membuat kesalahan apalagi berbuat sesuatu yang konyol," tutur Gilang
"Bagaimana jika aku tergoda??" tanya Barra
"Tahanlah dulu," jawab Gilang
"Menahan itu susah Lang, apalagi menahan itu, oh rasanya bikin kepala mau pecah!" jawab Barra
Gilang segera menarik lengan Barra dan memberikan sesuatu padanya.
"Jangan ditahan Bar nanti jadi jerawat, keluarin aja ya biar plong!" tukas Gilang
"Dih sue, Lo suruh gue buat **** dengan sabun mandi!!" cibir Barra
"Daripada Lo panas dingin, mending keluarin pakai itu!"
"Sue Lo!!!"
Gilang dan Rangga terbahak-bahak mendengar ocehan Barra.
"Tunggu!!" Gilang kembali melesat pergi meninggalkan dua sahabatnya.
"Ada apa lagi sih si Gilang, selalu saja selangkah lebih maju dari kita kaya motor Yamaha aja, semakin di depan!" ujar Barra
"Itu karena Gilang emang memiliki kekuatan supranatural yang lebih tinggi dari kita berdua Barra," sahut Rangga
"Salah, itu karena Gilang lebih cerdik dan lebih peka aja daripada kita berdua. Menurut ku kalau soal kekuatan supranatural Lo memiliki kekuatan yang sama dengan Gilang kok RAN, jadi jangan berkecil hati," jawab Barra
"Thanks Bar-bar, makin lope-lope deh sama kamu,"
"Lope-lope too Ran,"
"Siapa kamu??" tanya Gilang menepuk pundak seorang pemuda yang berdiri di depan pagar rumah Lingga
"Saya Aby om teman Derry," ucap pemuda itu
"Kenapa kau datang lagi kesini, bukankah sekarang sudah larut malam, lagipula aku lihat tadi siang kau sudah datang menghadiri pesta pernikahan mereka, lalu untuk apalagi kau datang ke sini?" telisik Gilang
"Saya hanya ingin memastikan jika Wiway baik-baik saja, itu saja kok Om," jawab Aby singkat
"Cih, kau pasti diam-diam menyukai Wewe Gombel itu makanya wajahmu terlihat begitu gusar,"
"Om tahu aja, ya sudah aku pamit dulu Om," ucap Aby
"Ok, hati-hati di jalan Le. Jangan sedih ya aku yakin kau akan segera mendapatkan penggantinya. Aku bisa melihatnya dari tatapan mata mu yang bersinar," sahut Lingga
"Aamiin, thanks Om," Aby segera berjalan meninggalkan lelaki itu.
"Dasar anak muda, masih aja ada cowok bucin kaya Barra," ucap Gilang kemudian membalikkan badannya dan berjalan masuk menuju ke dalam rumah.
"Wait," tiba-tiba ia menghentikan langkahnya dan menoleh kearah Aby.
"Sial, bagaimana aku bisa begitu bodoh dan tidak menyadari jika pemuda itu bukan orang sembarangan. Dia bisa melihatku, dia bahkan datang ke tempat ini dengan Sukmanya. Siapa Aby, kenapa ia begitu mengkhawatirkan Wiway hingga datang larut malam seperti ini. Apa dia ada hubungannya dengan mahluk itu?. Ah sial!!" seru Gilang kesal
Puluhan pertanyaan tentang siapa sosok Aby membuatnya begitu berang ditambah teka-teki kemunculan mahluk aneh yang memiliki kekuatan luar biasa di tempat itu.
Akankah Gilang bisa memecahkan semuanya dan membantu Wiway dari incaran mahluk gaib tersebut.
Simak jawabannya di next episode ya.
Jangan lupa kasih like, komen dan favoritkan.
Ingat dukungan like dan komen kalian bisa jadi penyemangat buat aku. Walaupun aku tak bisa menjawab komentar kalian tapi aku selalu membacanya kok, swear. Yang jelas aku selalu membaca dan menjawab komen kalian dengan hatiku eaaaaa. meski tak tersirat namun tersurat dalam hati sanubari yang terdalam.
Thanks all reader setia Wiway, love you sekebon duren 😘😘.
.
__ADS_1