
"Sial, kenapa malam-malam begini memintaku kesini," gerutu seorang wanita paruh baya memasuki sebuah pemakaman umum.
Ia tersenyum sinis menatap kuburan yang masih basah di depannya.
Ia terkejut dan hampir saja terjungkal ketika melihat sebuah tangan keluar dari gundukan tanah itu.
"Haish, dasar dukun sudah mati saja masih merepotkan," wanita itu segera mengambil sekop yang dibawanya untuk menggali kubur itu.
Ia kemudian memapah jasad Ki Parto menuju ke mobilnya.
"Tolong aku Sumi," ucap lelaki itu
"Apa yang bisa saya bantu Aki,"
"Jangan beritahukan siapapun jika aku masih hidup, apalagi putraku Aby. Karena kehidupan ku ini hanya akan merepotkan mereka. Aku memang masih hidup tapi sebenarnya aku sudah mati. Aku hanya menunggu mahluk itu mati. Mungkin ini karma untukku karena sudah menggunakan kemampuan ku untuk hal-hal tercela, terutama pada wanita itu." terang Ki Parto
"Meskipun Aby dan Ki Kusumo sudah membuang semua susuk dan ilmu hitam ku tetap saja aku belum bisa mati sebelum Wewe Gombel itu mati dan kembali ke alam baka. Jadi bantu aku menemukan mahluk itu agar aku bisa membunuhnya," tambah Ki Parto
"Tapi bagaimana kau bisa membunuhnya jika kau sendiri seperti mayat hidup begini?" tanya Sumi
"Aku masih bisa menggunakan kekuatan ku dengan sukma ku ini. Tapi kau harus membantuku tetap hidup dengan memberik ku darah ayam cemani agar jasadku tetap awet. Aku tinggal menunggu hari itu tiba. Hari dimana Aby akan membawanya ke bukit Gombel dan menusukkan paku itu padanya," sahut Ki Parto.
*Flashback off
"Apa setiap malam Selasa Kliwon kau harus memberinya persembahan seperti itu?" tanya Wiway
"Benar, ini agar jasadnya tidak membusuk karena secara medis dia sudah meninggal, tapi secara supranatural dia masih hidup," sahut NyI Sumi
Wiway memperhatikan jasad Ki Parto yang terbujur kaku di ranjangnya.
Wanita itu mencoba mengingat semua perkataan lelaki itu ketika membawanya ke rumah itu.
"Sekarang aku sudah mengembalikan kehidupan mu lagi, semoga dengan menebus dosaku dua puluh lima tahun lalu aku bisa beristirahat dengan tenang sekarang," ucap lelaki itu lirih
"Apa maksudmu??" tanya Wiway penasaran
Ki Parto tersenyum sinis menatap Wiway.
"Andai saja Aby tak membuat kesalahan aku mungkin sudah bisa beristirahat dengan tenang. Entah kenapa si bodoh itu bukannya membawamu ke Bukit Gombel dan menyelesaikan semuanya di sana, tapi malah menusukkan paku bumi itu di rumah sakit. Aku sudah banyak kehilangan kekuatan ku untuk mengembalikan dirimu menjadi seperti sekarang. Jadi tolong manfaatkan baik-baik kesempatan ini sampai malam itu tiba, setidaknya itu yang bisa ku lakukan untuk menolong mu agar tidak menjadi Iblis jahat. Semoga kebaikan kecil ku bisa mempermudah kematian ku. Kau tahu betapa tersiksanya aku menjadi mayat hidup seperti ini," terang Ki Parto
"Malam itu, apa maksudnya Aki?" tanya Wiway lagi
"Tentu saja aku tidak bisa menjadikan manusia dalam waktu lama karena kekuatan ku sudah melemah setelah aku menjadi mayat hidup. Kau hanya akan bertahan hidup sampai malam satu suro. Malam itu adalah malam penentuan bagimu kau akan mati atau tetap hidup sebagai Iblis." jawab Ki Parto.
"Jadi aku hanya tinggal menunggu waktu, malam satu suro tinggal satu bulan lagi. Baiklah mari kita manfaatkan waktu sebulan ini untuk bersenang-senang," ucap Wiway kemudian meninggalkan kamar Ki Parto.
************
Siang itu di kampus Ezza.
"Aku yakin dia Wiway, aku bisa merasakan saat menciumnya. Rasanya masih sama," kenang Ezza sembari menjilati es krim di tangannya.
"Dasar Omes, pasti dia jilatin es krim sambil bayangin anu," ucap Derry
Ia berjalan mengendap-endap menghampiri Ezza dan mengagetkan lelaki itu dengan menepuk pundak Ezza.
"Uhukk!!" Ezza terkejut sampai keselek es krim yang dijilatinya.
"Anj*r, sue Lo!!" hardik Ezza
"Makannya jangan suka ngelamun jorok, biar kak kena kurma," sahut Derry
"Dih sotomi siapa juga yang ngelamun jorok. Orang gue cuma mengenang ciuman kemarin doang kok," sahut Ezza
"Astoge sama aja dudul," celetuk Derry
__ADS_1
"Btw Lo mau gak bantuin gue bro?"
"Bantu apaan?" tanya Derry
"Bantu gue cari Wiway,"
*Byuurr!!
Derry langsung menyemburkan air yang diminumnya ke wajah Ezza.
"Sue Lo!" cibir Ezza segera mengelap wajahnya
"Sorry bro gue kaget, abis lo minta bantuan yang gak masuk akal. Mana bisa kita mencari orang yang sudah mati," sahut Derry
"Wiway belum mati Der, dia masih hidup," jawab Ezza membuat Derry tercengang.
"Maksud Lo??"
"Kemarin aku bertemu dengannya di pesta pernikahan Andre??" tambah Ezza
*Flashback on
"Kalau kau memang benar bukan Wiway ku maka kau harus membuktikannya padaku," ucap Ezza
"Bagaimana cara membuktikannya?" tanya Wiway penasaran
Ezza segera menarik gadis itu dan mencium bibirnya.
*Dug!!!
"Awwww!!" Ezza segera melepaskan ciumannya saat Wiway mendorong lelaki itu.
Ezza terhempas dan menabrak furniture ruangan itu.
"Sudah ku duga kau pasti Wiway, karena tidak mungkin kau peduli denganku jika kau tidak mengenaliku," ujar Ezza menatap lekat wanita itu membuat Wiway gugup.
Ia segera berlari meninggalkan meninggalkan tempat itu, Ezza berusaha mengejarnya namu kali ini dia benar-benar kehilangan jejaknya.
*Flashback off.
"Kalau dia memang anak dari Mua di nikahan Andre, pasti si Andre tahu dimana alamat rumahnya. Kenapa Lo gak tanya dia aja bro," sahut Derry
"That's right baby, ternyata lo ada gunanya juga di saat seperti ini," sahut Ezza memeluk pemuda itu.
"Lepasin Za, gue masih normal bro. Jangan bikin cewek-cewek kampus mengira gue ini pecinta sesama jenis," ucap Derry mencoba melepaskan pelukan Ezza.
Ezza segera mengambil ponselnya dan menghubungi Andre. Setelah mendapatkan alamat MUA dari Andre ia segera mengajak Derry untuk menyambangi alamat itu.
Satu jam kemudian....
"Gak salah bro ini alamatnya??" tanya Derry terkejut ketika Ezza menghentikan motornya di sebuah tanah kosong yang dipenuhi rerimbunan pepohonan.
"Mana ada rumah di tempat angker seperti ini, yang ada demit kali yang tinggal disini," celoteh Derry
"Tapi kata Andre Bu Sumi Arswendo ini seorang MUA terkenal di Jakarta. Dia bahkan menjadi langganan bagi para pengusaha, pejabat dan juga para pesohor negeri ini. Jadi mana mungkin alamatnya fake," sahut Ezza
"Siapa namanya tadi?" tanya Derry membuka ponselnya
"Sumi Arswendo,"
"Ketemu!" seru Derry menunjukkan laman sosial media kepada Ezza
"Benar, dia orangnya!" sahut Ezza
"Alamatnya sama kok kaya yang di kasih Andre, tapi kok sejauh mata memandang hanya ada ilalang dan pepohonan. Terus dimana rumahnya?" tanya Derry
__ADS_1
"Coba kita cari lagi, kali aja ngumoet diantara pepohonan," sahut Ezza
"Mantan kali ngumpet," sahut Derry segera berjalan melewati pepohonan.
"Wait, bukankah itu sebuah rumah!" seru Derry ketika menyibak ilalang di hadapannya.
"That's right baby, kuy kita kesana," ucap Ezza segera menerobos Padang ilalang itu menuju sebuah rumah besar di hadapannya.
Setibanya di sana Ezza segera menekan bel rumah tersebut.
*Ting nong!!!
Tidak lama seorang wanita tua keluar membukakan pintu rumah itu.
"Mau ketemu siapa?" tanya wanita itu membuat keduanya langsung berteriak histeris ketika melihatnya.
"Huaaa, Mak lampir!!!" seru keduanya saling berpelukan
"Sembarangan, ku kutuk kau jadi tampan," sahut wanita itu membuat keduanya tertawa
"Mau nek, kalau di kutuknya jadi tampan," jawab Derry
"Dasar anak muda," cibir wanita itu
"Maaf Nek, kami hanya kaget saja melihat wajah anda." sahut Ezza
"Beginalah nasib jika memiliki paras yang kurang menawan," jawab sang nenek
"Ngomong-ngomong kalian mau ketemu siapa?" tanya wanita itu
"Kami ingin bertemu dengan Ibu Sumi?" tanya Ezza
"Wah sayang sekali Bu Sumi tidak tinggal disini. Karena dia sangat sibuk, ia memilih tinggal di pusat kota untuk memudahkan pekerjaannya. Ibu Sumi hanya sesekali saja pulang ke tempat ini," jawab wanita itu
"Kalau boleh tahu di mana alamatnya?" tanya Ezza lagi
Wanita itu kemudian masuk kedalam dan kembali lagi memberikan kartu nama padanya.
"Terima kasih banyak nenek," ucap Ezza kemudian meninggalkan tempat itu
"Siapa yang datang Nyai?" tanya Wiway penasaran
"Hanya anak muda iseng saja," jawab wanita itu masuk kedalam kamarnya.
Wiway yang penasaran segera keluar untuk melihat Siapa yang datang.
"Ezza, tidak mungkin dia datang mencari ku," ucapnya begitu terkejut melihat Ezza dan Derry meninggalkan tempat itu.
"Kau tidak boleh cengeng, sebaiknya cepat masuk sebelum matahari terbenam!" seru Sumi membuat Wiway langsung menyeka air matanya.
"Memangnya kenapa kalau matahari terbenam?" tanya Wiway
"Apa kau lupa apa yang akan terjadi padamu jika matahari terbenam?" ucap Sumi balik bertanya
"Tapi itu kan dulu saat aku masih menjadi Wewe Gombel, bukankah sekarang aku manusia?" sahut Wiway
"Siapa bilang kau manusia, tetap saja kau ini seorang Wewe Gombel!" sahut Sumi segera memasuki rumah itu.
Wiway yang sedikit kecewa mendengar ucapan Sumi berjalan gontai menuju ke rumah Sumi.
"Arrgghhh, kenapa tubuhku mendadak panas dan terasa begitu perih!!" Wiway melihat telapak tangannya yang tiba-tiba mengelupas dan melepuh.
Ia terus berteriak dan menggelinjang ketika semua tubuhnya melepuh seperti tersiram air panas.
"Ini baru awal Wiway, kau akan terus mengalami penderitaan ini sampai hari itu tiba," ucap Sumi menatapnya dari balik tirai jendela.
__ADS_1