
Wiway terlihat cantik memakai sebuah baju pengantar, seorang pelayan butik kemudian mengantarnya menemui Aby.
"Cantik, tapi sayang terbuka," jawab Aby membuat Wiway segera masuk kembali ke ruang ganti dan mencoba gaun lainnya.
"Hmmm, belum," Wiway kembali lagi ke kamar pas dan terus seperti itu sampai akhirnya Aby memberikan jempolnya.
"Nice, aku mau itu,"
"Syukurlah," ucap Wiway lega
Selesai mencoba gaun pengantin Aby mengajak Wiway untuk melihat-lihat beberapa contoh surat undangan.
"Kamu suka yang mana?" tanya Aby
"Terserah kamu aja By, aku setuju apapun yang kamu pilih," jawab gadis itu acuh.
Aby hanya tersenyum kecut melihat ekspresi Wajah Wiway.
Sepertinya kau memang benar-benar mencintainya, sampai kau rela melakukan apapun demi si brengsek itu.
Aby kemudian menunjukkan beberapa contoh cincin kawin kepadanya.
"Sekarang kau pilih mana yang kau suka?" tanyanya lagi
"Terserah kamu aja By, apapun yang kau pilih aku suka kok,"
Lagi-lagi pemuda itu harus menelan kepahitan saat Wiway benar-benar bersikap datar padanya.
Tidak lama kemudian seorang wanita menghampiri keduanya.
"Ini adalah paket yang anda pesan, silakan ajukan komplain jika pesanan tidak sesuai. Terimakasih sudah mempercayakan momen kebahagiaan anda kepada kami," ucap wanita itu ramah
"Wah undangannya sudah jadi?" tanya Wiway
"Disini memang cepat itulah kenapa aku memilih mencetak undangan di tempat ini. dan sebaiknya kamu menyampaikan undangan ini secara langsung kepada Ezza," ucap Aby memberikan sebuah undangan kepadanya.
"Apa tidak terlalu cepat By," jawab Wiway melihat tanggal pernikahan yang tertera di surat undangan itu
"Ikan sepat dalam kardus, lebih cepat lebih bagus. Aku hanya tidak mau membuat penderitaanmu semakin lama Wi. Ingat sekarang sudah hari ke 33, apa kau mau melihat Ezza meninggalkan di hari ke 35?" tanya Aby
"Baiklah, terserah kamu saja. Aku akan menyerahkan surat undangan ini padanya," jawab Wiway kemudian memasukkan Undangan itu kedalam tasnya.
**********
Sore itu sengaja Wiway berjalan-jalan di Taman Kota berharap bisa bertemu dengan Ezza di sana.
"Apa Ezza tidak datang ke sini," ucapnya sendu
Ia terus berkeliling mengitari taman sembari mencari-cari Ezza.
Ia menghentikan langkahnya saat melihat Ezza di parkiran motor.
__ADS_1
"Ezza!!" serunya sembari melambaikan tangannya.
Namun karena taman sedang ramai saat itu, Ezza tidak mendengar suara teriakan Wiway.
Wiway segera berlari menghampiri Ezza di parkiran, namun pemuda itu dengan cepat melesatkan motornya meninggalkan area Taman.
Wiway terus mengejarnya sembari memanggil namanya berharap pemuda itu melihatnya.
Senyumnya sempat mengembangkan manakala Ezza menghentikan motornya, namun ia harus menelan kekecewaan karena Ezza berhenti untuk membonceng Derry.
Ia kemudian membalikkan badannya dan duduk di halte Taman.
"Begini kah rasanya di abaikan," ucapnya gusar.
"Semangat, kamu harus semangat Wi, semangat!!" serunya mencoba tegar
Gadis itu tertegun saat seseorang menyodorkan sapu tangan padanya. Wiway segera mendongakkan wajahnya dan menatap lekat pria di hadapannya.
"Ezza," ucapnya berkaca-kaca
"Kalau kau mencari ku kenapa tidak menelpon saja, kenapa harus berlarian mengejar motorku. Memangnya kau ini flash apa yang bisa berlari secepat kilat menangkap ku," jawab Ezza menyunggingkan senyumnya.
Jangan tersenyum Za, please. Karena senyuman mu hanya akan membuat aku semakin menyukaimu dan tidak akan pernah bisa move on darimu.
"Iya aku lupa," jawab Wiway tersenyum menutupi kesedihannya.
Ia segera mengambil sapu tangan dari tangan pemuda itu saat tiba Ezza akan mengusap air matanya.
"Aku hanya ingin menyampaikan sesuatu padamu," jawab Wiway
Ia kemudian mencari amplop kecil yang ada di dalam tasnya.
"Aku hanya ingin menyampaikan ini," ucapnya sembari memberikan sebuah amplop kecil padanya.
"Boleh di buka sekarang?" tanya Ezza membuat Wiway sedikit gugup.
"Silakan,"
Ezza segera membuka amplop itu dan tertawa ketika membaca isinya.
"Kenapa ketawa?" tanya Wiway
"Baca saja sendiri," jawab Ezza membuat Wiway langsung mengambil kartu itu dari tangannya.
Setiap kali aku berusaha menjauh darimu, entah kenapa bukannya menghilang, rasa cinta ini justru semakin bertambah besar untukmu. Kerinduan akan hadirmu membuat ku sesak, sampai kapankah semua ini akan berakhir.
Seketika wajah Wiway memerah saat membaca isi amplop itu.
"Astoge aku salah kasih," ucapnya kemudian segera berlari meninggalkan Ezza.
"Kalau masih cinta katakan saja Wi, jangan di simpan nanti jadi bisulan!!" seru Ezza
__ADS_1
************
Sementara itu di tempat berbeda Aby tampak menemui Berlin di sebuah Restoran.
"Kenapa kau ingin bertemu denganku di sini?" tanya Berlin sinis
"Aku hanya ingin mengatakan padamu jangan pernah sakiti Wiway lagi, aku tidak suka dengan rencana konyol mu itu untuk melenyapkan Wiway. Karena bagaimanapun juga dia menjadi seperti itu karena kesalahan ke dua orang tuamu." ucap Aby membuat Berlin mengernyitkan keningnya
"Salah orang tuaku, memangnya apa yang sudah mereka lakukan terhadap Wewe Gombel itu?" tanya Berlin
"Tanyakan saja sendiri kepada mereka apa yang mereka lakukan terhadap seorang wanita bernama Fatimah," jawab Aby
"Oh jadi namanya Fatimah, kampungan sekali," ucap Berlin mengejeknya.
"Dan perlu kau ingat, aku bisa berbuat sesuatu yang sangat ekstrim jika kau benar-benar melakukan rencana konyol mu itu," ancam Aby.
"Cih, bahkan dukun sakti seperti dirimu juga sudah terkena sihirnya sehingga kau juga begitu tergila-gila pada mahluk astral itu," sahut Berlin
"Persetan dengan semua omong kosong mu itu, aku tidak peduli," jawab Aby kemudian pergi meninggalkannya.
Berlin kemudian memungut sebuah amplop kecil yang terjatuh dari buku Agenda Aby.
"Wah ternyata kau benar-benar terkena virus bucin Wewe Gombel itu, sampai-sampai kau benar-benar akan menikahinya?" ejek Berlin menatap surat undangan itu.
"Sekarang kau tahu kan jika aku tidak pernah main-main dengan ucapan ku." jawab Aby Kemudian pergi meninggalkannya.
"Dasar lelaki bodoh, kalian benar-benar sudah terkena sihir mahluk jelek itu sehingga begitu tergila-gila dengannya. Tapi ada bagusnya juga dia menikahi Hantu itu, karena dengan begitu E pasti akan mundur dan kembali padaku tanpa aku harus memeletnya. Sebaiknya aku berikan kartu undangan ini padanya agar dia melihatnya sendiri jika Wiway yang selama ini ia cintai akan menikah dengan orang lain," Berlin kemudian beranjak dari duduknya meninggalkan tempat itu.
Gadis itu kemudian meluncurkan mobilnya menuju ke rumah Ezza.
"Sore Tante?" sapa Berlin ketika melihat Neneng sedang menyirami tanaman di halam rumah
"Sore Be, silakan masuk," sahut Neneng segera menghentikan aktivitasnya.
"Ezzanya ada Tante?" tanya gadis itu
"Belum pulang tuh, tapi tadi pagi ia berpesan kalau hari ini dia akan menginap di kosannya. Jadi kalau kau ingin menemuinya datangi saja kos-kosannya," jawab Neneng
"Ok Tante, terimakasih informasinya." sahut Berlin segera berpamitan dan pergi dari sana.
*******"
Di kosan Ezza.
"Sebaiknya kalian selesaikan baik-baik urusan kalian, kalau memang harus berpisah, berpisah lah dengan baik-baik seperti saat kalian pertama bertemu. Jangan buat Wiway menderita Za," ucap Derry menasihatinya
"Bukan Ezza kali yang membuat Wiway menderita tapi sebaliknya," ucap Berlin menghampiri mereka. Ia kemudian memberikan surat undangan Aby dan Wiway kepada Ezza
"Itu bukti kalau Wiway benar-benar mencampakkan dirimu. Jadi terserah padamu mau percaya padaku atau tidak," ucap Berlin membuat Ezza terdiam menatap kartu undangan itu.
To be continued...
__ADS_1