
#Cerita ini hanya fiktif belaka, nama tokoh, nama tempat, dan semua yang adegan serta ritual di dalam novel ini adalah murni hasil khayalan author semata. Jika ada kesamaan maka itu hanya kebetulan dan tidak di sengaja.#
"Selamat Wi, Akhirnya kamu menikah juga dengan Ezza," ucap Aby menyelaminya
"Makasih By,"
"Sekarang kamu tinggal dimana?" tanya Aby
"Aku tinggal di rumah Derry," jawab Wiway
"Syukurlah, setidaknya kau aman di sana," jawab Aby
"Kamu bisa kan datang ke acara nikahan aku?" tanya Wiway
"Insya Allah ya Wi," jawab lelaki itu sedikit gusar
"Kok insya Allah sih, pokoknya harus datang, aku gak tahu pokoknya kamu harus datang."
"Iya Wi, tapi kan aku gak tahu, takutnya aku ada sesuatu kan siapa tahu. Tapi aku pasti usahain datang kok," jawab Aby.
"Makasih banyak By,"
*************
Hari yang dinantikan pun tiba, pagi itu kediaman Lingga sudah ramai dipenuhi oleh orang-orang yang akan membantu merayakan pesta pernikahan Wiway dan Ezza.
Seorang wanita begitu telaten merias wajah cantik Wiway.
"Kamu tuh cantik banget Wi, walaupun tanpa make up tebal kecantikan mu sudah alami,"
"Terimakasih Tante," jawab Wiway
"Sekarang kita ganti baju yuk," wanita itu kemudian mengajak Wiway untuk berganti pakaian.
Tidak lama kemudian Wiway keluar menuju ke tempat akad nikah berlangsung.
Ezza yang sudah menunggu lama semakin grogi begitu melihat kedatangan Wiway.
"Bro, kenapa jadi panas dingin gini ya?" tanya Ezza
"Santai aja kali Za, kuy tarik nafas dalam-dalam terus tahan sampai satu jam,"
"Mati dong Der??" tanya Ezza
"Gak akan Za, paling keluar dari bawah iya, wkwkwkwk," jawab Derry sambil terkekeh
"Sue Lo,"
"Yang penting kan menghilangkan ketegangan mu Za,"
"Iya sih, thanks my love,"
"Sama-sama cinta,"
"Baiklah karena pengantin wanita sudah hadir kita mulai saja ijab qobulnya. Apa Mas Ezza sudah siap??" tanya Kyai Umar
"Alhamdulillah siap pak penghulu,"
"Alhamdulillah,"
Gilang, Rangga dan Barra segera berjaga-jaga di depan pintu masuk rumah itu.
Tidak terkecuali dengan Lingga, lelaki itu benar-benar tegang menunggu ijab qobul Pernikahan Wiway dan Ezza.
"Santai saja Lee, gak usah tegang." ucap Barra menepuk pundaknya
"Kalau tegang keluarin dulu Lee, biar gak pusing!" celetuk Gilang menggodanya
__ADS_1
"Dasar Omes," sahut Lingga membuat ketiganya langsung terkekeh melihat ekspresinya.
"Jangan di godain Lang, kasian dia masih polos," sahut Rangga
"Iya polos kalau di kamar mandi?"
"Hadeeh, mending pindah tempat ah. Bahaya kalau Deket duren karatan
"Ikan hiu hiu ikut pesta, yuk kita mulai acaranya??"
"Bismillahirrahmanirrahim, Saya nikahkan dan kawinkan saudara Ezza Sinatria bin Wisnu Sinatra dengan Fatimah binti Abdul Aziz dengan mas kawin seperangkat perhiasan senilai 100 gram di bayar tunai!"
"Saya terima nikah dan kawinnya Fatimah binti Abdul Aziz dengan mas kawin tersebut diatas dibayar tunai!" ucap Ezza dengan lantang
"Bagaimana saksi,"
"Sah!!" teriak semua yang hadir di tempat itu.
"Alhamdulillah, Baarakallahu laka wa baarakaa alaika wa jamaa bainakumaa fii khoir." ucap Kyai Umar di Amini oleh para tamu undangan dan para saksi.
"Sepertinya aman bro," ucap Barra
"Benar, tidak ada tanda-tanda jika alam menolak pernikahan mereka seperti pernikahan mu dengan Ros," jawab Rangga
"Tapi aku malah curiga dengan situasi ini," tukas Gilang
"Kenapa emang,"
"Bukankah aneh jika ada pernikahan beda dunia tapi tidak terjadi sesuatu, " sahut Gilang
"Benar juga sih, tapi kan Wiway memang sudah menjadi setengah manusia jadi tidak ada yang salah dong dalam pernikahan mereka," sahut Barra
"Tidak ada dalam sejarah mahluk hidup yang sudah mati bisa hidup lagi sebagai manusia. Mereka akan tetap menjadi mahluk gaib selamanya meskipun ada seseorang yang sengaja membangkitkannya," jawab Gilang
"Benar juga Lang," sahut Rangga
"Ngeronda lah Bar-bar,"
"What ngeronda??" tanya Barra membulatkan matanya
"Iye, kita Ronda dimari Ampe subuh," jawab Rangga
"Dih ogah, masa kita harus menjaga pengantin baru yang sedang menikmati malam pertamanya. Tar kalau gue pengin gimana??" jawab Barra
"Pakai sabun atau hand body aja beres kan," jawab Gilang membuat ketiganya langsung terkekeh mendengarnya
"Wah pengalaman Lo bro," sahut Barra
"Rangga yang ngajarin,"
"Astaga sue Lo Lang, Fatonah!" sahut Rangga
"Ya ampun bapak-bapak bisa diem gak?" tanya Lingga menghampiri mereka
"Wani Piro?" tanya Gilang
"Secangkir kopi,"
"Murah amat, ogah!" sahut Gilang
"Hmmm,"
"Btw acaranya udah selesai apa kita sudah boleh pulang?" tanya Barra
"Sudah Om, tapi kalian belum boleh pulang dulu. Kalau istirahat saja sih boleh, atau ngopi dulu bentar silakan. Soalnya aku belum tenang sampai tiga hari kedepan," jawab Lingga
"Kenapa nunggu sampai tiga hari?" tanya Rangga
__ADS_1
"Karena menurut ensiklopedia online yang saya baca, 3 hari pasca pernikahan makhluk gaib dengan manusia adalah masa yang paling rawan, jadi aku mohon kalian tetap disini sampai tiga hari kedepan,"
"Filosofi yang masuk akal Lee, seperti kembang telon. Saat tiga karakter berbeda melebur jadi satu maka ada sesuatu yang pasti akan terjadi. Kita hanya tinggal menunggu kapan reaksinya akan di mulai," jawab Gilang
Malam harinya setelah acara pernikahan selesai Wiway dan Ezza masih harus menginap di rumah Lingga. Lelaki itu sengaja melarang keduanya untuk kembali ke kosan apalagi ke rumah Wisnu ayah Ezza.
"Kenapa kita harus menginap di sini selama tiga hari sih yank?" tanya Ezza
"Kita ikuti saja permintaan mereka, toh gak ada salahnya juga kita tinggal disini. Lagipula Om Lingga dan istrinya juga welcome. Jadi apa lagi yang dipermasalahkan," jawab Wiway
"Kalau itu aku tahu Wi, hanya saja tetap gak enak saja kalau kita menumpang di rumah orang lain meskipun mereka sudah seperti keluarga sendiri," tandas Ezza
"Iya sayang, emangnya apa sih yang membuat mu gak nyaman tinggal disini?" tanya Wiway lagi
"Gak enak kalau mau lembur di sini Sayang,"
"Astoge, ayank nakal ih," jawab Wiway mencubit manja pinggang Ezza
"Ya kan aku jujur sayang. Secara kita ini pengantin baru pasti lagi seneng-senengnya anu kan. Kalau di rumah sendiri kan kita bebas melakukannya kapanpun dimanapun. Tapi kalau di sini mana bisa, yang ada kita malah harus puasa," jawab Ezza
"Kata siapa kita akan puasa di sini, kita bisa kok melakukannya di sini malam ini juga," ucap Wiway mendorong tubuh Ezza ke ranjangnya.
"Memang janda lebih menggoda ya," ucap Ezza kemudian mematikan lampu kamarnya.
*Tok, tok, tok!!
"Sial, batu juga mau mulai pemanasan sudah ada iklan aja," keluh Ezza
Ia segera memakai kembali pakaiannya dan menutup tubuh Wiway dengan selimut.
"Tunggu dulu ya ayank, siaran langsungnya kita tunda dulu setelah iklan berikut ini," bisik Ezza kemudian mencium kening gadis itu
"Ok sayang, aku selalu setia menunggumu,"
Ezza segera keluar dan membuka pintu kamarnya.
"Lama banget Za, emangnya sudah mulai main golf nya?" goda Derry
"Baru pemanasan, tapi Lo udah ganggu!" sahut Ezza lesu
"Sorry bro, gak ada maksud ganggu malam pertama Lo. Tapi kedatangan gue kesini cuma menyampaikan pesan dari ayah aku,"
"Cepat katakan apa pesan dan kesannya?"
"Kamu di suruh menemuinya sekarang," jawab Derry
"Dimana dia??" tanya Ezza
"Ikut gue aja," Derry segera membawa Ezza ke ruang kerja Lingga.
"Masuk aja bro, sorry gue gak bisa nemenin Lo,"
"Iya gak papa Der, thanks ya," Ezza kemudian segera membuka pintu ruangan itu.
Lelaki itu segera masuk ke ruangan yang hanya diterangi oleh lilin saja.
"Ada apa Om memanggil ku?" tanya Ezza menghampiri seorang lelaki yang berdiri membelakangi meja kerjanya.
Ezza begitu terkejut saat lelaki itu membalikkan badannya dan menatapnya bengis.
*Bruugghh!
Seketika tubuh Ezza jatuh tak sadarkan diri di lantai.
********"****
Jangan lupa dukung author dengan cara like komen dan favoritkan novel ini. Terimakasih semuanya 😘😘😘
__ADS_1