Call Me Wiway

Call Me Wiway
Chapter 76. Kau Pantas Mati


__ADS_3

"Mamah!" Berlin berteriak histeris saat tiba di rumahnya. Ia menangis tersedu-sedu melihat jenazah ibunya terbaring di ruang tamu.


Ia begitu terpukul setelah di tinggalkan satu-satunya orang yang ia sayangi.


"Mamah, kenapa kau pergi meninggalkan Berlin. Sekarang Be gak punya tempat berkeluh kesah lagi, karena hanya mamah yang mengerti aku dan selalu ada saat Be sedang sedih," ucapnya sembari terus mengusap air matanya yang tak berhenti berderai membasahi pipinya.


"Sekarang Be sendirian mah, aku takut...aku takut Wewe Gombel itu akan menyakitiku lagi," imbuhnya.


"Jangan sedih Be, kamu gak sendirian kok. Ada aku yang akan selalu ada di sisimu. Aku akan selalu ada saat kau sedang butuh teman untuk berbagi cerita, aku juga akan mendengarkan semua keluh kesah mu. Dan mulai sekarang Aku juga akan menjaga dan melindungi mu dari siapapun yang akan menyakitimu," ucap Derry kemudian memeluknya erat.


"Thanks Der," ucap Berlin lirih.


"Apa kau juga akan melindungi ku dari Wiway yang akan membunuhku?" tanya gadis itu menatap lekat kearah Derry


Derry hanya diam tanpa menjawabnya.


"Aku yakin kau takan bisa, kau tidak akan berani melawan Iblis sekaligus kekasih sahabat mu itu," tukas Berlin sinis.


Ia kemudian bergegas meninggalkannya.


*Grepp!


Derry segera menarik lengan Berlin dan menatapnya tajam.


"Aku akan melindungi mu dari Wiway, yang jelas aku tidak akan membiarkan dia menyakiti gadis yang aku sayang," ujar lelaki itu


"Apa kau berani membunuhnya demi aku?" tanya Berlin sinis


"Aku memang tidak bisa melukai Wiway tapi aku tidak bisa membiarkan dia melukai mu Be,"


"Sudah ku duga, pergilah. Aku tidak butuh lelaki pengecut seperti dirimu. Aku bisa menyingkirkan Wiway dengan tanganku sendiri." sahut Berlin melepaskan tangannya dan meninggalkan Derry.


Pagi itu juga Berlin mencari tahu tentang semua dukun-dukun tersakti di Jakarta.


"Akhirnya aku dapat juga," gadis itu segera menghubungi nomor yang tertera dalam sebuah web.


Setelah selesai menghubungi nomor itu Berlin segera memakai baju serba hitam dan menutupi rambutnya dengan hijab hitam senada dengan pakaiannya.


Gadis itu berjalan menghampiri seorang Kyai yang sedang mengurus jenazah Dewi.


"Assalamualaikum Pak De," ucapnya parau


"Waalaikum salam Be, kenapa?" tanya lelaki itu ketika melihat wajah sembab Berlin.


"Aku takut pak Dhe, aku takut dia akan mendatangi ku dan membunuhku seperti papah dan mamah," ucap gadis itu berderai air mata


"Kau tidak perlu takut, insya Allah pak Dhe akan menjagamu sesuai amanah ibumu," ucap lelaki itu.


"Jadi maksudnya Pak Dhe akan menjagaku di sini?" tanyanya berbinar.

__ADS_1


"Pak Dhe tidak bisa tinggal di sini karena harus mengurus pondok pesantren. Kalau kamu tidak keberatan kamu bisa tinggal di pondok untuk sementara waktu, agar mahluk itu tak bisa mencelakai dirimu. Insya Allah Pak Dhe akan selalu menjaga dan mengawasi mu dari jauh, jadi jangan takut lagi ya," ucap lelaki itu mengusap kepalanya.


"Hari ini aku akan ke kampus Pak Dhe untuk mengurus cuti, aku harap pak Dhe bisa menjagaku karena aku yakin mahluk itu ada di sana menungguku," ucap Berlin


"Tentu saja nak, kau pergilah biar aku yang akan mengurus pemakaman ibumu,"


"Terimakasih pak Dhe,"


Berlin segera bersiap-siap untuk pergi ke kampus.


"Kamu mau kemana Be?" tanya Derry menahannya


"Aku mau ke kampus emangnya kenapa?" jawabnya sinis


"Jangan gila Be, mamah kamu belum di makamkan kenapa kau malah pergi ke kampus. Sebaiknya tunda dulu urusan kamu, toh itu bisa dilakukan lain kali. Sekarang yang terpenting kau harus mengantarkan ibumu ke peristirahatan terakhirnya," ucap Derry


"Tidak ada yang lebih penting saat ini kecuali melihat mahluk itu mendapatkan balasan atas apa yang sudah ia lakukan pada mamah dan papah. Aku yakin mamah juga akan senang melihat Wewe Gombel itu mati dan kembali ke Neraka," Berlin segera bergegas menaiki mobilnya.


"Kamu benar-benar gila Be. Kamu sudah di butakan oleh dendam yang bisa menghancurkan dirimu sendiri." ucap lelaki itu


Setibanya di kampus Berlin segera menunju lokasi yang sudah di share oleh sang dukun.


*Tap, tap, tap!!!


"Aku sudah tidak sabar melihat wanita itu mati," Berlin menghendaki langkahnya di sebuah ruangan kosong. Matanya tertuju pada sosok Ezza yang tertatih membopong tubuh Wiway yang terluka.


Gadis itu tersenyum bahagia ketika melihat Wiway sekarat dalam gendongannya Ezza.


"Percuma saja kau menolongnya Ezza, karena dia akan mati juga," imbuhnya kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya


"Sekarang rasakan bagaimana sakitnya sakaratul maut!" seru Berlin melemparkan daun kelor ke wajah Wiway hingga ia menjerit kesakitan.


"Arrgghhh panas!!" serunya menutupi wajahnya.


"Bunuh dia sekarang Aki!" ucap Berlin


"Berlin!!" Seru Ezza meradang


"Jadi kau yang memanggil mereka untuk menyakiti Wiway!" seru Ezza begitu geram


"Tentu saja, aku bahkan rela tidak menghadiri pemakaman ibuku hanya untuk melihat detik-detik kematian iblis itu!" sahut Berlin


"Nyawa harus di bayar nyawa, dia sudah membunuh kedua orang tuaku dan menjadikan aku sebagai anak yatim-piatu, jadi tidak salah bukan jika aku membalas kejahatannya." imbuhnya menyeringai


"Kau!!" seru Ezza menahan amarahnya


"Jangan pernah sentuh dia atau kau akan berhadapan denganku!" Aby memasuki ruangan itu.


"Ada pahlawan kesiangan rupanya," umpat Berlin

__ADS_1


"Bawa dia pergi dari sini, biar aku yang akan menghadapi mereka," ucap Aby menghampiri mereka.


"Coba saja kalau bisa," Berlin segera bersiul dan tiba-tiba beberapa lelaki bertubuh besar muncul di tempat itu


"Aku sudah menduga kau akan datang mengacaukan rencana ku, jadi sengaja ku persiapkan mereka untuk memberikan pelajaran padamu," Berlin segara melipir menjauh dari mereka.


"Dasar brengsek kau Be!" seru Ezza


Beberapa lelaki itu segera menyerang Aby dan Ezza.


"Pergi dari sini biar aku yang menahan mereka," ucap Aby


"Bagaimana aku bisa pergi dari sini jika mereka terus menyerang ku," sahut Ezza.


*Buuggghhh!!


Sebuah tendangan keras mendarat di punggung Ezza membuat pemuda itu sempoyongan dan jatuh tersungkur ke lantai.


"Wiway kamu tidak apa-apa sayang," ia merangkak hendak mendekati Wiway yang terhempas beberapa meter darinya.


"Arrgghhh!!" Ezza mengerang kesakitan ketika Berlin sengaja menginjak telapak tangannya dengan high heelsnya.


"Kau sudah membuat ku kesal Za, jadi jangan salahkan aku jika aku menyakitimu," Berlin langsung menendang bekas luka Ezza membuat pemuda itu meringis menahan sakit.


Sementara itu sang dukun berjalan menghampiri Wiway yang terkapar di lantai.


"Tidak ku sangka Iblis seperti dirimu harus kehilangan kekuatannya di siang hari," Ia segera mengeluarkan sebuah paku emas dari saku bajunya.


"Semoga dengan paku bumi ini aku bisa mengakhiri petualangan mu sebagai hantu gentayangan,"


Baru saja ia akan menancapkan paku itu ke kepala Wiway tiba-tiba tangan ia terkejut ketika Wiway menahan tangannya.


"Bagaimana bisa ???" ucapnya dengan wajah pucat melihat sosok Wiway


*Kreekkk!!


"Arrrrrghhh!!" lelaki itu menjerit histeris saat Wiway berhasil mematahkan lengannya.


Mendengar erangan sang dukun membuat Berlin langsung berhenti merundung Ezza yang sudah tak berdaya.


"Sial, bagaimana bisa dia bangkit lagi!. Kenapa juga Pak Dhe berhenti mengaji, pasti ada yang tidak beres!" umpat Berlin


Ia segera mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


Selesai menghabisi nyawa sang Dukun Wiway kemudian menghampiri Berlin yang masih menelpon seseorang.


"Kau memang pantas mati!" serunya kemudian menyeret gadis itu.


اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

__ADS_1


Seorang pemuda memasuki ruangan itu sembari membaca ayat Kursi membuat Wiway seketika terjatuh ke lantai.


__ADS_2