
*Prannggg!!
"Ezza!!" Wiway segera keluar dari kamarnya menuju dapur.
Ezza mulai merasakan pandangannya kabur, ia kemudian mengucek-ngucek matanya memastikan semuanya baik-baik saja.
Kepalanya mulai terasa berat membuat tubuh buah pemuda itu oleng.
"Kenapa dadaku terasa nyeri sekali," ucap Ezza sembari memukul-mukul dadanya.
Kini Ezza merasakan Bumi seperti bergoyang, pandangannya mulai gelap dan ia jatuh pingsan.
*Bruuugghh!!!
"Ezza!!!" seru Wiway segera langsung menghampirinya.
"Kamu kenapa Za, Ezza bangun Za!" serunya mencoba membangunkan lelaki itu.
"Tolong!!"
Tidak lama sebuah mobil ambulans datang dan membawa Ezza menuju rumah sakit.
"Selama perjalanan menuju rumah sakit Wiway terus memegang erat tangan Ezza. Ia begitu gusar melihat wajah lelaki itu yang terlihat membiru.
"Apa yang terjadi dengan Ezza!" seru Neneng berlari menghampiri Wiway.
"Aku tidak tahu Tan, tiba-tiba saja Ezza pingsan di dapur," jawab Wiway
Seorang dokter keluar dari ruang UGD, membuat kedua wanita itu langsung menghampirinya.
"Bagaimana keadaan Ezza dok?" tanya Neneng
" Apa anda keluarganya?" dokter itu balik bertanya
"Benar, saya bibinya," jawab Neneng
"Sebaiknya kita bicara di ruang kerja ku saja, karena ada banyak yang ingin aku tanyakan pada anda," jawab sang dokter
"Baik dok," jawab Neneng kemudian mengikutinya menuju ruang kerjanya.
"Silakan duduk," ujar sang dokter, dan Neneng pun langsung menuruti instruksinya.
"Apa pasien mempunyai riwayat penyakit kronis atau penyakit keturunan?" tanya dokter itu memulai percakapannya.
"Tidak ada dok, Alhamdulillah sejak kecil Ezza adalah anak yang sehat dan jarang sekali sakit," sahut Neneng
"Apa akhir-akhir ini dia melakukan kegiatan outdoor seperti mendaki gunung atau semacamnya?"
"Tidak dok, meskipun Ezza hobi mendaki gunung tapi setelah ayahnya pergi dia tidak pernah mendaki lagi," sahut Neneng
"Menurut hasil pemeriksaan Ezza memang sehat dan kami juga memastikan pasien tidak mempunyai penyakit kronis dalam dirinya. Bahkan hasil tes darah menunjukkan dia itu baik-baik saja. Aku belum pernah menemukan kasus seperti ini sebelumnya, tapi anda tidak perlu khawatir aku dan tim dokter lainnya akan berusaha keras untuk menyelamatkan ponakan anda," terang sang dokter
Wiway yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka langsung diam membisu mendengar penjelasan dokter.
Apa ini semua karena aku, apa aku yang sudah menyebabkan Ezza sakit. Apa perkataan Aby benar,
__ADS_1
Gadis itu semakin gusar memikirkan hal terburuk yang akan terjadi kepada Ezza. Ia segera pergi dari sana ketika melihat Neneng beranjak dari kursinya.
"Terimakasih dok," jawab Neneng kemudian meninggalkan ruangan itu.
Wanita itu kemudian menghampiri Ezza dan termangu menatap lekat tubuh Ezza yang masih belum sadarkan diri.
"Apa yang harus aku lakukan Za, apa aku harus memanggil dukun atau orang pintar untuk mengobatimu. Lalu bagaimana dengan ayahmu, aku yakin Abang akan sangat marah jika mendengar berita ini, dan mungkin juga ia akan mengusir ku dari rumahnya karena tidak bisa menjagamu. Katakan Za, apa yang haru bibi lakukan agar kau bisa segera bangun," ucap wanita itu getir.
Ia mengusap lembut wajah ponakannya, "Bahkan tubuhmu juga tidak dingin atau panas seperti orang sakit pada umumnya. Tapi kenapa wajahmu membiru Ezza,"
Suara getar gawai membuat Neneng segera meninggalkan Ezza.
Tidak lama kemudian Wiway muncul dan menatap lekat sosok lelaki dihadapannya.
"Maafkan aku Za sudah membuat mu seperti ini, sekarang aku sadar keberadaan ku di sisimu hanya akan membuatmu menderita. Meskipun aku sangat mencintaimu dan tidak ingin berpisah denganmu tetap saja aku tidak boleh egois. Mulai sekarang aku akan pergi dari kehidupan mu selamanya, aku harap kau segera sembuh dan hidup bahagia selamanya. Selamat tinggal sayang, I Love you so much," ucap Wiway kemudian mengecup kening Ezza. Gadis itu kemudian melepaskan cincin yang dipakainya dan memasangkannya di jari manis Ezza.
"Walaupun aku pergi meninggalkan dirimu tapi kau harus tahu jika aku selalu mencintaimu sampai kapanpun. Rasa cintaku tak akan pernah berubah padamu apapun yang akan terjadi denganmu," ucapnya sebelum pergi meninggalkannya.
***********
Malam itu Aby terkejut melihat kedatangan Wiway yang tampak gusar memasuki ruangan kerjanya.
"Apa yang terjadi, kenapa kau terlihat murung?" tanyanya mencari tahu apa yang terjadi dengannya.
"Ezza sakit By, dokter bilang dia baik-baik saja, tapi Ezza belum sadar juga. Apa ini semua karena aku?"
"Aku belum bisa memastikan sebelum aku melihatnya sendiri kondisi Ezza. Tapi jika melihat waktu kebersamaan kalian yang sudah memasuki hari ke 31 itu bisa saja terjadi," jawab Aby semakin membuat Wiway gusar.
"Lalu apa yang harus aku lakukan agar ia bisa kembali seperti semula?" tanya Wiway lagi
"Bagaimana bisa aku melakukan semua itu jika Ezza saja belum bangun," jawab Wiway.
"Aku akan membantu mengobatinya, kau ikuti saja apa yang aku perintahkan,"
"Baik By, semuanya akan aku lakukan demi Ezza,"
*******
Siang itu Berlin bergegas menuju ke rumah sakit tempat Ezza di rawat.
Setibanya di sana ia langsung menuju bangsal perawatan
"Siang Tante?" sapa Berlin ramah
"Siang Be,"
"Bagaimana keadaan Ezza Tan?" tanyanya lagi.
"Masih belum sadar," jawabnya parau
"Memangnya apa penyakitnya Tan?" tanya gadis itu lagi
"Dokter bilang dia tidak sakit,"
"Kalau begitu kenapa masih belum sadar?"
__ADS_1
"Itulah yang membuat kami semua bingung termasuk para dokter yang merawatnya,"
Berlin segera menghampiri Ezza dan melihat kondisinya dari dekat.
"Wajahnya membiru, suhu tubuh normal, aku yakin ada yang tidak beres dengannya," Berlin segera mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Halo Mas, bisa gak Mas datang ke Rumah sakit Harapan sekarang?"
"Memangnya ada apa,"
"Temen saya sakit Mas, tapi sepertinya bukan sakit biasa karena menurut dokter dia tidak sakit." sahut Berlin
"Baiklah, sekarang juga aku akan segera meluncur kesana,"
"Baik Mas, terimakasih atas bantuannya," sahut Berlin kemudian mengakhiri obrolannya.
"Tante tenang saja, sebentar lagi Mas Aby akan ke sini untuk memeriksa kondisi Ezza," ucap Berlin mencoba menenangkan Neneng
"Siapa Aby?" tanya wanita itu
"Dia itu guru spiritual keluarga kami atau bisa disebut sebagai dukun. Dia adalah dukun terbaik di Jakarta, aku yakin dia bisa menyembuhkan Ezza,"
"Aamiin,"
Tiga puluh menit kemudian terdengar suara ketukan pintu di ruang perawatan Ezza. Neneng segera bergegas membuka pintu ruangan itu. Seorang pemuda tampan tersenyum simpul menyapanya.
"Siang Tante, apa ini benar ruang perawatan Ezza?" tanyanya ramah
"Benar, anda siapa ya?" tanya wanita itu tertegun menatap lelaki di hadapannya.
"Saya Aby Tante, kebetulan Berlin yang mengundang saya kemari?" jawabnya membuat Berlin langsung menghampirinya.
"Masuk Mas!" ucap Berlin menarik lengannya
"Wah, aku tidak menyangka ada dukun setampan Park Bo Gum," ucap Neneng menggelengkan kepalanya
Aby segera menghampiri Ezza dan mengusap wajahnya.
"Apa yang terjadi dengannya Mas?" tanya Berlin
"Kau tidak perlu panik, sebentar lagi dia akan siuman. Jadi bisa tolong tinggalkan aku berdua saja dengannya agar aku bisa konsentrasi menyembuhkannya," sahut Aby
"Baik Mas," jawab Berlin kemudian mengajak Neneng keluar meninggalkannya.
"Wiway, ngapain Lo ada disini!" seru Berlin saat melihat gadis itu sedang mengamati Ezza dari kejauhan
"Aku hanya ingin tahu keadaannya saja kok," jawab Wiway
Mendengar jawaban Wiway membuat gadis itu meradang, ia kemudian menarik rambut Wiway untuk melampiaskan amarahnya.
"Dasar jal*ng tak tahu diri, sudah tahu Ezza sakit gara-gara lo, tapi kamu masih saja berani menginjakkan kakimu di sini!" hardiknya
"Lepaskan dia!!" seru Aby melerai keduanya
"Jangan pernah salahkan Wiway untuk apa yang menimpa Ezza, asal kau tahu dia datang ke sini bukan untuk menjenguk Ezza tapi untuk menemani ku. Dan sebaiknya mulai saat ini kamu harus menghormatinya jika masih membutuhkan bantuan ku. Karena aku tidak akan pernah memaafkan apalagi menolong orang yang sudah menyakiti hati calon istriku," ucap Aby kemudian menggenggam jemari Wiway.
__ADS_1