Call Me Wiway

Call Me Wiway
Chapter 45. Mengobati Ezza


__ADS_3

*Braakkkk!!!


Ezza segera bangun dari tidurnya ketika mendengar sesuatu terjatuh di atap kamarnya. Pemuda itu begitu terkejut ketika melihat sosok bayangan hitam tiba-tiba muncul di hadapannya.


Mahluk itu menyeringai dan menatapnya nyalang membuat Ezza beringsut mundur menjauh darinya.


"Siapa kamu," ucap Ezza berusaha menghalau mahluk itu.


*Bruuugghh!


Lelaki itu langsung terkapar di lantai saat mahluk itu melesat menyerangnya.


Mendengar suara teriakan dari kamar Ezza membuat Neneng buru-buru turun dari roof top dan bergegas menghampirinya.


Ia segera membuka pintu kamar Ezza dan menghampiri Ezza yang terkapar di lantai.


"Ada apa denganmu Za??" tanyanya begitu panik saat mendapati Ezza kejang-kejang.


*Dreet, dreet, dreet!!


Wisnu segera mengangkat gawainya yang terus bergetar.


"Halo Neng, ada apa?"


"Cepat pulang Bang, Ezza kejang-kejang," sahut Neneng panik


"Baik, tunggu sebentar," Wisnu segera mematikan ponselnya.


"Boleh saya minta tolong padamu?" tanya Wisnu


"Katakan saja apa yang bisa saya bantu?" tanya Aby


"Jika tidak keberatan ikutlah denganku. Sepertinya ada yang menganggu putraku, jadi aku minta tolong padamu untuk mengobatinya." jawab Wisnu


"Ok," jawab Aby kemudian mengikuti lelaki itu.


Setibanya di rumah Ezza, Wisnu mengajak Aby menuju kamar Ezza.


"Abang, kenapa lama sekali!" seru Neneng menyambutnya


Aby segera mendekati Ezza dan memindahkannya keatas ranjangnya.


"Apa yang terjadi dengannya?" tanya Wisnu


"Sepertinya ada yang sakit hati dengannya hingga ia mengirimkan santet mematikan kepadanya," jawab Aby


"Santet??" ucap Wisnu tidak percaya


"Ternyata masih ada aja manusia primitif di era globalisasi seperti saat ini." imbuhnya sinis.


"Karena ini santet ilmu hitam yang sangat mematikan, saya butuh waktu untuk bisa menyembuhkannya. Karena tidak mudah menyembuhkan santet seperti ini," jawab Aby.


"Silakan saja Nak, tapi jangan terlalu lama juga karena aku takut putraku kenapa-kenapa," sahut Wisnu


"Baik, besok aku akan datang lagi. Sementara aku akan memberikan pagar gaib agar dukun itu tak menyerangnya lagi," sahut Aby


Setelah selesai mengobati Ezza, Abypun berpamitan.

__ADS_1


"Kenapa Abang tidak meminta bantuan dari Ustadz atau Kyai saja untuk menolong Ezza," ucap Neneng.


"Tentu saja, malam ini juga aku akan meminta bantuan temanku untuk mengobati Ezza, lagipula kau tahu kan jika aku paling tidak percaya dengan dukun atau klenik," jawab Wisnu kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Kalau Abang tidak percaya dukun, kenapa meminta bantuannya?" tanya Neneng


"Aku hanya penasaran saja, seberapa besar ilmu supranaturalnya, sampai ia bisa menyembuhkan Ezza yang mati suri kemarin," jawab Wisnu


"Dasar Abang selalu saja begitu," sahut Neneng kemudian bergegas meninggalkannya.


Satu jam kemudian seorang lelaki tua datang mengunjungi kediaman Wisnu.


"Assalamualaikum, Pripun kabare Mas Wisnu?" tanya lelaki itu ramah


" Waalaikum salam, Alhamdulillah baik Mas. Monggo silakan masuk," sahut Wisnu mengajak tamunya masuk


Lelaki itu segera mengikuti Wisnu menuju kamar Ezza.


"Piye critane kok Mas Ezza iso kena santet?" tanya lelaki itu sembari mengusap kening Ezza


"Entahlah Mas, saya juga kurang tahu karena baru tiba dari LA. Tapi sebelum kena santet Ezza juga sempat mengalami mati suri, padahal dia tidak sakit apa-apa." jawab Wisnu


"Hmmm,"


Wisnu kemudian menceritakan semuanya tentang Ezza termasuk hubungannya dengan Wiway kepada sang Kyai.


"Begitu ceritanya Mas," pungkas Wisnu


"Aku pernah mendengar ada seorang wanita yang berhubungan dengan mahluk astral bahkan sampai mereka menikah, tapi tidak terjadi apa-apa dengannya. Hanya saja memang dia menjadi indigo setelah di nikahi oleh mahluk itu. Tapi hanya Allah yang tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Mas Ezza."


"Tolong dia Mas, aku tidak mau lagi kehilangan orang yang aku sayangi untuk kedua kalinya,"


"Aamiin," jawab Wisnu


Kyai Umar kemudian membisiki sesuatu ke telinga Ezza, membuat lelaki itu seketika membelalakkan matanya dan menatapnya tajam.


"Kowe sopo?" ( siapa kamu )tanya Ezza dengan logat jawanya yang medok


"Perkenalkan Saya Umar, Aki,"


"Ojo mergo awakmu ahli ibadah, terus Kowe iso ikut campur urusane wong liyo." ( Jangan karena kau seorang ahli ibadah maka bisa ikut campur urusan orang lain )sambungnya kemudian beranjak dari ranjangnya.


"Maaf Aki bukannya saya ikut campur, hanya saja saya tidak suka melihat orang lain di dzolimi," jawab Umar santun


"J*ncuk, coba ae Yen Kowe iso ngalahake aku," (J*ncuk, coba saja kalau kamu bisa mengalahkan aku) sahutnya selah meremehkan Kyai Umar.


Tidak lama kemudian setelah mengoceh seperti itu Ezza kembali jatuh pingsan. Saat Kyai Umar melafalkan ayat-ayat suci Al-Qur'an tiba-tiba Ezza menjerit-jerit kesakitan.


Ezza menggeliat di tanah dan mengaum seperti seekor harimau.


"Cepat pegangi dia, terutama tangannya," ujar Kyai Umar yang segera membaca sesuatu kemudian menekan ubun-ubunnya seperti hendak mengambil sesuatu dan membuangnya


Ezza berhasil lolos karena terus meronta saat Kyai Umar mengobatinya. Wisnu dan Neneng terhempas setelah mencoba menahan pemuda itu.


Ezza kemudian bangun dan berlari menuju ke dapur membuat Wisnu dan Neneng langsung mengejarnya.


Setibanya di dapur terdengar suara Ezza tertawa terbahak-bahak dan mengambil sebuah pisau dan mengarahkannya ke lehernya.

__ADS_1


"Istighfar nak, istighfar!" seru Wisnu mencoba menyadarkannya.


"Ojo cedak-cedak, nek gak pengin arek Iki tak pateni," sahutnya menyeringai


"Jangan nekat Za, lepaskan pisau itu," ujar Neneng


*Tap, tap, tap!!


Ezza segera bersembunyi di bawah kolong meja ketika mendengar derap langkah mendekati dapur.


"Ndang lungo, nek sampeyan gak pengin mati," ucapnya dengan raut wajah ketakutan.


Tidak lama Kyai Umar memasuki dapur sembari terus melafazkan ayat-ayat suci Al-Qur'an.


Ia segera menghampiri Ezza dan mengambil pisau itu dari tangannya.


"Tulung aku pak Kyai," ucap Ezza menggenggam erat jemarinya.


"Pasti aku akan menolong mu," jawab Umar kemudian membawa Ezza keluar dari dari kolong meja


Ezza kemudian membisikkan sesuatu kepada Kyai Umar sebelum ia pingsan.


Kyai Umar hanya menghela nafas panjang setelah mendengar semua penuturan Ezza.


Tidak lama kemudian Ezza kembali meraung-raung membuat semua orang mengkhawatirkannya. Kyai Umar berusaha mengeluarkan sesuatu dari dalam tubuh Ezza.


Kini Ezza mulai mendesis seperti seekor ular dan meliuk-liuk tubuhnya di lantai.


Ia kemudian berganti mendesis ketika melihat sosok Aby tiba-tiba muncul di tempat itu. Ia menyeringai dan kemudian menyerangnya, membuat Aby dengan sigap langsung menahan kepalanya yang berusaha menyeruduknya. Dibantu doa Kyai Umar Aby akhirnya berhasil melumpuhkan mahluk tak kasat mata yang menguasai tubuh Ezza.


"Beruntung kita masih bisa mengalahkannya Kyai, karena kalau telat sedikit saja Ezza bisa mati," ujar Aby.


"Kalau diizinkan, malam ini saya akan menginap di sini untuk menjaga Ezza. Aku takut para dukun itu akan datang lagi menyerangnya," imbuhnya


"Silakan saja," jawab Wisnu.


"Alhamdulillah akhirnya Mas Ezza sudah siuman juga," Kyai Umar kemudian mendekati pemuda itu dan memberinya segelas air putih.


"Siapa namamu Le?" tanya lelaki itu


"Ezza pak Kyai," jawabnya lirih


"Alhamdulillah, berarti kamu sudah kembali L. Sekarang kamu istirahat saja. Besok aku akan datang lagi untuk mendengarkan ceritamu," ucap lelaki itu kemudian berpamitan.


Wisnu dan Neneng kemudian mengantar lelaki, dan kini hanya ada Ezza dan Aby di kamar itu.


"Untuk apa kau datang ke sini?" tanya Ezza sinis


"Tentu saja untuk menolong mu," jawab Aby


Ezza hanya tersenyum sinis mendengar jawaban Aby.


"Apa aku tidak salah dengar, bukannya kau justru senang jika aku mati?"


" Terserah apa katamu, karena bagiku Kau masih hidup ataupun sudah mati itu tidak penting." jawab Aby


"Kalau begitu pergilah dari sini, aku tidak butuh bantuan mu!" seru Ezza

__ADS_1


"Baiklah kalau itu mau, dan jangan sekali-kali kau mencari ku jika sesuatu terjadi padamu lagi," ucap Aby kemudian meninggalkannya.


__ADS_2