
"Karena aku tidak mau melihat mu dalam bahaya, kau boleh tinggal disini bersamaku," ucap Ezza mengajak Wiway ke kosannya.
"Sungguh??"
"Hmmm, bukankah kau bilang hanya butuh empat puluh hari saja untuk memastikan agar kau tak kembali ke bukit Gombel lagi?"
"Benar sekali, makasih banyak Ezza, aku tidak tahu harus bilang apa lagi sama kamu. Kamu benar-benar penyelamat hidupku, lope-lope Ezza," ucap wanita itu kemudian memeluknya erat.
"Biasa aja keles, Jan lebay!" seru Ezza melepaskan pelukannya
"Aku senang sekali, akhirnya ada juga yang peduli denganku. Aku jadi terharu,"
"Hmmm, btw Kau berani kan di kosan sendirian??" tanya Ezza
"Tentu saja, lagipula siapa yang berani menganggu Wewe Gombel seperti ku," sahut Wiway menyombongkan dirinya
"Bagaimana kalau lelaki tadi datang ke sini?" tanya Ezza
"Aku...aku paling akan lari dan mencari mu," jawab Wiway gusar
"Memangnya dia siapa dan kenapa dia mengejar mu?"
"Dia seorang dukun yang diperintahkan oleh seseorang untuk mengembalikan aku ke bukit Gombel."
"Jika dia diperintahkan oleh seseorang, berarti memang ada yang sengaja membuat mu terkurung di tempat itu,"
"Entahlah, aku juga tidak tahu pasti tentang hal itu, jadi aku tidak mau menuduh mereka yang mengurungku di sana,"
"Kampusku tidak jauh dari tempat ini, jadi jika terjadi sesuatu denganmu kau boleh menyusul ku ke sana,"
"Oghey," jawab Wiway mengedipkan matanya
"Kalau begitu aku pergi dulu ya, bye!" Ezza kemudian bergegas keluar dari kosan itu
"Papay!"
***********
"Mudah-mudahan hari ini aku bisa bertemu dia lagi," Neneng merapikan rambutnya sebelum memasuki halaman kampus.
Wanita itu melangkahkan kakinya dengan penuh percaya diri.
"Miss Neneng," sapa seorang lelaki menghampirinya
"Mr. Saragih," sahut wanita itu tersipu-sipu
"Senangnya bisa bertemu denganmu lagi Miss Neng,"
"Ah Mr. bisa aja," sahut Neneng sembari mendorong manja lelaki itu
*Bruuugghh!!
"Arrgghhh!" Mr. Saragih mengerang kesakitan saat tubuhnya terhempas ke lantai
"Oh no....maafkan aku Mr. Saragih, aku tidak sengaja membuat mu seperti ini," ucap Neneng merasa bersalah karena telah membuat lelaki itu jatuh terjerembab ke lantai.
"It's Ok, aku tidak apa-apa. Aku tahu kau tidak sengaja melakukannya. Btw kamu itu makannya apa sih kok bisa kuat sekali sampai sentuhan lembut mu bisa menghempaskan tubuhku," ucap Mr. Saragih
"Ops, mungkin karena pagi ini saya sarapan nasi putih tiga piring plus telor rebus setengah kilo sama oseng-oseng bayi tikus yang baru menetas, jadi level kekuatanku semakin bertambah," jawab Neneng malu-malu
"Pantesan, kamu kuat seperti Adenya Ray," sahut Saragih
"Banyak yang bilang begitu, tapi sebenarnya aku ini mantan atlet angkat besi, jadi sudah biasa kalau makannya banyak. Kadang aku suka malu dengan kebiasaan ku itu," jawab Neneng
__ADS_1
"Kau tidak perlu malu, justru aku suka wanita kuat seperti dirimu. Aku tidak suka wanita yang pilih-pilih makanan, atau sengaja mengurangi makan hanya demi memiliki body yang aduhai. Tapi... meskipun kau makan banyak tapi badanmu tetap bagus,"
"Terimakasih," jawab Neneng kemudian mengulurkan tangannya dan membantu Mr. Saragih berdiri.
"Bukankah itu Bi Neneng, kenapa dia ada di sini,"
"Bibi!!" seru Ezza memanggil wanita itu.
"Ezza!!" seru wanita itu segera melepaskan tangan Mr. Saragih hingga lelaki itu kembali kembali terjatuh ke lantai.
*Bruuugghh!!!
"Aarrgghhh!!"
Wanita itu menoleh sejenak kearah Saragih.
Maaf
"Ada urusan apa Bibi datang ke kampus Ezza?"
"Oh itu anu...." jawab wanita itu gagap
"Dia ingin mengurus administrasi perkuliahan mu," sahut Mr. Saragih menengahi keduanya.
"Benarkah??"
"Iya, sekalian Bibi juga membawakan bekal untuk mu," Neneng mengeluarkan bekal makanan untuknya.
"Tidak usah Bi, memangnya aku anak kecil apa. Baiklah kalau bibi akan mengurus administrasi perkuliahan ku. Kalau begitu Ezza pamit masuk kelas dulu, dadah!" sahut Ezza kemudian meninggalkan mereka berdua
"Dadah,"
Begitu melihat Ezza pergi meninggalkannya, Neneng segera mendekat kearah Mr. Saragih.
"Terimakasih sudah membantu menjelaskan kepada Ezza, dan juga maaf aku terpaksa mengabaikan mu untuk sesaat. Itu karena aku belum siap menunjukkan kedekatan kita padanya,"
"Unncchhh So sweat,"
**************
"Ezza!" sapa Derry menghampirinya
"Oi,"
"Tumben Lo masuk, bukannya gak ada mata kuliah hari ini?"
"Itu karena aku harus mengulang satu mata kuliah yang kemarin dapat nilai D,"
"Oh begitu, yaudah semangat!!" seru Derry meninggalkannya.
Ezza segera duduk di urutan belakang, dan tidak lama seorang lelaki muda memasuki ruangan itu.
"Bukankah itu lelaki yang hampir mencelakai Wiway," Ezza benar-benar terkejut melihat Aby memasuki ruang kelasnya.
"Perkenalan saya Abymana Prasetyo dosen baru yang akan mengajar statistik menggantikan Pak Yusuf Alfandi," ucapnya singkat
Lelaki itu membuka perkuliahan dengan singkat dan mengajar dengan sangat menarik membuat semua siswa antusias mengikuti mata kuliahnya kecuali Ezza yang terus menutupi wajahnya dengan buku agar lelaki itu tak mengenalinya.
"Apa ada pertanyaan?" tanya lelaki itu sebelum menutup perkuliahannya.
"Tidak ada," jawab semua mahasiswa serentak.
"Baiklah kalau begitu saya akhiri perkuliahan hari ini dan jangan lupa kumpulkan tugas kalian melalui email paling lambat lusa," ucapnya kemudian meninggal ruang kelas itu
__ADS_1
"Akhirnya selesai juga," Ezza segera membereskan buku-bukunya dan bergegas meninggalkan ruangan itu.
"Wiway lagi ngapain ya, mudah-mudahan dia tetap diam di kosan dan tidak menarik perhatian penghuni kosan lainnya.
Sementara itu di kosan Ezza.
"Neng, boleh kenalan gak?" tanya seorang lelaki menghampirinya saat ia keluar dari kamarnya.
"Sekalian minta nomornya dong kalau boleh,"
Gadis itu hanya menyunggingkan senyumnya saat melihat semua penghuni kos keluar untuk menyapanya.
"Dilarang nikung pacar orang!" seru Ezza langsung menarik lengan Wiway
"Sial, bandotnya datang," cibir salah seorang dari mereka
"Hooh,"
Wiway tersenyum melihat Ezza begitu peduli dengannya.
"Terimakasih Ezza,"
"Terimakasih buat apa?" Ezza balik bertanya
"Karena sudah peduli denganku," jawabnya sumringah
"Hmmm, jangan geer dulu, aku melakukan itu semua bukan karena aku care sama kamu tapi karena aku tidak mau kau menarik perhatian penghuni lainnya. Kan gawat kalau ibu kos sampai tahu ada cewek di sarang penyamun, bisa-bisa kau diusir dari tempat itu. Makanya kau harus diam-diam di rumah dan jangan sampai ibu kos tahu kau tinggal di kosan itu bersamaku, Ok," papar Ezza
"Ok,"
"Btw kita mau kemana sekarang Za?" tanya Wiway
"Beli keperluan pribadimu,"
"Ok," jawab gadis itu bersemangat
"Sepertinya dia senang sekali sampai berjalan secepat itu, ck, ck, ck!!"
Keduanya kemudian berbelanja di minimarket yang tak jauh dari kosan Ezza.
Saat mereka keluar dari minimarket tiba-tiba seorang lelaki langsung menarik Ezza ke tempat sepi dan memukulinya.
"Dasar Playboy sialan, beraninya kau bersenang-senang dengan gadis lain setelah apa yang kau lakukan pada adikku!" seru lelaki itu menarik kerah bajunya.
*Buuggghhh!!
Mereka bergantian memukuli Ezza hingga membuat pemuda itu tak bisa membalas serangan mereka.
"Kau boleh saja selamat dari kematian hari itu, tapi tidak hari ini," ancam seorang lelaki mengeluarkan sebuah belati dan mengarahkannya kepada Ezza.
"Hentikan!" seru Wiway menghampiri mereka
Kedatangan Wiway disambut gelak tawa Roy dan teman-temannya.
"Emangnya kau bisa apa hah, apa kau akan berteriak meminta bantuan orang-orang untuk menyelamatkan kekasihmu itu," ujar Roy mengolok-oloknya
"Aku bisa melakukan apapun yang tidak bisa kalian lakukan, jadi berhentilah merundungnya sebelum aku memberikan pelajaran pada kalian semua.
"Uh, takuut, hahahahahaha!" sahut Roy lagi-lagi menertawakannya.
"Baru kali ini aku lihat ada ******* yang punya nyali gede, wkwkwkwk!" imbuhnya menghampiri Wiway
"Sebaiknya kau diam saja jal*ng, untung saja kau memiliki wajah yang cantik karena kalau tidak aku sudah menghajar wajah mu itu," saat Roy berusaha mengusap lembut wajahnya, gadis itu langsung menangkap telapak tangannya dan kemudian memelintirnya hingga ia mengerang kesakitan.
__ADS_1
Roy berusaha melepaskan tendangan kearahnya namun dengan cepat Wiway melempar pemuda itu hingga tersangkut diatas pohon.
Tentu saja hal itu membuat teman-teman Roy ketakutan melihatnya.