
Sekarang giliran mu, Dewi.
Wiway berjalan memasuki kediaman Dewi, membaur bersama para Tamu yang hadir di rumah itu. Sehingga kedatangannya tak terendus oleh Ki Kusumo ataupun Aby yang bersiaga di tempat itu.
Ia segera memakai kacamata hitam dan menutupi sebagian Wajahnya dengan kerudung hitam ketika melihat Ezza dan Derry tak jauh darinya.
"Wiway,"
Seketika Ezza menghentikan tawanya ketika melihat seorang wanita berjalan masuk menyusul Berlin.
"Lo mau kemana Za!" seru Derry ketika melihat Ezza berlari masuk kedalam rumah.
"Gak usah ikutin gue, dan jangan banyak tanya," sahut Ezza melepaskan tangan Derry.
Ia segera berlari kedalam rumah mencari keberadaan Wiway dan juga Berlin.
"Be dimana Lo!" seru pemuda itu menuju ruang dapur.
Wiway segera bersembunyi ketika melihat pemuda itu masuk ke dapur.
*Grepp!!
"Jangan lakukan itu lagi Wi, sudah cukup yang kau lakukan terhadap Om Galih. Berlin tidak ada urusannya denganmu jadi jangan ganggu dia," ucap Ezza kemudian membalikkan tubuh wanita itu.
"Sorry Be, aku kira kamu Wiway," ucap Ezza kecewa karena bukan Wiway yang ia tangkap tapi Berlin.
"Gak papa kok Za," jawab Berlin
Ezza kemudian bergegas meninggalkan gadis itu.
"Aku yakin tadi itu Wiway tapi kenapa tiba-tiba berubah jadi Berlin,"
"Kemana aja Lo Za, di tungguin malah ngilang?" tanya Derry
"Iya nih, mending buruan minum kopinya biar gak dingin," ucap Berlin membuat Ezza terkejut melihatnya.
Kalau Berlin ada di sini, lalu yang di dalam itu siapa?.
Ezza segera bergegas kembali ke dapur, ia berlari secepat mungkin berharap masih bisa menemukan Wiway di sana.
Kenapa aku begitu bodoh, kenapa aku tidak bisa mengenalimu,
Ezza harus menelan kekecewaan ketika tak mendapati Wiway di sana.
"Sial," ia segera bergegas mencari ke ruangan lain.
"Dimana kamu Wi, kenapa kau tidak menemui ku. Apa kau tidak tahu jika aku begitu merindukan mu," ucap Ezza gusar
"Tante Dewi, aku yakin Wiway pasti mengibaskannya," Ezza kemudian mencari wanita itu di ruang utama.
Ezza hanya menatap wanita itu dari kejauhan, kerena begitu banyak tamu yang menemuinya.
"Kenapa kau ada disini?" sapa Aby mengagetkan pemuda itu
"Aku hanya ingin memastikan Tante Dewi baik-baik saja," jawab Ezza
"Apa kau tidak melihat Wiway ada di sini?" tanya Aby membuat Ezza langsung gugup.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak melihatnya," jawab Ezza
"Kalau kau melihatnya segera kasih tahu aku atau Ki Kusumo," ucap lelaki itu
"Baik By," sahut Ezza
Aby kemudian meninggalkan lelaki itu dan kembali berkeliling mencari keberadaan Wiway.
"Kasian sekali Wiway, pasti dia sekarang ketakutan karena dua dukun sedang mencarinya,"
"Bro kita balik yuk," ajak Derry menghampirinya
"Kenapa buru-buru sih, bukannya Lo masih ingin menghibur Berlin?" sahut Ezza
"Berlin sudah di jaga oleh Aby jadi dia tak butuh gue lagi," sahut Derry
"Sabar bro, aku yakin kalau kalian berjodoh insya Allah kalian pasti akan bertemu juga," sahut Ezza
"Gak berjodoh kita juga setiap hari ketemu Za, kan kuliah bareng," jawab Derry
"Bener juga sih wkwkwkwk, semangat ya bro!" ucapnya
"Ok semangat," jawab Derry.
"Kalau mau balik duluan aja, gue masih ada urusan di sini." imbuh Ezza
"Ok," Derry kemudian beranjak pergi meninggalkan kediaman Dewi.
*Tap, tap, tap!!!
Aby segera menghampiri wanita itu dan menariknya.
"Kau boleh saja, menipu orang-orang tapi tidak denganku. Meskipun kau menyamar menjadi orang lain namun aku bisa mengenalimu dari aroma tubuhmu," ucap Aby
"Sekarang ikutlah denganku," imbuhnya menarik lengan gadis itu
Aby sengaja membawa pergi Wiway melalui pintu belakang agar tidak seorangpun yang melihat keduanya.
Setibanya di klinik Aby segera mengajak Wiway masuk dan beristirahat.
"Makanlah, kau pasti lapar kan," ucapnya memberikan sepiring kecil kembang telon padanya.
Wiway kemudian memakan bunga itu dengan lahapnya.
"Untuk sementara tinggallah di sini," ucapnya menatap sendu wanita itu
"Kau pasti sangat menderita saat berubah menjadi mahluk yang menyeramkan bukan?" imbuhnya mengusap lembut wajah gadis itu.
Wiway masih saja diam tanpa bicara sepatah katapun padanya, namun lelaki itu tidak peduli ia tetap setiap menemaninya dan berada di sampingnya.
"Aku harus pergi," ucap Wiway saat jarum jam menunjukkan pukul setengah enam petang
"Kau tidak boleh pergi dari sini Wi, apapun yang terjadi tetaplah di sini. Berbahaya jika kau berada di luar karena banyak yang ingin membunuhmu," cegah Aby
"Aku tidak peduli, lagipula jika aku tetap di sini maka kau yang akan mati," sahut Wiway melepaskan tangannya.
"Aku tidak peduli Wi, bunuhlah aku jika itu bisa membuat mu puas. Aku rela menumbalkan diriku asal kau bisa kembali menjadi Wiway yang dulu," ucap Aby memeluknya dari belakang.
__ADS_1
Wiway segera melepaskan pelukannya, "Maaf aku tidak bisa," jawabnya lirih
Saat gadis itu melangkahkan kakinya ia berhenti di depan loker miliknya.
Saat ia hendak membuka loker itu tiba-tiba ia jatuh tersungkur ke lantai membuat Aby segera berlari menghampirinya.
"Kamu kenapa Wi?" tanyanya sembari membantunya berdiri.
Wiway segera mendorong lelaki itu dan menghilang dari hadapan Aby.
Aby segera bangun dan mengejar wanita itu, ia melesatkan mobilnya menuju ke rumah Dewi.
"Aku yakin dia kesana," ucapnya begitu yakin.
🎶Lingsir wengi sliramu tumeking sirno
Ojo tangi nggonmu guling
Awas jo ngetoro
Aku lagi bang wingo wingo
Jin setan kang tak utusi
Dadyo sebarang
Wojo lelayu sebet🎶
Suara kidung itu seakan menjadi magnet untuk Wiway, alunan nadanya menarik mahluk itu kepadanya.
Seorang lelaki tua tersenyum sumringah ketika melihat kedatangan Wiway di kediamannya.
"Kau sudah datang Fatimah?" sapanya kemudian bangun dan berdiri
"Kenapa kau memanggilku Aki?" tanya Wiway geram
"Aku yang sudah membuat mu seperti ini, jadi mari kita selesaikan urusan kita malam ini juga. Dan berhentilah membunuh mereka yang tidak terlibat dalam urusan kita, karena akulah yang bertanggung jawab atas semuanya." jawab Ki Kusumo
"Besar juga nyali mu mengundang ku ke sini, apa kau benar-benar sudah siap mati Aki?" tanya Wiway menyeringai
"Lelaki tua seperti diriku memang tinggal menunggu mati jadi apa yang harus aku takutkan dari mahluk seperti dirimu. Anggap saja aku sedang bertaruh kali ini. Jika aku bisa menang melawan mu maka itu adalah sebuah karunia yang Tuhan berikan padaku malam ini, tapi jika aku mati malam ini anggap saja aku telah membayar lunas dosa-dosa ku padamu," jawabnya enteng
"Baiklah kalau itu mau mu," sahut Wiway kemudian menyerang lelaki itu.
Ki Kusumo segera menahan serangan Wiway dengan kekuatannya. Lelaki itu mengambil senjata pusakanya dan menusukkannya tepat di ubun-ubun wanita itu.
*Buuggghhh!!
Wiway melepaskan pukulannya, kearah Ki Kusumo hingga lelaki itu terjungkal ke belakang.
Ia segera menarik keris yang menancap di kepalanya dan berjalan menghampiri Ki Kusumo yang masih terkapar di lantai.
"Sekarang matilah kau dukun keparat!" serunya sembari menebaskan keris itu kearahnya.
Tiba-tiba Ki Kusumo menebarkan daun kelor ke wajah Wiway hingga wanita itu mengerang kesakitan karena wajahnya terbakar. Ia segera menghilang saat Ki Kusumo hendak menyerangnya.
"Aarrgghhh!!" Lelaki tua itu tiba-tiba menjerit kesakitan ketika Wiway menusukkan keris pusakanya ke punggung lelaki itu.
__ADS_1