Call Me Wiway

Call Me Wiway
Chapter 70. Jangan Lakukan itu Lagi


__ADS_3

*Tap, tap, tap!!


Galih langsung membuka matanya ketika mendengar suara derap langkah memasuki bangsal perawatannya.


"Suster," ucapnya memastikan bahwa perawat yang datang untuk mengecek kondisinya.


Semakin lama derap langkah itu semakin mendekat kearahnya. Lelaki itu menatap lekat wanita yang kini berdiri di samping ranjangnya.


Betapa terkejutnya ia ketika kedua bola matanya saling bertatapan dengan sosok wanita di depannya.


"Fatimah," pekiknya dengan wajah pucat pasi.


Ia berusaha beranjak dari ranjangnya dan melarikan diri dari tempat itu, namun dengan cepat Wiway langsung menariknya.


"Tolong ampuni aku Fatimah, jangan bunuh aku, tolong jangan bunuh aku!" serunya memohon.


"Sudah cukup aku membiarkan mu hidupa Mas," jawab wanita itu kemudian menyeretnya


"Maafkan aku Fat, selama ini aku sudah mendapatkan karma atas apa yang sudah aku lakukan padamu. Istriku menelantarkan aku, dan aku juga sakit-sakitan. Jadi tolong maafkan aku Fat," ucap lelaki itu


"Untuk itulah aku datang, aku ingin mengakhiri penderitaan mu Mas," sahut Wiway membuat Galih terbelalak dan mencoba melepaskan diri dari wanita itu.


Ia segera berlari meninggalkan tempat itu, namun pintu ruangan itu tiba-tiba tertutup dengan sendirinya.


*Brakkk!!


Galih berusaha membuka pintu itu dan menggedor-gedor pintu itu berharap ada seseorang yang mendengarnya dan menolongnya.


Ia melemparkan benda apa saja kearah Wiway begitu mahluk itu mendekat kepadanya.


"Pergi dari sini, pergi!!" serunya


Ia segera membalikan badannya dan mendobrak pintu kamar itu namun usahanya sia-sia. Ia kemudian menggedor-gedor pintu itu lagi.


"Tolong!!" serunya sembari terus menggedor-gedor pintu itu.


*Wuuushhh!!


"Aaaarrrrggghhh!!" lelaki itu mengerang kesakitan ketika sebuah pisau melesat dan menancap tepat di tengah telapak tangannya.


*Wuuushhh!!!


Sekali lagi sebuah pisau melesat kearah Galih dan menancap di lengan tangan satunya membuat lelaki itu semakin ketakutan.


Seketika tubuhnya limbung dan ia beringsut bersandar di pintu.


Keringatnya mengucur deras, dan tubuhnya menggigil ketika Wiway melangkahkan kaki mendekatinya.


Ia semakin ketakutan melihat sosok menyeramkan Wiway yang seolah Malaika pencabut nyawa yang akan mengakhiri hidupnya.


Wiway segera mencabut pisau dari telapak tangan Galih dan menusuk jantung lelaki itu. Darah segar keluar dari mulut lelaki itu, Galih menatap nanar kearah Wiway sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.


"Maafkan aku Fat,"


***********

__ADS_1


Pagi harinya, suasana rumah sakit seketika gempar ketika mendapati mayat Galih bersimbah darah di kamarnya.


Dewi dan Berlin begitu shock melihat kematian Galih yang begitu tragis.


"Katakan siapa yang sudah membunuh suamiku dengan begitu keji," tukas Dewi


"Maaf nyonya, sementara kami belum bisa memastikan siapa pelakunya, karena tidak ada jejak pelaku. Bahkan kamera cctv pun tak bisa mendeteksi siapa yang datang ke kamar pasien hari itu. Bahkan sidik jaripun tidak di temukan dalam pisau yang dipakai untuk menusuk tangan dan jantungnya," jawab seorang opsir polisi


"Aku yakin dia pasti sudah merencanakannya dengan matang, hingga ia bisa lakukan semuanya dengan bersih tanda jejak," sahut Dewi


"Jadi tolong pak polisi usut tuntas kasus ini, aku yakin ini adalah kasus pembunuhan berencana." Imbuh Dewi


"Apa selama ini pas korban mempunyai musuh atau berurusan dengan seseorang yang membuatnya begitu dendam?" selidik sang opsir polisi.


"Setahuku tidak ada, karena suamiku adalah orang yang baik. Lagipula dia sudah satu bulan terakhir ini terbaring di rumah sakit, jadi anak mungkin dia punya musuh," jawab Dewi


"Baiklah kalau begitu, kami akan terus menyelidiki menyelidiki kasus ini dan aku harap Nyonya bisa bekerjasama membantu kami dalam menemukan pelaku pembunuhan suami Anda." tugas opsir polisi kemudian berpamitan.


"Kau tidak perlu mencari siapa pelaku pembunuhan suamimu, karena sampai kapanpun mereka tidak akan pernah menemukan siapa pembunuhnya," kue cake Kusumo mengagetkan Dewi


"Bagaimana Aki bisa tahu?" tanya Dewi


"Maaf aku terlambat, andai saja aku tidak terlambat semalam mungkin suamimu bisa diselamatkan," sesal lelaki itu


"Apa Aki semalam datang ke sini dan melihat siapa pembunuhnya?" selidik Dewi begitu penasaran


"Semalam aku melihatnya, melihat ia begitu sadis membunuhnya. Sepertinya ia sedang meluapkan amarahnya, untuk itulah kau dan putrimu juga harus berhati-hati. Karena aku yakin kalian akan jadi korban berikutnya," jawab Ki Kusumo membuat Dewi langsung pucat pasi


"Memangnya siapa dia, kenapa ia begitu dendam kepada keluarga kami?" tanya Dewi


"Fatimah??" tanya wanita itu


"Benar,"


"Tapi bukankah dia sudah kau kembalikan ke bukit Gombel, kenapa dia bergentayangan lagi?" tanya Dewi lagi


"Itu karena lelaki itu yang sudah membebaskannya hingga jadi kacau balau seperti ini," sahut Ki Kusumo


"Apa itu Aby?"


"Bukan, dia adalah kekasih Wewe Gombel itu. Karena tidak ada seorangpun yang bisa membawanya keluar dari bukit itu selain dia," sahut Ki Kusumo


"Jadi apa yang harus aku lakukan sekarang Aki. Aku tidak mau mati mengenaskan seperti almarhum suamiku," ucap wanita itu mengguncang tubuh Ki Kusumo


"Aku tidak mau tahu, kau harus melakukan sesuatu untukku dan putriku. Berapapun biayanya akan aku bayar Aki, jadi aku mohon tolong kami," imbuhnya


"Kau tidak perlu khawatir, pakailah jimat ini agar mahluk itu tak bisa menyentuh mu. Dan pasang ini juga di depan rumah," Ki Kusumo memberikan tiga buah jimat kepada wanita itu.


Sementara itu dari kejauhan nampak sepasang mata mengawasi ke duanya.


**********


Siang itu di kediaman Dewi, semua tamu tampak berlalu lalang datang untuk mengucapkan bela sungkawa kepada janda satu anak itu.


Tidak terkecuali Ezza dan Derry yang datang untuk menyampaikan duka cita mereka.

__ADS_1


"Sabar ya Be, semoga Om Galih beristirahat dengan tenang dan mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah," ucap Ezza


"Tentu saja Om Galih beristirahat dengan tenang Za, emang ada orang mati gak tenang Za?" tanya Derry dengan wajah polosnya


"Astoge dasar dudul, itu cuma perumpamaan bro," sahut Ezza geregetan


"Sabar ya Be, jangan sedih. Abang Derry selalu ada kok buat kamu Be. Kalau kau butuh bahu untuk bersandar pakai aja bahu Abang, saya ikhlas kok lahir batin," ucap Derry membuat Ezza terkekeh mendengarnya


"Eheek, mulai deh mencari kesempatan dalam kesedihan eeeaaaa," sahut Ezza


"Namanya juga usaha bro, sah-sah aja kan," sahut Derry


"Hooh, sah!" sahut Ezza


"Thanks Derry, thanks karena selalu ada buat gue, meskipun kadang gue ketus sama Lo tapi Lo selalu baik sama gue," sahut Berlin kemudian memeluknya


*Deg


Derry hampir saja pingsan ketika perempuan itu tiba-tiba memeluknya, membuat dadanya terus bergemuruh dan nafasnya terengah-engah.


Berlin segera melepaskan pelukannya, dan menatap Derry.


"Kamu kenapa Der?" tanyanya lirih


"Gak papa kok Be," jawabnya gugup


"Gak papa gimana," sahut Berlin kemudian menyentuh keningnya.


"Gak panas kok, tapi kenapa aku seperti mendengar bunyi sesuatu yang bergemuruh begitu kencang," ucap Berlin mendekatkan telinganya.


Derry segera menyentuh dadanya dan menepuk-nepuknya untuk mengalihkan perhatian Berlin.


"Gak ada bunyi apa-apa kok Be, mungkin Lo salah dengar kali," sahut Derry


"Ya sudah kalau gitu, aku bikinin minuman dulu buat kalian ya," ujar Berlin


"Ok,"


"Kenapa Der?" tanya Ezza ketika melihat wajah sahabatnya memerah.


"Gpp, cuma shock," sahutnya kemudian menarik nafas dalam-dalam.


"Shock kenapa?" tanya Ezza lagi


"Shock ketika ada sesuatu yang empuk dan kenyal menempel di dadaku," sahut Derry


"Dasar dudul, sue Lo!" seru Ezza terkekeh mendengarnya


Seketika Ezza menghentikan tawanya ketika melihat seorang wanita berjalan masuk menyusul Berlin.


"Lo mau kemana Za!" seru Derry ketika melihat Ezza berlari masuk kedalam rumah.


*Grepp!!


"Jangan lakukan itu lagi Wi, sudah cukup yang kau lakukan terhadap Om Galih. Berlin tidak ada urusannya denganmu jadi jangan ganggu dia," ucap Ezza

__ADS_1


__ADS_2