
*Braakkk!!!
Aby seketika tersungkur ke lantai setelah Ezza mendorongnya dengan keras.
"Sial, bukannya berterima kasih karena aku sudah melumpuhkan Wiway, kau malah mendorong ku. Dasar brengsek!" umpat Aby
Ia kemudian segera bangun dan bergegas meninggalkan tempat itu. Lelaki itu berjalan tertatih meninggalkan Ezza dan Wiway.
Aby hanya mengumpat ketika mendengar kata-kata bucin Ezza untuk Wiway.
"Dasar bodoh, aku ingin lihat sebesar apa cintamu pada Wiway di hari ke empat puluh nanti. Kita lihat saja Za apa cintamu itu tulus padanya atau hanya sekedar fantasi saja," ucap Aby kemudian meninggalkannya.
"Kau mungkin sudah dibutakan oleh cinta semu yang membuat mu cinta mati padanya. Tapi akankah semuanya tetap sama jika Wiway berubah menjadi monster mengerikan yang haus darah," umpatnya lagi.
Entah kenapa lelaki itu begitu kesal melihat perhatian Ezza pada Wiway.
Kenapa aku jadi baper gini, ayolah Aby sadar, sadar jika Wiway itu mahluk astral dan kamu tidak akan pernah benar-benar mencintainya bukan,
Aby berusaha mengendalikan perasaannya yang terus berkecamuk melihat Ezza dan Wiway. Ia semakin tak bisa membendung perasaannya lagi ketika melihat Wiway kembali berubah menjadi manusia.
"Dia benar-benar tulus mencintainya," ucapnya lirih
Aby kemudian menghampiri Berlin yang tersungkur tak sadarkan diri.
"Kasihan sekali nasibmu Be," ucapnya lirih
Ia segera menggendong tubuh gadis itu dan membawanya ke rumah sakit.
Setibanya di rumah sakit dua orang perawat langsung menghampirinya dan memindahkan Berlin ke ruang UGD.
Setengah jam kemudian, seorang perawat mendatangi Aby dan memberikan barang-barang pribadi milik Berlin.
"Tolong bawa barang-barang pasien ke Ruang rawat inap," ucap seorang perawat
Aby segera menerima barang-barang itu dan membawanya ke tempat Berlin di pindahkan.
Aby segera memungut bungkusan kecil yang jatuh dari tas Berlin.
"Apa ini," ucapnya sembari mengernyitkan keningnya ketika melihat sebuah ramuan herbal jatuh dari tas Berlin.
"Bagaimana dia bisa punya racun berbahaya seperti ini. Jangan bilang ia dan ibunya mendatangi Ki Kusumo. Karena tidak ada dukun lain yang memiliki obat turun temurun ini selain dia." Aby kemudian menyimpan obat itu kedalam saku celananya.
********
Sementara itu di rumah Ezza.
"Mo kondangan Bro, tumben Rapi Ahmad?" tanya Ezza menghampiri Derry
"Gue mau ke rumah sakit jengukin Si Berlin, Lo mau ikut gak?" sahut Berlin
"Astagfirullah, aku baru inget kalau semalem Berlin...." ucap Ezza tidak melanjutkan kata-katanya.
"Emangnya semalam kalian ketemu?" tanya Derry
"Ketemu sih, tapi karena Wiway mengalihkannya duniaku, membuat aku sejenak melupakan Berlin," jawab Ezza menyunggingkan senyumnya
"Dasar bucin lo," cibir Derry kemudian menyambar kunci motornya.
"Gue ikut bro," ujar Ezza menyusulnya.
"Mending gue aja yang bawa Der, ngeri kalau boncengan sama Lo,"
"Ngeri kenapa, perasaan selama ini aku biasa-biasa aja kalau bawa motor" jawab Derry
"Ngeri kalau gue ketularan penyakit jones Lo," sahut Ezza sambil terkekeh.
"Sue Lo," ujar Derry segera memalingkan wajahnya.
"Wkwkwkwk, Jan baper bro, tar makin ngenes loh," ucap Ezza menggodanya.
"Biarin ngenes yang penting Famous eeaaaa!!"
"Dih kepedeaan, wkwkwk!"
"Kuy jalan bro, jangan ngelawak mulu garing tahu," tegur Derry
"Siap Bro," Ezza segera menyalakan sepeda motornya dan meluncur menuju ke rumah sakit tempat Berlin di rawat.
__ADS_1
Setibanya di sana, keduanya langsung bergegas menuju bangsal rawat inap pasien.
"Assalamualaikum, Tante?" sapa Derry ramah
"Waalaikum salam, silakan masuk Derry, Ezza," jawab Dewi mempersilakan keduanya masuk.
"Astoge Be, kenapa Lo jadi kaya mumi Firaun gini," ucap Derry membuat Berlin langsung tertawa mendengarnya
"Sa ae lo Der," jawab Berlin
"Memangnya kamu kenapa kok bisa babak belur kaya gini. Katakan sama Aa siapa yang sudah membuatmu seperti ini?" tanya Derry
"Jangan sok jago Lo," bisik Ezza
"Berisik lo," sahut Derry mendorongnya
"Emangnya Aa mau ngapain kalau Be kasih tahu siapa yang sudah membuat Be jadi gini?" Berlin balik bertanya
"Biar Aa kasih pelajaran dia Be, kali aja dia selalu bolos saat sekolah makannya anarkis," jawab Derry
"Ehemm, susah suit!" goda Ezza membuat Derry langsung meliriknya.
"Diem apa Bro, gak bisa lihat apa gue lagi usaha?" cibir Derry
"Usaha apa bang?" goda Ezza
"Mancing ikan," sahut Derry membuat Ezza langsung tertawa mendengarnya
"Dasar jones, ku doakan semoga berhasil mendapatkan ikan hiu," sahut Ezza
"Kok Hiu sih, yang lebih feminim dikit gak ada apa?" tanya Derry
"Ada juga ikan piranha, emang mau?" Ezza balik bertanya
"Mending ikan hiu daripada ikan piranha," seru Derry mulai berpantun
"Cakep,"
"Mending aku pilih kamu daripada terus menduda,"
"Eaaaaa," ucap Ezza terkekeh mendengarnya
"Sejak kau memilih tinggal bersamanya,"
"Anj*r BL dong,"
"Dulu Za, sekarang dah insyaf," jawab Derry sambil terkekeh
"Kalian kocak banget deh, thanks ya udah datang kemari menghibur ku," ujar Berlin
"Maaf ya Be, aku gak bisa bawa apa-apa buat kamu selain cintaku yang tulus dan tak pernah padam untukmu," ucap Derry membuat semuanya kembali tertawaan
"Eeaaa, Pepet terus Der, jangan biarkan kendor!" sahut Ezza
"Btw Lo baik-baik aja Za?" tanya Berlin menatapnya sendu
"Seperti yang kau lihat gue baik-baik saja," jawab Ezza
"Syukurlah, aku takut terjadi sesuatu denganmu sampai aku tak bisa tidur semalam," ucap Berlin
"Setelah kejadian tadi malam harusnya kau sadar Za, bahwa kalian berbeda dan tidak mungkin kalian bisa bersatu." imbuh Berlin
Ezza hanya tersenyum kecut mendengar ucapan Berlin tanpa menjawabnya.
"Sekarang aku juga tidak akan pernah ikut campur urusan kalian lagi, peristiwa semalam sudah cukup membuatku shock dan aku sudah mengikhlaskan dirimu Za." ucap Berlin lagi
"Alhamdulillah ya Allah, akhirnya ada celah juga buat gue masuk kedalam relung hatimu Be," ujar Derry
"Tentu saja Der," sahut Berlin tersenyum padanya.
"Harusnya Ezza mendengarkan semua yang diucapkan oleh Berlin, karena aku tidak tahu apa yang akan terjadi denganmu jika malam itu aku tidak datang," ujar Aby memasuki ruangan itu.
"Mas Aby," ucap Dewi segera menyambut kedatangan dukun itu.
"Terimakasih sudah menolong Berlin dan membawanya ke rumah sakit," imbuhnya kemudian mencium punggung tangan lelaki itu.
"Sama-sama Ibu," jawabnya kemudian menghampiri Berlin
__ADS_1
"Bagaimana kabarmu Be?" tanya Aby menghampiri gadis itu
"Baik Mas," jawabnya lirih
**********
Setelah menjenguk Berlin, Ezza kemudian menuju ke kampus. Di gerbang kampus seorang wanita cantik sudah menunggunya dengan senyum manisnya yang mengembang.
"Siang kesayangan?" sapa Wiway manja
"Siang juga sayang," jawab Ezza langsung menggandeng lengannya.
Keduanya kemudian segera menuju ke perpustakaan dan berbincang-bincang di sana.
"Kenapa harus di sini sih sayang?" tanya Wiway
"Karena hanya di sini tempat yang aman untuk kita berbincang-bincang tanpa ketahuan ayahku, atau siapapun itu," sahut Ezza.
"Ok deh kalau gitu. Sekarang kita mau bahas apa ini?" tanya Wiway
"Bagaimana kalau bahas masa depan kita aja," jawab Ezza
"Dih gombal,"
"Kok gombal sih, orang aku serius kok,"
"Apa setelah kejadian semalam kamu masih tetap akan bersamaku?" tanya Wiway
"Bukankah aku sudah bilang padamu, apapun terjadi denganmu tidak akan pernah mengubah rasa cintaku padamu. Aku akan selalu setia berada di sisimu dan menemani mu sampai akhir hidupku itulah janjiku." jawab Ezza membuat gadis itu terharu dan langsung memeluknya erat.
"Makasih sayang, aku jadi terharu mendengarnya," jawab Wiway
"Sekarang kau tidak perlu berpikir macam-macam lagi. Mari kita nikmati saat-saat kebersamaan kita, yang tersisa tiga hari lagi." ucap Ezza sedikit gusar.
"Kau tunggu sebentar ya, aku mau ke toilet dulu,"
"Iya sayang,"
Ezza kemudian segera bergegas keluar menuju ke toilet.
Ezza yang sedari tadi menahan perasaan gusarnya karena ia akan segera berpisah dengan Wiway, menumpahkan semua kesedihannya di sana.
Meskipun aku sedih karena sebentar lagi aku dan Wiway akan berpisah. Setidaknya aku harus meninggalkan momen-momen indah bersamanya tiga hari ini. Aku tidak boleh terlihat sedih di depannya.
Ezza segera menyeka air matanya dan keluar dari kamar mandi.
Ia terkejut saat kembali ke perpustakaan tidak menemukan Wiway di sana.
Ezza kemudian berlari keluar dari perpustakaan untuk mencari keberadaan Wiway.
"Dimana kamu Wi," ucap Ezza ketika tak menemukan gadis itu dimanapun.
Ia berkali-kali menelponnya namun Wiway tak mengangkat ponselnya.
Jangan bilang kamu pergi meninggalkan aku, dan kembali ke Bukit Gombel,
Ezza kembali mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Wiway, tetap saja Wiwi tidak mau mengangkat ponselnya. Ia terus mengabaikan panggilannya membuat pemuda itu benar-benar gusar dan putus asa.
"Kenapa lo Za, sedih banget romannya," tanya Derry mengagetkan Ezza.
"Gue sedang mencari Wiway, tiba-tiba saja dia menghilang dari perpustakaan. Apa lo melihatnya?" jawab Ezza balik bertanya
"Dia ada di kantin belakang, sepertinya Wiway sangat buru-buru menemui seseorang hingga ia meninggalkan ponselnya di perpustakaan. Beruntung aku yang menemukannya, hingga handphone ini masih aman," sahut Derry kemudian mengembalikan ponsel Wiway kepada Ezza.
Ezza kemudian segera bergegas menuju kantin belakang kampus.
"Wiway!" serunya dengan nafas terengah-engah
Ia segera memeluk erat gadis itu, "Sudah kubilang tunggu aku, dan jangan pernah pergi meninggalkan aku. Tapi kenapa kamu pergi meninggalkan aku , membuat ku begitu khawatir. Aku takut sesuatu terjadi padamu, jadi please jangan pernah pergi tanpa pamit," ucap Ezza
"Iya sayang, maafkan aku sudah membuat mu khawatir," jawab Wiway tersenyum menatapnya
Tidak lama kemudian Aby menghampiri mereka dan membawa dua gelas es jeruk.
"Maaf Za, aku hanya memesan dua gelas saja karena aku pikir hanya ada aku dan Wiway saja," hujan api Semarang memberikan 1 gelas es jeruk kepada Wiway
Ezza segera menyambar gelas minuman dari tangan Wiway dan meneguk habis es jeruk itu.
__ADS_1
"Aku tahu kau pasti kesal karena kejadian semalam hingga memanggil Wiway kemari, dan aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi padanya hanya karena minuman ini," ucap Ezza menatap tajam kearah pemuda itu
Aby hanya tersenyum sinis melihat aksi pemuda itu.