
#Cerita ini hanya fiktif belaka, nama tokoh, nama tempat, dan semua yang adegan serta ritual di dalam novel ini adalah murni hasil khayalan author semata. Jika ada kesamaan maka itu hanya kebetulan dan tidak di sengaja.#
*Buughh!!
Derry berusaha menghindari serangan Sumi yang bertubi-tubi kearahnya. Namun sayangnya gerakan cepat wanita itu begitu sulit untuk dibaca, kembali Derry terkena pukulan mautnya membuat pemuda itu kembali terkapar di lantai.
"Arrgghhh!!"
"Sudah ku bilang jangan ikut campur urusan ku jika kau masih ingin hidup. Setinggi apapun kemampuan supranatural mu aku tidak peduli. Kau hanya anak kemarin sore yang tidak tahu apa-apa jadi pergilah sebelum aku benar-benar membunuhmu," hardik Sumi
Wanita itu berjalan mendekati Wiway, namun saat ia hendak membawa Wiway pergi Derry langsung mencegahnya. Derry Manahan kaki wanita itu kemudian menariknya hingga Sumi terjauh dan Wiway terlepas dari gendongannya. Derry segera menangkap tubuh Wiway dan membawanya menjauh dari wanita itu.
"Cepat sadar Wi, jangan tidur terus!!" tukas Derry menepuk-nepuk pipi wanita itu.
Melihat Derry lengah membuat Sumi tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, ia segera mengambil benda pusakanya dan berniat menikam Derry dari belakang.
Merasa nyawanya terancam Derry segera membalikkan badannya dan menepis serangan Nyai Sumi. Ia kemudian melepaskan tendangannya membuat keris pusaka NYI Sumi terlepas dari tangannya.
"Sial!"
Wanita itu tak kehabisan akal, ia mengeluarkan segenggam bunga melati dan melemparkannya kearah Derry.
"Hacuh!!"
"Dia pikir aku ini Kuntilanak apa di kasih bunga melati,"
Saat Derry mulai lengah, Sumi kemudian berlari mendekati Wiway dan segera menggendongnya.
" Kau pikir aku akan diam saja dan membiarkan dirimu membawanya pergi, apapun yang terjadi aku harus melindunginya," ucap Derry menepuk pundak wanita itu.
"Cih, betapa bahagianya menjadi Wewe Gombel seperti dirimu, begitu banyak yang peduli padamu dan menyayangimu," tukas wanita itu
"Tapi sayangnya Nyi Sumi bukanlah wanita baik hati yang akan menyerah hanya karena lelaki lemah seperti dirimu. Baiklah karena kau sudah menantang ku maka jangan salahkan aku jika aku akan mengirim mu ke Neraka!" Sumi kembali melemparkan bunga melati ke arah Derry.
Tidak lama kemudian mereka sudah berada di tempat yang berbeda.
"Sesakti apapun dirimu kau tidak akan pernah bisa keluar hidup-hidup dari tempat ini," ucap Sumi menyeringai. Ia kembali mengambil segenggam bunga melati dan menatap lekat kearah Derry.
Kau tidak akan bisa kabur dari amukan pengantin iblis setelah terkena lemparan bunga melati itu untuk ketiga kalinya,
Aku tidak boleh terkena bunga itu untuk ketiga kalinya. Aku yakin dia memiliki niat jahat saat menabur bunga itu kepadaku.
Saat wanita itu akan menaburkan kembali bunga melati kearah Derry, pemuda itu segera melompat kesamping untuk menghindarinya.
"Hahahaha!!" Sumi tertawa melihat Derry berhasil lolos dari serangan mautnya.
"Ternyata kau lumayan juga anak kecil!" Kini Sumi melepaskan selendang yang melingkar di pinggangnya.
Ia kemudian menggerakkan tangannya dan menari mengitari pemuda itu.
Jurus apalagi yang ia gunakan sekarang,
Derry terus menatap wanita itu tanpa berkedip sedikitpun. Ia tidak mau lengah dan terus mengamati gerak-gerik wanita itu dengan seksama.
Tidak lama wanita itu kemudian berkidung sembari terus menari mengelilingi Derry.
Derry tidak tinggal diam, dia tahu jika dirinya sedang berhadapan dengan wanita sakti.
Dalam Diam pemuda itupun tak henti-hentinya membaca ayat-ayat suci untuk melindungi dirinya dan juga Wiway.
Sumi membulatkan matanya dan menatap nyalak ke arah Derry. Ia terus mendekat kearah Derry sembari menggerakkan tangannya.
Ia kemudian mengalungkan selendangnya pada pemuda itu dan mengajaknya menari.
Seperti sebuah sihir Derrypun langsung menari mengikuti gerakannya.
Sumi tersenyum melihat Derry yang sudah terkena sihirnya.
Ia kemudian menarik pemuda itu mendekat kearahnya.
"Ternyata kau tampan juga anak muda," ucapnya kemudian mendekatkan wajahnya.
Saat ia akan mencium bibir pemuda itu, tubuhnya tiba-tiba terpental seolah ada kekuatan gaib yang mendorongnya.
"Cih, ternyata kau memang bukan orang sembarangan. Aku bahkan tidak bisa menyentuh mu bocah," Sumi kembali meliuk-liukkan tubuhnya mengelilingi pemuda itu.
Tidak lama kemudian beberapa mahluk astral berwujud wanita cantik berdatangan menghampiri Derry. Sumi segera melipir menjauhi lelaki itu.
"Arrgghhh!!" Sesosok mahluk itu mengerang kesakitan saat Derry menikamnya. Satu persatu mahluk itu menghilang setelah pemuda itu berhasil membunuhnya.
Melihat semua anak buahnya mati di tangan Derry membuat Sumi berang. Ia segera berlari kearah Derry dan menyeruduknya dengan kepalanya hingga Derry terjungkal.
Ia kemudian duduk diatasnya dan mengayunkan kerisnya, dengan segenap kekuatannya Derry berusaha menahan keris itu hingga lengannya terluka dan berdarah karena sayatan benda tajam itu. Ia kemudian mendorong tubuh wanita itu hingga terjungkal menjauh darinya.
Sumi segera bangkit dan menyerangnya kembali, sebuah tendangan keras mengenai punggung Derry. Pemuda itu seketika hilang keseimbangan, ia terhuyung-huyung dan kemudian tersungkur ke lantai.
Saat Sumi hendak melesatkan tendangannya untuk kali kedua, sebuah kilatan cahaya melesat menghantam tubuh sintal wanita itu. .
*Bruugghh!
"Kau, beraninya kau membuatku seperti ini!" ucap Sumi begitu terkejut melihat kedatangan Aby.
"Aku tidak bisa tinggal diam melihat mu terus berbuat jahat, maafkan aku Nyai!" seru Aby
"Dasar anak durhaka, aku pastikan kau akan menyesal karena telah memperlakukan aku seperti ini!" Sumi segera bangun dan menyeruduknya dengan kepalanya.
Ia mendorong lelaki itu, hingga Aby menghantam dinding bangunan.
Sumi yang sudah di kuasai api amarah kemudian mencekik pemuda itu dan kemudian melepaskan pukulan keras kearahnya hingga pemuda itu jatuh terkulai tak sadarkan diri di lantai.
"Maafkan aku Le, aku terpaksa membuatmu seperti ini karena kau terlalu ikut campur,"
Ia kembali menghampiri Derry yang masih terkapar di lantai.
Ia kemudian menarik baju pemuda itu dan kemudian menyeretnya.
Aku tidak akan membuang-buang waktu lagi, sudah cukup aku bermain-main denganmu bocah ingusan,
__ADS_1
Sumi, kemudian menyandarkan tubuh Derry dan mendongakkan kepalanya.
"Bersiaplah untuk menemui penjaga Neraka, karena kali ini aku akan menjadikan mu sebagai tumbal ke 13 ku ," Ia kemudian memukul tengkuk Derry hingga pemuda itu jatuh pingsan.
Sumi segera mengikat pemuda itu menggunakan selendangnya.
"Aku yakin kau tidak akan bisa kabur atau melepaskan diri dari selendang ku ini," ucapnya menyeringai.
Sumi segera mengambil belati kecil dan kemudian mengasahnya
Setelah mengecek ketajaman belati itu ia kemudian menghampiri Derry yang belum sadarkan diri.
"Wahai Raja Kegelapan terimalah persembahan ke 13 ku," Ia kemudian berjalan mendekati Derry .
Ia kemudian mengarahkan belatinya ke leher pemuda itu.
*Braakkk!!
Sumi terlempar beberapa meter dan belatinya terlepas dari tangannya. Setelah sebuah tendangan keras menghantam tubuhnya.
"Jangan pernah menyentuh putraku jika kau tidak mau berurusan denganku Nyai," tukas Lingga menatap lekat Sumi.
Sumi menyeringai menatap lelaki di depannya.
"Siapapun dirimu, yang jelas aku paling benci jika ada yang menggagalkan rencana ku!" ujar Sumi langsung berdiri dan menghampiri Lingga.
"Aku juga tidak suka ikut campur urusan orang lain, tapi kalau kau sudah mencoba mengusik putraku aku tidak bisa tinggal diam," jawab Lingga
"Oh jadi kau ayah bocah ingusan itu," sahut Sumi menyeringai.
"Syukurlah kalau begitu jadi dia tidak akan mati sendirian, karena aku akan menemaninya ke Neraka!" seru Sumi.
Ia Kemudian menghentakkan kakinya dan tiba-tiba sesosok mahluk tinggi besar muncul di hadapan Lingga.
"Wah ternyata kau ini benar-benar pengabdi Raja Kegelapan." ucap Lingga
Sumi hanya tersenyum sinis tak menanggapi ucapan Lingga.
"Karena kamu sudah menggunakan Raja Kegelapan untuk melawanku, maka aku juga akan menggunakan tiga penjagaku untuk melawan Sang Raja Kegelapan!" ujar Lingga
"Terserah kau saja, berapapun penjaga yang kau punya kalian tidak akan pernah bisa mengalahkan sang Raja Kegelapan," jawab Nyai Sumi
"Ok,"
Tidak lama kemudian muncul tiga sosok lelaki tampan di depan Lingga.
"Weh, aku terkejut!" seru Rangga
"Ayam Cobek!" sahut Barra dengan wajah imutnya
"Dih sok imut!" cibir Gilang langsung menyisir rambutnya.
"Btw kenapa kita diundang kemari sih, emangnya ada apa Lee?" tanya Gilang
"Ada makanan Om," jawab Lingga menunjuk kearah Raja Kegelapan
"Btw haus nih, perjalanan jauh. Apa gak ada kopi atau welcome drink gitu!" celetuk Barra
"Maaf Om, Lee belum sempat pesenin kopi, abis buru-buru tadi," jawab Lingga
"Hadeeh dasar gak ada akhlak, masa ngundang leluhur gak di kasih sesaji," sahut Rangga
"Sorry Dad, tadi tuh Lee panik gara-gara tuh nenek gayung mau menjadikan cucu kesayangan mu sebagai tumbal untuk Raja Kegelapan,"
"Oh gitu ceritanya," sahut Gilang dengan wajah datar
"Oklah kalau begitu, sekarang mending Lo beliin kopi di warkop depan buat kita. Biar kami urus tuh Baginda Raja sama Nenek Gayung," sahut Rangga
"Ok Dad," sahut Lingga kemudian pergi meninggalkan mereka.
"Ok sob, nyok kita santap makan malam kita!" seru Rangga
"Kuy!" sahut Barra dan Gilang
"Btw baca doa dulu sebelum makan biar berkah," imbuh Rangga
"Gue gak bisa baca doa, kan Gue Wowo ucin tar panas kalau baca doa," jawab Barra
"Gue juga gak bisa, secara mana ada dukun baca doa sebelum makan,_ " sahut Rangga
"Mending Lo aja Lang yang baca doa, secara Lo adik ipar Kyai, so pasti Lo paling religius diantara kita berdua," imbuh Rangga
"Mana ada garong religius!" celetuk Barra membuat ketiganya langsung terkekeh
"Btw kapan nih eksekusinya, keburu ayam jantan berkokok nih!" ujar Gilang
"Hooh, mana gue harus menghadiri nikahan mantan lagi," jawab Barra
"Mantan mana lagi Bar-bar??" tanya Rangga
"Mantan yang onoh," jawab Barra menunjuk kearah Wiway
"Oh," jawab Rangga mengangguk pelan
"Emang Lo tahu siapa dia Ran?" tanya Gilang
"Kagak," jawab Rangga dengan polosnya.
"Dih gaje, lah terus Lo manggut-manggut tadi maksudnya apa?" tanya Gilang
"Gak ada maksud apa-apa kok," jawab Rangga
"Loh kok belum mulai eksekusinya!" seru Lingga memasuki ruangan itu sembari membawa empat gelas kopi panas.
"Santai aja Lee, biarin aja dia nunggu. Karena semakin lama dia menunggu maka semakin hot pertemuan kita," sahut Gilang
"Apanya yang hot Lang?" tanya Barra
__ADS_1
"Pertarungannya lah, emang kamu pikir apa, dasar Wowo Omes!" cibir Gilang
"Lagian ucapan Lo bikin traveling," sahut Barra
"Udah buruan nikmatin kopinya sebelum dingin," ucap Lingga
"Ah, emang secangkir kopi bisa menghangatkan suasana," ucap Rangga meneguk kopi di tangannya.
"Btw ada kopi kok gak ada cemilannya?" tanya Barra
"Noh cemilannya!" seru Lingga menunjuk ke arah Raja Kegelapan
"Kuy," ucap Rangga memberikan komando ketiganya langsung berdiri dan menghampirinya.
"Halo bro, kita ketemu lagi?" sapa Barra
"Ternyata dunia ini benar-benar sempit sampai aku harus bertemu lagi dengan kalian bertiga," jawab Raja Kegelapan
"Ngopi dulu bro biar gak oleng!" ucap Gilang memberikan secangkir kopi kepada Raja Kegelapan
"Thanks Lang,"
"Sama-sama,"
"Btw kalau udah ngopi bareng gini kita gak jadi berantem dong?" tanya Rangga
"Gaklah Bro, lagipula kalau tahu lawannya kalian bertiga gue angkat bendera kuning ajalah," jawab Raja Kegelapan
"Bendera putih keles bukan bendera kuning!" cetuk Lingga
"Bendera kuning dong Lee, secara kalau nekat melawan kalian bertiga kan gue pasti mati untuk kesekian kalinya. Belum lagi kalau Garra ikut campur, makin panjang urusannya."
"That's right baby!" seru Rangga dan Lingga bersamaan
"Dih sok kompak!" tukas Gilang
"Bukan kompak lagi Lang, tapi kita sehati!" seru Rangga
"Dih pamer,"
"Yaudah bro aku pamit dulu ya," ucap Raja Kegelapan kemudian menghilang
"Papay!"
"Lah gitu doang!" seru Lingga tak percaya melihat Raja Kegelapan pergi meninggalkan mereka
"Emangnya Lo pengin lihat kita berkelahi Lee?" tanya Barra
"Iya dong, gak seru kan mengalahkan musuh hanya dengan secangkir kopi,"
"Itulah trik Lee, makanya kamu harus belajar jadi orang cerdik." jawab Gilang
"Hooh Om,"
"Yaudah kalau gitu Lo lanjutlah urusan mu dengan nenek gayung, biar Daddy reunian dulu sama my soulmate," ucap Rangga
"Ok Dad,"
Sementara itu Nyai Sumi terkejut ketika melihat Raja kegelapan meningkatkan tempat itu tanpa melawan ketiga penjaga Lingga.
Tidak mungkin, bagaimana bisa mereka mengalahkan Raja Kegelapan hanya dengan segelas kopi,
Sumi menatap ketiga lelaki di hadapannya yang masih asik bercengkrama.
Tidak mungkin aku bisa mengalahkan lelaki itu ketika ada tiga mahluk itu bersamanya. Sebaiknya aku mencari jalan aman dan meninggalkan tempat ini sebelum dia membunuh ku.
Sumi kemudian melemparkan serbuk putih kearah Lingga saat laki-laki itu mendekat kepadanya.
"Awww!!" Lingga langsung menutup matanya
Melihat Lingga terkena serangan Nyai Sumi Rangga segera beranjak dari duduknya dan berjalan menghampirinya.
"Apa kau baik-baik saja Lee?" tanya lelaki panik.
"Gak usah di kejar Bar, biarkan saja dia pergi. Sebaiknya kita fokus menolong Lee," ucap Gilang mencegah Barra yang akan mengejar Sumi.
Gilang segera beranjak dari duduknya menyusul Rangga.
Ia kemudian mencolek serbuk yang masih menempel di wajah Lingga.
"Gak masalah, serbuk ini gak berbahaya kok. Ini hanya serbuk obat bius, laling Lingga hanya pingsan sebentar untuk beberapa jam, setelah itu ia akan kembali normal seperti sedia kala.
"Syukurlah,"
"Dad, tolong gadis itu dan juga Derry," ucap Lingga kemudian jatuh pingsan.
Gilang segera menghampiri Derry, sementara Barra langsung mendekati Wiway.
Barra menepuk-nepuk pipi gadis itu untuk membangunkannya.
"Buset, dingin banget badannya!" serunya kemudian memeriksa suhu tubuhnya.
Ia segera melepaskan jaketnya dan memakaikannya kepada Wiway.
"Sudah biasa kalau mahluk halus itu suhu tubuhnya dingin Bar-bar, jadi aku tidak perlu repot-repot melepaskan jaket mu untuknya,"
"Apa dia mahluk halus, yang benar saja Lo Ran?"
"Secara kasat mata dia memang seperti manusia pada umumnya, tapi secara supranatural dia itu adalah mahluk gaib yang sengaja di ciptakan untuk menjadi manusia setengah hantu. Keserakahan seseorang membuatnya tersiksa hingga ia sulit kembali ke alamnya kecuali dengan pertolongan lelaki yang tulus mencintainya," terang Rangga
"Kaya cerita dongeng Ran," celetuk Barra
"Itulah kejamnya ilmu hitam, untuk itulah kita harus menolongnya sebelum ia berubah menjadi iblis menakutkan!" imbuh Rangga kemudian membawa pergi Wiway dari tempat itu.
***********
Teman-teman jangan lupa author minta dukungan like n komentarnya ya 😘😘😘.
__ADS_1