
"Jangan takut, karena dia tidak akan menyakiti mu!" seru Kyai Umar saat melihat Ezza ketakutan.
"Cepat usir mahluk itu sebelum gadis itu berubah menjadi iblis lagi," imbuh Kyai Umar
Ezza kembali menghampiri Wiway dan mengusir kelelawar itu. Ia memberanikan diri melawan mahluk-mahluk itu yang mulai menyerangnya. Sementara itu Kyai Umar dan Derry segera duduk bersila dan melafazkan ayat-ayat suci Al-Qur'an membantu Ezza mengusir para kelelawar itu.
Sedangkan Aby ia mengeluarkan paku bumi dari saku celananya dan menatap kearah Wiway yang masih terbaring tak berdaya di ranjangnya.
Tusukkan paku itu kepadanya tepat saat ia berubah menjadi sosok Wewe Gombel. Satukan jenazahnya dengan kerangkanya di bukit Gombel.
Aby menarik nafas dalam-dalam dan berjalan menghampiri Wiway.
Ia kemudian meletakkan bunga telon di sisi wanita itu.
Tidak lama tangan Wiway mulai bergerak-gerak saat mencium wangi aroma bunga di ruangan itu. Wanita itu perlahan membuka matanya dan duduk bersandar di brankarnya. Ia kemudian mengambil satu persatu kembang telon itu dan memakan.
Setelah menghabiskan tiga piring kembang telon Wiway beranjak dari ranjangnya.
Matanya memerah ketika menatap Kyai Umar dan Derry yang masih khusu membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an.
"Berisik!" serunya menatap nanar keduanya.
Ia menjambak rambutnya dan kemudian melemparkannya kearah mereka, dan seketika rambut-rambut halus itu berubah menjadi jarum-jarum tajam yang mematikan.
Namun seketika jarum-jarum itu berhenti tepat didepan wajah Kyai Umar dan Derry seolah ada magnet yang menahannya.
"Sial, kau mau bermain-main denganku rupanya," Wiway segera berdiri dan mengambil sebuah kursi di dekatnya.
Saat ia akan melemparkannya kearah Kyai Umar seketika Aby langsung menahannya.
"Jangan lakukan itu Wi, sadarlah!" seru Aby menahannya.
"Jangan ikut campur!" hardik Wiway kemudian melepaskan pukulan keras kearahnya.
Aby kembali menahannya saat Wiway kembali akan melemparkan kursi itu lagi.
Saat Aby berusaha menyerangnya Wiway segera menarik bajunya dan menghempaskan tubuhnya keluar ruangan itu.
Wiway menyeringai dan berjalan menghampiri Kyai Umar.
"Hentikan sayang," ucap Ezza tertatih mendekatinya.
"Menyingkirlah, aku harus menghabisi para penjahat yang ingin memisahkan kita," ucap Wiway mendorongnya
"Mereka bukan orang jahat Wi, mereka justru akan menolong mu," sahut Ezza
"Cih, menolong dengan cara membunuhku. Apa itu yang disebut menolong, sebaiknya kau diam saja karena aku tidak ingin menyakiti mu," ucap Wiway mendorongnya
__ADS_1
*Braakkk!!
Ezza mencoba bangun setalah tubuhnya terjungkal ke lantai.
Ia kembali mendekati Wiway dan menahan kakinya.
"Jika kau merasa tak nyaman di sini, sebaiknya kita pergi dari sini," ucap Ezza
"Memangnya kau akan mengajakku kemana,"
"Tentu saja ke tempat yang hanya ada kita berdua, tidak ada seorangpun yang akan menggangu kita disana," sahut Ezza
"Terlalu banyak basa-basi,"
"Aku tidak akan pernah basa-basi jika ini menyangkut dirimu, kau tahu kan bagaimana aku. Aku akan melakukan apapun demi dirimu," sahut Ezza meyakinkannya
"Kalau begitu bunuh mereka," sahut Wiway
"Apa kau tidak tahu jika Kyai Umar yang sudah menyelamatkan aku, dan Derry dialah menyelamatkan dirimu. Jadi apa kau tega membunuh kedua orang yang sudah berjasa pada kita?" tanya Ezza
"Aku akan membunuh siapapun yang ingin memisahkan kita," sahut Wiway
Ia segera bergegas menghampiri Kyai Hasan dan menyerang lelaki itu, namun dengan sigap sang Kyai mampu menghindari serangannya.
Ia kemudian berhasil menangkap Wiway dan menyentuh ubun-ubunnya.
Melihat Wiway yang sudah melemah membuat Aby langsung mengambil paku bumi dari saku celananya dan menusukkannya ke ubun-ubun wanita itu.
*Dep!!!
Tiba-tiba lampu padam membuat semuanya kaget. Tak lama lampu kembali menyala namun semuanya terperanjat ketika menyadari Wiway menghilang dari teman itu.
"Dimana dia??" tanya Kyai Umar
"Dimana Wiway ku!" seru Ezza mengguncang tubuh Aby
"Aku tidak tahu, mungkin saja dia...." sahut Aby tidak melanjutkan ucapannya
"Jangan bilang kau sudah membunuhnya!" seru Ezza
"Aku hanya ingin membantunya agar ia bisa kembali ke alamnya dengan tenang itu saja. Tidak terbersit sama sekali untuk menyakitinya, jadi jangan salah sangka," bela Aby
"Ternyata yang dikatakan Wiway itu benar, kalian hanya ingin memisahkan aku dengannya," sahut Ezza geram.
"Sabar nak Ezza, bukankah kau sendiri yang berkata jika ingin melakukan hal yang sama dengan Aby, jadi bersyukurlah jika memang Wiway sekarang sudah kembali ke alamnya. Sekarang yang perlu kamu lakukan adalah mendoakannya. Doakan dia agar mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah dan diampuni dosa-dosanya," sahut Kyai Umar.
"Bahkan aku belum sempat berpamitan dengannya," ucap Ezza terisak.
__ADS_1
"Sabar Za," sahut Derry mengangkat tubuh Ezza yang terduduk di lantai.
Tiba-tiba Aby mengambil sebuah paku emas yang tergelar di lantai.
"Pakunya ada disini ?" ucapnya kaget
"Bagaimana menurut Kyai apa dia sudah mati atau belum?" tanya Aby
Kyai Hasan mengamati paku bumi itu dengan seksama.
"Seharusnya dia memang sudah meninggal dan kembali ke alamnya, karena setahuku seperti itu kebenarannya," jawab Kyai Umar.
"Aku harap juga begitu, tapi kenapa tubuhnya tidak ada di sini," ucap Aby lagi
"Karena dia memang sudah menjadi mahluk gaib sudah pasti jasadnya akan segera menghilang setelah dia mati. Jadi mustahil kita akan menemukan jasadnya," jawab Kyai Hasan.
"Kalau begitu untuk lebih meyakinkan kita bagaimana kalau kita mendatangi makam Wiway di bukit Gombel dan mendoakannya?" jawab Kyai Hasan
"Baik Kyai aku setuju,"
Sementara itu di tempat berbeda, seorang lelaki membaringkan tubuh Wiway keatas ranjang.
Ia kembali meminumkan darah ayam cemani kepadanya. Tak lama tangan wanita itu mulai bergerak-gerak membuat lelaki itu tersenyum simpul menatapnya.
Ia kemudian memindahkan wanita itu ke sebuah sendang yang ada di belakang rumahnya.
"Bangunlah!" serunya dengan suara lantang
"Aku dimana," seorang wanita tampak kebingungan mendapati dirinya ada di sebuah sendang.
Seorang lelaki menghampirinya dan kemudian menambahkan kembang setaman kedalam sendang itu.
"Mandilah dan bersihkan tubuhmu," imbuhnya kemudian pergi meninggalkannya.
Wanita itu menatap sekilas lelaki itu.
"Sepertinya tidak asing, aku seakan mengenalnya,"
Selesai mandi Wiway segera keluar dari tempat itu dan seorang wanita sudah menunggunya.
"Sudah selesai cah ayu," ia segera memberikan handuk dan membawa kesebuah kamar.
"Sekarang gantilah bajumu, biar aku menunggumu didepan," tukas wanita itu.
Selesai berganti pakaian Wiway kemudian menuju ke ruang tengah dimana seorang lelaki menunggunya.
"Sekarang aku sudah mengembalikan kehidupan mu lagi, semoga dengan menebus dosaku dua puluh lima tahun lalu aku bisa beristirahat dengan tenang sekarang," ucap lelaki itu lirih
__ADS_1
"Apa maksudmu??" tanya Wiway penasaran