Call Me Wiway

Call Me Wiway
Chapter 29. Aku sudah tahu siapa dirimu


__ADS_3

Ezza berjalan menghampiri Wiway dan Arya, lelaki itu segera menarik lengan gadis itu.


"Jangan pernah ganggu pacarku, ingat itu!" seru Ezza menatap Arya sinis


"Unncch so sweat!" seru Wiway tersipu-sipu


"Ish, kenapa juga aku harus alay seperti itu," Ezza segera menepis angan-angannya.


"Sebaiknya aku mengamati mereka dari kejauhan, aku ingin tahu apa yang di rencanakan oleh Arya sehingga dia menyuruh Berlin untuk memisahkan aku dengan Wiway," pemuda itu kemudian segera duduk dan mengawasi keduanya.


"Selamat menikmati," ucap seorang pelayan menyajikan pesanan Arya.


"Wah sedapnya makanan," ucap Wiway kemudian segera melahap hidangannya dalam sekejap.


Arya tersenyum melihat ***** makan Wiway yang begitu besar.


"Kalau kau masih lapar, kau bisa memakan punyaku," ucap Arya


"Benarkah?" sahut Wiway berbinar-binar


"Tentu saja, makanlah sepuasnya bila masih kurang aku bisa memesannya lagi," ucap Arya


"Makasih," sahut Wiway langsung menyantap makanannya dengan lahapnya.


"Astoge Wiway, kenapa kamu rakus sekali, tidak bisakah sedikit jaim agar lelaki itu tidak merendahkan mu," umpat Ezza terus memperhatikan Wiway


"Kalau begitu terus, Arya bisa dengan mudah menaklukkan hatimu. Kenapa kau begitu polos Wiway," imbuhnya sembari menutupi wajahnya dengan buku menu


"Apa kau mau lagi," tanya Arya


"Hmmm," jawab Wiway malu-malu


"Astoge Wiway, kenapa kau begitu rakus," tukas Ezza menepuk-nepuk keningnya.


"Mau pesan apa Mas?" tanya seorang pelayan restoran mendekatinya


"Aku minta makanan yang paling pedas!" seru Ezza menggedor mejanya membuat pelayan itu ketakutan.


"Baik Mas," sahutnya segera meninggalkan tempat itu


"Dih, ganteng-ganteng kok galak!" umpat sang pelayan


Tidak lama kemudian seorang pelayan membawakan menu makanan yang dipesan Ezza.


"Selamat menikmati," ucapnya ramah


"Hmmm," sahut Ezza acuh


"Kenapa Arya sangat lebay, cih menyebalkan sekali." ucapnya sembari terus memperhatikan Arya dan Wiway


"Apa aku juga menyebalkan seperti itu saat bersama seorang Wanita, ah tidak mungkin. Aku adalah lelaki yang penuh kharisma hingga digilai oleh semua wanita jadi mustahil aku bertingkah konyol seperti dia,"


"Thanks Arya."


"Sama-sama Wi,"


" Sekarang aku tahu kenapa banyak yang menyukai mu, selain tampan kau juga sangat baik. Andai saja aku belum memiliki Ezza mungkin aku juga bisa tergoda oleh pesona mu," ucap Wiway


"Kau bisa aja," sahut Arya


"Aarrgghhh, pedaaass!" seru Ezza membuat Wiway dan Arya langsung menoleh kearahnya.


"Ezza," ucap Wiway memperhatikan lelaki itu dengan seksama.


"Apa kau kenal dia?" tanya Arya


"Aku yakin dia Ezza," ucap Wiway penasaran.

__ADS_1


Untuk apa dia ada disini, jangan bilang dia menguntit ku karena rindu,


Gadis itu tersenyum simpul kemudian menghampiri Ezza. Sadar jika Wiway mulai mencurigainya Ezza segera menutupi wajahnya dengan buku menu.


"Tidak usah malu, katakan saja kalau kamu rindu padaku. Sampai-sampai menguntit ku seperti ini, " ucap Wiway lirih


Bagaimana dia tahu kalau menguntitnya,


"Tentu saja aku tahu, karena kita kan sehati eaaaa!" sahut Wiway membuat semua mata menatap keduanya.


"Ah sial,"


"Ezza," ucap Arya membuka buku menu yang menutupinya


"Kenapa kau tidak bergabung dengan kami?" tanya Arya


"Itu...."


"Pasti Ezza masih malu untuk mengungkapkan perasaannya padaku, makannya diam-diam dia mengikuti agar tahu siapa saja yang mendekati ku, betul begitu kan?" tanya Wiway bergelayut manja di lengannya.


"Bukan begitu, itu karena motorku mogok di depan. Saat aku masuk sini tiba-tiba lihat kalian, makannya aku menutupi wajahku agar kalian tidak melihatku," sahut Ezza melepaskan lengan Wiway.


"Haish, masih saja mengelak. Tapi aku suka tipe lelaki jinak-jinak buaya seperti kamu, membuat aku semakin menyukaimu," ujar Wiway


"Baiklah sepertinya aku pamit dulu karena masih ada kuliah hari ini. Btw kalau masih ada sesuatu yang ingin Wiway tanyakan bisa hubungi aku," ucap Arya


"Oghey," sahut Wiway


Ia kemudian keluar dari tempat itu bersama Ezza.


"Btw kamu nanya apa sama Arya?" telisik Ezza


"Rahasia," sahut Wiway


"Dih gitu, sekarang mainnya rahasia-rahasian sama aku,"


"Kepo ya,"


"Ok, kalau gitu sampai ketemu nanti malam," sahut Wiway kemudian meninggalkannya.


"Hmmm, Sekarang ada yang Wiway sembunyikan dariku, apa dia mulai tak mempercayai ku," tukas Ezza gusar.


************


Sore itu Wiway terlihat begitu bahagia, gadis itu begitu bersemangat untuk merubah penampilannya sampai-sampai meminjam alat make up teman kerjanya.


"Thanks ya mbak Ka Sus," ucapnya sembari mengembalikan bedak Susan.


"Sama-sama Wi. Btw tumben hari ini Lo dandan, memangnya kamu mau ngedate ya?" tanya Susan


"Sebenarnya bukan sih, cuma aku hanya ingin terlihat cantik di depan lelaki yang aku sukai,"


"Tanpa make up saja kau sudah cantik apalagi di poles, beh tuh laki pasti makin klepek-klepek sama kamu Wi,"


"Tapi dia tidak begitu, dia selalu mengalihkan pandangannya saat melihatku," sahut Wiway


"Apa dia sudah punya pacar?"


"Iya,"


"Pantas saja, lebih baik kau cari saja lelaki lain yang masih jomblo. Aku yakin pasti banyak lelaki di luar sana yang mencintaimu apa adanya, ingat... jangan jadi pelakor,"


"Baik Ka Mar,"


"Sikat aja Wi, sebelum janur kuning melengkung masih milik umum,"


"Siap Ka Sus,"

__ADS_1


"Dih ngajarin yang gak bener," cibir Marimar


"Yaudah Wiway pulang dulu ya bye!" ucap Wiway berpamitan


"Yes, ternyata Wiway tidak suka sama Mas Aby, jadi masih ada peluang buat gue," ucap Susan


"Ingat saingan Lo gue Sus,"


"Iye Marimar,"


Jemput aku di halte taman


Wiway segera berlari menuju halte taman setelah mengirim pesan kepada Ezza.


Lelaki itu paling tidak suka kalau di kejar-kejar, cobalah jaim sedikit dan menjauh darinya. Aku yakin dengan begitu Ezza **ak**an merasa kehilangan dan mulai memperhatikan dirimu. Karena sebenarnya kami para cowok lebih suka cewek dingin dan sedikit nakal.


"Apa aku tidak usah pulang saja malam ini, sepertinya yang diucapkan Arya ada benarnya juga. Semakin ku mengejar Ezza dia semakin menjauh dariku, tapi jika aku tidak tinggal bersamanya aku mau tinggal dimana?"


"Kau bisa tinggal di rumahku," ucap Arya menghampirinya


"Arya,"


"Kalau kau butuh tempat tinggal kau bisa tinggal di rumahku, aku yakin keluargaku tidak akan keberatan. Apalagi Ibuku sangat ingin punya anak perempuan, pasti beliau sangat senang jika melihat mu,"


"Begitu ya, tapi ada sesuatu yang membuat ku tak bisa tinggal dimanapun selain bersama Ezza, jadi maaf aku tak bisa," tolak Wiway


"Tidak masalah Wi, aku tidak akan pernah mengusik masa lalu mu ataupun mencampuri urusan mu, jadi sans aja."


"Terimakasih Arya, tapi aku benaran gak bisa,"


"Ok kalau begitu aku juga tak bisa memaksamu. Btw gimana kalau kita melanjutkan obrolan kita yang sempat tertunda siang tadi,"


"Ok," jawab Wiway kemudian mengikuti lelaki itu.


"Kita mau kemana?" tanya Wiway


"Ke suatu tempat yang nyaman untuk ngobrol dan pastinya tidak ada yang bisa mengganggu kita di sana," sahut Arya melesatkan mobilnya.


Selama perjalanan Wiway terus mengamati laju kendaraan Arya.


Kenapa perasaanku tidak enak,


Arya menghentikan mobilnya di sebuah restoran mewah, Wiway kemudian turun mengikutinya menuju ke dalam.


Sementara itu Arya terbangun karena suara bekernya yang terus berdering menganggu tidurnya.


"Dasar Beker sialan!" serunya membanting Beker itu.


Ia segera membuka ponselnya, "Sudah hampir magrib," ia segera bangun dan menuju kamar Wiway.


"Dimana dia kenapa jam segini belum pulang," ucapnya khawatir.


Jemput aku di halte taman,


"Siapa yang mengirim pesan ini," ucap Ezza membuka sebuah pesan singkat dari ponselnya.


"Apa ini dari Wiway?, kalau begitu aku harus segera menjemputnya," Ezza segera melajukan motornya menuju ke halte taman.


"Dimana Wiway kenapa dia gak ada," ucapnya sembari mencari keberadaan gadis itu


"Kenapa Restoran ini sepi sekali," ucap Wiway mengedarkan pandangannya yang begitu sepi karena hanya ada tiga bangku saja yang terisi.


"Restoran ini memang sepi karena hanya waktu-waktu tertentu saja Restoran ini ramai," sahut Arya kemudian memberikan buku menu padanya.


Wiway menatap lekat kearah jam dinding yang terus berdetak menggeser jarum jam ke angka enam.


Gawat, sebentar lagi magrib aku harus segera pergi dari sini atau semua orang akan ketakutan melihatku,

__ADS_1


Wiway segera beranjak dari duduknya, namun Arya langsung menarik lengannya.


"Tidak perlu lari, aku sudah tahu siapa dirimu jadi tidak usah pergi," ucap lelaki itu membuat Wiway membulatkan matanya.


__ADS_2