
#Cerita ini hanya fiktif belaka, nama tokoh, nama tempat, dan semua yang adegan serta ritual di dalam novel ini adalah murni hasil khayalan author semata. Jika ada kesamaan maka itu hanya kebetulan dan tidak di sengaja.#
*Brakkk!!!
Sumi begitu terkejut ketika Aby mendatangi kediamannya dengan cara mendobrak pintu rumahnya.
"Kau pasti sangat tergesa-gesa datang kemari, sehingga sampai merusak pintu rumahku," ucap Sumi
Aby tak menghiraukan ucapan wanita itu. Ia segera menuju ke ke kamar tempat dimana ayahnya di baringkan.
"Dimana ayahku?" Tanya Aby dengan wajah penuh emosi
"Tentu saja aku sudah menguburkannya. Bukankah orang yang sudah meninggal harus di kubur?" jawab Sumk dengan semburat senyum di wajahnya
"Jangan bohong, kau pikir aku ini anak kecil yang bisa kau bodohi. Aku tahu ayahku belum bisa mati karena Wiway. Selama dia belum mati maka ayahku juga tidak akan bisa mati. Jadi katakan dimana kau sembunyikan dia?" Tanyanya lagi
"Dasar keras kepala, kau memang sama persis dengan ayahmu. Ikuti aku," tukas Sumi beranjak dari duduknya.
Wanita itu kemudian mengajak Aby menuju ke halaman belakang rumahnya. Ia menunjuk kearah gundukan tanah yang diberi baru nisan bertuliskan PARTO BIN SUHARTO.
"Aku terpaksa menguburnya, karena ia menghembuskan nafas terakhirnya dua hari lalu," jawab Sumi berkaca-kaca.
"Terserah kau mau percaya atau tidak, kau bahkan boleh menggali kuburnya jika ingin memastikan apakah ucapan ku ini benar atau salah, silakan saja lakukan saja apa yang kau ingin lakukan," imbuhnya.
Sumi segera pergi meninggalkan Aby.
Aby segera mengambil sebuah sekop dan menggali makam itu.
Sementara itu Sumi hanya menatapnya sinis dari kejauhan.
"Lakukan saja apa yang kau ingin lakukan putraku,"
Cukup lama Aby menggali makam itu, apalagi di tambah cuaca hujan hari itu.
Setelah satu jam lebih Akhirnya Aby berhasil juga membongkar makam itu, ia segera membuka kain kafan yang membungkus tubuh Ki Parto.
Tidak lupa ia memeriksa denyut nadi ayahnya itu.
"Apa benar kau sudah meninggal ayah?" ucap pemuda itu menatap sosok ayahnya
Ia kemudian memejamkan matanya untuk memastikan dia sudah meninggal atau belum.
"Dia benar-benar sudah meninggal," ucapnya gusar
Aby segera mengubur kembali Ki Parto, dan meninggalkan tempat itu.
Nyai Sumi tersenyum bahagia saat melihat wajah gusar Aby.
"Dasar bodoh, sampai kapanpun kau tidak akan pernah menang melawanku nak," ucap wanita itu menyunggingkan senyumnya.
*Flashback back hari pernikahan Wiway dan Ezza.
*Krek, krek, krekk!!!
Tiba-tiba sosok Ki Parto terbangun dari ranjangnya pria itu kemudian berjalan keluar meninggalkan kediaman Nyai Sumi.
"Gosh, Gosh, Gosh!!!"
Suara nafas Ki Parto begitu keras terdengar belum lagi suara derap kakinya yang menimbulkan tanah langsung berguncang.
Lelaki itu terus berjalan menuju ke rumah Lingga.
"Jangan pernah ambil milikku,"
*Deerrr, deerr!!
"Apa kalian dengar!" tanya Gilang
__ADS_1
"Apaan?" sahut Rangga
"Suara derap langkah kaki menuju kemari," sahut Gilang
"Tidak ada suara apapun," jawab Rangga
"Benar," sambung Barra
"Coba pakai kekuatan supranatural kalian dan dengarkan secara seksama. Aku bisa merasakan kehadirannya meskipun hanya sebentar," ucap Gilang
"Masa sih, kok aku gak dengar sih Lang," sahut Rangga
"Sudahlah, kalian jaga disini saja aku akan memeriksanya ke depan.
Sementara itu di kamar Ezza dan Wiway, keduanya tengah asyik memadu kasih.
"Memang janda lebih menggoda ya," ucap Ezza kemudian mematikan lampu kamarnya.
Ki Parto begitu berang ketika mendengar suara ******* kedua pasangan pengantin baru itu.
Matanya seketika memerah dan ia mengepalkan tangannya.
*Dep!!
Tiba-tiba saja semua lampu di rumah itu langsung padam, manakala lelaki itu memasuki pintu gerbang rumah itu.
"Dia datang!!" Gilang segera berlari mencari keberadaan mahluk astral itu.
"Gosh, Gosh!!"
*Srak, srakk!!!
Di tempat berbeda, Aby juga bisa merasakan kebangkitan ayahnya.
"Ayah!!!" Aby segera bergegas keluar dari kamarnya.
Sebaliknya Sumi begitu terkejut ketika mendapati Ki Parto tidak ada di kamarnya.
"Sial, bagaimana ini bisa terjadi, kemana dia perginya!" umpat wanita itu
Ia segera bergegas mencari lelaki itu.
"Jangan sampai mereka mengetahuinya, terpaksa aku harus menggunakan ajian Kijang Kencana agar ia tidak membuat onar disana," Sumi segera merapalkan mantera dan tidak lama tubuh wanita itu melesat secepat kilat meninggalkan kediamannya.
Tidak butuh lama bagi Sumi untuk tiba di rumah Lingga menggunakan ajian sakti itu. Setibanya di kediaman Lingga, ia kemudian mengendap-endap memasuki pelataran rumah Lingga.
*Grep!!!
Gilang segera menepuk pundak sesosok mahluk yang berjalan mengendap-endap menuju kediaman Lingga.
Wanita itu menghentikan langkahnya ketika merasakan ada seseorang yang menyentuh pundaknya.
Aku yakin dia adalah salah mahluk astral yang mengalahkan mahluk kirimanku kemarin.
Sumi menyeringai dan segera melesatkan pukulan keras kearah Gilang.
*Buuugggghhh!!!
Sebuah pukulan keras menghantam tubuh Gilang hingga lelaki itu terhempas satu depa dari mahluk itu.
*Arrgghhh!!!
Melihat lawannya roboh Sumi kembali melesat meninggalkan Gilang. Ia segera menyambar tubuh Ki Parto dan membawanya pergi dari tempat itu.
Gilang segera bangun dan mengejar mahluk itu, namun sayangnya mahluk itu menghilang dengan cepat hingga ia kehilangan jejaknya.
"Kemana dia!" Umpat Gilang sembari mengatur nafasnya.
__ADS_1
"Aku harus mengejarnya, aku yakin dia adalah kunci dari kemalangan yang menimpa Wewe Gombel itu,"
Gilang segera menggunakan ajian Kijang Kencana untuk mengejar mahluk astral itu.
Lagi-lagi Gilang harus gigit jari saat harus kehilangan jejak Mahluk itu.
"Siapa dia, kenapa dia bisa berlari lebih cepat dari ajian Kijang Kencana, aku yakin sekali dia bukan orang sembarangan,"
"Syukurlah dia tidak bisa mengejar ku," ucap Sumi kemudian menyeret Ki Parto menuju ke ruangannya.
"Sampai kapanpun aku tidak akan membiarkan mu bertemu dengan Wewe Gombel itu, cukup sekali aku membiarkan menolongnya. Dan itu tidak akan pernah terjadi lagi. Ingat kau harus tetap hidup sampai aku mendapatkan apa yang aku inginkan," ucap wanita itu kemudian mendorong tubuh lelaki itu hingga jatuh terhempas ke ranjangnya.
Ia kemudian meninggalkannya dan kembali lagi membawa sebuah gelas bambu berisikan sebuah air putih.
"Aku yakin putramu pasti juga merasakan kebangkitan mu sekarang, jadi terpaksa aku harus membuatmu benar-benar mati untuk beberapa saat agar ia tidak curiga kepadaku,"
"Aku yakin racun ini bisa membuat mu tertidur di bawah gundukan tanah merah selama dua hari," Wanita itu segera menjegal Ki Parto dan memaksa lelaki itu untuk meminum air yang dibawanya.
Tidak lama setelah meminum air itu Ki Parto langsung kejang-kejang dan tak sadarkan diri.
"Maafkan aku sayang, aku terpaksa melakukan ini padamu karena aku tidak mau mencelakai putra kita. Aku tidak mau melukainya karena ia ikut campur dengan urusan kita," Sumi kemudian mengambil kain kafan dan membungkus tubuh Ki Parto.
Setelah selesai mengkafaninya, ia kemudian menggali tanah di belakang rumahnya dan mengubur lelaki itu di sana.
"Selamag tidur sayang semoga kau tidak kedinginan di bawah sana!" ucapnya kemudian meninggalkan tempat itu.
*Flashback off
"Sayang darimana saja sih, kok lama banget," ucap Wiway.
Wanita itu segera memeluk Ezza saat suaminya itu.
Astoge, Wewe Gombel ini sangat agresif sekali. Bagaimana bisa aku menahan godaannya.
Barra yang merasuki tubuh Ezza begitu pans dingin saat Wiway begitu agresif padanya karena mengira dia suaminya.
"Maaf sayang, tadi Om Lingga minta di bantuin bersihin danau." ucap Ezza melepaskan tangan Wiway yang melilit tubuhnya.
"Kenapa sih sepertinya dari semalem kamu menghindari aku terus, apa kamu sengaja ya," ucap wanita itu merajuk
"Hadeeh bukan itu sayang, seperti yang aku bilang, sementara kita tunda dulu bulan madunya sampai kita balik ke rumah ku," jawab Barra mencoba membujuknya
"Katanya kita bisa melakukannya di sini asal tak berlebihan, tapi apa kenyataannya kamu malah terus menjauh."
"Hadeeh jadi salah sangka kan, yaudah aku janji malam ini. Tapi sekarang aku harus pergi dulu ya, gak enak di tungguin om Lee,"
"Ok sayang, tapi peluk dulu," ucap Wiway manja
Barra segera memeluk erat wanita itu.
"Kissnya mana," imbuhnya saat Barra melepaskan pelukannya
Hadeeh, kalau begini terus bisa jebol pertahanan gue. Dasar Gilang sue ngasih tugas yang penuh godaan sama gue.
Barra segera mencium kening wanita itu.
*Cup,
"Pipinya belum sayang," imbuh Wiway membuat Barra langsung mecium pipinya
"Jangan lupa bibir juga biar gak iri," ucap Wiway membuat Barra langsung merah padam.
Terpaksa deh, rejeki gak boleh di tolak, tapi gak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Sabar dek ini ujian.
***********
Tetap dukung author dengan like komen dan favoritkan novel ini. Love you all sekebon duren sawit 😘😘😘.
__ADS_1