
"Kau tentu masih ingat dengan perkataan ku Wi," ujar Aby menghampiri mereka
Wiway segera menoleh kearah lelaki itu, "Apa kau benar-benar akan melakukannya sekarang?" tanya Wiway berkaca-kaca
"Tentu saja, tidak ada waktu lagi, apa kau keberatan?" tanya Aby membuat Wiway terlihat ragu.
"Tentu saja, waktu kita tidak banyak,"
"Bagaimana dengan Ezza?"
"Kau tidak perlu khawatir aku bisa membereskannya,"
"Apa kau akan menghapus ingatannya?" tanya Wiway cemas
"Sepertinya begitu, karena hanya itu yang bisa membuat dia tidak larut dalam kepedihan karena kehilangan dirimu,"
"Apakah dia akan benar-banar melupakan aku, dan tidak pernah mengingatku sedikitpun?" tanya Wiway gamang
"Tentu saja, apa kau ragu?" jawab Aby balik bertanya
"Kalau kau ragu sebaiknya aku urungkan saja ritual ini, karena percuma saja. Aku tidak bisa melihat mu bersedih," sahut Aby
"Kalau begitu lakukan saja. Aku sudah siap meninggalkan semuanya termasuk Ezza," jawab Wiway dengan senyumnya yang dipaksakan.
"Jangan sampai menyesali apa yang sudah kau putuskan," Aby memastikan gadis itu untuk terakhir kalinya
"Kau benar meskipun aku memaksakan diri untuk hidup bersama Ezza, tetap saja aku tidak akan membuatnya terluka suatu saat nanti. Entah itu cibiran orang, keturunan ataupun masalah lain yang pasti akan datang saat kami memutuskan untuk menjadi satu keluarga. Belum lagi masalah dengan keluarganya. Membayangkannya saja sudah membuatku jengah, cukuplah sekali aku mengalami kegagalan dan mungkin itu adalah teguran dari Tuhan agar aku selalu bersyukur atas apapun yang ku terima selama ini. Mendapatkan cinta Ezza saja sudah merupakan karunia terbesar yang Tuhan berikan padaku, jadi nikmat mana lagi yang aku dustakan," ucap Wiway mengusap air matanya yang mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Semoga keikhlasan hatimu bisa mempermudah semuanya," ucap Aby memeluk gadis itu.
Aby kemudian membawa Wiway ke sebuah ruangan khusus dimana sang pemilik rumah sudah menunggunya di sana.
"Mungkin ritual ini sedikit menyakitkan, tapu semoga semua berjalan lancar," ucap wanita itu kemudian menyuruh Wiway duduk bersimpuh di depan altar persembahan yang sudah ia siapkan.
"Apa semuanya sudah komplit?" tanyanya melirik kearah Aby
"Sudah budhe, sesuai dengan yang anda perintahkan," jawab Aby
"Sekarang lebih baik kau urus dua anak muda itu agar mereka tidak mengganggu ritual ini," titah wanita itu
"Baik Budhe,"
Aby segera keluar ruangan itu, dan Budhe Sundari segera memulai ritualnya.
***********
"Kamu mau kemana Za?" tanya Derry
"Nyari Wiway, dari tadi dia belum kelihatan," jawab Ezza
__ADS_1
"Tidur kali," jawab Derry
"Mana mungkin dia tidur di siang hari,"
"Bisa saja namanya juga capek," sahut Derry kemudian membaringkan tubuhnya diatas ranjangnya.
"Jangan tidur dulu dudul, bantuin gue cari Wiway. Firasat gue gak enak soalnya," ujar Ezza menarik Derry
"Firasat apaan sih?" tanya Derry
"Entahlah, aku merasa ada yang tidak beres dengan Wiway aku takut terjadi sesuatu dengannya," jawab Ezza
"Emang kalau lagi jatuh cinta selalu peka terhadap apa yang dialami oleh pasangannya," ucap Derry segera beranjak dari ranjangnya.
Saat keduanya hendak keluar dari kamarnya tiba-tiba Aby datang dan menepuk pundak keduanya hingga mereka langsung jatuh pingsan.
Setelah membereskan kedua orang itu, Aby segera kembali ke ruang ritual.
Waktu sudah menunjukkan pukul dua siang, Nyai Sundari terlihat mengunyah sirih dan kemudian. Setelah membakar kemenyan wanita itu langsung mengambil selendang dan menari di depan Wiway. Wanita itu menari dengan gemulai seperti seorang penari pada umumnya, namu lama kelamaan gerakan tariannya mulai tak beraturan, Ia semakin tak terkontrol seperti orang yang kesurupan.
Semua sesaji yang ada di altarpun sudah ia habiskan.
Melihat Sundari sudah kerasukan membuat Aby langsung duduk di depan altar dan melantunkan sebuah Kidung hingga membuat Sundari mulai terkendali.
Wanita itu segera mengambil keris sakti yang tergeletak di meja persembahan, dan kemudian berjalan menghampiri Wiway.
Wiway hanya memejamkan matanya saat Sundari mulai menggerakkan keris pusakanya
"Aarrgghhh!!" Wiway langsung jatuh tersungkur setelah Sundari berhasil menusuk jantungnya menggunakan keris sakti itu.
*Bruuugghh!!!
Wiway merasakannya pandangannya menjadi gelap, ia meringis menahan semua rasa sakit yang menusuk relung kalbunya.
Dalam keadaan sakaratul maut Bayangan Ezza muncul seolah menjadi penyemangat gadis malang itu.
Ia meraih ukuran tangan pria itu, dan menatapnya sendu. Bahkan Senyuman Ezza mampu membuatnya melupakan rasa sakitnya.
Seandainya waktu bisa diulang kembali, rasanya aku ingin terlahir di masa ini agar aku bisa terus melihat senyummu, agar aku selalu bisa berada di samping mu sayang.
Aby segera memindahkan jasad Wiway setelah gadis itu terkapar di lantai.
Sundari segera menabur bunga mawar diatas jenazah Wiway kemudian membungkusnya dengan kain kafan.
"Sekarang bawa mayat ini dan segera kuburkan sebelum magrib," ujar wanita itu.
Aby mengangguk dan segera membopong jenazah Wiway kedalam mobilnya.
Ia menengok jam tangannya, dan waktu menunjukkan pukul setengah empat sore.
__ADS_1
Ia bergegas meninggalkan tempat itu menuju ke tempat pemakaman umum terdekat.
Setelah berputar-putar selama satu jam perjalanan, akhirnya Aby berhasil menemukan sebuah tempat pemakaman umum.
Ia segera memarkirkan mobilnya dan membawa jenazah Wiway.
Ia dibantu oleh petugas penjaga makam mulai menggali tanah untuk tempat peristirahatan terakhir Wiway.
Lagi-lagi Aby melirik jam tangannya, "Sudah jam setengah enam tapi lubangnya belum dalam juga," ucapnya sembari mengusap peluhnya
"Namanya juga musim kemarau mas, tanah jadi alot. Maklumin saja, tapi tidak usah khawatir segini sudah cukup kok," sahut penjaga makam menghentikan penggaliannya.
"Beneran sudah bisa," tanya Aby
"Sudah Mas, sekarang masnya naik dan turunkan jenazahnya," ujar lelaki itu.
Aby segera naik keatas dan mengambil jenazah Wiway di mobil.
Ia kemudian menurunkan jenazah itu dan lelaki penjaga makam segera meraihnya kemudian membaringkan mayat itu.
Lelaki itu kemudian naik keatas dan membantu Aby mengurug makam itu.
Adzan Maghrib berkumandang tepat setelah keduanya selesai menutup liang kubur itu.
"Astagfirullah, Mas nisannya lupa belum dipasang," ujar lelaki itu mengagetkan Aby
Ia segera mengambil dua batu Nisan di sampingnya dan memasangnya.
"Sudah selesai Mas," ucap lelaki itu sumringah
"Alhamdulillah tepat waktu juga," ucap Aby lega
Ia segera mengambil beberapa lembar uang ratusan ribu dan memberikannya kepada sang penjaga makam.
"Terimakasih sudah membantuku, dan tolong rawat makam ini. Insya Allah saya akan membayar biaya perawatannya setiap bulan,"
"Inggih Mase, makasih juga rejekinya hari ini," jawab lelaki itu kemudian bergegas pergi meninggalkan Aby.
Aby kemudian menaburkan bunga mawar keatas makam Wiway, "Semoga kau beristirahat dengan tenang di sana Wi, aku doakan kau akan mendapatkan tempat terbaik di sisiNya dan di jadikan kuburnya Roudhoh Mi Riyadil Jannah," Aby kemudian menengadahkan tangannya dan berdoa.
"Aamiin," ia kemudian mengusap nisan Wiway dan beranjak pergi.
*Kreek, kreekk!!
Aby yang baru beberapa langkah langsung menoleh kearah makam itu ketika mendengar suara aneh.
Namun suara itu seketika menghilang saat lelaki itu menghentikan langkahnya. Ia kembali melangkah pergi dan suara itu kembali terdengar.
Aby menyunggingkan senyum sinisnya dan menghampiri makam itu.
__ADS_1
*Duaarrr!!
Tubuh Aby terpental saat makam itu tiba-tiba meledak dan sesosok mahluk mengerikan keluar dari liang kubur itu.