Call Me Wiway

Call Me Wiway
Chapter 72. Terlambat


__ADS_3

*Dep, dep, dep!!!


Dewi segera bangkit dari ranjangnya ketika lampu kamarnya tiba-tiba mati nyala. Ia segera mengambil jimat pemberian Ki Kusumo dan mengalungkannya di lehernya.


Ia berjalan pelan dan membuka pintu kamarnya.


"Aaaarrrrggghhh!!" ia berteriak histeris saat melihat sesosok mahluk menyeramkan berdiri di depan pintu kamarnya.


Ia segera berlari menjauh darinya, Wiway menyeringai dan berjalan pelan mendekati wanita itu.


"Hari pembalasan sudah tiba, sekarang saatnya kau harus membayar semua yang telah kau lakukan padaku dua puluh lima tahun lalu Dewi."


"Tolong ampuni aku Fatimah, semuanya aku lakukan atas perintah Mas Galih, jadi jangan salahkan aku. Aku hanya mengikuti perintahnya saja," ucap Dewi membela diri.


"Andai saja waktu itu kau tidak melibatkan dukun untuk menjadikan aku seperti ini mungkin sekarang aku sudah bisa beristirahat dengan tenang di surga tidak bergentayangan seperti ini menjadi seorang Iblis," sahut Wiway


"Kau benar-benar kejam Dewi, tidak puas merebut suamiku kau juga membuat kematian ku begitu menyedihkan, dan sekarang lihatlah ... aku menjadi Iblis pembunuh karena dirimu. Jadi bersiaplah untuk menyusul suamimu ke Neraka!"


Saat Wiway mendekati wanita itu tiba-tiba tubuhnya terpental dan menghantam meja rias. Melihat Wiway yang ambruk, Dewi segera melarikan diri meninggalkan tempat itu.


Ia segera melajukan mobilnya meninggalkan rumahnya.


*Dreet, dreet, dreett!!


"Ayo angkat Be, angkat!!" seru wanita itu


"Sial, dia pasti sudah jalan makanya telpon ku gak diangkat," Dewi segera mematikan ponselnya dan menambah laju kendaraannya.


"Aku harus segera menemui Ki Kusumo, aku yakin di sana aku pasti aman,"


*Ciiittt!!!!


Tiba-tiba Dewi mengerem mendadak mobilnya saat seorang wanita melintas tiba-tiba di depannya.


*Tin, tin!!!


Ia sengaja memencet klakson mobilnya untuk memberikan peringatan kepada wanita itu.


"Kalau mau nyebrang lihat-lihat dong!!" serunya membuat wanita itu segera menoleh kearahnya.


"Sial!" Ia segera menginjak gas mobilnya dan melesatkan mobilnya.


"Aarrgghhh!!" ia menjerit ketika tiba-tiba sebuah kepala manusia jatuh tepat didepannya.


*Ciiittt!!!


Dewi yang ketakutan kehilangan kendali sehingga mobilnya menabrak pembatas jalan.


*Brakkkkk!!!


*Tok, tok, tok!!

__ADS_1


"Mah, bangun mah!!" seru seorang gadis membangunkan Dewi yang pingsan.


Dewi perlahan membuka matanya setelah mendengar kaca mobilnya di ketok-ketok seseorang.


"Berlin," matanya berbinar ketika melihat sosok perempuan yang mengetuk kaca mobilnya.


Ia segera membuka pintu mobilnya, "Kenapa Ki ada di sini nak?" tanya wanita itu


"Wewe Gombel itu mengejar ku mah, dan ia berhasil mengambil jimat ku. Aku takut sekali mah, aku takut jika dia akan membunuh ku seperti papah," jawab Berlin ketakutan.


"Kau pasti sangat ketakutan sehingga wajahmu begitu pucat," ucap Dewi mendekati Berlin yang terus menjauhinya.


"Kepalamu juga terluka, kasihan sekali. Sekarang lebih baik kau naik kedalam mobil. Kebetulan aku akan pergi ke rumah Ki Kusumo untuk meminta perlindungan," ajak wanita itu mengulurkan tangannya


"Aku takut kau bukan mamah ku," ucap Berlin menjauhinya


"Apa kau tidak percaya dengan mamah mu ini?" tanya Dewi


"Tadi mahluk itu juga menyamar sebagai dirimu dan mengambil jimat itu dariku, beruntung aku bisa kabur darinya," jawab Berlin


"Aku tahu perasaan mu nak, baiklah supaya kau tidak meragukan mamah lagi, aku akan memberikan jimat ini padamu agar kau percaya kalau aku ini benar-benar ibumu. Wanita yang sudah melahirkan mu dan aku akan melakukan apapun untuk bisa menyelamatkan dirimu dari siapapun yang hendak menyakiti dirimu," Dewi kemudian memberikan kalung itu kepada Berlin dan memeluknya erat.


"Apa sekarang kau percaya nak?" tanyanya lirih


"Iya mah, aku percaya." jawab gadis itu


"Syukurlah," sahut Dewi melepaskan pelukannya.


Wanita itu kembali terkejut saat melihat Berlin yang berubah menjadi sosok Wewe Gombel yang menyeramkan.


Seketika ia merasakan tubuhnya begitu lemas dan hampir saya ia jatuh ke tanah karena terkejut melihat sosok Wiway di hadapannya.


"Bagaimana rasanya memeluk musuh mu?" tanya Wiway berjalan mendekatinya.


Dewi berusaha kabur namun kakinya tiba-tiba saja kram dan tak bisa digerakkan.


"Sial, kenapa bisa begini!" ia berusaha menggerakkan kakinya namun sayangnya semuanya sia-sia karena kakinya tiba-tiba saja seperti lumpuh dan tak bisa di gerakkan.


"Kau pasti masih ingat bagaimana aku mati bukan?" tanya Wiway mendongakkan wajah wanita itu.


"Tolong ampuni aku Fatimah, aku benar-benar tidak bersalah. Aku memang sudah merebut mas Galih darimu tapi aku tidak pernah berpikir untuk menggali kubur mu dan menjadikan kamu sebagai Wewe Gombel. Percayalah padaku, semuanya itu adalah ide Mas Galih. Aku hanya mengikuti sarannya agar kau tidak membalas dendam padaku karena sudah merebut Mas Galih dan membiarkan mati di tepi jalan!" jelas wanita itu mencoba meyakinkan Wiway.


"Tapi sayangnya aku tidak percaya dengan mulut berbisa mu itu Dewi. Sekarang aku hanya ingin melihat kematian mu agar aku juga bisa beristirahat dengan tenang," sahut Wiway tersenyum sinis menatapnya.


Ia kemudian menggerakkan mobil sedan milik Dewi dan mengarahkannya kepada wanita itu.


Dewi seketika terjengkak ketika mobil itu tiba-tiba menyalakan lampu kearahnya.


Ia berusaha menggerakkan badannya untuk menghindari mobil itu yang mulai mengejarnya.


"Tolong!!, tolong!!!" seru Dewi sembari menangis.

__ADS_1


Untuk menyelamatkan diri dari kejaran mobil itu ia sampai merayap seperti seekor cicak membuat Wiway menertawakannya.


Suara tawanya yang begitu nyaring membuat Dewi semakin ketakutan.


"Arrgghhh!!" wanita mengerang kesakitan saat mobil itu mulai melindas kakinya.


"Tolong aku Fatimah, aku masih mau hidup. Aku belum bisa meninggalkan putriku seorang diri," ucapnya bersimpuh di kaki Wiway


"Kau tidak perlu mengkhawatirkan Berlin, karena sebentar lagi dia juga akan menyusul mu," sahut Wiway


"Tolong jangan bunuh dia Fatimah, dia tidak tahu apa-apa tentang masa lalu kita. Dia juga tidak terlibat sama sekali jadi jangan sentuh dia. Kau boleh membunuhku sekarang juga tapi jangan sakiti putriku, aku mohon!" serunya sambil terisak.


"Nyawa harus di bayar dengan nyawa Dewi, semua keturunan mu harus membayar semua yang sudah kau lakukan padaku," jawab Wiway kemudian menggerakkan mobil itu lagi hingga menggilas tubuh Dewi.


Ia kemudian meninggalkan tempat itu setelah melihat Dewi menghembuskan nafas terakhirnya.


"Sekarang giliran mu Berlin," ucapnya menyeringai.


"Sial, aku terlambat!" seru Aby saat mendapati kediaman Dewi sudah berantakan.


Dimana dia sekarang??,


Aby segera menghubungi Berlin untuk memastikan keberadaannya.


"Kamu dimana?" tanya Aby


"Di rumah teman," jawab Berlin


"Cepat share lokasinya?" imbuh Aby


"Baik," Berlin segera mengirimkan lokasi keberadaannya kepada Aby.


"Siapa Be?" tanya Derry


"Mas Aby," jawab Berlin


"Kenapa dukun itu begitu peduli padamu, aku jadi curiga deh sama dia, jangan-jangan dia ada hati lagi sama kamu," sahut Derry sedikit kesal


"Emang kenapa kalau dia suka sama aku?" tanya Berlin meliriknya


"Gak peka Lo Be," sahut Ezza menimpali ucapannya


"Maksudnya??" tanya Berlin pura-pura tidak tahu


"Dia jelous Be, masa sih Lo gak tahu kalau Derry dari dulu suka sama Lo," jawab Ezza membuat Berlin tersenyum menatap Derry


"Kenapa Lo gak bilang aja sama gue, kan jadinya gak gini kalau Lo berterus terang dari dulu,"


"Gue takut Be," jawab Derry


"Takut apa?"

__ADS_1


"Gue takut aja sama Ezza, secara dia kan dulu tergila-gila sama kamu. Sebagai sahabat karibnya gue gak bisa dong Nikung gebetan sahabat gue," jawab Derry membuat Berlin langsung memerah.


"Unncch so sweat banget sih kamu Sayang," ucap Ezza kemudian memeluknya membuat Berlin terkekeh melihat keduanya.


__ADS_2