
Haripun berganti hari, kini setelah 3 minggu di Luar kota Bagas dan Agus pun sudah kembali ke Ibu kota.
" Mah, nanti malam tolong bilang ke anak-anak suruh kumpul di ruang keluarga, papah pengen bicara. " ucap Bagas yang sedang duduk santai bersandar di atas ranjang.
" Kenapa pah ? apa papah mau membicarakan pernikahan Abian dan Aisyah secepat ini ? "
Tanya Santi ikut duduk dekat suaminya, karna memang Santi sendiri sudah tau rencana Bagas, yang berniat menjodohkan Aisyah dan Abian dan berkeinginan menikahkan mereka secepat mungkin.
" Ya, seperti itulah." jawab Bagas.
"Ya udah, biar nanti malam mamah yang beritau mereka, papah istirahatlah dulu papah kan baru pulang pasti cape. " ucap Santi kepada Bagas.
" Iya."
Siang pun berganti malam, kini semua keluarga sudah berkumpul di di ruang keluarga rumah besar pratama.
Selin, Aisyah, Agus, Abian, Santi, dan tentunya Bagas, mereka semua sudah duduk di sofa ruang keluarga.
" Ada apa sih mah ? ko kita kumpul di sini semua ? " tanya Selin penasaran.
" Kamu dengerin aja, katanya papah pengen membicarakan sesuatu sama kalian. " ucap Santi.
Melihat semua sudah berkumpul Bagas pun mulai bicara.
" Baiklah, karna kalian sudah berkumpul semua, papah langsung aja ke intinya. " ucap Bagas sambil menghirup udara dalam memberi jeda sebelum bicara.
" Papah sama Om Agus ingin kamu dan Aisyah menikah Abian." ucap Bagas tegas.
" Apah ! " ucap Abian terkejut.
sudah ku duga ini akan terjadi, pikir Bian.
Aisyah yang duduk tidak jauh dari Abian sama terkejutnya dengan Abian, Aisyah dan Abian pun saling pandang dengan tatapan penuh tanda tanya.
" Ya alloh, apa yang di katakan a Bian malam itu menjadi kenyataan " pikir Aisyah mengingat perkataan Abian saat di dapur tengah malam bersamanya.
" Wah, Daebak, maksud papah, papah ingin menjodohkan ka Abian sama Aisyah ? " tanya Selin.
" Iya, papah ingin kamu menikahi Aisyah Bian, dan papah ingin Aisyah lah yang menjadi menantu keluarga pratama." ucap Bagas tegas.
" Tapi pah, kenapa mendadak begini ? ayah Agus juga, kenapa gak membicarakan ini dulu sama aku, lalu gimana kuliahku nanti ? " ucap Aisyah menatap Agus ayahnya dengan wajah kecewa.
" Aisyah, Ayah sudah membicarakan ini sama papah Bagas, dan sekarang ayah membicarakan ini sama kalian. Dengan harapan kalian mau menghargai keputusan ayah dan papah Bagas. Dan lagi kamu tetap bisa kuliah walaupun sudah menikah." ucap Agus lembut menjelaskan pada Aisyah.
__ADS_1
Mendengar perkataan ayah nya Agus Aisyah pun hanya diam seribu bahasa.
" Y**a alloh apa yang terjadi ini ? kenapa tiba-tiba kau ingin aku menikah dengan a Bian, padahal Abian dan aku tidak memiliki perasaan apapun, bagai mana jadinya nanti kalau aku menikah dengan a Bian, bagai mana nasib pernikahanku nanti ya Alloh, jika engkau sudah menuliskan suratan takdirku seperti ini aku hanya bisa pasarah kepadamu ya Alloh, bimbinglah hamba agar bisa ikhlas menerima ini ." pikir Aisyah.
" Pernikahan kalian akan di gelar 3 minggu lagi dan papah yang akan menyiapkan semua keperluan untuk pernikahan kalian, papah harap kamu menyetujui ini Bian, dan papah tidak mau mendengar penolakan dari kamu. " ucap Bagas tegas menatap Abian.
Abian sendiri memang tidak bisa melakukan apa- apa, Abian sudah bisa menebak kalau ayah nya akan menginginkan hal ini. Saat Bagas berbicara di meja makan pertama kali tentang Bagas menginginkan Aisyah menjadi menantunya, Aban sendiri sudah tau kalau papahnya Bagas tidak pernah main-main dengan perkataan nya.
" Baiklah, jika memang itu yang papah inginkan, aku akan bersedia menikahi Aisyah. " ucap Abian tegas, di hadapan papahnya Bagas dan tentunya di saksikan semua yang ada di ruang keluarga tersebut.
" Bagus, papah harap sebagai laki-laki kamu bisa memegang ucapan kamu sendiri, dan untuk tanggal pernikahan biar papah yang urus, sekalian akan papah umumkan kepada para kolega bisnis dan para pemegang saham di perusahaan kalau setelah kamu menikah, kamu akan resmi jadi Ceo di perusahaan menggantikan papah." ucap Bagas tersenyum bahagia.
" Y**a alloh kenapa ka Bian menyetujui pernikahan ini ? aku tidak mengerti ? padahal a Bian sendiri sudah mengatakan kalau aku tidak boleh menerima pernikahan ini, kenapa kau menyetujui pernikahan ini a Bian ? " pikir Aisyah sambil memandang Abian dengan seribu tanda tanya.
Aisyah pun memandang ayah nya dengan wajah yang masih penuh tanda tanya.
Agus pun mengerti tatapan wajah dari putri kesayangan itu, Agus menganggukan wajahnya sambil tersenyum menatap Aisyah seolah mengisaratkan kalau Aisyah harus percaya akan keputusan orang tuanya.
Setelah pembicaraan para orang tua yang cukup alot, merekapun kembali ke rutinitas mereka masing-masing.
Begitu pula dengan Aisyah kembali ke atas menuju kamarnya. Tapi entah kenapa setelah keputusan keluarga yang menginginkan dirinya menikah dengan Abian membuat Aisyah merasa lemah tidak berdaya, Aisyah pun pergi ke Balkon rumah yang biasa ia jadikan tempat menenangkan diri. Aisyah pun duduk di kursi yang ada di Balkon tersebut.
Saat Aisyah termenung memikirkan perjodohan nya dengan Abian, tiba-tiba Aisyah mendengarkan ucapan salam dari seseorang.
" Waalaikum salam. " ucap Aisyah yang masih terkejut melihat Abian menghampirinya bahkan sampai mengucapkan salam.
" Kenapa ngelamun ? mikirin pernikahan kita ? " tanya Abian sambil duduk di kursi sebelah Aisyah.
" Kenapa aa menyetujui pernikahan kita ? " tanya Aisyah menatap Abian dengan penuh tanda tanya.
" Bukan nya aa sendiri yang nyuruh aku untuk menolak pernikahan ini ? " ucap Aisyah.
" Aku tau kamu pasti akan menanyakan itu. "
Belum selesai Abian bicara, Aisyah sudah kembali melayangkan pertanyaan kepada Abian.
" Bukan nya selama ini aa gak suka sama aku dan kita sama sekali tidak memiliki perasaan apapun, kenapa aa setuju menikah denganku ? " tanya Aisyah menatap tajam ke arah Abian.
Abian pun tersenyum mendengar peertanyaan Aisyah yang di tujukan kepada nya. Raut wajah Aisyah terlihat begitu marah menatap tajam ke arah Abian.
" Aku tau kamu pasti merasa aneh kenapa aa menyetujui menikah dengan mu kan ? kamu sendiri tau selama ini aa selalu membuat orang tua aa kecewa dengan kelakuan aa yang kotor. Aa berharap dengan aa menikah dengan mu bisa membuat orang tua kita bahagia, aa hanya ingin menghormati keputusan orang tua kita." ucap Abian menjelaskan.
" M**enghormati orang tua kita ? lalu bagai mana nasib pernikahan kita nanti ? sementara antara aku dan dirimu tidak memiliki perasaan apa-apa. " pikir Aisyah
__ADS_1
Aisyah pun hanya diam mendengarkan perkataan yang keluar dari mulut Abian.
" Lalu, kamu sendiri kenapa tidak menolak penikahan kita ? " Abian balik bertanya menatap Aisyah dengan rasa penasaran nya.
" Aku juga sama seperti mu a, aku tidak mau membuat orang tua kita kecewa." ucap Aisyah sendu.
Abian pun mengerti dengan ucapan dan Expresi yang di tunjukan oleh Aisyah.
" Kamu gak usah takut, aa pasti akan bertanggung jawab atas dirimu, aa pasti akan berusaha menjagamu dengan baik. " ucap Abian mencoba menghibur kegundahan hati Aisyah.
" Makasih a, tapi bagai mana dengan kehidupan kita nanti ? bagiku pernikahan bukanlah untuk main-main." ucap Aisyah menatap Abian.
" Kau benar, bagi aa juga pernikahan bukanlah untuk main-main, tapi aa akan berusaha untuk berkomitmen atas rumah tangga kita, walaupun mungkin aa sendiri tidak bisa seutuhnya berjanji." ucap Bian.
" Tapi, apakah kita tidak salah melangkah, membohongi kedua orang tua kita dengan menyetujui pernikahan ini, padahal kita tidak memiliki perasaan apapun, aku takut kita mengecewakan kedua orang tua kita. " ucap Aisyah lirih dengan matanya sudah berkaca kaca.
" Kamu gak usah takut biar aa yang urus itu semua, lebih baik sekarang kamu masuk kamar udah malem, gak baik ngelamun di luar terus- menerus. " ucap Abian lembut mencoba menenangkan Aisyah.
Aisyah pun mengangukan kepala menyetujui perkataan Abian, lalu berjalan pergi meninggalkan Abian yang masih berdiri mematung di Balkon tersebut.
*A*pa yang sebenarnya kau takdirkan untuk kehidupanku, aku sungguh tidak mengerti,? dulu aku mencintai wanita itu lalu kau membuat aku jauh darinya, dan merasakan sakit yang teramat dalam, sekarang kau mengirimkan wanita seperti Aisyah masuk kedalam kehidupanku, apa yang sedang kau rencanakan untuku sesungguhnya.
Ucap Abian dalam hati, sambil berdiri di Balkon rumah menatap indahnya langit di malam hari yang bertabur bintang bintang berharap mendapat jawaban atas pertanyaan nya itu. Tapi semua hanya impian semata yang ada hanya kemerlap bintang di langit sungguh indah ciptaanmu tuhan.
Sejenak Abian pun terhanyut dalam pikiran nya sendiri, sampai akhirnya Abian memutuskan untuk masuk ke kamarnya dan tidur, dengan harapan saat dia bangun besok pagi akan sedikit meringankan masalahnya.
Begitu juga dengan Aisyah, yang sudah masuk ke dalam kamarnya dengan pikiran yang melayang mengingat perjodohan singkat dari orang tuanya, kaki Aisyah melangkah dengan lemah mendekati ranjang. Belum sempat tubuhnya sampai di atas ranjang, kakinya Aisyah sudah tersungkur lemah ke bawah lantai dekat pinggiran ranjang.
Hiks...... Hiks......
Suara tangis Aisyah terdengar pilu di malam hari, tangisan seorang gadis yang membayangkan menikah dengan pangeran impian nya yang dia cintai.
Berbanding terbalik dengan nya yang menyetujui pernikahan ini walau tampa dasar Cinta ataupun saling menyayangi.
" Ya alloh, aku tidak tau harus mengatakan apa, apa sebenarnya yang telah kau rencanakan untuku ? " ucap Aisyah di sela tangisan nya.
Aisyah pun naik ke atas ranjang dengan lemah untuk tidur memejamkan mata berharap apa yang terjadi hanyalah mimpi.
*
*
*
__ADS_1