CINTA AISYAH

CINTA AISYAH
Permintaanku


__ADS_3

Anak... adalah anugrah terindah yang di berikan tuhan untuk mereka yang sudah berumah tangga. Anak adalah pelengkap kebahagiaan dalam sebuah rumah tangga, buah dari cinta dan kasih sayang antara suami dan istri.


Namun, apalah daya seorang wanita. Jika tuhan belum memberi kepercayaan kepada kita, kita sendiri hanya bisa pasrah dan menerima akan takdir dan nasib.


Mungkin itulah yang di rasakan Aisyah saat ini. Walaupun dirinya dan Abian sudah beberapa kali konsultasi dengan Dokter, dan beberapa kali cek kesehatan dengan dokter kusus kandungan yang menyatakan bahwa mereka berdua sehat dan baik.


Tapi kenyataannya semua itu adalah kehendak dari tuhan. Walaupun mereka berdua di nyatakan sehat dan subur, tapi semua kehidupan tuhan lah yang mengendalikan.


" Nona." Pak Mun sudah sigap memberi hormat, berdiri di dekat mobil di depan kediaman Bagas, membukakan pintu mobil untuk Aisyah masuk.


" Kita pulang Pak... " ucap Aisyah lesu. Pak Mun yang sudah berada di dalam mobil mengikuti keinginan Aisyah, melajukan mobil sampai ke kediaman Abian yang masih berada di area kompeks perumahan yang sama namun berbeda blok.


Saat sudah sampai di rumah, seperti biasa Aisyah di sambut oleh Mbok Siti dan beberapa pelayan yang lain. Entah kenapa, hari ini Aisyah sangat merasa sakit dan sesak di hatinya atas kejadian di rumah mertuanya dengan perkataan para ibu-ibu arisan.


Aisyah memutuskan untuk istirahat di kamarnya sendiri, tak ingin di ganggu oleh siapapun juga, hanya si Boy kucing kesayangan-nya yang dia bawa ke kamar untuk menghibur hatinya yang sedang pilu. Membuat Mbok Siti merasa heran akan ekspresi wajah nona-nya Aisyah yang terlihat murung dan sedih, bahkan sampai melupakan makan siang-nya.


Malam pun sudah tiba. Seperti biasa Abian pulang bersama Leo sang sekertaris pribadi kepercayaan-nya sekaligus adik iparnya itu. Abian menyuruh Leo untuk berhenti menjadi sekertaris pribadinya, tapi Leo bersikeras untuk tetap berada di samping Abian, menjadi orang kepercayaan-nya seperti janjinya dulu kepada Bagas.


" Aisyah sedang apa Mbok..? " Abian sudah berjalan di dalam rumah di temani Mbok Siti dan beberapa pelayan.


" Nona ada di kamar, dari tadi siang nona tidak mau keluar dari kamar, sampai nona melewatkan makan siangnya tuan. " ucap Mbok siti membuat Abian cemas dan buru-buru ke kamar.


" Kalian pergilah, kembalilah kerjakan pekerjaan kalian masing-masing. Dan kau Leo, pulanglah... Selin pasti sudah menunggumu. " ucap Abian kepada Leo dan Mbok Siti juga pelayan lain.


Abian berjalan dengan sedikit tergesa-gesa menuju kamar. Saat sudah di dalam kamar, Abian mendapati Aisyah yang sudah tertidur lelap di atas ranjang di dalam selimut, hanya kepala Aisyah sajalah yang terlihat. Abian bernapas lega mendapati istrinya dalam keadaan baik-baik saja.


Abian berjalan masuk ke dalam ruang ganti, membersihkan tubuhnya di dalam kamar mandi dan dengan cepat kembali mendekati Aisyah yang berada di atas ranjang, sudah rapih dengan piama yang melekat di tubuhnya.


" Sayang... " Abian sudah ikut berbaring di samping Aisyah, membelai lembut wajah Aisyah dan mencium kening Aisyah. Aisyah hanya menggeliat kecil masih menikmati tidurnya.


Abian terus menghujani wajah Aisyah dengan ciuman, membuat Aisyah menggeliat membuka mata merasa tidurnya terganggu.


" Em... aa udah pulang..?" Aisyah membuka mata menatap Abian yang sudah berada di sampingnya dan memeluknya.


" Kenapa kamu melewatkan makan siang? Mbok bilang kamu gak makan siang, dan sekarang, kamu juga melewatkan makan malamu. Bangun yah, kita makan bersama, gak baik tidur dalam keadaan perut kosong. " Abian langsung menghubungi Mbok Siti lewat sambungan telpon yang di atas nakas, menyuruh mbok Siti untuk menyediakan makan malam dan mengantarnya ke kamar.


Aisyah keluar dari kamar mandi, sudah kembali segar membasuh wajahnya. Terlihat beberapa makanan sudah berjajar tersaji di atas meja, dengan Abian yang sudah duduk lesehan di atas karpet bulu menunggu dirinya.


Konsep makan lesehan yang di sukai Aisyah tersaji di dalam kamar, di atas karpet bulu yang bersih dan suami yang tersenyum menunggu.


" Sini sayang... " Abian mengulurkan tangan-nya, mememegang erat tangan Aisyah, membawa Aisyah duduk di pangkuannya.

__ADS_1


" Baiklah.... sekarang kamu mau makan apa? biar aa suapin. " Seakang tau kegalauan Aisyah, Abian memeluk erat tubuh istrinya dengan mesra. Mencoba bersikap dengan tenang seolah tidak terjadi apa-apa. Dengan harapan secara perlahan Aisyah mau mengatakan kegundahan hatinya kepada Abian.


Abian dan Aisyah mulai memakan semua makanan yang tersaji di hadapan mereka. Sampai makanan habis, Abian masih bersikap seolah tidak terjadi apa-apa pada istrinya.


" Sayang... boleh aku tanya sesuatu? " Membelai pipi Aisyah yang masih berada di pangkuan-nya dan merapikan rambut Aisyah yang tergerai.


" Apa..? " Aisyah tersenyum dan bersikap seperti biasa seolah tidak terjadi apa-apa.


" Kamu sayang aa 'kan..? " tanya Abian membuat Aisyah menatap heran.


" Iya. "


" Terus, apa aa ini masih suami kamu..?" tanya Abian lagi, membuat Aisyah semakin heran.


" Ada apa sih a..? ko aa nanya-nya gitu..? "


" Sayang... kalau kamu masih nganggep aa suami kamu dan kalau kamu masih sayang sama aa. Kenapa kamu gak jujur sama aa, ada masalah apa, sampai kamu melewatkan makan kamu hari ini..?" tanya Abian lembut.


" Aku gak apa-apa a. Sungguh.. " Aisyah tersenyum, mencoba bersikap biasa saja. Tapi sebagai seorang suami, Abian sendiri mulai mengerti, ada sesuatu yang di sembunyikan oleh istrinya itu.


" Jangan bohong. " Abian menatap tajam, mencoba mencari kebohongan apa yang di sembunyikan Aisyah.


" Apa..? "


" Aa sayang Aisyah 'kan..?"


" Sayang... kenapa kamu malah nanya seperti itu? kamu tau sendiri, kalau aa sangat sayang sama kamu. Walaupun kita di jodohkan, tapi aa gak pernah main-main sama pernikahan kita. " Abian mulai merasa aneh dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh Aisyah.


" Iya, aku juga tau, aa sangat sayang sama Aisyah. Bahkan aa sudah melaksanakan semua kewajiban aa sebagai seorang suami sama Aisyah. Tapi..." Aisyah terdiam sejenak, merasa serba salah untuk berbicara di hadapan suaminya sendiri.


" Tapi apa hem..? katakanlah. " ucap Abian lembut, tangan Abian mengangkat dagu Aisyah. Mengarahkan tatapan mata Aisyah agar menatap-nya secara langsung.


" Boleh gak Aisyah meminta sesuatu dari aa..? " ucap Aisyah mencoba memberanikan diri sambil menatap langsung mata sang suami.


" Tentu. Apapun mau kamu, akan aa turuti. Kamu tau sendiri kan sayang, semua yang aa miliki adalah milik kamu juga. Harta, warisan, perusahaan dan pasilitas mewah yang lainnya semua milik kamu. Termasuk kasih sayang aa dan jiwa aa ini cuma milik kamu. " Abian tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya, membuat Aisyah juga ikut tersenyum senang.


" Ikhh... gombal. " Aisyah memukul dada Abian pelan.


" Aa sesirus sayang... bukan gombal. " ucap Abian mempererat pelukan-nya di pinggang Aisyah.


" Aku juga serius aa... "

__ADS_1


" Ya udah iya, apa yang mau kamu minta dari aa..? "


" Boleh gak, kalau sesuatu yang aku miliki aku bagi dengan orang lain..? " ucap Aisyah menatap Abian dalam.


" Tentu. Kenapa tidak sayang, justru kalau kamu mau berbagi itu akan lebih bagus. Katakan sama aa, kamu mau uang berapa? Kamu mau berbagi ke panti jompo atau panti asuhan? "


" Aa.. dengerin aku dulu. " Aisyah menangkup kedua pipi Abian menggunakan tangan-nya, menatap dalam mata Abian yang berjarak sangat dekat dengan-nya." Yang aku maksud bukan itu a. " jelas Aisyah.


" Lalu..? "


" Yang Aisyah maksud adalah aa. "


" Maksudnya..? " Abian menatap heran.


" Aku ingin... aku ingin aa menikah lagi. "


Jder....


Seketika Abian diam membisu, menatap wajah Aisyah dengan tatapan yang sulit di artikan. Namun sepersekian detik Abian kembali tersenyum, seolah perkataan istrinya Aisyah hanyalah candaan biasa untuknya.


" Sayang, candaan kamu ini lucu. " ucap Abian sambil mengusap pipi Aisyah.


" Aku tidak bercanda a, aku bersungguh-sungguh. " ucap Aisyah dengan wajah serius-nya. Membuat Abian yang tadinya tersenyum langsung terdiam menatap Aisyah.


" Aku tau, aa adalah laki-laki normal. Dan aku sadar, baik aa ataupun keluarga aa pasti menginginkan aku segera memberikan keturunan untukmu a. Tapi kenyataan-nya, aku tidak kunjung hamil, siapa tau dengan aa menikahi wanita lain dan mendapatkan seorang anak, aa akan mendapatkan kebahagiaan yang selama ini aa nantikan. " ucap Aisyah lirih masih duduk di pangkuan Abian.


Sementara Abian sendiri hanya diam tersenyum manis menatap wajah cantik Aisyah dengan rasa kagum di hatinya. Bagai mana mungkin seorang istri sampai rela membagi kebahagiaan-nya sendiri demi suami dan keluarga suaminya.


Abian tidak merespon perkataan Aisyah, melainkan Abian hanya tersenyum sambil menggendong tubuh mungil Aisyah. Membawanya menuju atas ranjang.


" Aa..? " Aisyah menatap Abian yang masih menggendong-nya tampa merespon perkataan-nya.


Abian langsung membaringkan tubuh Aisyah di atas ranjang, mematikan lampu, dan ikut berbaring di samping Aisyah sambil memeluknya di dalam selimut. Hanya penerangan di atas nakas sajalah yang menerangi mereka.


" Aa..."


" Sssst.. udah malam. Tidurlah sayang. " ucap Abian memejamkan mata, mempererat pelukan-nya di tubuh Aisyah.


"Maafkan aku a, bukan maksud aku untuk menyakitimu. Tapi aku juga tau, walaupun kamu tidak banyak bicara, kamu juga menginginkan secepatnya mendapatkan keturunan. Hatiku memang sakit mengatakan ini, tapi... hanya inilah jalan satu-satunya agar kau secepatnya mendapatkan pewarismu. "


Aisyah pun ikut memejamkan mata, menyusul Abian menuju alam mimpi.

__ADS_1


__ADS_2