
Setelah mendapatkan laporan dari Mbok Siti, Abian dan Leo langsung keluar dari kantor. Meluncur menggunakan mobil menuju rumah.
Tak lama, Leo dan Abian sampai di rumah. Abian pun langsung masuk ke dalam rumah, berjalan cepat menuju kamarnya dengan di ikuti Leo dari belakang.
Saat sampai ke kamar, Abian melihat Aisyah sedang bersandar di atas ranjang dengan Mbok Siti yang sedang memijit kaki Aisyah pelan.
Semua pandangan orang yang ada di kamar langsung tertuju melihat kedatangan Abian dan Leo. Begitu juga Selin yang tersenyum melihat kedatangan Leo laki-laki yang dia cintai. Leo pun sekilas tersenyum memandang Selin.
Ingin rasanya Leo menyapa Selin. Namun, sekarang kondisi itu tidak memungkinkan karna sedang ada banyak orang. Membuat Leo hanya menyapa Selin dengan senyuman saja.
" Sayang.. kamu kenapa bisa cidra kaya gini? "
Abian langsung duduk di samping Aisyah, memegang kedua tangan Aisyah sambil menatap kaki Aisyah yang membengkak.
" Gak apa-apa ko a. Mungkin cuma terkilir aja, nanti di bawa ke rumah sakit juga sembuh. " ucap Aisyah tersenyum mencoba menenangkan Abian yang terlihat sangat cemas.
" Kamu ini, kaki kamu sampe bengkak kaya gitu kamu malah bilang gak apa-apa." gerutu Abian menatap Aisyah.
Ketukan pintu kamar pun terdengar. Yang ternyata adalah Kalandra, berdiri gagah di depan pintu dengan seragam putihnya khas seorang Dokter. Kalandra pun langsung masuk, karna memang dari tadi pintu kamar terbuka lebar.
Saat masih di kantor, Abian memang sengaja langsung menghubungi Kalandra agar segera datang ke rumahnya untuk memeriksa Aisyah.
" Kala.. cepat kau periksa kaki Aisyah, aku takut dia kenapa-napa.. " titah Abian.
Mbok Siti pun berdiri dari duduknya, membiarkan Kalandra memeriksa kaki Aisyah.
Sejenak Mbok Siti bernapas lega, karna Abian tidak marah atas cidranya Aisyah. Mbok Siti tersenyum menatap Abian, menurut Mbok Siti Abian sekarang sudah benar-benar berubah menjadi lebih baik.
" Wah... ini parah, kaki kamu terkilir Sya. " ucap Kalandra setelah memeriksa kaki Aisyah yang cidra.
" Apa kau bisa menyembuhkan nya? " tanya Abian khawatir masih duduk di samping Aisyah.
" Ya, aku bisa, tapi mungkin ini akan terasa sangat sakit. " Kalandra menjelaskan.
" Apa begitu sakit ka? " tanya Aisyah mulai ketakutan.
Kalandra terkekeh melihat wajah cemas Aisyah.
" Kau tidak usah takut, ini tidak akan terasa sakit palingan seperti di gigit semut." Kalandra tersenyum menatap Aisyah " Kita benarkan sekarang, kau bantu aku berhitung, hitung dari satu sampai tiga yah. " Kalandra menjelaskan.
Semua orang yang ada di ruangan tersebut mulai merasa tegang. Mereka tau, itu pasti akan terasa sangat sakit.
" Kau siap? mulailah untuk berhitung. " ucap Kalandra tersenyum ramah menatap Aisyah. Namun, tatapan mata Kalandra melempar kode kepada Abian.
Dan Abian mengerti kode itu, Abian langsung menangkap wajah Aisyah dengan kedua tangan nya.
" Sayang... liat aa, kita itung sama-sama ya.." ucap Abian tersenyum mencoba menenangkan Aisyah yang mulai tegang.
Aisyah dan Abian mulai berhitung, hitungan belum sampai ke nomer tiga Kalandra sudah menekan kaki Aisyah, membenarkan pergelangan kaki Aisyah yang terkilir. Membuat Aisyah menjerit keras.
" Akh....! "
Aisyah menjerit keras, dan ternyata Selin, Joko dan Jono pun ikut menjerit karna terbawa suasana tegang. Akhirnya mereka semua pun malah tertawa, karna suara jeritan terdengar menggema di dalam ruangan tersebut.
" Ikhh... kau jahat ka, kau bilang mau hitung sampai tiga hiks.. " Aisyah memaki Kalandra sambil terisak merasakan sakit.
Kalandra pun tersenyum " Kalau menunggu sampai tiga, nanti kamu malah keburu tidak mau. " elak Kalandra tersenyum.
" Udah sayang jangan nangis, kan sekarang udah selesai. " Abian memeluk Aisyah mencoba menenangkan.
Kalandra pun melakukan tugasnya, mengurus pergelangan kaki Aisyah, membalut pergelangan kaki Aisyah dengan perban sampai terpasang dengan rapih.
__ADS_1
" Ox. Selesai. " ucap Kalandra mengambil kertas dari kantongnya dan menuliskan resep obat yang harus di tebus Abian.
" Nih.. tebus obat ini untuk meringankan rasa sakit Aisyah, maaf gue gak bisa lama. Gue harus segera ke rumah sakit, lagi banyak pasien di rumah sakit." ucap Kalandra berdiri menyodorkan kertas itu untuk Abian.
" Ox.. nanti gue urus, makasih. " ucap Abian.
" Sama-sama. "
Kalandra pun pergi meninggalkan rumah Abian, melaju menuju ke rumah sakit untuk menjalankan tugasnya kembali sebagai seorang Dokter.
Begitu juga dengan Selin, Joko dan Jono, mereka berpamitan untuk pulang. Sedangkan Leo, pergi ke rumah saki untuk mengambil obat yang di tulis Kalandra tadi.
Mbok Siti juga keluar dari kamar, menjalankan tugasnya kembali seperti biasa.
Tak lama setelah kepergian semua orang, mama Santi datang untuk melihat keadaan Aisyah.
" Mbok... gimana keadaan Aisyah sekarang? " Santi bertanya pada Mbok Siti yang menyambutnya di depan pintu.
" Sudah agak baikan nyonya, tadi tuan muda Kalandra sudah memeriksa dan membenarkan pergelangan kaki nona Aisyah yang terkilir. " Mbok Siti menjelaskan sambil berjalan bersama Santi menuju kamar Abian dan Aisyah.
Santi berhenti sejenak " Ya sudah, sekarang Mbok bisa kerjakan kembali tugas Mbok, biar saya sendiri saja ke kamar Aisyah." ucap Santi.
Santi memang sudah tau di mana letak kamar Aisyah dan Abian. Karna memang dirinya dan Bagas lah yang menyiapkan rumah besar ini untuk tempat tinggal Abian dan Aisyah.
Santi menaiki lift untuk naik ke lantai dua tempat kamar Aisyah dan Abian berada. Keluar dari lift, Santi berjalan menuju kamar Aisyah dan Abian. Saat sampai di depan kamar, Santi dengan jelas mendengar suara aneh di telinganya.
Suara itu begitu terdengar jelas, karna memang pintu kamar Aisyah dan Abian sedikit terbuka. Santi berdiri di depan pintu kamar mendengarkan suara aneh itu dengan seksama.
" Emm... ahhhh... sakit a. "
" Iya sayang... tunggu sebentar, sebentar lagi aa selesai. "
" Ahhh... jangan di situ a, sakit, pelan-pelan. "
" Emmm... ahhhh... sakit a. "
" Iya sayang, sakitnya hanya di awal saja, nanti lama kelamaan kamu juga akan terbiasa. "
" Emmm.... ssstt... ahhh... sakit a. "
Saat mendengar suara desahan Aisyah, Santi langsung merinding, menutup mulutnya menggunakan tangan.
" Ya tuhan, apa anak dan menantuku sedang membuatkan cucu untuku? " ucap Santi tersenyum.
" Ahh... itu tidak mungkin, Aisyah kan lagi sakit, tidak mungkin anaku tega sama menantuku. " ucap Santi.
Santi buru-buru menggeleng menyingkirkan pikiran kotornya. Untuk meyakinkan apa yang dia dengar, Santi melangkah maju semakin mendekatkan telinganya di pintu. Agar dia bisa mendengar suara apa yang sesungguhnya terdengar di telinganya itu.
Tampa Santi sadari, pintu kamar itu sedikit terbuka, membuat Santi langsung terdorong masuk ke dalam kamar Abian dan Aisyah. Santi langsung jatuh tersungkur ke lantai, membuat Abian dan Aisyah kaget.
" Mama...!" ucap Abian dan Aisyah bersamaan.
Santi langsung berdiri dan memejamkan kedua mata nya, menutupnya dengan kedua tangan nya.
" Mama gak lihat sayang, sungguh.. mama gak liat apa-apa. " Santi mulai gelagapan sendiri.
Sementara Abian dan Aisyah saling pandang keheranan dengan sikap yang di lakukan mama Santi. Abian dan Aisyah masih duduk di atas ranjang, karna tadi Abian mencoba memijat kaki Aisyah pelan. Berharap mengurangi rasa sakit yang Aisyah rasakan.
Abian menghampiri Santi yang masih berdiri menutup kedua matanya menggunakan tangan.
" Mama itu kenapa sih? " tanya Abian menyentuh kedua tangan Santi.
__ADS_1
Saat merasakan Abian menyentuhnya, Santi memberanikan diri untuk membuka mata.
" Kamu pake baju sayang? " tanya Santi yang melihat Abian masih menggunakan setelan kemeja kantornya.
" Maksud mama apa sih? " tanya Abian keheranan.
Abian menatap Santi, sementara Santi hanya tersenyum sendiri mulai salah tingkah. Karna salah menduga tentang apa yang sedang di lakukan oleh anak dan menantunya itu.
" Ahhh... Abian tau, mama pasti tadi nguping ya? mama berpikir apa? sampe mamah jadi salah tingkah kaya gitu. " Abian menatap Santi penuh selidik.
" Mama pikir kamu lagi buat cucu buat mama. " Bisik Santi mendekati Abian.
Akhirnya, Abian dan Santi pun tersenyum karna kekonyolan Santi. Sementara Aisyah hanya bengong bersandar di atas ranjang, menatap anak dan mamanya yang saling bisik.
" Sayang... gimana keadaan kamu? " tanya Santi menghampiri Aisyah dan duduk di sampingnya.
Sementara Abian pergi menuju ruang kerjanya, membiarkan Santi dan Aisyah berdua saja.
" Tadi udah di periksa sama ka Kalandra ko mah. "
" Ya sudah, sukurlah kalau udah di periksa, tadi mama hawatir saat Mbok Siti nelpon mamah, katanya kamu celaka. Saat Selin udah sampe rumah, mama langsung kemari. " Santi menjelaskan.
Santi masih tersenyum sendiri, mengingat kekonyolan nya yang sudah berpikir kotor.
" Mama kenapa? " tanya Aisyah yang melihat Santi tersenyum.
Santi malah semakin tersenyum mendengar pertanyaan Aisyah.
" Maafin mamah sayang, tadi mamah sepat berpikir kotor tentang kamu dan Abian. Mama pikir, kamu sama Abian lagi buatin cucu buat mama, habisnya kamu sampe mendesah kaya gitu. " ucap Santi tersenyum.
" Ikh... mama. " Aisyah tertunduk merasa malu.
Sementara Santi, hanya tersenyum menatap menantunya yang tertunduk malu.
" Mahh... maafin Aisyah, sampai sekarang Aisyah belum bisa kasih mama cucu. " Aisyah menatap Santi sendu.
Santi tersenyum sambil memegang tangan Aisyah.
" Sayang... dengerin mamah. Seorang wanita itu ibarat terlahir tiga kali, pertama, saat wanita terlahir sebagai putri seseorang. Kedua, saat wanita menjadi istri seseorang, dan yang ke tiga, saat wanita menjadi ibu bagi anak-anaknya. " Santi menasihati Aisyah.
" Mama yakin, nanti kamu pasti akan hamil dan memberikan cucu buat mama sayang. " Santi tersenyum menatap Aisyah.
" Mah.. aku mau jujur sama mama. Sebenarnya, sampai sekarang aku belum melakukan itu sama a Bian. " ucap Aisyah tertunduk malu.
Sementara Santi hanya tersenyum mendengar kejujuran dari menantunya itu. Dan Santi bisa mengerti kalau Aisyah belum bisa melayani Abian layaknya seorang istri di karnakan dasar pernikahan mereka yang di jodohkan.
" Aku dan a Bian saling menyayangi mah, aku dan a Bian juga udah mengatakan perasaan kami masing-masing yang sudah saling mencintai, tapi aku masih takut mah. " ucap Aisyah mencoba menjelaskan menatap Santi, berharap kalau mama mertuanya itu mau mengerti dirinya.
Sedangkan Santi malah semakin tersenyum menatap tingkah polos menantunya itu.
" Sayang, kamu gak usah hawatir, mama bisa mengerti itu, karna mama juga wanita sama seperti dirimu. Tapi, mama harap jangan lama-lama ya, kasihan Abian sayang, Abian adalah laki-laki dewasa yang normal membutuhkan kehangatan dirimu di atas ranjang. Apalagi sekarang, mama lihat Abian sudah mulai mau berubah, dan itu semua berkat dirimu. Jadi, mama harap, cepat atau lambat kamu bisa melayani suamimu, kamu mengerti kan sayang? " Santi menjelaskan dengan lembut kepada Aisyah.
Membuat Aisyah mengangguk tersenyum menatap Santi dan memeluknya. Aisyah merasakan seperti sedang berbicara dengan ibu kandungnya sendiri, perkataan Santi begitu lembut dan membuat Aisyah merasa nyaman.
Aisyah berpikir tentang mandi malam yang sering di lakukan Abian, kini Aisyah mengerti kalau Abian melakukan itu karna menahan hasratnya yang membutuhkan kehangat Aisyah di atas ranjang.
Terbesit rasa bersalah di hati Aisyah karna sudah lama membuat Abian menunggu dirinya. Pernikahan Aisyah dan Abian yang sudah berjalan berbulan-bulan, membuat Abian selalu bersabar menunggu Aisyah untuk benar-benar siap menerima dirinya seutuhnya.
*
*
__ADS_1
*