
" Aduhh... aa kenyang sayang. " ucap Abian duduk di sofa bersama Aisyah.
" Makanya, kalau makan itu jangan berlebihan a."
" Abisnya kalau makan rame-rame kaya tadi rasanya jadi enak banget. Berasa banget gitu kehangatan sebuah keluarganya. Membuat aa jadi semakin nikmat untuk makan. "
" Oh ya? " Aisyah menatap Abian.
Abian tersenyum berbaring di sofa, menjatuhkan kepalanya di pangkuan Aisyah yang sedang menatap layar ponselnya.
" Iya dong. Hari ini aa makan banyak banget, kayanya sebentar lagi aa gemukan deh sayang. Kalau aa gemuk dan gak punya tubuh keren lagi, kamu masih mau kan sama aa? " tanya Abian mengusap-ngusap perutnya yang kekenyangan.
" Apapun yang terjadi, aku akan tetep suka sama aa. Hanya saja, kalau bisa kesehatan tetep nomer satu a. Jadi... aa harus lebih pinter menjaga kesehatan aa dengan baik. " Aisyah tersenyum menatap Abian yang sedang menatapnya juga.
" Aa jadi semakin cinta sama kamu sayang. " Abian menciumi tangan Aisyah. Tersenyum menggoda mengedipkan sebelah matanya.
" Idih... aa lebay deh. "
" Aa gak lebay sayang, tapi aa bersungguh-sungguh, semakin hari aa semakin sayang sama kamu. " Abian tersenyum berbalik ke arah perut Aisyah dan menciumnya. " Semoga, di sini cepat hadir sebuah kehidupan, yang nantinya akan semakin memperkuat cinta kita." ucap Abian mengelus perut rata Aisyah.
" Amin... kita berdoa aja sama tuhan. Mudah-mudahan tuhan cepat mendengar doa kita ya a. Dan cepat memberikan kepercayaan kepada kita untuk segera punya anak. "
" Iya sayang. " Abian kembali menatap Aisyah. " Em... gimana kalau kita buat anaknya sekarang aja? " goda Abian tersenyum nakal.
" Ikh... aa apaan sih? siang-siang gini ko buat anak? sebentar lagi kan udah mau masuk waktu asyar a. " tegur Aisyah, memukul Abian pelan.
" Oh... mau masuk waktu asyar ya sayang? " tanya Abian, bangun dari tidurnya menatap Aisyah tersenyum menyeringai.
Aisyah menatap Abian dengan perasaan tidak nyaman. " Aa mau ngapain? " tanya Aisyah menatap Abian yang sudah berdiri dari duduknya mulai mendekati Aisyah.
" Akhh... " teriak Aisyah terkejut karna tiba-tiba Abian menggendong tubuh kecilnya.
" Ikhh... aa turunin, nanti di lihat yang lain, malu a. " gerutu Aisyah.
" Gak akan ada yang lain sayang, mereka lagi sibuk dengan urusan mereka masing-masing. " ucap Abian berjalan menaiki anak tangga.
" Ini aku mau di bawa ke mana sih? " tanya Aisyah heran.
" Kita kan mau bulan madu sayang. " Abian menedipkan sebelah matanya tersenyum menyeringai menatap Aisyah.
Sementara Aisyah hanya bisa menghembuskan napasnya pasrah ketika melihat Abian membawanya ke arah kamar mereka. Untuk selanjutnya Aisyah sudah sangat hapal apa yang akan di lakukan oleh suaminya Abian kepadanya.
Dan yang harusnya terjadi di kamar itupun sudah terjadi. Setelah Abian selesai dengan kegiatannya bersama Aisyah. Kini Abian dan Aisyah sudah kembali berjalan ke lantai bawah dengan bergandengan tangan, sudah kembali rapih dengan pakaian rumahannya dan Aisyah seperti biasa sudah kembali rapih dengan hijabnya juga.
Dan tentunya setelah mereka selesai melakukan mandi wajib dan melaksanakan solat pardu asyar bersama. Abian berjalan bergandengan tangan bersama Aisyah, menuju kolam renang yang ada di belakang rumah yang terdengar riuh dan ramai.
Dan benar saja, saat sampai di sana sudah terlihat Kalandra, Leo, Bagas, Selin dan Agus sedang berenang bersama di kolam renang yang besar itu.
" Bi... ayo nyebur. " ajak Kalandra yang melihat Abian dan Aisyah sedang berdiri di dekat kolam menatap mereka.
" Ogah gue. " ucap Abian.
Tampa Abian sadari, Selin adiknya yang sedang berada di darat sudah menatap Aisyah mengedipkan sebelah mata, memberikan sebuah kode kepada Aisyah. Aisyah tersenyum mengerti dan perlahan melepaskan genggaman tangannya dari Abian.
__ADS_1
Saat Aisyah sudah berhasil melepaskan genggaman tangannya dari Abian, saat itulah Selin langsung mendorong tubuh Abian dari belakang, membuat Abian langsung terjatuh masuk tercebur ke dalam kolam.
" Dasar kau adik durhaka. " teriak Abian memaki adiknya yang sedang menertawakan dirinya.
Semua orang menertawakan Abian yang akhirnya tercebur basah masuk ke dalam kolam renang. Leo dan Kalandra tersenyum nakal sambil menghampiri Abian dan merangkul pundak Abian. Membawa Abian masuk ke dalam air bersama.
Sementara Aisyah menghampiri mama Santi yang sedang duduk santai tersenyum menatap kenakalan anak-anaknya. Di temani Mbok Siti dan para pelayan yang lain.
Aisyah berjalan mendekati mama Santi dan ikut duduk di tempat duduk yang ada di samping mama Santi.
" Aisyah... nanti malam kamu pasti nginep di sini 'kan? " tanya mana Santi.
" Iya mah, a Bian bilang harus nginep dulu. "
" Bagus itu, lagian rumah kalian juga tidak jauh dari sini. Apa Abian sudah bilang sama kamu tentang rencana kami semua nanti malam? " tanya mama Santi.
" Rencana? rencana apa mah? " Aisyah keheranan.
" Kamu belum tau sayang? " Aisyah menggeleng.
Mama Santi pun sedikit mencondongkan tubuhnya mendekati Aisyah. Membisikan pelan semua rencana yang akan mereka lakukan malam ini.
" Beneran mah? " Aisyah tersenyum bahagia.
" Iya sayang. "
" Wah... berarti sebentar lagi akan ada acara pernikahan di rumah ini ya mah. " ucap Aisyah gembira.
" Sstt... jangan keras-keras sayang. " bisik mama Santi tersenyum menatap Aisyah.
* * *
Kini waktu malam pun sudah tiba. Tepat pukul 20.30 Aisyah sedang bersantai berada di kamar Selin. Mengobrol bersama dan terkadang bercanda bersama Selin.
" Kaka ipar kita ke bawah yu. Bosen di kamar terus. " ucap Selin.
Aduh... gimana ini? Selin sudah mulai bosan di kamar terus. Apa persiapan di bawah udah siap apa belum ya? mau sampai kapan aku menahan Selin di sini?
" Kaka ipar. kenapa malah ngelamun? " tanya Selin membuyarkan lamunan Aisyah yang sedang bersantai di atas ranjang.
" Em... siapa yang melamun? aku gak ngelamun. Nanti aja yah, sebentar lagi aja, aku merasa nyaman berbaring di atas ranjangmu ini. " Aisyah beralasan sambil berguling-guling di atas ranjang kamar Selin.
Selin hanya bengong duduk di sofa menatap tingkah aneh kaka iparnya itu. Tak lama ponsel Aisyah berbunyi menandakan ada sebuah pesan yang masuk. Aisyah langsung tersenyum menatap Selin.
" Ayo kita turun ke bawah. " ucap Aisyah tersenyum langsung turun dari ranjang menarik Selin ke luar.
" Loh... katanya tadi gak mau ke bawah. Ko sekarang malah buru-buru kaya gini? " Selin merasa heran sambil membiarkan kaka iparnya itu menarik dirinya.
Saat sudah sampai di bagian tangga paling bawah, Selin terdiam sejenak menatap ruangan bawah yang lampunya sudah di matikan dan banyak lilin yang sudah berjajar rapih di atas lantai.
" Ada apa ini..?" tanya Selin menatap Aisyah.
" Udah... ayo jalan. " Aisyah tersenyum merangkul tangan Selin, berjalan bersama menyusuri lilin yang sudah berjajar rapih membentuk sebuah jalan, sampai ke pintu rumah belakang menuju taman.
__ADS_1
" Ya tuhan, ini apa..? " Selin terkejut dengan pemandangan indah yang sekarang terlihat olehnya.
Terlihat dari kejauhan, Leo yang sudah berdiri berada di taman belakang. Tersenyum dengan gagah, menatap Selin di tengah-tengah taman yang sudah di hiasi lilin dan lampu kecil sedemikian rupa. Walaupun Leo hanya menggunakan pakaian rumahan, namun tetap saja terlihat tampan dan gagah.
Dengan hiasan lampu-lampu kecil dan lilin yang menyala, berjajar rapih sepanjang jalan menuju tengah-tengah taman tempat Leo sedang berdiri menunggu. Membuat suasana semakin romantis dan indah.
" Udah sana samperin, kasian ka Leo udah menunggu kamu dan udah susah payah nyiapin semua ini. " ucap Aisyah.
Selin pun tersenyum menatap Aisyah, lalu memberanikan diri berjalan perlahan mendekati Leo.
" Hai... gimana, kamu suka gak sama kejutan yang aku siapin ini? " tanya Leo tersenyum, berdiri menatap Selin.
Selin mengangguk." Iya, aku suka ka, suka banget. " ucap Selin dengan matanya yang sudah berkaca-kaca karna terharu.
Sementara Aisyah, Abian, Santi, Bagas, Kalandra dan Agus berdiri di dekat Aisyah menatap Selin dan Leo.
Leo mendekat dan memeluk Selin. " Jangan nangis, kejutannya belum selesai sayang. " bisik Leo mengusap kepala Selin.
" Selamat atas kelulusanmu." ucap Leo melepas pelukannya dan mengusap air mata Selin yang masih menetes.
Leo memasukan tangannya ke dalam saku celana yang dia gunakan mengeluarkan sesuatu. Berjongkok di depan Selin dan membuka sesuatu yang dia pegang, yang ternyata di dalamnya adalah sebuah cincin yang indah bertahtakan berlian.
Leo mengulurkan tangannya yang memegang cincin tersebut. Menatap Selin dalam dengan penuh cinta dan harapan.
" Aku tidak pandai berkata-kata dan juga tidak pandai merangkai ucapan yang romantis. Aku juga tidak pandai merayu wanita dan juga tidak pandai berkata manis di hadapan wanita. " Leo tersenyum menatap Selin yang juga sedang tersenyum menatapnya. Mengambil napas dalam untuk kembali mengucapkan kata.
" Aku... aku hanyalah laki-laki biasa yang memiliki banyak kekurangan dan juga kesalahan. Aku hanyalah laki-laki yang berharap mendapatkan cinta darimu dan juga kasih sayang darimu. Maukah kau menjadi satu-satunya wanita yang aku cintai dan menjadi satu-satunya wanita yang akan mendampingiku hidupku dan mengisi segala kekuranganku ini? " Leo menatap Selin, Selin tersenyum mengangguk mengiyakan pertanyaan Leo.
" Maukah kau menikah denganku? " tanya Leo dengan penuh keyakinan, menatap Selin dalam.
Selin terdiam sejenak dengan air matanya yang sudah menetes, menatap ke arah Bagas dan yang lain. Bagas dan yang lain tersenyum menatap Selin sambil bersorak bersama.
" Terima... terima... "
Selin kembali menatap Leo yang masih setia menatap dirinya sambil berjongkok menunggu jawaban darinya.
" Iya, aku mau bang. Aku mau menikah denganmu. " ucap Selin sedikit terisak.
" Sungguh? "
" Iya. " ucap Selin tersenyum meneteskan air matanya menatap Leo.
Leo tersenyum bahagia langsung memasukan cincin lamarannya tersebut ke jemari cantik Selin. Leo berdiri dan langsung mencium tangan Selin dengan bahagia, begitu juga Selin yang menangis bahagia menatap Leo yang sudah melamarnya.
" Anak kita sekarang sudah dewasa ya pah. " ucap Santi meneteskan air matanya karna terharu.
" Iya mah. Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu, sekarang kita berdua sudahlah tua. Papa yakin, Leo akan bisa menggantikan papah yang sudah tua ini untuk menjaga Selin. " ucap Bagas merangkul Santi.
Beberapa hari yang lalu sebelum Selin dan Aisyah menghadapi acara wisudanya. Leo memberanikan diri menemui Bagas di ruangan pribadi Bagas yang ada di kantor.
Leo memberanikan diri mengatakan semuanya, tentang perasaannya, cintanya dan juga keinginannya untuk menjalin hubungan yang serius dengan Selin. Termasuk meminta restu kepada Bagas dan rencana lamaran yang di rencanakan Leo setelah kelulusan Selin.
Di bantu oleh Bagas, Santi, Kalandra, Agus, Aisyah dan Abian, acara lamaran sederhana Leo pun tercipta di area taman belakang rumah Bagas. Tentunya dengan restu dan ijin dari Bagas sendiri.
__ADS_1
Melihat kemesraan Leo dan Selin. Mereka semua pun pergi meninggalkan Leo dan Selin menuju kamar mereka masing-masing untuk istirahat. Membiarkan Leo dan Selin untuk menghabiskan waktu berdua, untuk membicarakan hubungan mereka menuju ke jenjang yang lebih serius lagi.