
Sekitar pukul setengah sembilan waktu London, Aisyah dan Abian sampai di Bandara internasional kota London.
" Wah... akhirnya kita sampai juga a. " Aisyah tersenyum gembira, keluar dari Bandara bersama Abian menuju parkiran, karna di sana sudah ada orang kepercayaan Abian yang sudah menunggu mereka di depan parkiran Bandara, untuk mengantar mereka ke hotel mewah milik keluarga pratama yang akan mereka tinggali selama berbulan madu di London.
" Apa kamu suka? " tanya Abian masih berdiri di dekat parkiran berpegangan tangan bersama Aisyah.
" Suka a. Suka banget, di sini udaranya sangat dingin, gak kaya di Indonesia a. " Aisyah tersenyum menatap Abian.
Dengan menggunakan baju hangat yang berwarna senada namun model yang berbeda dengan Abian. Aisyah berdiri tersenyum menatap London, lebih tepatnya halaman Bandara internasional London.
Karna Aisyah belum tau sama sekali seperti apa kota London yang sesungguhnya. Berbeda sekali dengan Abian yang sudah sering bulak balik ke luar negri, terutama kota London.
Aisyah dan Abian masuk ke dalam mobil yang sudah di siapkan orang kepercayaannya. Mobil itu melesat menuju hotel yang akan di tempati Abian dan Aisyah.
Sepanjang perjalanan, mata Aisyah begitu di manjakan dengan pemandangan London yang begitu indah. Gedung-gedung tinggi, Big ben, London eye dan gedung-gedung lainnya khas kota London.
Saat sudah sampai di hotel, beberapa staf sudah menunggu di depan hotel untuk menyambut dan mengantar Aisyah juga Abian ke kamar yang akan mereka tempati.
Presidental suit room adalah kamar yang sangat mewah dan moderen juga terjaga pripasinya. Kamar itu adalah kamar yang akan di tempati Aisyah dan Abian selama bulan madu di sana. Dan tidak sembarang orang bisa mendapatkan kamar berkelas seperti itu, hanya orang-orang tertentulah yang mendapatkan pasilitas seperti itu.
" Ya Alloh... kamarnya indah sekali. " mata Aisyah berbinar dan takjub melihat kamar yang mewah dan rapih. Melepas baju hangatnya, Aisyah berjalan mendekati jendela kaca yang memperlihatkan pemandangan indah kota London.
" Em... dari sini terlihat jelas pemandangan kota London. Wah... jadi seperti ini kota London? " Aisyah bergumam sendiri masih berdiri di depan jendela kaca menikmati pemandangan.
Sementara dari kejauhan, Abian hanya tersenyum menatap Aisyah. Kepolosannya menjadi hiburan tersendiri untuk Abian. Abian mengacungkan tangannya menyuruh semua staf hotel untuk keluar meninggalkan mereka.
Setelah semua staf hotel wanita sudah merapihkan semua barang Aisyah dan Abian, mereka pun keluar dari kamar tersebut sesuai perintah yang mereka terima.
" Pemandangannya indak 'kan sayang? " Memeluk tubuh Aisyah dari belakang, menjatuhkan kepalanya di pundak Aisyah. Menghirup aroma tubuh Aisyah yang menenangkan menurut Abian.
" Iya a. " Aisyah tersenyum memandang lurus ke depan, menatap indahnya pemandangan kota London.
" Kamu suka? "
" Suka banget a. "
" Kalau sama aa? " tanya Abian dengan tangannya yang sudah tidak bisa di kondisikan lagi, sudah menjalar ke tempat yang paling dia suka.
Sementara Aisyah hanya tersenyum, membiarkan Abian melakukan apapun yang dia inginkan. Sudah berhasil melepaskan hijab yang Aisyah gunakan, membuat rambut hitam Aisyah tergerai indah. Abian menggendong tubuh Aisyah, meletakannya perlahan di atas ranjang.
" Aa gak lelah? " Aisyah menatap Abian yang sudah berada di atasnya.
" Enggak, aa gak lelah. Justru akan sangat di sayangkan, jika kita tidak melakukannya sekarang. Masih ada banyak waktu sebelum adzan duhur tiba, kita bisa melakukannya sekarang dan tidur untuk mengistirahatkan tubuh kita. Siapa tau kita bisa buatkan cucu made in London untuk para ayah kita yang ada di Indonesia." ucap Abian sekenanya, membuat Aisyah malah tertawa.
" Idih... apaan coba? made in London, apa itu?" Aisyah masih tertawa.
Menghentikan tawanya, Abian menatap Aisyah dalam. Begitu juga dengan Aisyah yang tersenyum manis menatap suaminya yang sedang mengelus lembut pipinya itu.
" Semoga saja, setelah ini, di sini tumbuh buah cinta kita. " Abian mengusap perut rata Aisyah yang masih berbalut pakaian itu.
__ADS_1
" Amin... dan semoga, kita bisa menjadi orang tua yang baik untuk anak-anak kita kelak. "
" Amin ya rob. Aa ingin sekali menjadi orang tua dan ayah yang baik untuk anak-anak kita. Aa tidak mau, kalau anak kita kelak berprilaku buruk seperti aa. " ucap Abian lirih.
Tidak bisa Abian pungkiri, jauh di lubuk hatinya yang terdalam, dirinya begitu mencemaskan akan sikap buruknya di masa lalu yang mungkin saja akan menurun ke sala satu anaknya.
" Tidak akan a. Kita akan menjaga dan mendidik anak-anak kita bersama. Supaya menjadi anak-anak yang sholeh dan soleha."
" Amin... " ucap Abian dan Aisyah bersama.
" Mau buat anak made in London sekarang? " Abian tersenyum nakal, menatap Aisyah yang berada di bawah kungkungannya itu.
Dan yang harusnya terjadi pun sudah terjadi. Dengan harapan, akan segera tumbuh calon anak yang akan menjadi bukti buah cinta mereka dan calon pewaris keluarga pratama selanjutnya. Setelah itu, Abian dan Aisyah tidur pulas mengistirahatkan tubuh mereka dari rasa lelah.
* * *
Sore ini Aisyah meminta Abian untuk menemaninya melihat pemandangan kota London di sore hari. Rencananya setelah asar Abian dan Aisyah akan keluar dari hotel menuju London eye capsule. Rasa penasaran Aisyah begitu tinggi untuk melihat London yang sesungguhnya. Kata suaminya Abian, jika menaiki London eye maka akan terlihat jelas pemandangan kota London yang sesungguhnya, membuat Aisyah semakin penasaran.
" Ayo dong aa, cepetan. Aku mau naik Bianglala raksasa itu. " Aisyah berdiri menunggu Abian dengan penuh harap, sudah rapih dengan baju hangat dan juga hijabnya.
" Iya sayang tunggu sebentar. " Abian berusaha secepat mungkin menggunakan pakaiannya.
" Ikh... lama deh a. Cepetan dong... aku pengen cepet naik Bianglala itu a. " Aisyah berbalik menatap Abian yang sedang menggunakan baju hangatnya.
" Bianglala? " Abian mengerenyit heran. " London eye capsul sayang... " Abian mendekati Aisyah, merangkul pinggangnya erat.
" Jelas beda dong sayang. Kalau Bianglala itu adanya di pasar malem di Indonesia. Kalau ini namanya London eye. "
" Ikhh... iya, iya. Aku tau, ya udah kita berangkat sekarang ya. "
" Enggak. "
" Ko enggak sih...?"
" Bilang dulu sama aa. Apa imbalannya kalau aa nganterin kamu ke London eye?"
" Idih... ko minta imbalan sih? kan aa suami aku, udah jadi kewajiban aa untuk nganterin aku jalan-jalan. Inikan bulan madu kita a, masa kita harus terus di kamar. " Aisyah mengeluh.
" Tapi aa mau imbalannya sayang... kamu bilang mau jalan-jalan ala rakyat biasa. Aa sudah suruh para Bodiguart aa untuk menjaga kita dari kejauhan dan tidak terlihat terlalu mencolok juga. Dan sekarang aa juga mau nganterin kamu ke London eye. Imbalan untuk aa apa? " Abian mulai mencoba memanpaatkan kesempatan dalam kesempitan.
" Aa gak ikhlas ya..? "
" Ikhlas ko. Cuman aa butuh penyemangat dari kamu. Rayu aa atau bujuk aa gitu, biar aa lebih semangat nganterinnya. "
" Ikhh... alasan! "
" Minta penyemangat atau imbalan dari istri gak dosa 'kan sayang? "
" Ikh... iya, iya. " Aisyah memutar bola matanya malas. Niat ingin cepat sampe di biang lala raksasa, malah harus meluluhkan bayi besarnya dulu.
__ADS_1
" Mau apa? " tanya Aisyah.
" Coba rayu aa. " Abian tersenyum nakal.
Aisyah menghembuskan napasnya kasar. " Aa sayang... anterin aku liat biang lala raksasa ya. Plisss... " Aisyah tersenyum menatap Abian, merangkulkan kedua tangannya di pundak Abian.
" Terus...? " Abian tersenyum nakal.
" Plisss... sayang... " suara lembut Aisyah di buat untuk menggoda suaminya.
" Cium aa. " Abian memajukan pipinya.
" Aa..." keluh Aisyah, Aisyah tau jika dirinya menyentuh Abian pasti akan terjadi sesuatu yang lain.
" Tapi janji. Gak akan ada yang lain lagi ya? "
" Iya sayang... aa janji. Sini cium aa. " Abian kembali memajukan pipinya, tersenyum nakal.
Aisyah hanya pasrah. Demi agar cepat pergi ke London eye, Aisyah mengikuti keinginan Abian, mencium pipi kiri dan kanan dan akhirnya mencium bibir Abian. Dan apa yang di takutkan Aisyah kini terjadi, Abian malah memegang tengkuk Aisyah, memperdalam ciuman mereka. Abian cukup lama bermain di bibir mungil istrinya yang menggoda itu.
" Jangan cemberut dong sayang..." Abian mencoba membujuk Aisyah yang kini sedang merajuk, menatap indahnya kota London dari sala satu capsul London eye yang sedang mereka naiki.
" Tau ah, tadi janjinya gak akan ada yang lain. Tapi aa malah gigit ujung bibir aku. " gerutu Aisyah membelakangi Abian, memandang keindahan kota London dari sala satu capsul yang mereka naiki.
" Iya, maaf. Abisnya kamu selalu menggoda sayang. " Abian memeluk tubuh Aisyah dari belakang.
" Ya udah, aku maafin. Tapi lain kali jangan gitu lagi. "
" Iya, aa janji. " Abian tersenyum manis, masih memeluk tubuh Aisyah, saling menghangatkan satu sama salin.
" Gimana, kamu suka? " tanya Abian.
" Suka banget, ini pertama kalinya untuk aku liat kota London dari capsul ini a. " Aisyah masih pokus menatap indahnya kota London. Semakin tinggi London eye berputar maka semakin terlihat jelas pula pemandangan kota London yang sesungguhnya.
" Makasih... aa udah mau bawa aku ke sini. Maaf, aku masih memiliki banyak kekurangan dan belum bisa ngasih aa kebahagiaan. Termasuk belum bisa memberi aa seorang anak. " ucap Aisyah lirih, menatap Abian dalam.
" Stt... sayang jangan bicara seperti itu. Apapun yang terjadi, seperti apa pun rumah tangga kita ke depannya. Aa akan selalu menyayangi kamu dan mencintaimu, percayalah..."
" Makasih a. "
" Sama-sama sayang. " Abian mencium kening Aisyah. " Coba kamu lihat, pemandangannya makin terlihat jelas sayang. " tunjuk Abian. Saat ini capsul yang mereka naiki sedang berada di bagian tertinggi, membuat pemandangan kota London sangat terlihat jelas di mata Aisyah.
Abian memeluk Aisyah erat, menikmati pemandangan indah London bersama. Suasana yang dingin dan hanya berdua saja di dalam capsul tersebut, membuat suasana terasa sangat romantis.
*
*
*
__ADS_1