
Pukul 04.00 Wib. Seperti biasa Alarm alam membangunkan Aisyah untuk melaksanakan kewajiban nya sebagai seorang muslim.
Aisyah mengerjapkan matanya, mengambil napas dalam-dalam, sambil menguap dengan keadaan masih berbaring di atas ranjang.
Aisyah melirik ke samping. Menatap wajah seorang laki-laki berparas tampan yang sudah menjadi suaminya itu. Tangan dan kakinya masih memeluk erat tubuh Aisyah. Masih tertidur di atas ranjang mewahnya dengan selimut tebal dan lembut masih menyelimuti tubuh mereka berdua.
Dengan sudah mengubah posisinya menjadi menyamping. Aisyah menatap paras tampan suaminya dan membelai wajahnya.
Aisyah terkekeh, melihat keadaan suaminya yang masih memejamkan mata dan rambut yang acak-acakan khas orang yang sedang tidur. Namun tidak mengurangi kadar ketampanan seorang Abian Pratama, bahkan menurut Aisyah sangat tampan dan lucu.
" Sayang... jangan goda aa."
Suara serak khas orang bangun tidur terdengar dari bibir Abian dengan mata masih terpejam. Saat dirinya merasakan tangan Aisyah membelai wajahnya dengan lembut, sebenarnya Abian sudah bangun dari tidurnya, hanya saja Abian belum membuka kedua matanya.
Abian lalu mengeratkan pelukan nya di tubuh Aisyah, membuat kepala Aisyah semakin menempel di dada bidang Abian. Dengan kakinya masih menindih kaki Aisyah di bawah sana.
" Aa harus bangun, sebentar lagi waktu solat subuh tiba. " Aisyah berbicara, masih dalam pelukan Abian.
Abian membuka matanya, masih memeluk tubuh Aisyah erat.
" Kau tau sayang? Seorang laki-laki, jika terbangun di pagi hari dari tidurnya, dia akan bangun berdua. "
Abian berbicara dengan tangan nya sudah mejalar masuk kedalam baju tidur kekurangan bahan yang di pakai Aisyah. Mengelus punggung mulus Aisyah yang tidak menggunakan pakaian dalam itu.
Aisyah sendiri, seiring berjalan nya waktu, mulai terbiasa menggunakan baju tidur kekurangan bahan itu dengan tampa menggunakan bra atau pakean dalam ketika tidur malam, seperti apa yang di inginkan oleh Abian suaminya.
Sementara Aisyah, dia hanya bisa pasrah dengan apa yang saat ini di lakukan oleh suaminya itu. Aisyah berpikir, dirinya harus mulai membiasakan diri dengan sentuhan Abian sebagai suaminya. Karna itu sudah menjadi hak Abian sebagai seorang suami.
" Maksud aa? " Aisyah tidak mengerti.
Abian membalik tubuh Aisyah, mejadi berada di bawah kungkungan nya. Membuat tubuh Abian dan Aisyah menempel sempurna masih di dalam selimut yang menutupi tubuh mereka.
Abian membisikan sesuatu di telinga Aisyah. Membuat Aisyah seketika terkejut, membulatkan kedua matanya dengan wajahnya yang sudah merah merona karna malu.
Mendengar ucapan Abian yang dia bisikan di telinga Aisyah, membuat Aisyah mengerti, apa yang di maksud oleh Abian, jika laki-laki bangun berdua di pagi hari.
Apalagi Aisyah merasakan sesuatu yang mengeras dan mengganjal di atas pahanya. Abian dengan jelas menatap wajah Aisyah yang merona itu. Senyum nakal terangkat di sudut bibir Abian karna sudah berhasil membuat istrinya itu merasa malu.
" Ikhhhh... aa apa sih? "
Aisyah mendorong tubuh Abian ke samping. Lalu turun dari ranjang, berlalu menuju kamar mandi, untuk mandi membersihkan tubuhnya sebelum melaksanakan solat pardu subuh dua rokaat. Meninggalkan Abian yang masih terbaring di atas ranjang, tertawa penuh kemenangan karna sudah berhasil membuat istrinya merona karna malu.
Setelah Abian dan Aisyah selesai membersihkan diri, kini mereka melaksanakan kewajiban mereka sebagai seorang muslim. Melaksanakan solat pardu subuh dua rokaat, dengan Abian sebagai imam nya.
Seiring berjalan nya waktu, Abian sendiri mulai bisa mengerti dan mulai mendalami apa saja kewajiban yang harus di laksanakan sebagai seorang muslim. Dan tentunya dengan di temani Aisyah yang membantu Abian untuk lebih memperdalam ilmu agama, seperti janji yang di ucapkan Aisyah untuk menemani Abian dalam suka maupun duka.
Setelah melaksanakan Solat pardu subuh dua rokaat, sambil menunggu cahaya matahari menyinari bumi, Abian dan Aisyah kembali berbaring santai di atas ranjang. Tertawa bersama, bercanda bersama, sambil sesekali Abian menceritakan sedikit tentang kehidupan masa lalunya kepada Aisyah.
Saat cahaya matahari sudah mulai meninggi menerangi bumi, kini sudah waktunya Abian berangkat ke kantor, sudah rapih dengan setelan kemeja dan jas mahalnya yang biasa dia gunakan untuk ke kantor.
Begitu juga dengan Aisyah, berdiri di depan cermin meja riasnya, sudah cantik dengan pakean yang menutup auratnya, dan tentunya dengan hijab sebagai mahkota untuk menutupi aurat di bagian kepalanya.
__ADS_1
Dengan polesan makeup natural di wajahnya, dan polesan lipstik warna bibir alami yang menambah kadar kecantikan Aisyah meski dalam kesederhanaan nya.
Abian berdiri tersenyum menatap wajah cantik istrinya itu, yang terlihat dari pantulan cermin tempat aisyah merias dirinya. Abian mendekati Aisyah dan memeluk tubuh Aisyah erat dari belakang, menjatuhkan kepalanya di pundak Aisyah, menghirup aroma wangi dari tubuh Aisyah yang sangat dia sukai.
" Kamu cantik sayang, sampai kapanpun kamu yang tercantik untuku. " bisik Abian di telinga Aisyah.
Mendengar perkataan Abian, Aisyah tersenyum sambil menyentuh rambut Abian yang bersandar di pundaknya.
" Makasih a. "
" Sama-sama sayang, sudah menjadi kewajiban aa untuk membahagiakan mu. " ucap Abian lembut.
" Jadi gimana? Apa kita mulai hari ini, rencana pacaran yang aa bilang." Aisyah masih menyentuh rambut Abian yang berada di pundaknya.
" Boleh, kamu mau apa sayang? " tanya Abian masih menempel di pundak Aisyah.
" Em.. gimana kalau kita jalan-jalan ke moll? "
" Boleh, kalau itu yang kau inginkan, nanti setelah dari kampus, Pak Mun akan menjemputmu, lalu temui aa di kantor, dari kantor kita jalan-jalan ke moll. " ucap Abian menjelaskan.
Aisyah pun mengangguk tersenyum, mengiyakan perkataan Abian.
" Aa, aku kangen ayah, udah seminggu ayah dan papah Bagas di Amerika, mereka masih belum pulang juga. " ucap Aisyah masih di pelukan Abian.
" Kan ayah Agus udah Bilang, kalau kamu kangen sama ayah Agus, kamu bisa peluk aa. " ucap Abian terkekeh.
" Ikhh... aa aku serius. " ucap Aisyah membalik tubuhnya menatap Abian.
" Iya sayang, aa juga serius. " Abian masih terkekeh.
Abian pun semakin terkekeh menatap wajah cemberut Aisyah.
" Iya sayang... Maaf. " ucap Abian membawa Aisyah ke pelukan nya.
" Nanti, kalau urusan papah sama Ayah Agus selesai, mereka pasti akan cepat pulang ke Indonesia sayang, kamu jangan cemas. " ucap Abian mencoba menenangkan kerinduan Aisyah kepada ayahnya.
" Iya. " ucap Aisyah mengangguk di pelukan Abian.
" Kalau sama aa, kangen gak? " tanya Abian masih memeluk Aisyah.
" Em...enggak, ngapain kangen sama orang yang ada di hadapanku. " Aisyah mencoba menggoda Abian.
" Sayang." Abian melepas pelukan nya dari Aisyah, menatap tajam ke arah Aisyah.
Melihat expresi wajah Abian, Aisyah terkekeh. Lalu mengalungkan kedua tangan nya di pundak Abian sambil tersenyum menatap Abian.
" Aku akan selalu kangen sama kamu aa, setiap hari, setiap waktu, aku cinta sama kamu. I Love You suamiku. " ucap Aisyah mesra.
Abian pun tersenyum senang, mendengar perkataan yang di ucapkan Aisyah. Kini Abian merasa beruntung karna orang tuanya telah menjodohkan dan menikahkan mereka.
Karna dengan begitu Abian mendapatkan wanita yang mau menerima segala kekurangan dirinya, bukan karna harta atau kekuasaan yang Abian miliki.
__ADS_1
" I Love You to sayang... "
Ucap Abian, lalu mencium bibir mungil Aisyah, memeluknya erat sampai tubuh Aisyah sedikit terdorong ke belakang mendekati meja riasnya.
Aibian mencium bibir Aisyah, menyesapnya dan menikmati bibir Aisyah yang membuatnya tergoda, sedikit berlama-lama bermain di bibir istrinya itu. Merasakan bibir lembab dan manis Aisyah yang sudah di poles lipstik itu.
Masih mengalungkan tangan nya di pundak Abian, Aisyah mengeratkan genggaman tangan nya di rambut Abian bagian belakang, merasakan ciuman hangat yang di berikan Abian kepadanya.
Abian melepaskan ciuman nya dari bibir Aisyah, menatap wajah Aisyah dan mengusap bibir Aisyah yang basah karna ulah nya itu.
" Kita berangkat sekarang ya sayang, kalau kita terus di kamar ini, nanti aa bisa khilaf dan menidurmi, sebelum saatnya kamu benar-benar siap menerima aa. " ucap Abian tersenyum menatap Aisyah.
Mendengar perkataan Abian, Aisyah pun terkekeh, dan mengangguk mengiyakan perkataan Abian. Setelah Abian merapihkan rambutnya, Abian dan Aisyah pun turun ke lantai bawah untuk sarapan, sarapan pagi yang sudah di sediakan Mbok Siti di meja makan. Masakan koki khusus yang di percaya oleh Abian.
Setelah selesai sarapan, Abian dan Aisyah berangkat bersama menuju kampus, lalu berangkat ke kantor tempat Abian bekerja seperti biasa.
Dengan menaiki sala satu koleksi mobil sedan mewah berwarna hitam, keluaran terbaru yang di miliki Abian. Mobil itu berangkat meluncur menuju kampus meninggalkan kediaman mereka. Dengan Pak Mun sebagai supirnya dan Leo yang menemani di samping Pak Mun.
" Apa hari ini kau jadi jalan bersama Selin? " ucap Abian, sambil duduk santai di kursi penumpang bersama Aisyah, dengan memegang tangan Aisyah erat sambil sesekali mencium tangan Aisyah.
" Ya. " jawab Leo singkat.
Aisyah yang mendengar obrolan singkat Abian dan Leo langsung angkat bicara.
" Apa kalian sudah baikan ?" tanya Aisyah antusias.
" Sebenarnya bukan seutuhnya baikan nona, tapi Selin bilang, akan memberikan kesempatan kedua untuku. " Leo menjelaskan tampa melihat kebelakang, Leo tidak mau melihat apa yang sedang di lakukan Abian kepada Aisyah.
" Acieee.. cinta lama bersemi kembali nih. " goda Aisyah " memangnya hari ini kalian mau ke mana? gimana kalau kita jalan bersama? aku juga mau jalan-jalan ke moll bersama a Bian. " Aisyah menjelaskan dengan semangat.
" Aa, boleh ya kita jalan bareng sama Selin dan ka Leo?" pinta Aisyah menatap Abian penuh harap.
" Nona, panggil nama saya saja." sambung Leo dari kursi depan.
" Ikhh... ko gitu? mana boleh, ka Leo kan lebih tua dari aku, aku panggil kaka aja. " ucap Aisyah.
Leo pun tersenyum penuh arti, Leo merasa kagum dengan kesederhanaan Aisyah, walaupun Aisyah sudah menjadi nyonya Pratama, dirinya tetap rendah hati sampai memanggil Leo yang hanya seorang sekertaris pribadi dengan sebutan kaka.
" Nanti di kampus, biar aku yang bilang sama Selin. " ucap Aisyah antusias.
Abian hanya diam sambil menyandarkan kepalanya di bahu Aisyah. Menurut Abian apapun yang akan di lakukan Aisyah dia akan mengikutinya, asal itu membuat Aisyah senang.
Begitu juga dengan Leo, yang hanya diam tidak berkomentar apa-apa. Baginya, apapun yang akan terjadi nanti, dirinya hanya bisa mengikuti bagai mana baiknya saja.
Mobil pun terus melaju, menuju universitas tempat Selin dan Aisyah menimba ilmu. Di sala satu universitas terbaik di Jakarta.
*
*
*
__ADS_1
...Hai semua, bantu komentar ya. Kalau ada tulisan atau kata-kata yang salah, di komentar aja, biar aku tau letak kesalahanku di mana....
...Terima kasih 🙏🙏🙏🙏...