
Dhafina sedang bersantai membersihkan diri di dalam bathup kamar mandi yang ada di kamarnya. Dhafina merendam tubuhnya dengan air hangat untuk bersantai dan membuat tubuhnya agar lebih rileks.
Dhafina merasa tenang, karna sudah hampir sekitar seminggu ini Devdas tidak menemuinya atau menyiksanya seperti terakhir Devdas memukulnya karna kegagalan nya merayu Abian.
Dhafina tinggal di sala satu apartemen mewah di kota. Devdas lah yang membelikan apartemen itu untuk Dhafina tinggali.
" Abian, aku tidak menyangka, ternyata kau adalah orang kaya dan berasal dari keluarga terpandang. Kalau saja dulu aku tidak memilih orang lain, mungkin sekarang kita masih bersama. " ucap Dhafina lirih.
Dhafina menyandarkan kepalanya di bathup, membayangkan semua masa lalunya bersama dengan Abian, saat dirinya masih kuliah di luar negri.
Dhafina melakukan kesalahan karna meninggalkan Abian hanya demi laki-laki kaya yang sanggup memberinya uang, pasilitas mewah dan memenuhi semua keinginan Dhafina.
Setelah Dhafina menjalin hubungan dengan laki-laki itu, Dhafina pindah kuliah ke tempat lain mengikuti laki-laki tersebut. Dan ternyata, laki-laki yang menjadi alasan Dhafina meninggalkan Abian malah menghianatinya.
Laki-laki itu memaksa Dhafina untuk menjadi seorang pelacur dan menjual dirinya kepada orang-orang kaya dari kalangan atas dan konglomerat yang ada di luar negri.
Dan tentunya, Dhafina sampai di hargai milyaran oleh para laki-laki hidung belang yang mau membelinya. Karna saat itu, Dhafina masih murni seorang perawan, itu sebabnya dia sampai di hargai dengan harga yang sangat tinggi.
Dhafina salah melangkah dan terjerumus pergaulan bebas, yang akhirnya menjeratnya bersama laki-laki bejad yang merusak dirnya.
Ribuan cara Dhafina lakukan untuk terlepas dari itu semua. Sampai Akhirnya, Dhafina mengalami kecelakaan berat yang mengharuskan dirinya mengangkat rahimnya sendiri dengan cara oprasi.
Walaupun begitu, Dhafina tetap saja tidak bisa terlepas dari itu semua. Sambil kuliah, laki-laki yang menjadi alasan Dhafina meninggalkan Abian, masih tetap saja meneror dirinya dan tetap memaksa Dhafina menjadi wanita bayaran.
Sampai akhirnya, ada sala satu laki-laki kaya yang sering menyewa Dhafina sebagai pemuas hasratnya sampai mengenal Dhafina dengan sangat baik. Dan selalu sedia mendengarkan semua keluh kesah Dhafina.
Sampai akhirnya, laki-laki itu jatuh cinta pada Dhafina dan mau membeli Dhafina dengan harga yang sangat tinggi. Hanya agar Dhafina terbebas dari itu semua dan bisa dia nikahi, menjadikan Dhafina istrinya yang sesungguhnya.
Setelah Dhafina bebas dan menjalani hidupnya kembali. Dhafina menikah dengan laki-laki yang telah menolongnya itu setelah dirinya lulus kuliah dan menetap di Swiss.
Namun, rumah tangganya tidak berjalan mulus. Dhafina tidak memberi tau suaminya, kalau Dhafina sudah tidak bisa hamil karna rahimnya sudah di angkat saat dirinya mengalami kecelakaan parah.
Karna alasan itu, setelah lama Dhafina menikah dengan suaminya, dia tidak bisa hamil juga dan memberi keturunan untuk suaminya. Suami Dhafina mulai selingkuh dengan wanita lain untuk mendapatkan keturunan.
Itu sebabnya rumah tangga Dhafina retak dan tidak harmonis lagi. Sampai akhirnya Dhafina kembali menjual dirinya lagi karna stres melihat sang suami yang dia cintai bersama dengan wanita lain.
Saat itulah dirinya bertemu dengan Devdas, laki-laki yang dia anggap baik tapi ternyata hanya memanpaatkan dirinya saja.
" Abian.... aku merindukan mu, hanya kau yang mau menyayangiku dan memperlakukan ku dengan lembut. Dulu, kau selalu memperlakukan aku dengan baik, kau juga selalu bisa menghargai dan menghormati harkat derajat seorang wanita. Ahh... tapi itu dulu, sekarang Abian sudah punya istri. Andai saja waktu bisa ku putar kembali. "
Dhafina berucap lirih sambil melihat langit-langit kamar mandi, masih berbaring di dalam bathup.
Setelah puas berendam, Dhafina membersihkan dirinya di bawah guyuran air shower.
Dhafina menutupi tubuh polosnya dengan bathrobes dan mengosok-gosokan rambutnya menggunakan handuk agar tidak terlalu basah.
Dhafina berjalan keluar dari kamar mandi sambil menempelkan handuk di kepalanya.
" Apa kau sudah selesai membersihkan dirimu sayang? "
Devdas duduk santai bersandar di atas ranjang, menatap Dhafina yang baru saja keluar dari kamar mandi.
" Kau? ada apa lagi? "
Dhafina masih berdiri menatap Dev, Dhafina menghembuskan napasnya kasar melihat kedatangan Devdas. Dhafina sudah bisa menebak, kalau Dev datang menemuinya karna menginginkan sesuatu darinya.
" Kemarilah sayang... "
__ADS_1
Devdas menunjukan jarinya agar Dhafina mau mendekat kepadanya. Tangan Dhafina mengepal, rahang nya mengeras. Lagi-lagi Dhafina menahan amarahnya karna tidak bisa berkutik melawan Devdas.
Dhafina melangkah mendekati Devdas. Dhafina meraih tangan Devdas yang sudah mengulurkan tangannya.
Devdas membawa Dhafina untuk duduk di pangkuan nya di atas ranjang.
" Apa kau merindukanku sayang? sudah seminggu ini aku tidak menemuimu. "
Devdas tersenyum sambil membelai wajah Dhafina yang berada di pangkuan nya. Devdas melempar handuk yang di bawa Dhafina, membiarkan rambut Dhafina terurai setengah basah.
" Aku bersyukur karna kau tidak menemuiku. Wajah tampan mu itu hanyalah topeng, dan di balik topeng itu ada iblis yang ingin aku bunuh. " Dhafina menatap sinis wajah Dev.
Sementara Devdas hanya tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan sinis yang keluar dari bibir Dhafina.
" Sayang... kau tidak akan tega membunuh kekasihmu ini 'kan? "
Devdas tersenyum menyeringai menatap wajah Dhafina dan membelai wajah Dhavina.
" Kau bajingan Dev, kau iblis." ucap Dhafina sinis.
Wajah Dev yang tadinya tersenyum berubah dingin. Tatapan matanya berubah menyeramkan, raut wajahnya begitu menusuk menatap Dhafina. Devdas mencengkram rahang Dhafina dengan keras, membuat Dhafina meringis kesakitan.
" Dengarkan aku baik-baik wanita jalang. Kau sudah gagal membuat Abian tergoda padamu, dan sekarang kau malah berkata sinis padaku."
Tatapan Dev semakin tajam menatap Dhafina. Devdas menghempaskan tubuh Dhafina ke samping. Dhafina hanya meringis merasakan sakit di rahangnya, Dhafina bangun dan duduk di atas ranjang di samping Devdas.
" Apa lagi yang harus ku lakukan? "
Dhafina bertanya menatap Devdas yang sedang menghisap sebatang rokok di tangan nya, sambil duduk santai bersandar di atas ranjang.
" Bagus... kau pintar. Tidak percuma aku menghabiskan banyak uang jika kau pintar, Kau memiliki tugas untuk mendekati Aisyah. " ucap Dev.
" Apah? maksudmu apa? kenapa aku harus mendekati Aisyah? " Dhafina keheranan.
" Bodoh... dengarkan aku, Aisyah adalah wanita baik-baik. Kau dekati dia secara perlahan, dan kau harus menjadi teman nya. Setelah kau mendapatkan kepercayaan Aisyah, dengan begitu kita bisa melakukan rencana kita selanjutnya. Tapi ingat, jangan pernah kau berani melukai Aisyah, kalau kau mencoba melukai Aisyah sedikit saja, kau berhadapan dengan ku. " Devdas menatap Dhafina dengan tatapan dingin nya.
" Baiklah. " ucap Dhafina pasrah.
Dhafina tidak habis pikir, kalau Dev akan menyuruhnya untuk mendekati Aisyah. Membuat Dhafina harus memutar otaknya, memikirkan bagai mana caranya agar dirinya bisa mendekati Aisyah.
* * *
Sementara itu, sudah seminggu ini Aisyah bolos kuliah karna kakinya belum sembuh total. Membuat Abian juga tidak masuk kantor untuk menjaga Aisyah di kamar. Abian mengerjakan beberapa pekerjaan kantornya dari rumah bersama Leo.
Aisyah hanya duduk besandar di atas ranjang menatap Abian yang berjalan kesana kemari dengan bebas. Membuat Aisyah sangat iri melihatnya.
" Aa, aku pengen jalan-jalan, aku bosan harus di kamar terus a. " rengek Aisyah menatap Abian yang sedang duduk di sofa.
" Kaki kamu belum sembuh total sayang, kamu belum bisa keluar dari kamar. " ucap Abian sambil melihat-lihat beberapa berkas di tangan nya.
" Akhhhh.... aku bosan a, aku pengen keluar. " rengek Aisyah.
Membuat Abian tersenyum menatap wajah cemberut Aisyah. Abian berjalan mendekati Aisyah, merangkak naik ke atas ranjang dan berbaring menidurkan kepalanya di pangkuan Aisyah.
Abian berbaring menatap wajah cantik Aisyah, sambil memegang tangan Aisyah dan terkadang mencium tangan Aisyah.
" Aa juga bosan sayang, aa udah merencanakan banyak rencana tentang kencan kita dan rencana pacaran kita. Tapi karna kaki kamu cidra, aa jadi membatalkan semuanya. Bahkan aa udah menyiapkan makan malam romantis di lestoran mewah untuk kita, tapi semua itu batal karna kamu sakit sayang. " Abian menjelaskan, menatap wajah Aisyah.
__ADS_1
" Duduh... kacian anak mamah. " Aisyah tersenyum menggoda Abian.
" Aku ingin keluar a, mumpung belum terlalu panas. Aku pengen ke taman belakang rumah, kayanya seger gitu a kalau menghirup udara di sana. "
Aisyah menatap Abian dengan ekspresi wajah seperti memohon, berharap Abian mau mengijinkan nya.
" Emang kamu udah bisa jalan? " tanya Abian masih berbaring di pangkuan Aisyah.
" Ikhh.. aa jahat, ya di gendong sama aa dong. " Aisyah tersenyum.
" Baiklah.. aa akan gendong kamu ke taman. Tapi.. nanti harus ada imbalan nya. Gimana? " Abian tersenyum mencium tangan Aisyah.
" Ikhh... iya. "
Abian bangun dan turun dari atas ranjang. Menggendong tubuh Aisyah dan berjalan melangkah menuju taman belakang rumah. Menurunkan Aisyah di kursi taman dan duduk santai menemani Aisyah.
" Wah... udaranya sejuk banget. " Aisyah tersenyum bahagia dengan duduk santai di kursi taman.
Abian yang duduk di samping Aisyah hanya tersenyum menatap wajah bahagia istrinya itu.
Mbok Siti dan beberapa pelayan datang menghampiri, membawakan teh hangat beserta beberapa makanan.
" Silahkan di minum tuan muda, apa ada sesuatu yang perlu Mbok siapkan lagi? " tanya Mbok Siti.
" Tidak usah Mbok, ini sudah cukup. Mbok bisa melanjutkan kegiatan Mbok kembali. " titah Abian.
Mbok Siti dan pelayan itu pun pergi mengerjakan pekerjaan mereka kembali. Sementara Abian mengambil secangkir teh dan meminum nya.
Saat Abian sedang menikmati secangkir teh, Abian tidak menyadari kalau Aisyah sedang belajar berdiri dengan berpegangan di pinggir kursi taman. Saat Abian melihat itu, Abian langsung kaget dan sigap berdiri menghampiri Aisyah.
" Sayang... kamu ini apa-apaan sih? kamu kan belum bisa berjalan. " ucap Abian cemas memegangi tubuh Aisyah.
" Siapa bilang aku gak bisa jalan, aku bisa ko a. Cuman masih terasa sedikit sakit aja. " ucap Aisyah sambil mencoba berjalan.
Abian memegangi tubuh Aisyah sambil mengikutinya berjalan pelan.
" Hati-hati sayang, nanti kamu jatuh. " ucap Abian cemas.
" Aa coba lepasin, aku mau mencoba jalan sendiri. " ucap Aisyah tersenyum menatap Abian.
" Kau yakin? "
" Iya. "
Akhirnya Abian melepaskan Aisyah untuk berjalan sendiri. Walau terkadang Aisyah oleng dan hampir terjatuh. Dengan sigap Abian mengikuti langkah Aisyah, dan waspada takut kalau Aisyah akan terjatuh.
Cukup lama Abian dan Aisyah bermain di taman belakang sambil menemani Aisyah belajar berjalan. Terkadang Aisyah dan Abian bercanda bersama dan berbaring tiduran di atas rumput taman, karna terkadang Aisyah terjatuh saat belajar berjalan.
Membuat mereka tertawa kegirangan sambil berbaring di atas taman rumput yang hijau. Para pelayan wanita yang melihat itupun merasa iri melihat kemesraan Abian dan Aisyah.
Begitu pula Pak Mun yang tertawa sendiri, melihat kebersamaan Aisyah dan Abian dari kejauhan. Sambil terkadang memotrer kemesraan mereka dan mengirimnya langsung kepada Bagas, yang masih berada di Amerika bersama Agus.
*
*
*
__ADS_1