CINTA AISYAH

CINTA AISYAH
Pernyataan Devdas


__ADS_3

Sepanjang perjalanan, Aisyah hanya menangis sambil merasakan sakit seperti teriris di hatinya dan sesak di dadanya. Pertama kali merasakan jatuh cinta dalam seumur hidupnya, dan pertama kali juga dalam hidupnya mempercayai seseorang yang dia cintai.


Namun, yang tersisa saat ini adalah rasa sakit dan rasa kecewa yang teramat dalam. Aisyah sadar, dirinya hanyalah wanita biasa yang tidak memiliki apa-apa. Harta, tahta, kekuasaan dan kecantikan itu semua tidak ada di dalam dirinya. Tapi apakah salah, jika dia mencintai seseorang hanya dengan segala kekurangan dan kesederhanaan yang dia miliki?


Ya alloh... apa ini? apa yang sebenarnya ingin kau perlihatkan kepada hambamu ini? jika engkau menginginkan a Bian bersama orang lain, hamba sungguh tidak akan sanggup melihatnya. Hati ini terasa hancur berkeping-keping, sakit dan pedih yang terasa di hati. Aku sadar ya alloh, aku hanyalah wanita biasa yang tidak memiliki apa-apa. Tapi, apakah salah, jika hambamu ini mencintai seorang laki-laki yang sudah menjadi suami hamba?


Aisyah tidak hentinya menangis, meratapi nasibnya yang begitu menyedihkan. Pak Mun yang sedang pokus dengan kemudinya, hanya bisa terdiam kebingungan, sama sekali tidak tau apa yang sebenarnya terjadi.


" Maaf nona, apa kita akan langsung pulang? "


Pak Mun mencoba memberanikan diri bertanya. Walaupun sebenarnya Pak Mun tidak enak hati untuk bertanya, apalagi situasinya sedang seperti ini.


" Iya Pak, kita pulang. " ucap Aisyah di sela-sela tangisannya.


Setelah perjalanan yang cukup lama, Aisyah dan Pak Mun sampai di depan rumah besar yang di tempati Abian dan Aisyah.


" Pak Mun, tunggu saya di dalam mobil, saya mau ke dalam dulu sebentar, nanti saya akan segera kembali lagi. " ucap Aisyah segera turun dari mobil, masuk tergesa-gesa ke dalam rumah.


Aisyah dengan cepat masuk ke dalam rumah. Saking terburu-buru, Aisyah sampai tidak memperdulikan Mbok Siti dan para pelayan yang datang menyambutnya.


Aisyah langsung naik ke lantai atas menggunakan lift yang berada di dekat tangga. Saat sampai di lantai atas, Aisyah langsung masuk ke dalam kamar, mengambil beberapa barang yang dia butuhkan dan mengeluarkan Black Card yang Abian berikan dan menyimpannya di atas nakas.


Setelah memasukan beberapa barang yang dia butuhkan ke dalam tasnya, Aisyah langsung ke luar dari dalam kamar dan berniat pergi dari rumah besar dan megah yang terasa sesak untuk Aisyah saat ini.


" Nona, anda mau ke mana? " tanya Mbok Siti yang mengikuti langkah Aisyah dari belakang.


Mbok Siti sangat terkejut sekaligus hawatir. Melihat Aisyah seperti sedang terburu-buru, dengan matanya yang sedikit bengkak masih mengeluarkan air mata dan wajahnya yang sedikit pucat.


Aisyah tidak menjawab pertanyaan Mbok Siti sama sekali. Aisyah langsung masuk ke dalam mobil bersama Pak Mun dan pergi meninggalkan rumah. Sebenarnya, Aisyah ingin sekali pergi dari rumah dengan membawa mobil sendiri, tapi Aisyah masih merasa takut karna dirinya sama sekali belum benar-benar mengenal jalanan kota Jakarta.


" Pak Mun berhenti di sini. " ucap Aisyah.


" Loh, nona, inikan baru keluar dari gerbang kompleks perumahan. " Pak Mun keheranan menghentikan laju mobil.


" Pak Mun, keluar dari mobil sekarang dan bawa konci mobilnya keluar. " ucap Aisyah langsung keluar dari dalam mobil.


Setelah keluar, Aisyah melangkah memutari mobil menghampiri Pak Mun, mengambil konci mobil dari Pak Mun dan melemparnya jauh ke dalam semak-semak taman di depan gerbang kompleks perumahan tersebut.


" Loh... nona, kenapa konci mobilnya di buang?" Pak Mun semakin kebingungan.


" Pak Mun, dengarkan saya baik-baik. Hari ini saya sedang ingin sendiri, saya tidak mau di ganggu oleh siapapun, jadi jangan pernah Pak Mun berani mengikuti saya." ucap Aisyah melangkahkan kaki, menghentikan Taxi yang lewat, lalu pergi dengan Taxi tersebut.


Entah kenapa, hari ini Aisyah merasa ingin sendiri, tidak mau di ganggu oleh siapun dan sama sekali tidak mau berhadapan atau pun melihat wajah Abian suaminya.


Aisyah menyuruh supir Taxi tersebut untuk membawanya ke daerah Taman menteng, yang berada tidak jauh dari pusat kota. Taman menteng adalah sala satu taman terbesar di kota Jakarta.


Aisyah berpikir untuk istirahat sejenak di taman tersebut, mencoba menghilangkan rasa lelah dan sakit yang saat ini dia rasakan.


Saat sudah sampai di taman tersebut, Aisyah melangkahkan kaki secara perlahan, menyusuri jalanan taman tersebut. Mencoba berpikir jernih dan mencoba menenangkan diri, berusaha kuat dan tegar menghadapi masalah dalam hidupnya.

__ADS_1


Tapi, Aisyah bukanlah Nabi atau Rosul yang selalu kuat dan sabar menghadapi cobaan hidup ini. Walau bagai manapun, Aisyah tetaplah seorang wanita biasa yang memiliki hati yang sangat rapuh dan juga bisa menangis merasakan sakit.


Rasa sakit yang teramat dalam, yang tidak akan bisa terlihat ataupun tidak bisa di obati hanya dengan menggunakan obat luka. Mungkin, hanya waktulah yang akan bisa mengobati rasa sakit yang Aisyah rasakan saat ini.


Aisyah duduk di sala satu kursi taman yang ada di dekat kolam taman tersebut. Hari ini pengunjung di taman tersebut tidak terlalu ramai seperti di hari libur, membuat Aisyah sedikit tenang menikmati keindahan dan kenyamanan taman tersebut.


Aisyah cukup lama merenung sendiri duduk di kursi taman tersebut. Hingga akhirnya, ada seseorang yang menawarkannya sebotol minuman air mineral kepadanya.


" Apa kau mau minum? " Seseorang menghampiri Aisyah dan berdiri di sampingnya.


Merasa ada seseorang menghampiri dan menawarkan minuman, Aisyah mendongak melihat seseorang yang sedang berdiri di sampingnya, menatapnya sambil tersenyum ramah.


" Ka Devdas. " Aisyah menatap Dev dengan raut wajah terkejutnya.


" Apa kau tidak mau menerima air yang ku berikan ini? " Devdas tersenyum ramah masih mengulurkan sebotol air mineral di tangannya.


" Oh... iya, makasih ka. " Aisyah menerima sebotol minuman itu.


" Boleh aku ikut duduk di sebelahmu? " tanya Devdas.


Aisyah melirik kursi taman yang sedang dia duduki, yang memang sedikit panjang dan bisa di duduki sekitar dua atau tiga orang.


" Silahkan ka, duduk aja. " Aisyah berusaha tersenyum ramah.


Devdas pun ikut duduk di samping Aisyah, namun tetap menjaga jarak.


" Kenapa airnya gak di minum? airnya tidak ku racuni ko, dan tutup botolnya juga masih tersegel. " Devdas tersenyum mencoba melucu menatap Aisyah.


" Ngomong-ngomong kau sedang apa di taman ini sendirian? " Devdas memulai kembali pembicaraannya.


" Em... lagi maen aja ka. Kebetulan lagi tidak ada kerjaan. "


Aisyah mencoba memberi alasan yang tepat. Karna tidak mungkin baginya mengatakan masalah pribadi atau aib rumah tangganya kepada orang lain.


Kau berbohong kepadaku Aisyah, kau bisa saja pura-pura tersenyum di hadapan orang lain, dan pura-pura menyembunyikan masalahmu. Tapi aku tau, kau sedang ada masalah dengan Abian yang membuatmu menangis.


" Oh... begitu. Abian ke mana? kenapa gak bersama Abian? " tanya Devdas mencoba memancing.


Aisyah mulai sedikit gugup" Em... a Bian masih di kantor ka, a Bian juga masih banyak kerjaan, lagian aku juga bisa sendiri. " ucap Aisyah tersenyum ramah, lalu meminum airnya mencoba mengalihkan kegugupannya.


" Oh... begitu."


Devdas tersenyum ramah pura-pura mengerti, lalu mengambil sesuatu dari saku celananya.


" Mau permen lemon? " Devdas mengulurkan tangannya, menawarkan beberapa permen lemon di tangannya kepada Aisyah.


" Ya. " Aisyah mengangguk menerima permen lemon yang di berikan Devdas kepadanya.


" Ka Devdas sendiri sedang apa di sini? " Aisyah balik bertanya sambil memasukan permen lemon ke dalam mulutnya.

__ADS_1


" Em... sebenarnya aku lagi ada janji dengan seseorang di sini. Tapi waktu tadi aku sedang jalan, aku lihat kamu, lalu aku ke sini menghampirimu. " ucap Devdas berbohong.


Sebenarnya, Devdas sengaja mengikuti Aisyah sampai ke taman tersebut. Devdas menerima laporan dari mata-mata yang dia kirim untuk mengawasi Aisyah. Bahwa Aisyah sedang sendiri berada di taman tersebut. Dan Devdas memanpaatkan momen tersebut.


Tampa Devdas sadari, orang kepercayaan Abian sudah mengetahui keberadaan Aisyah dan Devdas. Dan juga mengetahui tentang mata-mata kepercayaan Devdas yang selalu mengawasi Aisyah.


" Oh... temen kerja ka Devdas ya? "


" Em... gimana ya? kalau harus di bilang teman kerja sih kayanya bukan, mungkin lebih tepatnya, dia adalah seorang wanita yang sangat aku sukai." ucap Devdas tersenyum ramah.


" Oh... beruntung sekali ya wanita itu. Apa kaka benar-benar menyukainya? "


" Ya. Aku benar-benar mencintainya, menyayanginya dan sangat menghormatinya. Bahkan, sudah bertahun-tahun aku menyukainya. Tapi aku belum berani menyatakan perasaanku kepadanya, saat ini kami hanya sebatas teman saja. " ucap Devdas menjelaskan, nada bicara Devdas terdengar sedikit lirih.


" Oh... kenapa gak langsung menyatakan perasaan aja ka. Nanti keburu di ambil sama orang lain loh, kalau udah sama orang lain, lalu ka Devdasnya nanti kecewa, gimana? " Aisyah seolah terbawa suasana menghayati obrolannya dengan Devdas.


" Yah... kau benar. Kalau sudah bersama orang lain, aku akan sangat kecewa dan kehilangan. Karna aku benar-benar sangat mencintai wanita itu. " ucap Devdas sedikit lirih.


Dan wanita itu adalah kamu Aisyah, sampai kapanpun aku tidak akan pernah mencintai wanita lain selain dirimu. Mungkin aku bisa bermain dengan banyak wanita di luar sana, tapi hanya kamulah yang mengisi hatiku selamanya.


" Yang sabar ya ka. Sebagai seorang laki-laki, kaka harus tetap kuat dan percaya diri. " Aisyah mencoba menyemangati.


" Terima kasih, kau sudah mengerti diriku. Boleh aku bertanya sesuatu? "


" Ya. Tanya apa? " ucap Aisyah, sambil terkadang menatap orang-orang yang sedang berlalu lalang menikmati taman tersebut seperti dirinya.


" Apakah salah jika aku mencintai seorang wanita yang sudah mencintai laki-laki lain? " ucap Devdas menatap Aisyah lalu kembali memandang lurus ke depan.


" Apa wanita yang ka Devdas cintai sudah punya kekasih? " tanya Aisyah.


" Tidak. " Devdas menggeleng.


" Lalu, apa wanita itu sudah bertunangan dengan orang lain? "


" Tidak. " jawab Dev.


" Lalu? " Aisyah semakin penasaran menatap Devdas.


" Wanita itu sudah menikah dengan laki-laki yang dia cintai. Dan aku sangat mencintai wanita itu, dan wanita yang aku cintai itu sedang berada di hadapanku saat ini. " ucap Devdas menatap Aisyah.


Aisyah langsung terdiam karna terkejut mendengar perkataan yang di ucapkan oleh Devdas kepadanya, memandang wajah Devdas dengan seribu tanda tanya di pikirannya.


Aisyah tersenyum ramah, mencoba mengalihkan keterkejutannya " Ka Dev jangan bercanda, setiap kata itu adalah doa ka. Kaka lagi ngerjain aku ya? " Aisyah masih memandang Devdas.


" Aku tidak sedang main-main Aisyah, wanita yang aku sukai itu adalah kamu. Wanita yang sudah bertahun-tahun mengisi hatiku adalah kamu Aisyah. " ucap Dev dengan wajah seriusnya.


" Kaka sedang berbohong 'kan? " Aisyah masih tidak percaya.


Devdas menggeleng " Aku serius Aisyah, wanita yang aku sukai adalah kamu, Aisyah putri. " ucap Devdas penuh keyakinan.

__ADS_1


Aisyah yang tadinya tersenyum langsung terdiam, menatap Devdas dengan ekspresi wajah tidak percaya. Kenapa bisa laki-laki di hadapannya saat ini mengatakan mencintai dirinya? Aisyah sendiri hanya diam mematung, menatap Devdas mencoba untuk tidak mempercayai perkataan Devdas padanya.


Aisyah merasa bingung harus seperti apa menanggapi perkataan Devdas. Di sisi lain dirinya sedang mengalami masalah dalam rumah tangganya dan di hadapannya saat ini, ada seorang laki-laki yang tiba-tiba mengatakan cinta padanya.


__ADS_2