
Mudah untuk mengatakan maaf atau mengatakan kita memaafkan orang itu. Tapi untuk menghilangkan rasa sakit dan rasa kecewa di hati, itu bukanlah hal yang mudah.
Mungkin itulah yang di rasakan Aisyah saat ini. Sudah dua hari dua malam Aisyah menginap di apartemen Agus ayahnya, membuat Abian prustasi di buatnya.
Di saat Abian mencoba mendekati Aisyah untuk membujuknya pulang ke rumah, atau mencoba menjelaskan kesalah pahaman antara dirinya dan Aisyah, Abian selalu saja mendapatkan halangan.
Entah itu Kalandra yang tiba-tiba datang dengan alasan kesepian, ataukah Leo yang datang malam-malam bersama Selin dengan alasan merindukan Aisyah kaka iparnya. Atau Aisyah yang beralasan tidak mau tidur bersama Abian, karna merindukan ayahnya dan sudah lama tidak tidur bersamanya.
Alhasil, Abian tidur sendiri di dalam kamar, karna di tinggalkan Aisyah yang tidur bersama ayahnya. Membuat Abian semakin geram dan merasa prustasi karna sulit sekali untuk mendekati istrinya. Berbeda sekali ketika sedang berada di rumahnya, Abian bisa sesuka hati mendekati istrinya ataupun menyentuh istrinya.
Hari ini Aisyah seperti biasa di sibukan dengan rutinitasnya di kampus. Walaupun Devdas pernah menyatakan cinta padanya dan dia menolaknya, tapi Aisyah tetap tidak merasa canggung ataupun merasa tidak nyaman. Aisyah tetap bertingkah seperti biasa dan tetap menganggap Devdas sahabatnya, seperti janji yang sudah Aisyah ucapkan kepada Devdas.
" Aduhh... aku lapar. Kita ke kantin yuk! " ajak Joko kepada Selin, Aisyah dan Jono, karna bel istirahat memang sudah terdengar.
" Iya nih... aku juga lapar. Gimana kalau kita sama-sama aja ke kantin kampus, biar rame. " ucap Selin.
" Iya nih, sama-sama aja. Biar sekalian nanti kita semua di traktrir sama yayang Selin. " goda Jono tersenyum menatap Selin.
" Idih... itu mah maunya lo aja. " ucap Selin sinis.
Walaupun Selin terkadang galak dan sangar kepada Joko dan Jono. Selin tetaplah menganggap Joko dan Jono sahabat baiknya, dan terkadang suka mentraktir Joko dan Jono makan di kantin kampus bersamanya.
Mereka berempat pun keluar dari kelas menuju kantin kampus untuk makan bersama. Dan duduk di meja yang sama, menikmati makanan mereka masing-masing.
" Asik... hari ini kita di traktir lagi nih sama yayang Selin. Alhamdulilah... lumayan bisa hemat uang jajan buat pulang naik Bajaj nanti. " celetuk Joko.
" Iya, aku juga. Makasih ya Sel, udah traktir kita." ucap Jono.
Sedangkan Selin dan Aisyah hanya tersenyum menanggapi perkataan Joko dan Jono, yang selalu bersikap sederhana dan apa adanya, membuat Selin dan Aisyah merasa nyaman berteman dengan mereka.
" Ehem... boleh aku ikut bergabung di sini? " ucap Devdas yang sudah berdiri di dekat mereka, sambil membawa nampan yang berisi makanan yang sudah dia pesan tadi.
" Wah... pak dosen tampan, silahkan duduk pak dosen." ucap Joko.
" Terima kasih... " Devdas tersenyum ramah sambil duduk bersama mereka dan duduk berhadapan dengan Aisyah.
" Aduh... pak dosen, kita gerogi nih deket sama pak dosen. Pak dosen lihat kan, para mahasiswa wanita terus menatap ketampanan pak dosen dari tadi. Membuat kita yang berwajah biasa ini jadi iri pak dosen. " ucap Jono tersenyum.
" Ternyata kalian ini bisa ngelucu juga ya. " ucap Devdas ramah.
__ADS_1
" Gimana bisa di sebut biasa saja, secara pak dosen kan tampan, dewasa dan mapan juga. Pantes aja para wanita jadi kelepek-klepek. " ucap Joko sambil menyuapkan makanannya.
" Tidak semua wanita menyukai saya. Buktinya, beberapa hari yang lalu saya mencoba menyatakan cinta kepada wanita yang saya suka. Eh... saya malah di tolak, berarti itu adalah bukti kalau saya hanya laki-laki biasa, bukankah betul begitu Aisyah? " ucap Dev menatap Aisyah yang sedang menikmati makanannya.
" Ya, tentu. Setampan apapun orang itu, atau sekaya apapun orang itu, mereka tetap hanyalah manusia biasa. Dan segala kesempurnaan itu hanya milik tuhan saja. " ucap Aisyah.
Walaupun sedikit terkejut, Aisyah mencoba bersikap biasa dan berusaha agar masalahnya bersama Devdas tidak di ketahui banyak orang, yang akhirnya hanya akan menimbulkan kesalah pahaman nantinya.
" Wah... betul juga ya, haha... " Joko hanya tertawa sambil memakan makanannya.
Dan sampai kapanpun, walau kau menolaku, aku akan tetap mengagumimu dan mencintaimu Aisyah. Hanya kaulah wanita yang membuatku bisa merasakan yang namanya jatuh cinta.
Devdas tersenyum kecil menatap Aisyah yang sedang menikmati makanannya sambil terkadang berbincang dengan teman-temannya. Merekapun melewati makan bersama, sambil terkadang di barengi canda dan tawa.
Setelah puas makan, Aisyah pergi ke taman belakang seperti biasa. Aisyah lebih merasa nyaman menghabiskan waktu istirahatnya di taman belakang kampus, yang tidak terlalu banyak di datangi mahasiswa kampus, hanya beberapa mahasiswa saja yang menikmati taman tersebut. Taman tersebut memiliki pepohonan dan rumput hijau terpelihara yang menambah kenyamanan dan keindahan di taman tersebut.
Di saat Aisyah sedang nyaman duduk di bawah pohon, dengan beralaskan rumput yang hijau dan semilir angin yang sejuk. Aisyah menerima pesan masuk di ponselnya, dan saat di lihat ternyata pesan itu dari Dhafina yang mengajaknya bertemu di sebuah kafe nanti sore. Membuat Aisyah seketika terdiam, memikirkan tawaran Dhafina tersebut.
" Hey... ngelamun aja. " ucap seseorang ikut duduk di dekat Aisyah yang tidak lain adalah Devdas.
" Siapa yang ngelamun? enggak ko. " elak Aisyah.
" Em... udah ketauan masih aja boong. Jangan terlalu di pikirkan, walaupun kau menolak cintaku. Masih banyak wanita di luar sana yang mengagumi diriku." ucap Devdas sengaja melucu di hadapan Aisyah, sambil mengulurkan tangannya yang berisi beberapa permen lemon.
" Nah... gitu dong, tersenyum jangan ngelamun terus. Kau tau, senyumanmu itu membuatku bahagia, dan senyumanmu itu membuatmu terlihat sangat cantik. " ucap Devdas memuji, menatap Aisyah dalam.
Membuat Aisyah merasa sedikit malu dan memalingkan wajahnya. Sedangkan Devdas tersenyum menatap tingkah Aisyah yang menurutnya lucu itu.
" Jangan asal bicara ka Dev. " ucap Aisyah.
" Memang kenyataannya begitu ko, kamu itu cantik kalau tersenyum. " ucap Devdas memandang lurus ke depan.
Walaupun cintaku bertepuk sebelah tangan dan tidak bisa memilikimu. Biarlah aku tetap mengagumi dan mencintaimu Aisyah.
Mendengar ucapan Devdas membuat hati Aisyah merasa bersalah, menatap Devdas dengan sendu. Tapi apalah di kata, tidak semua cinta berakhir dengan bahagia. Dan tidak semua kebahagiaan berasal dari cinta, kebahagiaan juga bisa datang selain dari cinta.
" Lepaskanlah perasaan cintamu itu ka. Aku tidak mau menyakiti dirimu dengan perasaan cinta yang tidak bisa aku balas. Kau harus membebaskan dirimu dariku dan menemukan cinta yang lain agar kau bisa hidup bahagia ka." ucap Aisyah lirih.
Sedangkan Devdas hanya terdiam memandang lurus ke depan. Mendengar ucapan yang ke luar dari bibir Aisyah membuat hati Devdas terasa sakit. Namun Devdas sendiri tidak mungkin memaksakan kehendaknya kepada Aisyah yang tidak memiliki perasaan yang sama dengannya.
__ADS_1
Mencintai seseorang bukan berarti kita memaksakan kehendak kita yang akhirnya menyakitinya. Walaupun sakit, mencintai adalah dengan kita membiarkan orang itu hidup bahagia dengan cinta yang dia pilih. Mungkin itulah yang sedang di lakukan Devdas saat ini.
" Biarlah aku tetap seperti ini Aisyah, Aku rasa akan sulit bagiku menggantikan dirimu dengan orang lain." ucap Devdas sedikit lirih masih memandang lurus ke depan.
" Jika ka Devdas melakukan itu, maka seumur hidup aku akan tetap merasa bersalah karna telah menyakiti hatimu ka. "
" Kau tidak usah hawatir, aku baik-baik saja. " ucap Devdas tersenyum ramah memandang Aisyah.
Tampa mereka sadari, ada seseorang yang memotret kebersamaan Abian dan Aisyah. Yang tidak lain adalah orang kepercayaan Abian yang sedang menyamar jadi tukang bersih-bersih di taman tersebut.
Di sisi lain, Abian sedang tiduran di atas sofa memejamkan matanya mengistirahatkan rasa lelah yang dia rasa. Sedangkan Leo sedang duduk di sofa, mendampingi Abian sambil memakan potongan buah apel di ruangan pribadi Abian yang ada di kantor.
Ting...
Suara ponsel Abian yang di taruh di atas meja berbunyi. Leo mengambil ponsel tersebut dan melihat isi pesan itu yang tidak lain berisi poto kebersamaan Abian dan Aisyah di taman kampus.
" Apa kau masih belum berbaikan dengan Aisyah Bi? " tanya Leo menatap Abian.
Membuat Abian yang masih berbaring langsung membuka matanya, berbalik menatap Leo yang sedang memegang ponselnya.
" Kembalikan. " tangan Abian meminta ponselnya dari Leo.
Dengan posisi masih berbaring di atas sofa, Abian melihat poto tersebut dengan teliti. Lalu kembali menyimpan ponsel itu di atas meja sambil kembali memejamkan matanya. Membuat Leo menatap Abian merasa heran.
" Gak cemburu lagi? " sindir Leo sambil mengupas buah apel di tangannya. Abian tidak merespon.
" Siapa tau lo mau mukul Devdas lagi atau mau mukul gue lagi. " sindir Leo. Nada bicara Leo kembali seperti biasa, karna hanya ada mereka berdua di ruangan tersebut.
Sementara Abian masih tidak merespon sama sekali. Masih berbaring memejamkan mata dengan tangan di simpan di kepala.
" Gak takut istri lo di curi orang? " sindir Leo mencoba memancing. Tapi sayang yang di pancing tidak merespon sama sekali.
Abian masih diam tidak merespon, seolah tidak perduli kalau istrinya sedang bersama Devdas.
" Gue percaya sama Aisyah. Aisyah bukan wanita seperti itu, Aisyah pasti akan menjaga harkat derajatnya sebagai seorang wanita. Justru yang gue khawatirkan adalah gue yang tidak bisa seutuhnya berubah. Gue takut mengecewakan Aisyah dan menyakitinya. " ucap Abian sedikit lirih masih berbaring memejamkan mata.
" Ya sudahlah, sukur deh kalau lo sadar. Lo memang laki-laki bajingan, playboy cap kutu, Casanova yang tengil." sindir Leo tersenyum sambil menyuapkan apel ke dalam mulutnya.
Abian langsung bangun, melempar Leo dengan bantal sofa. Mendekati Leo sambil mencekik lehernya.
__ADS_1
" Sialan lo, dasar penghianat. " teriak Abian sambil mencekik leher Leo.
Mereka pun akhirnya tertawa, dua sahabat yang saling sindir dan bercanda bersama, walaupun salasatu di antara mereka sedang memiliki masalah. Mungkin itulah gunanya sahabat, selalu mengerti kita di saat kita membutuhkannya.