CINTA AISYAH

CINTA AISYAH
Api Kesalah Pahaman Semakin membesar


__ADS_3

Sudah sekitar tiga hari Aisyah bersikap sedikit berbeda di hadapan Abian. Aisyah memang bersikap seperti biasa seolah tidak terjadi apa-apa, tersenyum ramah atau bertingkah selayaknya seperti biasa.


Tapi sebagai seorang suami yang mencintai istrinya. Tentu dapat di rasakan oleh Abian, bahwa ada yang berubah dari diri Aisyah yang membuat Abian keheranan.


Di saat Abian berbicara baik-baik menanyakan ada apa dengan Aisyah, Aisyah hanya tersenyum ramah tidak mengatakan apapun. Membuat Abian prustasi menghadapinya.


Bahkan di saat malam tiba, Abian berkeinginan menjamah Aisyah yang sudah menjadi istrinya, Aisyah menolak secara halus Abian yang mencoba untuk menyentuh dirinya. Dengan alasan, Aisyah sedang sangat lelah karna menghadapi beberapa ujian sulit, menjelang hari kelulusannya di kampus.


Padahal Aisyah tau, bahwa haram hukumnya menolak suami yang ingin menjamahnya. Tapi, Aisyah melakukan itu karna masih di bayang-bayangi adegan ciuman Abian bersama Dhafina yang masih terlihat jelas di ingatannya, membuat hatinya merasa sesak dan sakit seperti teriris, sekaligus merasa terhianati oleh seseorang yang dia cintai.


Abian sendiri sampai sekarang sama sekali belum sadar, akan apa yang dia lakukan, yang akhirnya malah merugikan dirinya sendiri. Karna dirinya yang kurang bersikap tegas kepada Dhafina yang akhirnya menimbulkan kesalah pahaman antara dirinya dan Aisyah.


Hari ini Aisyah melakukan aktipitasnya di kampus seperti biasa, tersenyum atau bercanda bersama Selin, Joko dan Jono, tampa seorang pun tau masalah apa yang sedang menimpa Aisyah. Setelah pelajaran kuliah selesai, Aisyah menyuruh Pak Mun membawanya ke sala satu moll terbesar di kota Jakarta. Mobil pun sudah berhenti di parkiran moll yang dituju Aisyah.


" Pak Mun, bapa pulang saja. Nanti kalau saya sudah selesai dengan keperluan saya di moll ini, saya akan menghubungi Pak Mun untuk menjemput saya. " Aisyah menjelaskan.


" Baik nona. " Pak Mun mengangguk mengerti.


Aisyah turun dari mobil dan masuk ke dalam moll tersebut. Walaupun Aisyah tidak ingin belanja, tapi setidaknya dengan jalan-jalan di moll tersebut, Aisyah bisa sedikit meringankan pikirannya yang sedang kalut menghadapi masalah rumah tangganya dan masalah pelajaran di kampus menjelang kelulusannya.


Saat sedang berjalan mengelilingi moll, Aisyah menghentikan langkahnya di depan sebuah toko arloji bermerek, yang namanya sudah terkenal di pasaran. Dengan kualitasnya yang sudah di akui dunia dan harganya yang cukup tinggi.


Aisyah masuk ke dalam toko tersebut, memperhatikan beberapa arloji yang berjejer rapih di depan matanya. Aisyah berpikir, akan membeli satu arloji untuk Abian.


Aisyah tau, sebagai seorang laki-laki yang terlahir dari kalangan orang kaya dan terpandang. Selera Abian cukup tinggi untuk setiap aksesoris yang menempel di tubuhnya.


Sangat jauh berbeda dengan dirinya, walaupun menggunakan barang murah, Aisyah masih tetap nyaman menggunakannya.


Aisyah tersenyum memegang satu arloji yang dia kira akan cocok untuk Abian gunakan.


" Saya mau beli yang ini ya mbak. " Aisyah menyodorkan arloji yang dia sukai ke pegawai toko tersebut.


Aisyah mengeluarkan Black Card yang Abian berikan kepadanya, untuk dia gunakan membayar arloji yang harganya menginjak angka milyaran itu.


" Wah... untuk pacarnya ya mbak? " pegawai tersebut tersenyum sambil menyodorkan arloji yang sudah di bungkus dengan rapih di dalam paper bag.


" Bukan mbak, ini untuk suami saya. " Aisyah tersenyum ramah, menerima arloji yang sudah menjadi miliknya, lalu pergi keluar dari toko tersebut.


Aisyah berpikir, agar masalah tidak berkepanjangan, dirinya akan mulai bicara kepada Abian, tentang adegan yang di lakukan Abian dan Dhafina yang dia lihat malam itu. Dan memberikan arloji tersebut sebagai permintaan maaf nya kepada Abian, karna sudah menolak keinginan suaminya yang menginginkan kehangatan darinya.


Sungguh Aisyah merasa bersalah, walaupun memang hatinya masih terasa sakit, karna merasa di hianati oleh Abian dan Dhafina. Tapi jika kita marah kepada seseorang lebih dari tiga hari, bukankah itu sangat di larang dalam agama islam.


Setelah merasa lelah jalan-jalan mengelilingi moll, Aisyah masuk ke dalam sala satu kafe yang ada di moll tersebut. Duduk santai sambil meminum jus mangga yang dia pesan tadi. Tersenyum senang memandangi paper bag yang berisi arloji yang dia beli. Berharap Abian akan menyukai hadiah yang dia siapkan.


" Ehem... gue boleh ikut duduk di sini 'kan?" Seseorang menghampiri Aisyah.

__ADS_1


Aisyah menatap orang tersebut yang berdiri di dekatnya. " Ya ampun, ka citra."


Aisyah sedikit terkejut melihat Citra. Aisyah tau, bahwa Citra adalah salasatu wanita yang pernah bersama Abian dan menemani malam-malam Abian sebelum Abian menikah dengannya.


" Silahkan duduk ka. " Aisyah tersenyum ramah mempersilahkan Citra untuk duduk bersamanya.


" Wahh... lo sudah ada kemajuan ya sekarang. Udah bisa beli arloji mahal kaya gitu, udah banyak uang ya lo? " ucap Citra sinis, duduk di hadapan Aisyah, memandang paper bag yang berlogo salasatu arloji ternama itu.


" Em... enggak ko ka. Apa kaka mau pesen sesuatu? biar Aisyah yang pesankan. " ucap Aisyah ramah.


" Cih... gak usah! gue bisa pesen sendiri dan gue bisa bayar sendiri." ucap Citra sinis menatap tajam Aisyah.


" Ya udah, terserah kaka aja. " Aisyah masih tersenyum ramah, tidak mau memperpanjang masalah.


" Gue heran sama Abian, apa sih yang istimewa dari lo? sampai Abian mau nikah sama lo, dan jadiin lo istrinya. Secara, gue lihat lo hanya wanita kampungan, bukan dari kalangan orang kaya dan gak terlalu cantik juga. " ucap Citra sinis menatap Aisyah.


" Aku sarankan, ka Citra jangan asal bicara. Apa yang ka Citra pandang hina belum tentu hina di mata tuhan. " Aisyah menatap Citra dengan pandangan ramah namun tetap tegas.


" Oya...? berani juga lo sama gue. Lo gak usah ceramah di depan gue, gak akan mempan sama gue. Asal lo tau, gue sangat mengenal siapa Abian. Mungkin sekarang Abian lagi benar-benar butuhin lo, tapi lo harus ingat, suatu saat jika Abian udah bosan sama lo, Abian pasti ngebuang lo, sama seperti dia ngebuang gue. " ucap Citra sinis menunjuk Aisyah.


" Cukup ka Citra. kenapa ka Citra berkata seperti itu? apa salahku sama kaka? " Aisyah mulai sedikit emosi.


" Lo mau tau apa salah lo? lo udah berani rebut Abian dari gue. Dan perlu lo ingat, lo sama Abian gak selepel. Perbedaan lo sama Abian udah kaya bumi dan langit, Abian orang kaya lo orang miskin. Abian berasal dari keluarga terhormat lo cuma anak dari seorang pelayan setia tuan Bagas. Lo cuma anak kampung yang udik." ucap Citra sinis.


" Gak akan pernah cukup, lo udah berani rebut Abian dari gue. Dan gue bersumpah, suatu saat Abian akan ngebuang lo dan akan ninggalin lo demi wanita lain. " ucap Citra menunjuk Aisyah.


" Cukup ka Citra! " bentak Aisyah berdiri dari duduknya "Jangan sampai aku marah dan melakukan sesuatu di luar batasku sama kamu."


" Cih... dasar wanita kampungan," Citra ikut berdiri dari duduknya. " Mau sampai kapanpun lo gak bakal selepel sama Abian, lo cuma wanita kampung yang hanya nyusahin Abian dan cuma bisa ngabisin uang Abian aja. Lo denger gue baik-baik, suatu saat, Abian pasti ninggalin lo demi wanita lain yang lebih dari lo." ucap Citra tersenyum sinis, lalu pergi meninggalkan Aisyah.


Aisyah hanya berdiri mematung berusaha mencerna perkataan yang di ucapkan Citra barusan. Pikiran Aisyah melayang, mengingat kembali kejadian di mana dirinya memergoki Abian dan Dhafina yang berciuman.


Dengan pikiran yang kacau dan rasa sesak di dada, Aisyah kembali duduk sambil menundukan kepala, Memegangi dadanya yang terasa sakit. Apakah mungkin apa yang di katakan Citra benar? apakah suaminya Abian menginginkan wanita lain?


Ya Alloh... apa yang sebenarnya terjadi? apa mungkin yang di katakan ka Citra itu benar? apa mungkin a Bian masih mencintai ka Dhafina? dan mau mencampakan diriku. Ya Alloh... kuatkanlah hati hambamu dalam menghadapi cobaan hidup ini. Kuatkan lah imanku ini ya Alloh.


Aisyah menghubungi Pak Mun untuk menjemputnya. Setelah Pak Mun sampai di parkiran moll, Aisyah langsung masuk ke dalam mobil.


" Ke kantor ya Pak." ucap Aisyah.


" Baik nona. " Pak Mun mengangguk melajukan mobilnya menuju kantor.


Setelah perjalanan yang cukup lama, mobil yang di kendarai Pak Mun sudah sampai di depan kantor pusat Pratama Group. Seperti biasa, para secyuriti selalu menyambut kedatangan nona muda, istri dari pemilik perusahaan.


Aisyah berjalan menaiki lift menuju ruangan Abian, sambil membawa paper bag yang berisi arloji yang sudah Aisyah beli untuk Abian. Aisyah memang merasa takut dan cemas memikirkan perkataan Citra kepadanya.

__ADS_1


Namun sebisa mungkin, Aisyah berusaha membuang jauh-jauh pikirannya tentang Abian. Aisyah tersenyum sambil berdiri di dalam lift, menatap paper bag yang dia bawa. Aisyah bertekad akan meminta maaf kepada Abian atas penolakannya malam itu dan meminta maaf karna dirinya yang sudah sedikit mengacuhkan Abian.


Aisyah sudah sampai di lantai tempat ruangan Abian berada. Staf sekertaris yang sedang duduk langsung berdiri membungkuk memberikan hormat. Leo yang sedang berdiri di depan ruangan Abian langsung terkejut melihat kedatangan Aisyah.


Leo mendekat melangkahkan kaki menghampiri Aisyah, entah kenapa Leo jadi bingung sendiri menghadapi situasi saat ini.


" Hai ka Leo... " Aisyah menyapa.


" Em... Hai... nona di sini? " ucap Leo sedikit gugup.


" Iya. Kenapa? ka Leo ko keliatan sedikit gugup seperti itu, ada apa ka? " Aisyah memandang heran.


" Em... itu... tidak apa-apa. " Leo tersenyum mencoba menghilangkan rasa gugupnya.


Gimana ini? gue harus gimana? gue jadi bingung. Di sini ada Aisyah, sedangkan di dalam Abian sedang ngobrol bersama Dhafina. Oh... tuhan kenapa kau tempatkan aku di dalam situasi ini. Bagaimana kalau terjadi kesalah pahaman antara Aisyah dan Abian?


" A Bian ada di dalam 'kan? "


" Em... Ya, ada." Leo semakin bingung.


" Ya udah, aku kedalam dulu ya ka. " Aisyah tersenyum ramah.


" Aisyah itu... "


Leo ingin berusaha menjelaskan kepada Aisyah, tentang ada siapa di dalam sana. Ingin berniat mencegah Aisyah tapi tubuh Leo seolah kaku karna bingung.


Sementara Aisyah sudah berjalan masuk ke ruangan Abian, memegang handle pintu, dan membuka pintu itu. Betapa terkejutnya Aisyah saat melihat pemandangan yang sangat menyakitkan menurutnya.


Aisyah terkejut melihat Abian dan Dhafina yang sedang berdiri sambil berpelukan. Saking terkejutnya, Aisyah menjatuhkan paper bag yang dia bawa. Membuat Abian dan Dhafina ikut terkejut karna mendengar suara benda jatuh.


" Aisyah...! " Abian terkejut langsung melepaskan pelukan Dhafina berniat menghampiri Aisyah.


Namun, Aisyah langsung berlari keluar dari ruangan Abian, masuk kembali ke dalam lift, untuk pergi meninggalkan gedung tersebut.


Abian yang mengejar Aisyah, memaki di depan lift, memukul pintu lift yang sudah tertutup, karna terlambat mengejar Aisyah.


Abian menatap tajam ke arah stap sekertatis yang sedang berdiri sambil tertunduk ketakutan. Abian menghampiri Leo dengan wajah marahnya, dan melayangkan pukulan yang sangat keras di wajah Leo, sampai Leo tersungkur ke lantai dan mengeluarkan darah segar dari sudut bibirnya.


" Kenapa Lo gak bilang kalau Aisyah ada di sini." Abian membentak dan menunjuk Leo dengan amarah masih berkecamuk di hatinya.


" Maaf tuan muda, saya salah. " ucap Leo kembali berdiri.


Leo tau, situasi saat ini sangatlah berbahaya. Mencoba menjelaskan pun percuma, Leo malah di buat bingung harus berbuat apa.


Cih... sial! kenapa situasinya jadi rumit seperti ini? Leo mengumpat dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2