
" Ko aku di pakein baju kaya gini Mbok? " tanya Aisyah keheranan.
Malan ini setelah selesai melaksanakan solat isya empat rokaat, Aisyah sedang duduk di kursi meja rias yang ada di ruang ganti. Mbok Siti dan dua pelayan wanita sedang membantu merias Aisyah.
" Ini juga, kenapa aku menggunakan gaun terbuka seperti ini? rambutku juga terurai." Aisyah semakin keheranan.
Sementara Mbok Siti dan dua pelayan yang menemaninya hanya tersenyum mendengar pertanyaan Aisyah. Mereka begitu mengagumi kecantikan Aisyah.
" Nanti nona juga akan tau, kami hanya menuruti apa yang di katakan tuan muda saja nona. " ucap Mbok Siti.
" Emangnya A Bian yang nyuruh Mbok?" tanya Aisyah menatap Mbok Siti.
" Iya nona, dan sekarang tugas kami sudah selesai. Nona tunggu dulu di sini, saya dan pelayan mau ke luar dulu. " ucap Mbok Siti.
Setelah membungkuk memberikan hormat, Mbok Siti dan dua pelayan pun pergi meninggalkan Aisyah. Sementara Aisyah hanya duduk keheranan sendiri.
Malam ini, Aisyah menggunakan gaun malam berwarna merah. Dengan bagian atas yang sedikit terbuka dan gaun yang panjang-nya hanya sampai lutut. Rambutnya juga terurai sedikit bergelombang, karna Mbok Siti lah yang sudah membuat rambutnya seperti itu.
Dan tak lupa juga perhiasan mewah sudah melekat di leher, telinga, pergelangan tangan dan jemari Aisyah. Membuat Aisyah terlihat semakin cantik dan mempesona.
Aisyah sendiri hanya pasrah akan apa yang di lakukan Mbok Siti dan dua pelayan yang meriasnya. Apalagi ini adalah kemauan Abian suaminya, dan juga masih berada di dalam kamar. Membuat Aisyah merasa aman, walaupun menggunakan pakean yang sedikit terbuka.
" Sebenarnya ada apa sih? aku tidak mengerti sama sekali? apa yang sebenarnya di rencanakan a Bian?" ucap Aisyah masih duduk keheranan.
Tak lama Abian pun masuk menjemput Aisyah yang ada di ruang ganti. Malam ini Abian menggunakan setelan kemeja yang berwarna merah yang sama dengan warna gaun Aisyah dan jas berwarna hitam yang membuat Abian terlihat elegan.
Aisyah mencoba berdiri saat dirinya melihat Abian yang berjalan mendekatinya. Abian buru-buru mendekati Aisyah dan memegangi kedua tangan Aisyah.
Aisyah memang sudah mulai bisa berjalan sendiri, hanya saja Abian merasa takut kalau Aisyah akan terjatuh.
" Hati-hati sayang, nanti kamu jatuh. " ucap Abian khawatir.
" Aku tidak apa-apa a, aku sudah mulai bisa jalan sendiri. Sebenarnya ada apa sih? kenapa aa nyuruh Mbok Siti mendandani aku seperti ini? " tanya Aisyah menatap Abian.
" Sayang... ini rahasia dong, nanti kamu juga akan tau, kamu tau, malam ini kamu cantik sekali sayang. " ucap Abian mengelus lembut pipi Aisyah.
Aisyah pun tersenyum mendengar Abian memujinya, hatinya mulai terasa berdegup kencang.
" Ayo, ikuti aa dan tutup kedua mata kamu. " ucap Abian memegangi kedua tangan Aisyah.
Abian memegangi kedua tangan Aisyah dan membawanya berjalan menuju kamar.
" Apa udah sampai di kamar a? kaki aku merasakan menginjak sesuatu? " ucap Aisyah.
Malam ini Aisyah dan Abian memang tidak menggunakan alas kaki. Karna memang keadaan nya yang berada di dalam kamar.
" Ox sayang, itungan ke tiga kamu buka mata kamu. " pinta Abian.
Abian dan Aisyah pun mulai berhitung bersama, saat sudah sampai di hitungan ke tiga mata Aisyah terbuka. Aisyah begitu terkejut, ternyata yang dia injak dan rasakan di kakinya adalah taburan kelopak bunga yang bertebaran di lantai kamar dan di atas ranjangnya.
Kamar yang di tempati Aisyah dan Abian sudah di hias dengan taburan kelopak bunga mawar berwarna merah dan hiasan lilin yang indah. Di kamar itu juga tersedia meja kecil dan dua kursi dengan makanan mewah sudah tersedia.
Aisyah berdiri kaget dan tersenyum melihat keindahan kamar dan dekorasi yang begitu mempesona.
" Ini indah sekali. " ucap Aisyah.
" Ini adalah kejutan aa untuk kamu sayang, ini adalah acara kencan kita yang tertunda karna cidranya kaki kamu. Ini adalah makan malam romamantis untuk kita yang sudah aa siapkan jauh-jauh hari. " ucap Abian memeluk tubuh Aisyah dari belakang.
" Makasih a. " ucap Aisyah tersenyum bahagia.
" Sama-sama sayang. " bisik Abian di telinga Aisyah.
__ADS_1
Aisyah dan Abian pun duduk di kursi dan mulai memakan makanan mewah yang tersedia di meja tersebut, sambil berbincang dan tertawa bersama.
Setelah selesai makan, Abian berdiri, berjalan mendekati Aisyah dan berjongkok di depan Aisyah sambil mengulurkan tangan nya.
" Maukah kau berdansa dengan ku? " tanya Abian menatap Aisyah penuh harap.
" Ikh... romantis sekali, tapi aku gak bisa dansa a, aku belum pernah dansa. " ucap Aisyah masih duduk di kursinya.
" Dansanya pelan-pelan aja, percaya sama aa. " ucap Abian tersenyum dan mendapat anggukan dari Aisyah.
Aisyah pun menerima ulurang tangan Abian, berjalan dan berpegangan erat di tangan Abian. Abian mengambil remot kecil yang ada di atas ranjang dan menghidupkan musik romantis untuk menemani Abian dan Aisyah berdansa.
" Aku gak bisa a. " ucap Aisyah.
" Sayang, kamu ikutin aa, kamu percayakan semuanya sama aa. " ucap Abian mengarahkan kedua tangan Aisyah ke pundaknya dan kedua tangan Abian merangkul pinggang ramping Aisyah.
Abian dan Aisyah mulai melangkahkan kaki pelan, berdansa mengikuti alunan musik yang romantis.
" Aw.. sayang, kamu injek kaki aa. " ucap Abian.
" Maaf a, aku gak sengaja, aku gak bisa dansa." ucap Aisyah tersenyum.
Abian pun malah ikut tersenyum, Abian dan Aisyah terus berdansa walaupun Aisyah masih tetap saja menginjak kaki Abian. Membuat suasana yang tadinya romantis kini berubah menjadi lucu, gelak tawa Aisyah dan Abian mengisi kamar tersebut.
" Aduhh... kita istirahat dulu ya sayang, kaki aa sakit kamu injek terus, tadinya aa pengen romantisan sama kamu, tapi semuanya malah terasa jadi lucu." ucap Abian tersenyum menatap Aisyah.
" Maaf ya a. " ucap Aisyah ikut tersenyum.
" Gak apa-apa sayang, ini malah jadi seru. " ucap Abian tersenyum.
" Sekarang kita istirahat ya sayang. " ucap Abian, Aisyah pun mengangguk.
Abian menggendong tubuh Aisyah dan meletakan tubuh Aisyah perlahan di atas ranjang, dengan posisi duduk dan bersandar di atas ranjang.
Aisyah mengusap rambut Abian sambil tersenyum menatap Abian yang berbaring di pangkuan nya dengan terus menatap ke arahnya.
" Kamu cantik, malam ini kamu membuat aa tergoda sayang. " ucap Abian menatap Aisyah dan mencium tangan Aisyah.
" Makasih. " ucap Aisyah tersenyum.
" Kamu senang tidak?"
" Iya, aku senang banget a. "
Abian bangun dan mengubah tidurnya menjadi terlentang. Abian mengulurkan tangan nya dan membawa Aisyah ke dalam pelukan nya. Aisyah tersenyum merasakan kehangatan pelukan Abian dan bersandar nyaman di dada bidang Abian.
" Maafin aa, karna aa belum jelasin semuanya sama kamu. " ucap Abian lirih.
Aisyah terdiam, Aisyah sangat mengerti akan apa yang di ucapkan Abian kepadanya. Aisyah mendongak dan menatap wajah Abian.
" Lalu, kapan aa akan menjelaskan semuanya sama aku? " tanya Aisyah.
" Jika kamu mau, aa akan menjelaskan semuanya sekarang." ucap Abian tersenyum menatap Aisyah.
Aisyah tersenyum mengangguk dan kembali menyandarkan kepalanya di dada Abian sambil memeluknya. Aisyah dan Abian terdiam sejenak.
" Boleh aku bertanya a? "
" Tentu, katakanlah, aa akan dengan senang hati menjawabnya. " ucap Abian.
Aisyah mengambil napas dalam dan menghembuskan nya, Aisyah ingin sekali bertanya tapi takut kalau dirinya akan salah mengucap atau bertanya. Akhirnya Aisyah memberanikan diri dan bertanya.
__ADS_1
" Boleh aku tau siapa itu Devdas?"
Aisyah bertanya masih di pelukan Abian. Abian terdiam sejenak dan mencium kepala Aisyah.
" Apa kau akan menerima aa jika aa menjelaskan semuanya padamu? " tanya Abian.
" Tentu, aku sudah berjanji akan menemani aa dalam suka maupun duka." ucap Aisyah, Abian pun tersenyum mendengar perkataan Aisyah.
" Devdas adalah teman kecil aa, ayahnya Devdas adalah kariawan yang sangat papah Bagas percayai. Saat kami kecil, aku, Kalandra dan Devdas selalu bermain bersama, sampai akhirnya kejadian itu terjadi. " Abian terdiam.
" Ceritakanlah a, aku siap mendengarkan, jangan takut, ada aku. " ucap Aisyah lembut masih memeluk Abian, mencoba menenangkan Abian.
" Sampai akhirnya kecelakaan itu terjadi, kecelakaan yang merengguk seorang suami dari istrinya, merenggut nyawa seorang ayah dari putranya. " ucap Abian lirih.
" Kalau bukan karna aa saat itu berjalan ke arah jalan raya hanya demi gulali kapas, saat ini ayahnya Devdas pasti masih hidup. Dan rasa bersalah itu masih ada di hati aa, sampai sekarang pun aa masih mengingat jelas semua kejadian itu. " ucap Abian lirih.
" Aa yang kuat, semua itu bukan salah aa. Semua itu adalah kecelakaan dan sudah takdir dari yang maha kuasa." ucap Aisyah.
" Ya, kau benar. Tapi sampai sekarang aa masih merasa bersalah, aa tidak tau apakah Dev sudah benar-benar memaafkan aa atau tidak. " ucap Abian lirih.
" Aku percaya, sahabat aa ka Devdas pasti orang baik dan mau memaafkan aa. Tuhan aja maha pemaaf a, masa sahabat aa tidak memaafkan aa. " ucap Aisyah.
" Apa menurutmu begitu sayang? " tanya Abian.
" Ya, aku percaya, kalau ka Devdas itu orang baik. "
" Apa kau begitu percaya kepada Dev?" tanya Abian penasaran. Aisyah terkekeh.
" Sebenarnya, aku sendiri gak kenal sama sekali sama ka Devdas, aku cuma asal nebak aja a. " ucap Aisyah masih terkekeh memeluk Abian.
" Dasar kau ini nakal ya, aa sedang serius bicara kamu malah ngelucu. Awas kamu ya ! " ucap Abian mulai menggelitiki tubuh Aisyah yang berada di pelukan nya.
" Akhh..... "
Aisyah berteriak dan mulai bergeliat mencoba melawan Abian yang mengerayanginya, dan menggelitiki tubuh Aisyah. Membuat Aisyah sampai meneteskan air mata karna geli.
" Aa ampun, udah a gelay. " ucap Aisyah di sela tawanya. Membuat Abian yang berada di atas tubuh Aisyah merasa keheranan.
" Sayang gelay itu apa? " tanya Abian keheranan.
Aisyah semakin terkekeh melihat wajah Abian yang keheranan menatap dirinya.
" Aa gak tau apa itu gelay? " tanya Aisyah tersenyum menatap Abian yang sedang berada di atas tubuhnya.
" Enggak. " ucap Abian.
" Aa sayang... gelay itu geli, itu adalah bahasa anak muda jaman sekarang. " ucap Aisyah mengalungkan kedua tangan nya di pundak Abian.
" Oh.. aneh sekali? " ucap Abian.
" Ikhh... bukan aneh, tapi aa yang ketinggalan jaman. Karna apa? karna aa itu udah tua. " bisik Aisyah di telinga Abian sambil tersenyum.
" Oh.... tua ya. Kamu belum tau saja, seberapa perkasanya aa sayang. " ucap Abian tersenyum menyeringai.
Melihat Abian tersenyum menyeringai, membuat Aisyah menelan salivanya kasar, mulai merasa takut dengan tatapan tajam yang di tunjukan Abian.
" Rasakan ini ya. " ucap Abian tersenyum, kembali menggelitiki Aisyah sampai mereka tertawa bersama-sama.
*
*
__ADS_1
*