CINTA AISYAH

CINTA AISYAH
Terbakar Api Cemburu


__ADS_3

Malam pun tiba. Tepat pukul 20.00 wib, Aisyah sudah rapih dengan gaun dan hijab yang berwarna senada yang telah di siapkan Abian untuknya. Begitu juga dengan Abian yang sudah rapih dengan setelan jas berwarna hitam yang terlihat pas dan elegan ti tubuh Abian.


Sebelum tadi Aisyah menggunakan gaunnya, Abian menawarkan kepada Aisyah untuk memanggil tukang rias propesional.Tapi Aisyah menolak, di karnakan Aisyah tidak terlalu suka menggunakan makeup yang terlalu berlebihan. Tapi, walaupun Aisyah menggunakan makeup natural dan terkesan sederhana, Abian mengakui kalau istrinya itu tetap cantik walaupun dengan kesederhanaannya itu.


Setelah siap, Aisyah dan Abian berjalan keluar menuju tempat di mana mobil sudah di siapkan di depan kantor. Kali ini, Abian menyuruh Pak Mun untuk pulang ke rumah. Dan yang menjadi supir malam ini adalah Leo, yang juga tak kalah tampan dan rapih dengan setelan kemejanya itu.


Mobil pun melaju menuju kediaman salasatu kolega bisnis Bagas yang mengadakan acara pesta pertunangan putri mereka itu. Di tengah perjalanan, Abian dan Aisyah terus saja berbincang, sambil terkadang tertawa bersama Abian yang selalu menggodanya menggunakan rayuannya.


Bukannya merasa romantis Aisyah malah tertawa karna merasa lucu, seorang Abian yang selalu bersikap dingin dan cuek kini selalu saja berusaha menggoda dirinya menggunakan rayuannya itu, membuat Aisyah merasa aneh tapi juga merasa lucu dengan sikap Abian tersebut.


Dasar budak cinta, hilang sudah harga dirimu sebagai pewaris Pratama Group Abian. Entah kenapa jika di hadapan Aisyah, kau seolah selalu berubah menjadi singa yang penurut dan tunduk kepada pawangnya.


Leo tersenyum sambil pokus dengan kemudinya. Sepanjang perjalanan, walaupun Leo bisa mendengar melalui telinga dan melihat apa yang terjadi di belakangnya melalui kaca spion, Leo hanya bersikap cuek saja dengan apa yang di lakukan bosnya di belakang.


Setelah perjalanan cukup lama, kini mereka pun sudah sampai di depan rumah mewah yang mengadakan acara pesta tersebut. Acara tersebut di hadiri oleh banyak orang-orang penting dan pengusaha. Bagas, Agus, Santi , Kalandra dan Selin pun turut hadir di acara tersebut. Begitu juga Devdas dan Dhafina.


Acara tersebut berlangsung dengan hidmat dan meriah. Semua para tamu menikmati acara yang berlangsung dan jamuan yang di sediakan di acara tersebut.


Bagas dan Santi sedang berbincang dengan salasatu sahabat lama Mereka yang kebetulan bertemu di acara tersebut. Sedangkan Agus, Selin, Leo, Kalandra, Abian dan Aisyah juga sedang bersama-sama menikmati hidangan sambil duduk di satu meja yang sama.


Saat mereka sedang asyik berbincang, Devdas datang menghampiri mereka.


" Selamat malam semua... sepertinya kalian begitu asyik menikmati pesta malam ini. Boleh aku ikut bergabung di sini? " ucap Devdas tersenyum ramah.


" Tentu Dev, kenapa tidak? duduklah. " ucap Agus ramah.


Semenjak Devdas ada di Indonesia, Agus ataupun Bagas memang sudah sering bertemu dengan Devdas. Dan juga sudah mengetahui semua kenyataan tentang Dev. Hanya saja, baik Agus maupun Bagas setiap bertemu Devdas hanya bersikap normal seperti biasa. Mereka berpikir selama Dev tidak menyakiti keluarga mereka, maka Bagas maupun Agus agar bersikap biasa saja.


Di sekeliling meja besar tersebut memang di sediakan sekitar sepuluh kursi, hingga menampung sekitar delapan atau sepuluh orang untuk duduk di sana, itu sebabnya tidak ada alasan untuk Agus menolak Dev yang ingin duduk bersama mereka, lagi pula masih ada beberapa kursi kosong di sampingnya pikir Agus.


" Emm... putri om Agus sekarang sudah dewasa ya, cantik lagi. " ucap Dev memuji.


" Ya. Tidak terasa putriku sekarang sudah dewasa dan sudah menikah, aku merasa jadi semakin tua saja Dev. " ucap Agus tersenyum ramah.


Leo, Kalandra dan Abian hanya diam sambil terkadang memperhatikan sikap Dev yang terlihat ramah di hadapan Agus. Sedangkan Aisyah dan Selin yang tidak tau masalah apa antara Dev dan Abian. Hanya duduk santai sambil berbincang dan menikmati hidangan di acara pesta tersebut.


Brengsek. .. sebenarnya apa yang sedang kau rencanakan Dev? permainan apa yang sedang kau lakukan di hadapanku saat ini? kau berlaga seperti orang baik dan ramah. Padahal kau adalah srigala berbulu domba. Apa sebenarnya tujuanmu mendekati Aisyah dan Adiku Selin? Abian

__ADS_1


Luar biasa... kau memang pandai berekting Dev. Kau menyembunyikan sisi gelapmu di balik wajah tampan dan sikap ramahmu itu. Leo


Wah... Devdas memang pandai berpura-pura dan pandai bersilat lidah. Aku rasa... aku harus mulai berguru padanya. Kalandra


" Kau menikmati acara malam ini Bi? " Dev tersenyum ramah menatap Abian.


Abian yang di tanya oleh Dev langsung merubah raut wajahnya.


" Tentu. Pesta malam ini begitu meriah, iya 'kan sayang? " ucap Abian tersenyum ramah, lalu memandang Aisyah yang duduk di sampingnya dan menggenggam erat tangan Aisyah di atas meja.


Aisyah tersenyum menatap Abian yang menggenggam erat tangannya.


" Kau tidak mau menyuapi suamimu ini sayang? " ucap Abian tersenyum.


" Aa mau? "


" Ya, tapi harus dari tanganmu. " Abian tersenyum menggoda.


" Ini. " Aisyah menyodorkan sendok berisi makanan ke arah Abian.


" Makasih sayang. " ucap Abian tersenyum sambil mencium tangan Aisyah.


" Idih... jangan lebay deh ka, bisa gak mesra-mesraannya di rumah aja? kaya dunia ini milik kaka seorang aja." gerutu Selin.


" Bilang aja kalau iri? " ucap Abian tak mau kalah.


Selin hanya cemberut menatap tajam Abian. Selin merasa cemburu melihat kemesraan Abian dan Selin, karna dirinya belum bisa bermesraan di depan umum bersama Leo.


Agus, Aisyah, Abian, Kalandra dan Leo pun tertawa bersama, menertawakan Selin yang cemberut dan menggerutu sendiri. Tampa mereka sadari, Dev yang berada bersama mereka, menatap tajam ke arah Abian dan Aisyah. Dev menatap tangan Abian yang masih menggenggam erat tangan Aisyah. Membuat hatinya terasa panas karna terbakar api cemburu.


Kurang ajar kau Abian. Seharusnya saat ini akulah yang berada di posisimu. Menggenggam erat tangan Aisyah dan selalu berada di sampingnya.


Devdas merasa panas dan sesak melihat kemesraan dan kebersamaan mereka. Dev berbisik kepada Agus untuk pamit ke toilet dulu, Agus mengangguk.


Devdas berjalan ke arah taman belakang rumah tersebut sambil menghubungi seseorang yang tak lain adalah Dhafina.


" Temui aku di taman belakang sekarang." ucap Dev sambil terus berjalan ke arah taman belakang.

__ADS_1


Tak Lama Dhafina datang menghampiri Devdas yang sedang berdiri menunggunya di taman belakang rumah tersebut. Dhafina yang juga datang di acara tersebut bersama Dev, memang sejak tadi memperhatikan Devdas dari kejauhan.


Dhafina berpikir Dev nekat berani duduk bersama Abian dan yang lainnya. Sampai akhirnya, dirinya terbakar api cemburu karna ulahnya sendiri.


" Ada apa kau memanggilku? " ucap Dhafina malas, sambil menghampiri Devdas.


Tiba-tiba Dev menycengkram dagu Dhafina dengan sangat keras. Membuat Dhafina meringis kesakitan.


" Kau bilang ada apa? aku sudah bilang padamu, dekati Aisyah dan buat hancur rumah tangga mereka. Buat Aisyah dan Abian berselisih, tapi apa ini? sekarang mereka malah semakin mesra saja. Dasar kau tidak berguna. " ucap Dev dengan wajah marahnya mendorong Dhafina sampai terjatuh.


" Kau salah Dev. Aisyah memang wanita polos, tapi Aisyah tidak mungkin mudah di tipu begitu saja. Jika aku sembarangan mengambil tindakan, Aisyah bisa saja mengetahui semua rencana kita. Kalau sampai Aisyah tau, kita berdua yang akan hancur. " ucap Dhafina kembali berdiri.


" Aku tidak perduli dengan semua itu, kau yang harus pintar dengan semua langkahmu mendekati Aisyah. " Dev mencengkram kedua pundak Dhafina " Kalau tidak, jangan salahkan aku, kalau aku menyakiti dirimu dan seluruh keluargamu. " ancam Devdas menatap tajam Dhafina sambil sedikit mendorong tubuh Dhafina.


" Dasar kau bodoh, kenapa kau bersusah payah menyuruhku mendekati Aisyah. Kalau kau memang menginginkan Aisyah, kenapa kau tidak culik saja Aisyah, bawa dia keluar negri dan menikahinya. Dengan begitu masalah selesai bukan? " ucap Dhafina, tampa sadar dirinya menggali kuburannya sendiri.


Tampa Dhafina sadari, ucapannya semakin memancing amarah seorang Devdas raharjo. Devdas semakin tajam menatap Dhafina, membuat Dhafina menyadari kalau dirinya sudah salah bicara. Sampai akhirnya satu tamparan mendarat di pipi mulus Dhafina.


" Dasar jalang, kau berani bilang aku bodoh. Bukan aku yang bodoh tapi dirimu. Kalau aku menculik Aisyah itu hanya perkara mudah bagiku. Tapi kalau aku menculiknya, maka Aisyah akan mengetahui keburukanku yang sebenarnya dan malah membenciku. Itu sebabnya aku menyuruhmu mendekatinya." ucap Dev masih dengan emosinya.


Sementara Dhafina hanya tertunduk sambil memegangi pipinya yang terasa sakit.


" Lalu aku harus bagai mana? " tanya Dhafina memberanikan diri menatap Dev dengan tubuhnya mulai bergetar, karna takut, kesal, benci dan merasa lelah bercampur aduk di hatinya, Dhafina mulai merasa lelah menghadapi sikap Devdas yang hanya menindasnya saja.


" Dekati Aisyah, kau harus berpura-pura sedang mencari pekerjaan. Siapa tau dengan begitu Aisyah merasa kasihan kepadamu, dan menyuruh Abian menerima dirimu bekerja di perusahaan Abian suaminya. Siapa tau dengan begitu kau bisa mendekati Abian, lalu menghancurkan hubungan mereka. " ucap Devdas.


" Baiklah. Jika itu yang kau inginkan. " ucap Dhafina tertunduk sambil mengepalkan tangannya.


Devdas berjalan melangkahkan kaki untuk kembali masuk ke dalam, meninggalkan Dhafina sendiri yang masih menundukan kepalanya.


Entah kenapa, Dhafina merasa kesal dan ingin terbebas dari segala masalahnya bersama Devdas. Air mata mulai menetes mengalir di pipi Dhafina, menangisi nasibnya yang begitu buruk.


Memiliki orang tua yang sangat buruk, yang hanya mementingkan kekayaan, kekuasaan dan perusahaannya saja. Dan di saat Dhafina berharap memiliki pasangan hidup dan telah memberikan kepercayaannya kepada Devdas.


Devdas malah menipunya dan memperalat dirinya untuk mendapatkan wanita yang sangat dia cintai. Walau bagai manapun, Dhafina tetaplah hanya seorang wanita biasa. Jauh di lubuk hatinya yang terdalam, Dhafina menginginkan kehidupan yang normal dan mendapatkan kasih sayang yang tulus dari seseorang.


Tapi harapan hanyalah tinggal harapan. Semua itu hanyalah mimpi belaka untuk Dhafina yang sangat mustahil untuk di wujudkan. Sekarang Dhafina hanya bisa menangisi nasibnya dan menjalani takdir hidupnya. Sambil berharap, suatu saat nanti dirinya bisa keluar dari keterpurukan dan berharap menjalani kehidupannya dengan normal, sama seperti wanita lain di luar sana.

__ADS_1


__ADS_2