CINTA AISYAH

CINTA AISYAH
Dirimu Membuatku Candu


__ADS_3

Sepulang dari kampus, Aisyah berkunjung ke kantor untuk menemui Abian suaminya. Seperti biasa bersama Pak Mun sebagai supir pribadinya yang selalu mengantar Aisyah kemanapun dia inginkan.


Sangat berbeda dengan adik iparnya Selin, yang selalu bebas membawa mobil sendiri kemanapun dia inginkan. Aisyah sendiri memang bisa mengendarai mobil, karna sewaktu di kampung, Aisyah belajar mengemudikan mobil dengan kerabatnya yang mengurus dirinya.


Tapi mungkin di karnakan Aisyah tidak terlalu mengenal kota jakarta, itu sebabnya Abian mengutus Pak Mun sebagai supir yang selalu mengantar Aisyah. Dan mungkin itu di lakukan demi keamanan Aisyah sendiri.


" Aisyah..! "


Seseorang memanggil, yang tidak lain adalah Agus ayahnya Aisyah. Agus dan Bagas yang sedang berjalan berniat menemui Abian di ruangannya, tidak sengaja melihat Aisyah yang sedang berjalan ke arah yang sama, yaitu ruangan Abian.


" Kamu mau ke ruangan suami kamu? " tanya Bagas menghampiri Aisyah bersama Agus.


" Iya pah. Papah sendiri sama ayah mau ke mana? "


" Sama, mau ke ruangan Abian. Ada masalah kantor yang harus papah bicarakan sama suami kamu. " Bagas menjelaskan.


" Oh.. ya udah, sekalian bareng aja pah. Aku juga baru pulang dari kampus, mau ke ruangan a Bian." ucap Aisyah ramah.


Akhirnya mereka pun berjalan bersama masuk ke dalam lift menuju ruangan Abian. Sesampainya di ruangan Abian, Bagas dan Agus langsung menjelaskan masalah kantor yang ingin mereka jelaskan kepada Abian sambil duduk bersama di sofa.


Aisyah yang ikut duduk di samping suaminya, ikut mendengarkan penjelasan masalah kantor yang sedang di bicarakan Agus dan Bagas kepada Abian. Setelah selesai menjelaskan, Agus dan Bagas pun kembali ke ruangan pribadi mereka.


Abian dan Aisyah berdiri dari duduknya menghormati kepergian Agus dan Bagas dari ruangan tersebut. Di saat Agus dan Bagas sudah keluar, Aisyah berniat pergi ke dalam kamar pribadi tempat istirahat Abian, masih di dalam ruangan tersebut.


Namun, tangan Aisyah sengaja di tarik oleh Abian. Membuat Aisyah berbalik dan membawa Aisyah untuk duduk di pangkuan suaminya di atas sofa.


" Mau ke mana hemm..? "


Abian memeluk erat tubuh Aisyah yang berada di pangkuannya.


" Mau ke sana? " Aisyah menunjuk kamar pribadi Abian dengan pandangannya.


Abian menoleh sebentar menatap ke arah di mana Aisyah menunjuk dengan pandangan matanya.


" Mau ngapain ke kamar? " Abian membelai wajah Aisyah. " Ahhh... mau ngajakin buat cucu untuk papah ya? " Abian tersenyum menggoda Aisyah.


" Idih... apaan sih? ngaco ah... apaan, buatin cucu ko siang bolong kaya gini? kan gerah a. Aku cuma sedikit lelah aja, akhir-akhir ini mata pelajar di kampus makin banyak, mungkin karna sebentar lagi kami menghadapi kelulusan. Jadi semakin banyak yang harus di pelajari dan di hapalkan. " ucap Aisyah bersandar di dada Abian.


" Em... jadi gitu. Kasian istri kecilku ini. " ucap Abian mengelus kepala Aisyah.


" Kalau lelah, kita istirahat di kamar aja biar nyaman. " ucap Abian tersenyum menyeringai, otak nakal Abian mulai bekerja.

__ADS_1


Mendengar perkataan Abian, Aisyah langsung bangun membenarkan posisi duduknya menatap Abian tajam.


" Maksud aa apa? jangan macam-macam di siang bolong kaya gini ya a. " ucap Aisyah menatap tajam ke arah Abian.


" Memangnya kenapa? enakan siang-siang kaya gini, lebih menantang sayang. " Abian tersenyum menyeringai.


Aisyah sudah sangat hapal dengan apa yang di inginkan suaminya. Aisyah berniat kabur ingin turun dari pangkuan Abian. Namun Aisyah terlambat, Abian malah menggendong tubuh Aisyah dan berjalan membawa Aisyah kedalam kamar tempat ia istirahat.


Aisyah yang sudah tau dengan keinginan suaminya, hanya bisa pasrah saja dengan semua yang di lakukan Abian kepadanya. Untung saja Aisyah sudah melaksanakan solat pardu Dzuhur sewaktu dirinya masih di kampus, jadi tidak perlu terburu-buru mandi wajib setelah melaksanakan kewajibannya kepada suaminya.


Tapi mungkin Aisyah salah menduga. Entah kenapa hari ini Abian seolah menggila, bahkan di saat Mereka melakukan mandi wajib pun Abian masih saja menjamah dirinya. Padahal waktu sudah menunjukan hampir memasuki waktu asyar, untung saja kegilaan Abian itu berhenti di saat waktu asyar belum tiba.


Aisyah harus bersukur, karna selama mereka melakukan itu tidak ada siapapun yang mengganggu mereka. Karna kalau itu terjadi, Abian akan marah dan semakin menggila karna kesenangannya terganggu.


Seperti Leo yang biasanya masuk ke dalam ruangan Abian untuk memberikan laporan ataupun meminta tanda tangan, kini Leo pun belum terdengar mengetuk pintu atau memperlihatkan wajahnya.


Mungkin Leo sendiri sudah tau, apa yang terjadi di ruangan itu. Tuan mudanya yang sedang menggila dan menjadi budak cinta, lagi pula itu adalah ruangan pribadinya. Jadi bebas-bebas saja bagi pemilik ruangan untuk melakukan apapun yang dia inginkan bersama istrinya.


Setelah Aisyah selesai melaksanakan solat pardu asyar bersama Abian. Aisyah berbaring tiduran di atas ranjang, masih menggunakan bathrobe dengan raut wajah kesalnya.


Hari ini Aisyah berniat untuk tidur siang dan istirahat di kamar pribadi Abian yang ada di kantor, untuk melepas rasa lelahnya karna pelajaran di kampus yang sedikit menguras pikirannya.


" Jangan marah dong sayang... "


Abian sudah kembali rapih dengan setelan kemeja kantorannya. Abian tersenyum menatap Aisyah, merangkak naik ke atas ranjang mendekati Aisyah. Namun Aisyah malah membalikan badannya membelakangi Abian sambil memejamkan mata.


Membuat Abian tersenyum dan semakin tertantang untuk meminta maaf kepada Aisyah. Karna dirinya lah yang sudah membuat istrinya kelelahan karna ulahnya itu. Abian mendekati Aisyah dan memeluk erat tubuh Aisyah dari belakang.


" Sayang... jangan marah dong. Iya, aa minta maaf, karna aa sudah buat kamu kelelahan. Tapi... jangan salahin aa, itu semua salah kamu sendiri, kenapa kamu bisa senikmat ini? kamu juga begitu sempit dan hangat, membuat aa semakin tergoda. " bisik Abian di telinga Aisyah sambil tersenyum menyeringai, dan itu semua berhasil membuat Aisyah terpancing.


Aisyah bangun dari tidurnya, melepaskan pelukan Abian dan mulai memukul Abian yang masih berbaring menatap dirinya.


" Ikhh... aa jahat ya, aa tega buat aku lelah kaya gini. Aa gak puas apa jika malam saja melakukannya? " Aisyah masih terus memukul Abian.


" Aduhh... sakit, iya sayang maaf, aa salah. " Abian tersenyum pura-pura sakit, padahal pukulan istrinya itu tidak seberapa bagi Abian.


Abian menangkap kedua tangan Aisyah, menariknya dan membawa Aisyah ke dalam pelukannya, masih berbaring di atas ranjang.


" Iya, maafin aa ya. Abisnya kamu menggoda sih, jadi buat aa selalu pengen. " Abian masih tersenyum nakal.


Aisyah mencoba berontak, namun tubuhnya di peluk erat oleh Abian yang masih tersenyum menghadapi tingkah Aisyah istrinya itu.

__ADS_1


" Iya, iya. Maafin aa, aa yang salah." Abian tersenyum masih memeluk erat Aisyah " Tapi aa bersungguh-sungguh sayang, aa benar-benar menyayangimu, aa juga mencintaimu. Aa merasa gila jika sebentar saja tidak melakukan itu bersamamu, aa melakukan itu bukan karna napsu saja, tapi karna cinta dan kasih sayang aa untukmu. Aa rasa akan lebih gila lagi kalau sehari saja aa jauh darimu. " Abian menjelaskan sambil mengusap rambut Aisyah yang bersandar di dadanya.


" Sungguh? aa gak bohong 'kan? "


" Iya, aa bersungguh-sungguh. Jadi, kamu jangan pernah berniat untuk meninggalkan aa, atau jauh dari aa, mengerti? " ucap Abian masih mengelus rambut Aisyah.


Aisyah tersenyum dan menggangguk memeluk Abian. Merasakan kehangatan tubuh suaminya itu.


" Terima kasih, aa sudah mau mencintai diriku dan menerima segala kekuranganku. " ucap Aisyah masih memeluk Abian.


" Sama-sama sayang." Abian mencium pucuk kepala Aisyah.


" Hari ini kamu jangan pulang ke rumah, di sini aja temani aa, kamu bisa istirahat di kamar ini semaumu. Nanti malam, kita akan menghadiri pesta sala satu kolega bisnis papa. " Abian menjelaskan.


" Pesta? " Aisyah mendongak menatap Abian.


" Ya. "


" Pesta apa a? "


" Pesta pertunangan, anaknya kolega bisnis papa. "


" Oh... tapi aku kan gak punya baju a. "


" Sayang... aa sudah siapin gaun untuk mu di dalam lemari, nanti kita berangkat bersama." Abian tersenyum mengelus pipi Aisyah dan mendapat anggukan dari Aisyah pertanda menyetujui rencana Abian.


Aisyah kembali bersandar di dada bidang Abian. Memeluk erat suaminya itu.


" Aku lapar a, aku juga lelah." rengek Aisyah.


Abian tersenyum." Ya udah, kita pesan makanan aja ya. Nanti makannya sama-sam di sini." ucap Abian.


" Ya. " Aisyah mengangguk.


Abian pun mengambil ponselnya yang tidak jauh berada di atas nakas dan menghubungi Leo untuk memesankan makanan untuk mereka tampa melepaskan pelukan Aisyah.


Sambil menunggu makanan tiba, Aisyah berbincang-bincang dengan Abian masih berada di atas ranjang. Setelah makanan tiba, Abian membawa makanan tersebut ke dalam kamar dan memakannya bersama Aisyah.


Setelah selesai makan, Abian pun kembali ke ruangannya dan kembali duduk di kursi kebesarannya. Mengerjakan kembali tugas-tugasnya yang menumpuk menunggu dirinya. Sementara Aisyah, istirahat di dalam kamar, mengistirahatkan tubuhnya yang terasa lelah dan pegal.


Sambil menunggu waktu magrib dan menunggu waktu malam. Untuk pergi ke pesta sala-satu rekan bisnis keluarga pratama yang akan di adakan nanti malam.

__ADS_1


__ADS_2