
Setelah lama berbincang, Devdas pun berpamitan untuk pergi, begitu juga dengan Kalandra, dia berpamitan untuk kembali ke Rumah Sakit menjalankan tugasnya sebagai Dokter.
" Gue duluan ya Bi. " setelah Devdas pergi, Kalandra juga berdiri dari duduknya berpamitan.
" Udah sana, jalanin tugas lo dengan baik, kalau lo gak bener, gue pecat lo. " ancam abian sinis, melirik Kalandra tajam, masih duduk di sofa dengan sombong nya.
" Yee, dasar songong lo, kalau lo sakit, lo juga butuh gue. " ucap Kalandra tak kalah sinis.
" Diem lo, brisik, sana pergi." usir Abian.
" Dasar kampret lo." ucap Kalandra lalu beralih menatap Aisyah " Aisyah, kaka Dokter pergi dulu ya. "
Kalandra tersenyum menatap Aisyah sambil melambaikan tangan, mengedipkan sebelah mata, sengaja ingin memanas-manasi Abian.
Abian yang melihat itu langsung melototkan mata nya, Abian langsung mengambil majalah yang ada di atas meja dan berdiri melemparkan majalah itu ke arah Kalandra. Namun lemparan nya gagal karna Kalandra berhasil menghindar.
" Bangsat lo, pergi sana." usir Abian, menunjuk Kalandra dengan sinis mulai cemburu.
Aisyah, Leo dan Kalandra pun tersenyum melihat tingkah cemburu seorang Abian pratama.
" Udah-udah, kalian itu kaya anak kecil aja. " ucap Leo berdiri dari duduknya, merangkul leher Kalandra dengan sebelah tangan dan membawanya keluar dari ruangan Abian.
" Akhh.. leher gueee.. " rengek Kalandra yang di tarik keluar oleh Leo dari ruangan Abian.
Sementara Aisyah, hanya tersenyum melihat ketiga sahabat yang selalu bercanda itu.
" Aduhhh.. Leo, lepasin gue. " pinta Kalandra yang sudah keluar dari ruangan Abian.
Leo pun melepaskan tangan nya dari pundak Kalandra. Namun, wajah Leo langsung terdiam, seolah memikirkan sesuatu, dengan keadaan masih berdiri di depan ruangan Abian. Kalandra yang melihat raut waja Leo pun merasa heran.
" Lo kenapa? kalau raut wajah lo kaya gitu, biasanya ada masalah yang sedang lo pikirkan bukan? " tanya Kalandra dengan raut wajah seriusnya.
" Apa lo gak ngerasa ada yang aneh? gue merasa, dengan kedatangan Devdas ke Indonesia, ada sesuatu yang mengganjal. " ucap Leo, masih dengan raut wajah seriusnya, masih berdiri di hadapan Kalandra, sambil memasukan ke dua tangan nya di saku celana nya.
" Kau benar, kita harus tetap berhati-hati. Walaupun Devdas berteman dengan kita, tapi kita sama sekali tidak tau, apakah dia sudah benar-benar memaafkan Abian atau tidak? " ucap Kalandra.
" Kau benar, kita harus tetap berhati-hati, saat ini segala kemungkinan bisa saja terjadi, dan itu sudah menjadi tugas kita untuk melindungi keluarga Pratama dengan baik. " ucap Leo.
" Kau memang baik dan setia, aku percaya padamu Leo. " ucap Kalandra menepuk bahu Leo, seolah mengisaratkan kalau dirinya benar-benar mempercayai sosok seorang Leo sahabatnya itu.
Leo pun tersenyum menatap Kalandra.
" Makasih. " ucap Leo.
" Kalau lo butuh sesuatu, lo bisa hubungin gue, kita berdua berhutang besar sama papah Bagas. " ucap Kalandra dengan wajah tegasnya.
" Lo bener, kalau ada sesuatu, nanti gue hubungin lo lagi. " ucap Leo.
" Ox.. kalau gitu, gue duluan." ucap Kalandra kembali menepuk bahu Leo, dan pergi meninggalkan gedung Pratama Group.
Leo pun kembali ke ruangan nya, untuk menjalankan tugasnya sebagai Sekertaris pribadi Abian pratama sang Ceo dari perusahaan Pratama Group tersebut.
***
Aisyah pun menghabiskan waktu bersama dengan Abian di ruangan nya, makan bersama, bercanda bersama, terkadang Aisyah menjahili Abian yang sedang pokus dengan pekerjaan nya.
Malam ini tepat pukul 19.30 wib. Setelah selesai menjalankan solat isya empat rokaat, Abian dan Aisyah memutuskan untuk pulang ke rumah. Seperti biasa Pak Mun sebagai supir pribadi dan Leo sebagai Sekertaris pribadi Abian, yang selalu mengikuti Abian kemana pun dia pergi. Dan tentunya sebelum tugasnya itu selesai, Leo tidak pernah pulang ke apartemen nya.
" Sayang, malam ini mau makan malam di rumah apa di luar? " tanya Abian, menggenggam erat tangan Aisyah yang duduk di sampingnya.
__ADS_1
" Em... entahlah. " jawab Aisyah enteng.
" Ko gitu? "
" Gak tau. " Aisyah menjawab singkat, dengan pandangan lurus ke depan.
" Ya udah, kita makan malam di luar aja, kita makan di lestoran, gimana? " tanya Abian menatap Aisyah.
" Ikhh.. gak mau, gimana kalau kita cari tempat makan di pinggir jalan aja? kan banyak makanan pinggir jalan yang enak a, murah lagi. " ucap Aisyah antusias.
" Apah. Pinggir jalan lagi. " ucap Abian kaget.
Abian tidak habis pikir dengan jalan pikiran Aisyah istrinya itu, di kasih pasilitas mewah, uang yang cukup, kartu kredit, dan suami yang kaya, berkuasa. Aisyah masih saja mau hidup sederhana, termasuk makan di pinggir jalan.
" Kenapa? jangan bilang kalau aa gak mau? " Aisyah menatap Abian penuh selidik.
" Lestoran aja, biar nyaman. " bujuk Abian menatap Aisyah.
" Gak mau, enakan cari makan di pinggir jalan. " ucap Aisyah.
" Lestoran sayang... "
" Pinggir jalan. "
" Lestoran. " ucap Abian tegas.
" Ikhhh.. ya udah, kalau aa gak mau, malam ini jangan harap aa bisa tidur sama aku." ancam Aisyah, melepaskan genggaman tangan nya yang di pegang Abian, menatap tajam ke arah Abian.
kita liat aja, siapa yang menang? aa atau aku? gerutu Aisyah dalam hati.
" Oh.. jadi gitu ya, mulai bisa ngamcam aa sekarang, kamu lupa siapa aa? aa suami kamu. Kamu mau kualat ngancam suami sendiri, pokonya aa gak mau tau kita makan di Lestoran. " ucap Abian tegas dengan nada suara sedikit meninggi.
Saat mendengar Abian berbicara dengan nada sedikit tinggi dan mengatakan kata suami dan kualat. Aisyah merasa sedikit terkejut dan perasaan sedikit takut melihat Abian dengan wajah tegasnya itu.
Awalnya Abian hanya berniat mengerjai Aisyah, tapi saat Abian melihat raut wajah Aisyah yang berubah sendu dan tertunduk, Abian langsung merasa bersalah karna telah berbicara kasar kepada Aisyah.
Leo yang melihat itu dari kaca spion hanya tersenyum kecil melihat Abian yang mulai panik, Abian memang pintar dan berkuasa, tapi dia tetap memiliki kelemahan, yaitu tidak pandai merayu wanita, karna selama ini wanita yang datang kepada nya selalu berhasil dia dapatkan hanya dengan modal uang saja.
Abian menatap Leo, sedikit memajukan wajahnya ke arah spion, sebagai isyarat kalau Leo harus menolongnya. Sementara Leo hanya cuek sambil mengangkatkan bahunya tersenyum ke arah Spion. Pak Mun yang melihat itupun hanya tersenyum kecil.
Sialan kau Leo, dasar kau penghianat, bukan nya menolongku, kau malah tersenyum. pikir Abian menatap tajam ke arah Leo yang masih terkekeh.
" Sayang... maafin aa, bukan maksud aa buat marahin kamu. " Abian mencoba membujuk Aisyah, namun tidak ada respon, Aisyah masih saja menatap ke samping sedikit memunggungi Abian.
" Sayang.. kamu marah sama aa. " Abian sedikit menggeser tubuhnya mendekati Aisyah, namun tetap tidak ada respon dari Aisyah.
Abian mengambil napas dalam-dalam, dirinya merasa prustasi melihat Aisyah yang tidak merespon perkataan nya. Seumur hidup Abian tidak pernah membujuk wanita, tapi sepertinya sekarang dia harus sadar kalau dirinya sudah menjadi budak cinta.
" Ox.. aa nyerah, kalau kamu memang mau mencari makanan di pinggir jalan aa turuti, tapi jangan acuhkan aa. " ucap Abian, semakin mendekati Aisyah mencoba membujuknya.
Aisyah langsung memalingkan tubuhnya menghadap ke arah Abian dengan tersenyum senang.
" Sungguh a? " tanya Aisyah.
" Iya. "
" Akhhh..." Aisyah langsung kegirangan sambil memeluk tubuh Abian dengan erat.
" Makasih a. " ucap Aisyah masih memeluk tubuh Abian erat.
__ADS_1
Abian pun tersenyum menyeringai. Mendapatkan pelukan dari Aisyah, otak jahil Abian langsung bekerja.
" Tapi ada syaratnya." bisik Abian di telinga Aisyah sambil tersenyum jahil.
Mendengar Abian mengucapkan syarat, Aisyah langsung melonggarkan pelukan nya dari tubuh Abian.
" Sayaratnya apa? " tanya Aisyah menatap Abian penasaran, dengan kedua tangan nya masih berada di pundak Abian.
" Cium aa." pinta Abian memajukan pipinya.
Aisyah langsung membulatkan matanya terkejut.
" Malu a, di rumah aja yah. " bisik Aisyah.
" Malu sama siapa? " tanya Abian menatap Aisyah heran.
Mata Aisyah tertuju ke arah Pak Mun dan Leo. Saat Abian menatap ke arah mana mata Aisyah tertuju, Abian langsung mengerti.
" Pak Mun... " ucap Abian dengan nada sedikit tinggi yang ia tujukan kepada Pak Mun.
" Saya hanya supir pribadi anda tuan muda, dan apapun yang terjadi di dalam mobil ini, saya tidak pernah melihat dan tidak pernah mendengar. " ucap Pak Mun tegas langsung mengerti, masih pokus dengan kemudinya.
" Kamu dengar 'kan? " ucap Abian menatap Aisyah.
" Tapi a." kini mata Aisyah tertuju ke arah Leo.
Abian yang melihat itu, mulai merasa geram.
" Sayang... anggap aja Leo tidak ada. " ucap Abian mulai greget.
" Tapi a." ucap Aisyah pelan.
" Ya udah, kalau kamu gak mau, kita gak jadi makan malam di luar, kita langsung pulang aja. " ucap Abian mulai prustasi, masih menatap Aisyah.
" Ya udah iya, aku mau. " bisik Aisyah terpaksa.
Ya ampun, gimana ini? tadinya aku hanya pura-pura kesal aja sama a Bian, kenapa sekarang jadi aku yang kena. pikir Aisyah.
" Sini cium aa. " Abian memajukan pipinya mendekati Aisyah.
Mau tidak mau Aisyah harus menuruti keinginan Abian, demi bisa mencari makan di pinggir jalan seperti yang dia inginkan. Aisyah pun mencium ke dua pipi Abian dan mencium bibir Abian sekilas.
" Sayang.. ko cium bibir nya sebentar? " gerutu Abian.
" Ikhh... aa aku malu." ucap Aisyah pelan, masih memegang pundak Abian dengan sedikit terdunduk.
" Ikhhh... kamu ini. " ucap Abian langsung menyerang bibir Aisyah. Menciumnya sedikit lama, bermain di sana sambil memegang tengkuk Aisyah dan merangkul pinggangnya erat.
Sementara Leo hanya menepuk-nepuk bahu Pak Mun. Sambil geleng-geleng kepala menatap lurus ke depan, tidak habis pikir dengan kelakuan Abian yang asyik dengan kegiatan barunya itu. Seolah dunia hanya miliknya saja.
" Sabar Pak Mun. " ucap Leo pelan.
Sementara Pak Mun, hanya tersenyum menanggapi tepukan tangan Leo di pundaknya, sambil menatap lurus ke depan masih pokus dengan kemudinya.
Tampa memperdulikan Leo dan Pak Mun, yang di belakang masih asyik saja dengan dunia mereka. Yang terdengar hanya suara kecapan dari mereka yang sedang di mabuk cinta.
*
*
__ADS_1
*