
" Silahkan tuan, nona. "
Sala satu pekerja di Bioskop mempersilahkan untuk duduk, dan membawa beberapa cemilan dan minuman untuk Abian dan yang lain nya. Setelah memastikan semua sudah selesai, para pekerja Bioskop itupun pergi.
Aisyah dan yang lain nya pun duduk di tempat duduk yang sudah di sediakan. Tempat duduk dan ruangan yang Mewah, Moderen dan tertata rapih. Bahkan tempat duduk itupun begitu empuk, lembut dan nyaman.
" Kamu kenapa sayang? " Abian menatap Aisyah keheranan, melihat expresi wajah Aisyah yang terdiam sejak tadi.
Aisyah yang di tanya pun, berbalik menatap wajah Abian, menyentuh tangan Abian yang duduk di sampingnya, menatap nya dengan raut wajah sedih.
" Aa makasih, udah mau ngajak Jono dan Joko untuk nonton bersama kita. Walaupun Joko dan Jono orang Biasa, tapi aa sudah mau nonton bersama mereka. " ucapnya.
" Ya, tentu, apapun aa lakukan untukmu. Lagian cuma nonton aja. " Abian tersenyum menatap Aisyah, sambil memegang tangan Aisyah.
" Sebelumnya, aku berterima kasih sama aa, karna aa mau ngajak aku nonton sama yang lain, tapi... " wajah Aisyah berubah sendu sedikit tertunduk.
Abian yang melihat itupun merasa penasaran.
" Tapi apa? " tanya Abian mulai cemas.
" Apa aa sadar, kita bersenang-senang di atas penderitaan orang lain. " Aisyah menatap Abian sendu.
Abian langsung terdiam seribu bahasa, dia sama sekali tidak mengerti akan apa yang di Bicarakan istrinya itu.
" Maksudmu apa? aa sungguh tidak mengerti? " ucapnya.
" Apa aa tau, mungkin ada orang lain yang kesusahan di balik kesenangan kita ini. " Aisyah masih dengan raut wajah sedihnya.
" Maksudnya? "
" Aku tau, hari ini hari Minggu, pasti banyak yang nonton di sini. Tapi saat kita datang semuanya menjadi sepi, tidak ada siapapun di sini. Aku tau aa berkuasa, dengan segala kekayaan dan jabatan yang aa miliki, aa bisa saja melakukan apapun yang aa mau, termasuk membuat Bioskop ini sepi hanya dalam sekejap mata saja. " Ucap Aisyah.
Sementara Abian masih fokus menatap wajah sedih Aisyah dengan memegang tangan Aisyah yang duduk di sampingnya. Abian mencoba menebak ke arah mana pembicaraan Aisyah, namun gagal, Abian hanya melihat raut wajah sedih dan kecewa yang terlihat jelas di wajah Aisyah.
" Aa memang berhasil memenuhi keinginanku, untuk nonton di Bioskop, bahkan dengan kekuasaan yang aa miliki, aa sanggup menyediakan tempat yang bersih dan Bioskop yang nyaman untuku. Tapi aku sedih, gara-gara keinginanku itu, secara tidak langsung membuat semua orang kewalahan. Mereka semua pasti kesusahan mendadak membuat tempat ini sepi. " Aisyah sejenak terdiam.
" Lalu? " Abian mulai mengerti arah pembicaraan Aisyah.
" Aa bayangkan saja, pasti sebelum kita kemari, tadi banyak orang di sini. Dan karna kita mau ke sini, para pekerja di sini, mereka semua pasti susah payah mendadak membubarkan orang-orang hanya untuk membuat tempat ini nyaman untuk kita. Bahkan mungkin Bioskop ini mengalami kerugian yang sangat besar karna insiden ini, dan membuat para pekerja di sini kewalahan karna kedatangan kita yang mendadak ini. Itu membuatku tidak nyaman a, kasihan mereka. " Aisyah menjelaskan dengan raut wajah sedihnya.
" Udah bicaranya? " Abian tersenyum menatap wajah Aisyah. Namun, entah kenapa, mendengar perkataan Aisyah, kini Abian merasa seperti ada sesuatu yang salah, seperti ada sesuatu yang sedikit menusuk di hatinya, Abian merasa bersalah dengan melihat expresi Aisyah seperti itu.
Sementara Aisyah hanya diam membisu, merasakan ketidak nyamanan yang iya rasakan di hatinya.
" Maaf, maafin aa, karna aa kamu kecewa. "
Abian memegang tangan Aisyah lembut, satu hal yang Abian rasakan saat ini " istimewa" wanita yang sudah menjadi istrinya itu berbeda dari wanita lain.
Di saat wanita lain mendambakan pasilitas mewah dan segala kemudahan di dunia. Aisyah malah lebih dulu memikirkan kepentingan orang lain.
Aisyah bahkan merasa tidak nyaman jika dirinya bersenang-senang di atas penderitaan orang lain.
Berbeda dengan dirinya sendiri, selama ini Abian selalu merasa bisa mendapatkan apapun yang dia inginkan dengan uang, jabatan dan kekuasaan yang dia miliki.
__ADS_1
Bahkan Abian berpikir semua wanita sama, bisa di beli dengan uang. Tapi akhirnya Abian menyadari, di balik semua itu akan ada orang yang terluka, kecewa dan kesusahan karna ulahnya itu.
Dari kejadian ini Abian mendapatkan pelajaran, bahwa bersenang-senang di atas penderitaan orang lain itu tidaklah benar. Dan tidak semua bisa di dapatkan dengan uang, kekuasaan, ataupun jabatan seseorang.
Termasuk hati dari wanita di hadapan nya saat ini, perasaan wanita yang sudah menjadi istrinya itu tidak bisa di bandingkan dengan harta, dan tidak bisa di beli dengan pasilitas mewah yang Abian miliki.
" Maaf, aa janji, tidak akan mengulanginya lagi." Abian menatap Aisyah penuh harap, kalau kali ini Aisyah akan memaafkan kesalahan nya.
" Apa aa janji tidak akan mengulanginya lagi?"
" Iya, aa janji. " ucap Abian.
" Baiklah. "
" Apa aa di maafkan?" tanya Abian.
Aisyah pun mengangguk dan tersenyum menatap wajah Abian. Aisyah sadar kalau dirinya sudah berjanji kepada Abian, untuk menemani Abian berubah menjadi lebih baik lagi, dan bersama menjalani bahtera rumah tangganya dengan Abian, dalam suka atau pun duka.
Mereka pun menonton filem bergendre Action dan Romantis. Aisyah duduk di samping Abian, tak jauh dari mereka Leo duduk dekat Selin. Joko dan Jono duduk bedampingan.
" Aa, aku ke toilet dulu. " Bisik Aisyah kepada Abian.
" Perlu aa antar? "
" Gak usah a, orang aku cuma ke toilet aja, aku bisa sendiri. " Aisyah berdiri, tersenyum menatap Abian dan berlalu menuju toilet.
Aisyah pun keluar dari pintu Bioskop, berjalan menuju toilet. Tampa Aisyah sadari, saat Aisyah berjalan menuju toilet, dirinya berjalan melewati seorang laki-laki berseragam OB yang sedang mengepel lantai. Dengan kepala tertunduk menggunakan Topi di kepala. membuat wajah laki-laki itu tidak terlalu jelas terlihat.
Dengan menyamar menggunakan seragam OB, laki-laki itu tersenyum menatap Aisyah dari kejauhan. Setelah Aisyah berjalan menjauh, laki-laki itu mengangkat kepalanya yang tertunduk.
" Aisyah, sekarang kau sudah dewasa, kau begitu cantik dan manis, besok kita akan bertemu lagi. " gumam laki-laki itu.
Setelah dia merasa sudah melihat Aisyah, laki-laki itu pun pergi berlalu meninggalkan tempat itu.
Setelah Aisyah selesai dari toilet, dia pun kembali ke dalam Bioskop, kembali duduk di kursi yang ada di samping Abian.
Setelah puas menonton, akhirnya mereka pun kembali pulang ke rumah mereka masing-masing. Karna memang keadaan pun sudah sore, sudah hampir menjelang waktu magrib. Di perjalanan mereka mampir dulu di masjid untuk melaksanakan Solat Magrib, dan akhirnya mereka pun sampai di kediaman pratama. Saat mereka masuk ke dalam rumah, sudah ada Bagas, Santi dan Agus sedang berbincang di ruang keluarga.
" Eh.. kalian udah pulang." Santi menyapa anak-anak dan menantunya itu.
Selin, Leo, Abian dan Aisyah pun ikut duduk di sofa ruang tamu, berkumpul bersama dengan para orang tua mereka.
" Besok lusa papah sama ayah Agus akan ke Amerika, kami mau menijau proyek baru yang ada di sana. " Ucap Bagas.
" Apa. Amerika pah, jauh sekali. Berarti papah sama ayah Agus akan lama di sana? " Tanya Aisyah.
" Em, memangnya kenapa? apa kamu takut rindu sama Ayah? kan ada Abian suami kamu, kalau kamu rindu sama Ayah, kamu bisa peluk Abian suami kamu. " Agus menggoda anaknya Aisyah yang duduk di sampingnya.
" Ikhhh.. Ayah, apaan sih, aku kan serius." Aisyah memukul lengan Agus.
" Aw.. hey, hey, lihat ini, kamu terlalu banyak di kasi makan Cinta sama suami kamu, pukulan mu kencang sekali, membuat Ayah kesakitan sayang. " Agus menggoda Aisyah.
" Ikhhh.. Ayah. " Rengek Aisyah kembali memukul Ayah nya Agus.
__ADS_1
Akhirnya mereka pun tertawa bersama, kehangat sebuah keluarga dan canda tawa mereka memenuhi ruangan tersebut.
" Besok, rencananya aku dan Aisyah juga akan pulang ke rumah kami mah, udah seminggu aku dan Aisyah menginap di sini. " Abian menjelaskan.
" Wah.. anak mamah sekarang udah dewasa rupanya, dan udah gak betah lagi tinggal di sini, mamah jadi sedih. " Goda Santi.
" Biarin aja mah, kalau gak ada ka Abian rumah ini jadi tenang. " Sindir Selin.
" Yee.. dasar kamu adik durhaka, kalau gak ada kaka, kamu sendiri yang malah ganggu kaka. Pake datang ke rumah kaka segala, itu berarti kamu kangen kaka bukan? " Abian tidak mau kalah.
" Siapa bilang, orang aku cuma mau ketemu kaka ipar, iyakan kaka ipar? " Selin menatap Aisyah.
Aisyah pun hanya tersenyum menatap kaka adik yang selalu beradu mulut, namun tetap saling menyayangi.
" Sudah-sudah, kalian ini bertengkar saja, biarkan saja Abian dan Aisyah pulang mah, siapa tau dengan begitu kita bisa cepat dapat cucu. " Ucap Bagas tersenyum menggoda menatap Abian.
Bagas sengaja menggoda Abian dan Aisyah. Karna walau bagai manapun Bagas, Santi dan Agus, berharap kalau mereka segera mendapatkan cucu dari anak menantu kesayangan mereka. Karna itu adalah hal yang lumrah di inginkan setiap orang tua, dan hal wajar juga untuk pasangan suami istri yang sudah menikah.
" Ehem.. papah, ngapain sih pake di bahas segala, Abian kan udah bilang, pasti secepatnya pah. " Abian mencoba mencari alasan, karna memang Abian dan Aisyah belum sampai ke tahap itu.
" Iya, secepatnya, tapi nanti papah keburu tua lagi. " Goda Bagas tersenyum menatap Agus Besan nya itu.
Mendengar para orang tua bicara, Abian pun sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia hanya bisa pasrah mendengar ocehan para orang tua yang terus meminta untuk segera di berikan cucu.
Aisyah yang melihat itupun merasa bersalah, karna sampai detik ini pun, dirinya masih takut untuk melayani Abian suaminya, layaknya seorang istri sesungguhnya.
Setelah cukup lama mereka berbincang dan karna keadaan yang sudah malam, Aisyah dan Abian pun kembali ke kamarnya, begitu juga dengan yang lain nya.
Setelah melaksanakan solat isya empat rokaat, kini Abian dan Aisyah sudah rapih dengan baju tidur mereka masing-masing, dan sudah berbaring di atas ranjang, berselimutkan selimut lembut dan hangat yang menutupi mereka.
" Aa, udah tidur? " Tanya Aisyah memegang pipi Abian, yang sedang memeluknya itu.
" Em, ada apa sayang? " Abian kembali membuka matanya, menatap Aisyah yang berada di prlukan nya.
Aisyah mendongak menatap wajah Abian dalam-dalam.
" Aa gak benci aku 'kan? " Aisyah bertanya sambil menunjuk-nunjuk dada bidang Abian.
Abian pun tersenyum " Kenapa kamu nanya gitu, aa gak benci kamu, memang nya kenapa? "
" Aku takut aa benci sama aku, karna aku belum bisa melayani aa. " ucap Aisyah pelan.
" Sini sayang. " Abian semakin erat memeluk tubuh Aisyah yang ada di hadapan nya, dengan menjadikan sebelah tangan nya sebagai bantalan kepala Aisyah.
" Dengerin aa, aa menyayangimu dengan tulus, dan aa mau berubah karna dirimu. Dan aa mau hubungan kita ini di dasari karna cinta dan kasih sayang, bukan karna napsu belaka. Aa tau kamu belum siap, dan aa akan tetap setia menunggu mu, sampai kamu betul-betul siap melayani aa. " Abian menjelaskan dengan lembut.
" Makasih, aa udah mau ngertiin aku, maaf Aisyah buat aa kecewa, hiks..." Terdengar suara isak Aisyah menangis di pelukan Abian.
" Sayang, sudah, jangan menangis, sudah malam lebih baik kita tidur. " Bujuk Abian mengelus kepala Aisyah yang berada di pelukan nya.
Aisyah pun mengangguk, lalu tertidur di pelukan Abian, begitu juga dengan Abian yang tertidur pulas memeluk istrinya itu.
*
__ADS_1
*
*