
Abian menggeliat masih memejamkan mata, meraba ke arah samping untuk memeluk tubuh istrinya. Mata Abian langsung terbuka sempurna saat dia merasa tidak bisa memeluk istrinya. Abian terkejut dan langsung bangun.
" Aduhh... sakit."
Saat bangun dengan posisi masih duduk di atas ranjang dengan rambut acak-acakan, kemeja yang lusuh, tubuh dan wajah yang babak belur, Abian meringis merasakan sakit dan pegal di sekujur tubuhnya. Tapi bukan itu yang menjadi perhatian Abian, yang menjadi perhatian Abian saat ini adalah keberadaan istrinya. Abian celingukan mencari keberadaan Aisyah.
Ceklek...
Pintu kamar mandi di buka, yang ternyata adalah Aisyah yang baru saja keluar dari kamar mandi. Membersihkan tubuhnya seperti biasa sebelum melaksanakan solat pardu subuh.
Abian menatap Aisyah yang berjalan mendekat ke arahnya.
" Sebentar lagi adzan subuh, mandi gih, air hangat udah aku siapin di bathup. " ucap Aisyah dengan wajah datarnya.
Abian langsung tersadar dari lamunannya yang sedang asyik memandang wajah Aisyah. Abian memandang ke arah jam dinding yang ternyata menunjukan pukul 04.00 pagi dan sebentar lagi akan memasuki waktu subuh.
Walaupun tubuhnya terasa sakit, Abian turun dari atas ranjang, berjalan mendekati Aisyah yang sedang duduk di depan meja riasnya sambil mengeringkan rambutnya menggunakan handuk.
" Sayang... " Abian mendekat berniat memeluk Aisyah.
" Jangan sentuh aku, aku sudah ambil wudhu. " ucap Aisyah dingin tampa melihat Abian.
Ambil langsung mengurungkan niatnya, Abian tau Aisyah dan dirinya sudah menikah, dan Aisyah sudah halal untuknya. Tapi dalam aturan islam, jika Abian sebagai suami menyentuh Aisyah tentu saja itu bisa membatalkan wudhu istrinya Aisyah. Karna Abian dan Aisyah tidak memiliki hubungan darah.
Sedangkan dalam islam di jelaskan, Mahram adalah lawan jenis yang tidak boleh di nikahi yang sama memiliki hubungan darah dan tidak membatalkan wudhu.
Sedangkan Abian dan Aisyah adalah lawan jenis yang tidak sedarah, halal untuk menikah dan juga bukan Mahram. Itu sebabnya akan membatalkan wudhu Aisyah jika Abian menyentuhnya di saat Aisyah sedang memiliki wudhu.
" Tapi sayang... aa merindukanmu. " rengek Abian masih berdiri di belakang Aisyah yang sedang mengeringkan rambutnya.
" Sebentar lagi masuk solat subuh, cepat mandi bersihkan tubuh dengan benar. Nanti kita solat subuh berjamaah. " ucap Aisyah dengan nada tegas dan cueknya.
Membuat nyali Abian sebagai seorang suami menciut, Abian tau kesalah pahaman antara dirinya dan Aisyah belum di luruskan. Itu Sebabnya Aisyah bersikap cuek dan dingin kepadanya.
Abian hanya pasrah saja dengan apa yang akan dilakukan Aisyah kepadanya nanti. Walaupun merasakan sakit di tubuhnya, Abian masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan melaksanakan solat pardu subuh dua rokaat bersama Aisyah.
Sebelum Mbok Siti membawakan baju ganti, untuk sementara Abian menggunakan pakaian ayah mertuanya yang sudah di siapkan Aisyah. Abian duduk di pinggiran ranjang, menatap Aisyah yang sedang menggunakan hijabnya dan sudah rapih dengan pakaian rumahannya.
" Mau ke mana? " tanya Abian yang melihat Aisyah berjalan ke arah pintu kamar.
Aisyah yang sudah memegang handle pintu, berhenti sebentar tampa melihat Abian. Dan tampa menjawab pertanyaan Abian, Aisyah lalu pergi keluar dari kamar tersebut.
" Gawat... Aisyah marah, apa yang harus gue lakukan? " gerutu Abian menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang, sambil meringis merasakan sakit di tubuhnya yang babak belur karna bertengkar dengan Devdas.
" Sayang, mau ke mana? " tanya Agus yang sedang duduk di sofa ruang keluarga sambil menikmati teh hangatnya.
" Mau menemui tetangga sebentar yah. " ucap Aisyah berjalan keluar dari apartemen.
Agus langsung tersenyum menatap kepergian Aisyah sambil menikmati teh hangatnya di pagi hari, setelah melaksanakan solat pardhu subuh dua rokaat, Agus duduk santai di atas sofa dengan sarung yang masih melingkar sempurna di pinggangnya.
Agus tau, Aisyah akan menemui Kalandra yang tinggal di sebelah unit apartemen miliknya. Semarah-marahnya Aisyah kepada Abian, Aisyah pasti menghawatirkan keadaan Abian suaminya yang berwajah babak belur dan memar di tubuhnya.
__ADS_1
Itu sebabnya Aisyah pergi menemui Kalandra yang seorang dokter sekaligus sahabat Abian, untuk meminta Kalandra memeriksa keadaan Abian. Tak lama Aisyah masuk bersama Kalandra dan juga Leo.
" Pagi om..." Kalandra menyapa Agus yang masih menikmati teh hangatnya.
" Hem... pagi juga. " ucap Agus.
" Jadi om sakit apa? " tanya Kalandra mendekati Agus, membuat Agus sedikit heran.
" Bukan om Agus yang sakit Kalandra, tapi Abian. " ucap Leo.
" Apa? Abian? dia kenapa? " tanya Kalandra keheranan, karna memang Kalandra sendiri belum tau sama sekali, masalah apa yang sedang menimpa Abian.
" Udah, jangan banyak tanya, ayo masuk ke dalam kamar! " ucap Leo yang meyakini Abian saat ini sedang berada di dalam kamar.
Aisyah, Kalandra dan Leo masuk ke dalam kamar dan di ikuti oleh Agus juga. Saat mendengar suara pintu di buka, Abian langsung bangun dari tidurnya. Duduk di atas ranjang, menatap kedatangan Kalandra dan yang lainnya.
" Pagi Bi." Sapa Kalandra duduk di samping Abian. " Wahh... Lo berantem dengan siapa? sampai wajah lo babak belur bengkak kaya gini? " tanya Kalandra.
" Gue... "
" A Bian ketauan selingkuh dengan istri orang, suami wanita itu marah dan memukuli a Bian sampai babak belur karna ketauan selingkuh dengan istrinya." ucap Aisyah memotong perkataan Abian sambil berdiri menatap tajam ke arah Abian.
Sindiran Aisyah berhasil membuat Abian tidak berkutik dan tidak berani berkata sepatah katapun. Sedangkan Leo, Kalandra dan Agus hanya menatap Abian dan Aisyah sambil menahan tawa mereka.
Abian membuka baju yang dia gunakan dan membiarkan Kalandra untuk memeriksa semua luka memar di sekujur tubuhnya.
" Em... ini tidak apa-apa, hanya luka memar biasa saja. Nanti di kompres sebentar lalu di olesi dengan salep juga sembuh. " ucap Kalandra sambil menekan keras luka memar yang ada di punggung Abian.
" Aw... sakit bodoh! " Abian mendengus kesal menatap Kalandra yang sudah menekan luka memarnya. Membuat Kalandra tertawa.
" Berengsek. Diem lo, so tau! "
" Yah... begitulah Abian, selalu asyik dengan dunianya. Semalem sampe gue kewalah memisahkan Abian dari suami tu cewe, yang gak hentinya mukulin Abian yang ketauan selingkuh dengan istrinya. " ucap Leo yang ikut menyindir Abian.
Membuat Kalandra, Leo dan Agus tertawa. Sementara Aisyah masih berdiri menatap Abian dengan wajah dinginnya dan tatapan tajamnya. Membuat Abian tersenyum dengan wajah so polosnya menatap Aisyah.
Seolah secara tidak langsung, Abian ingin mengatakan kepada Aisyah untuk tidak mempercayai perkataan para sahabatnya yang jahil itu.
Mereka semua keluar dari dalam kamar meninggalkan Abian. Aisyah pergi ke dapur mengambil es untuk mengompres luka memar Abian. Sedangkan Kalandra pergi ke apartemennya untuk mengambil salep. Leo dan Agus duduk di sofa, menikmati teh hangat bersama sambil berbincang.
Kalandra yang sudah kembali dari apartemennya memberikan salep tersebut kepada Aisyah.
" Nih salepnya, oleskan aja ke seluruh luka memar di tubuh Abian, nanti juga akan sembuh dengan sendirinya. Dan jangan lupa, beri pelajaran untuk Abian, agar dia jera untuk tidak selingkuh lagi. " ucap Kalandra tersenyum, sedangkan Aisyah hanya menggeleng menanggapi Kalandra.
Kalandra ikut bergabung bersama Agus dan Leo, sedangkan Aisyah masuk ke dalam kamar. Membawa baskom berisikan es batu yang sudah di bungkus menggunakan kain dan juga salep untuk mengobati luka memar di tubuh Abian.
Aisyah masuk dan mulai mengompres luka memar di tubuh suaminya tampa memperdulikan Abian yang terus menatapnya. Duduk berhadapan di atas ranjang.
" Sayang... marah sama aa ya? " Abian menatap Aisyah dengan wajah lirihnya.
Sementara Aisyah tidak merespon sama sekali, dia hanya terus mengompres luka memar Abian, dan sekarang di bagian wajahnya.
__ADS_1
" Sayang... jangan diemin aa kaya gini, aa mohon. " ucap Abian menyentuh tangan Aisyah menatapnya dalam.
Aisyah menatap tajam Abian, sambil menekan bagian memar Abian di pipinya dengan keras. Membuat Abian meringis dan melepaskan pegangan tangannya dari Aisyah.
" Aduh... sakit sayang. Tega sekali sama aa." rengek Abian pura-pura sakit untuk mendapatkan perhatian Aisyah.
Padahal untuk Abian sendiri, rasa sakit itu tidak seberapa jika di bandingkan dengan dirinya yang sangat cemas karna Aisyah mengacuhkan dirinya.
Namun Aisyah sama sekali tidak merespon, setelah selesai mengompres luka memar Abian, Aisyah melanjutkannya dengan mengoleskan salep di seluruh luka memar Abian.
Aisyah lanjut mengoleskan salep di bagian dada Abian yang sama terlihat memar. Abian kembali menyentuh tangan Aisyah yang sedang mengoleskan salep di bagian dadanya.
" Di sini, di dalam sini aa merasa rindu sekali sama kamu sayang. Aa merindukan senyumanmu, ceriamu dan perhatianmu. Aa mohon jangan acuhkan aa, walau hanya sehari saja kau mengacuhkan aa, aa tidak akan pernah sanggup jika kau acuhkan seperti ini. " ucap Abian lirih menatap Aisyah dalam.
" Lepaskan! " ucap Aisyah tegas.
" Enggak. " Abian menggeleng sambil terus menempelkan tangan Aisyah di dadanya.
" Lepaskan gak? "
" Enggak. "
" Aa lepasin! " bentak Aisyah.
Bukannya melepaskan tangan Aisyah, Abian malah mencium punggung tangan Aisyah lalu menempelkannya di wajah Abian. Abian tersenyum menatap Aisyah yang terlihat masih memasang wajah kesalnya.
" Percayalah... sampai kapanpun aa hanya mencintaimu, hanya kaulah satu-satunya wanita yang aa inginkan. Dan apa yang kau lihat saat di kantor, hanya sebuah kesalah pahaman saja, aa sama sekali tidak melakukan apapun dengan Dhafina sayang. Aa mohon percayalah. " ucap Abian lirih.
" Dasar pembohong. " ucap Aisyah menatap tajam Abian.
" Enggak sayang, aa gak bohong, sungguh... waktu itu aa sedang melak... "
" Waktu itu aa sedang selingkuh dengan ka Dhafina bukan? " ucap Aisyah memotong ucapan Abian.
" Sayang enggak, aa gak selingkuh, sungguh.. percayalah. Waktu itu aa seda... "
" Memeluk ka Dhafina, lalu kalian akan berciuman kembali, persis seperti malam itu saat kalian ada di pesta bukan? " ucap Aisyah memotong perkataan Abian, dengan nada suaranya yang mulai meninggi.
" Apa? maksud kamu apa sayang? tunggu, tunggu. Jadi malam itu kamu melihatnya? " ucap Abian terkejut, masih menggenggam tangan Aisyah.
" Kenapa? apa aa berharap kalau aku tidak melihatnya? dan kalian bisa bebas bersama, begitu? " Aisyah semakin emosi, entah kenapa rasa cemburunya kini membuat Aisyah seolah lepas kendali.
Pepatah mengatakan cemburu tandanya sayang, marah tandanya cinta. Mungkin itulah yang Aisyah rasakan saat ini.
" Sayang enggak begitu, aa bisa jelasin. Waktu itu... "
" Cukup!" Aisyah melepaskan tangannya dari genggaman Abian." Semua laki-laki memang sama, dan ternyata aa sama sekali belum berubah, aku kecewa sama aa. " ucap Aisyah lalu pergi keluar dari kamar sambil membawa baskom yang berisi es itu.
Abian dengan cepat memakai kembali bajunya, menyusul Aisyah untuk menjelaskan semuanya. Namun langkah Abian terhenti saat Abian melihat banyak orang di sana.
Sudah ada Mbok Siti dan beberapa pelayan yang sedang menyiapkan sarapan di dapur. Sedangkan Agus, Leo dan Kalandra sedang duduk bersama di sofa, masih asik dengan perbincangan mereka.
__ADS_1
Sial! Di sini banyak orang. Gimana aku menjelaskan semuanya sama Aisyah kalau banyak orang kaya gini?
Abian menggerutu sendiri sambil menatap Aisyah yang sedang membantu Mbok Siti menyiapkan sarapan. Akhirnya Abian malah ikut duduk bersama Agus, Kalandra dan Leo. Menunggu kesempatan yang pas untuk menjelaskan semuanya kepada Aisyah.