
Hari demi hari di jalani Aisyah dan Abian dengan senyuman dan kebahagiaan. Rumah tangga yang bahagia dan saling menyayangi.
Begitu juga hubungan Aisyah dengan Devdas maupun Dhafina. Aisyah semakin mengenal dekat Devdas dan mulai sering bertemu dengan Dhafina. Tentunya dengan seijin Abian sebagai suaminya. Abian sendiri belum menjelaskan apa-apa kepada Aisyah, kenyataan tentang Devdas yang sesungguhnya.
Abian berpikir, selama Devdas tidak menyakiti Aisyah ataupun salasatu keluarganya. Maka Abian pun akan terus diam dan mengikuti alur yang di buat oleh Devdas.
Hari ini seperti biasa, Aisyah di sibukan dengan rutinitas kampusnya dan Abian di sibukan dengan rutinitas kantornya.
" Kaka ipar, gimana hari ini? gak sakit pinggang lagi 'kan? "
Selin tersenyum menggoda, sambil duduk di samping Aisyah, menunggu jam pelajaran di mulai.
Pasalnya, Beberap hari belakangan ini, di saat masuk kuliah Aisyah selalu mengeluh sakit pinggang dan pegal-pegal di seluruh tubuhnya. Terkadang, Selin pun sering melihat bibir Aisyah sedikit bengkak atau terlihat sedikit bekas gigitan di ujung bibir Aisyah.
Walaupun di tutupi dengan lipstik, tapi Selin tentunya bukanlah anak kecil yang bisa di bodohi. Walaupun Aisyah tidak pernah membicarakan masalah intimnya dengan Abian kepada orang lain. Tapi Selin sendiri tau dan mengerti, bekas gigitan di ujung bibir Aisyah dan sakit pinggang yang sering di keluhkan Aisyah kepadanya, itu adalah ulah nakal kakanya sendiri Abian pratama.
" Wah... yayang Aisyah sakit pinggang? kenapa? mau abang Joko bawa ke emak paraji gak? biar di urutin gitu. "
Joko menyambar langsung ikut bicara, Joko tidak sengaja mendengar pertanyaan Selin kepada Aisyah. Karna memang Joko dan Jono selalu duduk tidak jauh dari Selin dan Aisyah.
" Ikhh... nyamber aja lo..!" Selin berbalik menatap Joko dengan tatapan tajamnya, karna memang Joko duduk tepat di belakangnya.
" Ala makkk... cantik-cantik ko galak." Jono yang duduk di samping Joko ikut bicara sambil tersenyum menggoda Selin.
Kebiasaan dari Joko dan Jono adalah menggoda Selin ataupun Aisyah. Bagi Joko dan Jono, hidup terasa kurang pas tampa bercanda dengan Aisyah dan Selin. Bagi Joko dan Jono, Selin dan Aisyah adalah sahabat terbaik yang tidak pandang harta ataupun kekayaan seseorang.
" Diem lo..! ini urusan cewe, maen nyamber aja. Jaga tu telinga kalian, jangan asal di pake nguping omongan orang aja. " Selin mendengus kesal.
" Ox.. ibu ratu... kami kalah. " Joko dan Jono tersenyum sambil mengangkat kedua tangan mereka.
Joko Dan Jono tersenyum puas karna sudah menjahili Selin. Dan seperti biasa, Selin lah yang akan lebih dulu terpancing emosi jika di jahili oleh Joko dan Jono. Tapi, walaupun begitu mereka tetaplah sahabat baik. Sementara Aisyah, dia hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala melihat perdebatan ketiga sahabatnya itu. Bagi Aisyah, itu adalah hal yang lucu untuk di jadikan sebuah hiburan.
Tak lama bel tanda masuk pun terdengar. Dosen yang mengajar hari ini pun sudah datang, yang tidak lain adalah Devdas raharjo. Mahasiswa perempuan yang ada di dalam kelas langsung berbisik-bisik memuji ketampanan dosen yang bersikap ramah itu.
Jika sedang di dalam kampus, Devdas memang merubah sikapnya menjadi laki-laki yang ramah dan tampan. Yang bisa membuat para wanita tergila-gila.
Devdas pun mulai menjelaskan mata pelajarannya hari ini, sambil terkadang matanya melirik Aisyah yang pokus melihat buku sambil mendengarkan penjelasan yang sedang dia bicarakan. Berbeda dengan murid wanita yang lain, yang terkadang tersenyum kepada Devdas atau terkadang melambaikan tangan mencoba menggoda Devdas di tengah-tengah pelajaran.
Hanya para murid laki-laki lah yang pokus mendengarkan penjelasan Devdas. Dan tentunya, hanya Selin dan Aisyah lah murid wanita yang bersikap cuek dan biasa saja jika sedang berhadapan dengan Devdas, entah itu di dalam kelas maupun di luar kelas.
Setelah lama, bel istirahat pun terdengar.
" Aisyah, ke kantin yuk..! " ajak Selin.
" Iya nih, gue juga udah mulai laper. Kalau perut gue laper otak gue juga gak bisa bekerja. " ucap Joko sambil berdiri dari duduknya.
" Kalian duluan aja, aku mau ke perpustakaan dulu. " ucap Aisyah.
" Ikhh... perpus dan buku. Dua hal itu selalu berhasil membuat gue bergidik ngeri." ucap Selin berdiri dari duduknya.
" Iya nih Aisyah, jangan terlalu kepinteran dong Sya, kitakan jadi iri." ucap Jono tersenyum menatap Aisyah.
__ADS_1
Mereka berempat pun berjalan bersama keluar dari dalam kelas. Selin, Joko dan Jono berjalan menuju kantin kampus, sedangkan Aisyah berjalan menuju perpustakaan.
Ketika sampai di perpustakaan, Aisyah mulai mencari buku yang dia butuhkan di salasatu rak buku yang ada di hadapannya saat ini. Aisyah tersenyum karna sudah mendapatkan buku yang dia inginkan.
Di saat Aisyah berjalan, tiba-tiba dirinya bertabrakan dengan seorang siswa laki-laki yang sedang berjalan terburu-buru, membuat tubuh Aisyah oleng dan terjatuh ke lantai.
" Maaf, aku buru-buru. " ucap siswa itu, sambil berlalu pergi meninggalkan Aisyah yang masih duduk terjatuh di atas lantai.
Aisyah hanya menggelengkan kepala keheranan dengan sikap siswa yang tidak bertanggung jawab itu. Di saat Aisyah hendak berdiri, ada seseorang yang mengulurkan tangannya kepada Aisyah.
" Apa kau butuh bantuan? "
Devdas tersenyum menatap Aisyah sambil mengulurkan tangannya, berniat membantu Aisyah untuk berdiri. Aisyah pun menerima uluran tangan Devdas dan berdiri sambil berpegangan di tangan Devdas, dengan memegang buku yang tadi sempat terjatuh.
Setelah berdiri, Aisyah melepaskan tangannya yang sempat di genggam Devdas sebentar.
" Kau tidak apa-apa 'kan? " Dev tersenyum ramah.
" Aku tidak apa-apa ka, makasih."
" Sukurlah kalau kau tidak apa-apa. Kalau begitu saya duluan dulu." Devdas tersenyum ramah berpamitan.
" Iya ka Dev, terima kasih. " Aisyah sedikit membungkukan badan, sebagai tanda mengormati kepergian dosen nya itu.
" Ikhh... jaman sekarang, masih saja ada siswi ceroboh yang tidak bertanggung jawab, berjalan seenaknya saja. " gerutu Aisyah sambil berjalan keluar dari perpustakaan tersebut.
Aisyah berpikir untuk berjalan ke arah taman belakang kampus yang lumayan sepi dan tenang, tidak terlalu banyak siswa di sana. Hanya ada beberapa siswa saja yang berada di taman belakang kampus.
Aisyah duduk santai sambil membuka buku yang tadi dia bawa dari perpustakaan. Mulai pokus membuka halaman buku tersebut dan mulai membacanya.
" Ehem... boleh aku ikut duduk di sini? " tanya seseorang menghampiri Aisyah.
Aisyah yang merasa namanya di panggil mendongak menatap orang tersebut yang ternyata adalah Devdas.
" Eh, Ka Devdas. " Aisyah tersenyum ramah menatap Dev " Silahkan ka, inikan taman kampus, siapapun bisa duduk di sini, lagian juga banyak yang lain yang duduk di taman ini, bukan hanya kita saja. " ucap Aisyah.
Dev tersenyum ramah lalu ikut duduk tidak di dekat Aisyah, namun tetap menjaga jarak. Devdas tersenyum menatap Aisyah yang kembali pokus menatap buku yang ada di tangannya. Terkesan cuek dan biasa saja, berbeda dengan wanita lain yang selalu berusaha menggoda dirinya.
" Ehem... katanya boleh ikut duduk di sini. Tapi ko di cuekin? " Dev memulai pembicaraan.
Aisyah yang sedang pokus membaca buku langsung tersenyum mendengar perkataan Devdas.
" Ka Dev ini bisa saja. Hati-hati, jangan sembarangan menggoda wanita. Nanti pacar ka Devdas marah lagi. " ucap Aisyah tersenyum.
" Siapa yang marah? lagian aku jomblo, jadi... perasaan bebas-bebas aja tuh. " Dev tersenyum.
" Idih... jangan boong, nanti kalau pacar ka Dev tiba-tiba datang kesini, lalu marah, gimana? "
" Gak akan. Karna memang tidak ada. "
" Masa? "
__ADS_1
" Iya, kecuali kalau kamu mau jadi pacar aku. " Dev mulai menggoda.
" Ikhh... ya alloh... amit-amit jangan sampe." Aisyah mengetuk kepalanya sendiri.
Devdas yang melihat kelakuan Aisyah langsung tertawa. Dev berpikir Aisyah begitu lucu dan menggemaskan, ingin rasanya dirinya mencubit wajah Aisyah namun itu tidak mungkin untuk Dev. Karna kenyataannya Aisyah sudah menjadi milik orang lain.
" Memangnya kenapa? aku rasa akan lucu kalau aku menggoda Abian dengan merebutmu darinya. " ucap Dev tegas yang berhasil membuat Aisyah langsung terdiam.
Aisyah langsung memandang Devdas dengan raut wajah terkejutnya dan ekspresi wajah Aisyah yang sulit di artikan. Aisyah merasa kaget dengan ucapan Devdas yang terkesan nekat menurutnya.
" Aku cuma bercanda, kenapa wajahmu jadi serius begitu? " Devdas tersenyum mengacungkan kedua tangannya di hadapan Aisyah.
" Ikhh... ka Dev ini, kalau bercanda itu yang kira-kira dong ka. Bikin aku kaget aja. " gerutu Aisyah melemparkan buku yang dia pegang ke arah Devdas dan tepat sasaran.
Akhirnya Aisyah dan Devdas pun tertawa bersama.
*Andai kau tau, kalau ak*u bersungguh-sungguh Aisyah. Aku mencintaimu, andai saja sekarang aku bisa menjadikanmu milikku, aku pasti akan membawamu jauh dari kota ini, bahkan jauh dari negara ini. Andai saja kau mengingatnya, Bahwa akulah yang lebih dulu bertemu denganmu. Tapi sekarang, malah Abianlah yang memilikimu. Andai waktu bisa ku putar kembali, aku pasti akan cepat menemuimu sebelum Abian, dan menjadikanmu miliku seutuhnya.
Devdas tersenyum menatap Aisyah, dan menyodorkan beberapa permen lemon kepada Aisyah yang dia ambil dari dalam saku celananya.
" Apa kau mau permen? " Dev menawarkan.
" Wahh... permen lemon, aku mau ka. " Aisyah tersenyum senang menerima beberapa permen lemon yang di berikan Devdas.
Aisyah membuka bungkus permen itu dan memasukan permen tersebut ke dalam mulutnya.
" Emm... seger banget. Makasih ka. " Aisyah tersenyum.
" Sama-sama. "
Kau masih sama seperti dulu saat kita pertama bertemu. Kau begitu menyukai permen lemon yang ku bawa untukmu. Bahkan kau selalu tersenyum untuk hal yang sepele, seperti saat aku memberikan permen lemon ini untukmu.
" Aisyah. Boleh aku tanya sesuatu? " ucap Dev yang mendapat anggukan dari Aisyah. Sementara Aisyah, masih pokus menikmati permen lemon di dalam mulutnya.
" Apa kau menganggapku temanmu? " ucap Dev menatap Aisyah.
" Tentu. Kenapa tidak? ka Dev kan temannya a Bian, itu berarti temanku juga, sama seperti temanku yang lainnya. "
" Sungguh? "
" Iya. " Aisyah mengangguk.
" Apa boleh aku memanggilmu si capung? "
" Apa? capung? kenapa harus capung? " Aisyah menatap heran Dev.
" Karna kau tipe wanita yang pendiam, cuek dan tidak terlalu banyak bicara. Namun tetap bebas dan selalu terbuka untuk berteman dengan siapapun. Tidak pernah memandang orang dari harta ataupun kekuasaannya. Persis seperti capung yang selalu terbang bebas di manapun dia berada."
Andai kau mengingatnya, dulu waktu di kampung saat aku pertama menemuimu, kau suka sekali melihat hamparan sawah yang di atasnya banyak sekali capung berterbangan. Kau selalu tersenyum memandang banyaknya capung yang beterbangan dengan b**ebas.
Sementara Aisyah hanya memandang heran ke arah Devdas. Kenapa harus capung? aneh sekali? Aisyah merasa aneh namun juga merasa sedikit pamiliar dengan sebutan si capung itu. Namun, Aisyah sendiri merasa tidak mau ambil pusing. Aisyah hanya pokus menikmati permen lemon. Salasatu permen yang dia sukai.
__ADS_1