
Hari demi hari pun berjalan dengan tenang. Waktu seminggu kini sudah berlalu, acara pernikahan Leo dan Selin pun di gelar dengan meriah dan khidmat. Antara bersukur atau merasa malu, Leo sendiri bingung harus berkata apa.
Yang jelas, karna kejadian waktu papa Bagas memergoki dirinya dengan Selin di dalam kamar, Leo sendiri lah yang di untungkan dalam hal ini. Bisa menikah di waktu yang cepat dan sekaligus mendapatkan wanita yang dia cintai.
Leo sendiri harus bersukur, karna papa Bagas tidak mengusirnya atau menyuruhnya meniggalkan Selin. Papa Bagas malah mempercepat pernikahan mereka dengan alasan hubungan mereka yang sudah tidak sehat lagi. Yang akhirnya, membuat Leo menjadikan wanita yang dia cintai menjadi miliknya selamanya.
Selesai acara akad nikah, malamnya langsung di adakan acara resepsi yang sangat mewah. Acara tersebut di selenggarakan di sala satu Hotel mewah milik perusahaan Pratama Group. Dengan di hadiri seluruh kolega bisnis dan juga seluruh keluarga, acara tersebut berjalan dengan lancar dan meriah.
" Em... Aisyah. Liat aku, aku tampan, bukan? " Joko berdiri di dekat Aisyah, memamerkan ikat pinggang yang di berikan Aisyah dan Abian beberapa hari lalu.
" Iya tampan. " Aisyah tersenyum.
" Aku juga tampan 'kan Sya? " Jono ikut bicara.
" Iya... kalian berdua sangat tampan. " Aisyah tersenyum bahagia bersama Joko dan Jono yang juga menghadiri acara resepsi pernikahan Leo dan Selin.
Bahagia itu sederhana. Mungkin itulah yang di rasakan Aisyah saat ini, walaupun Joko dan Jono berasal dari keluarga biasa. Tapi untuk Aisyah, bahagia itu tidak pandang setatus ataupun kekayaan. Seperti saat ini, tertawa juga bercanda bersama Joko dan Jono sudah menjadi hiburan tersendiri untuk Aisyah.
" Em... bahagia sekali. Baru aa tinggal sebentar, kamu udah selingkuh di belakang aa sama temen-temen kamu ini. " goda Abian, Abian yang baru saja datang menghampiri, langsung memeluk Aisyah dari belakang, menjatuhkan kepalanya di pundak Aisyah.
" Idih... apaan coba? " Aisyah tersenyum.
" Aduhh... pak bos, kasihanilah kami yang jomblo ini. Kemesraan kalian itu, membuat jiwa jomblo kami berdua meronta-ronta... " ucap Joko merangkul Jono.
Mereka berempat pun tertawa bersama. Seiring berjalannya waktu Abian pun mulai terbiasa dengan kehadiran Joko dan Jono sebagai teman Aisyah juga Selin. Mulai bisa bercanda dan tertawa bersama mereka, tidak seperti dulu Abian selalu bersikap dingin atau kaku seperti kanebo kering.
" Apa kalian sudah mendapatkan pekerjaan? " tanya Abian masih memeluk Aisyah.
" Belum pak bos. Pak bos tau sendiri, jaman sekarang sulit sekali untuk mencari pekerjaan. Apalagi, kami berdua hanyalah orang kecil, sangat sulit sekali untuk kami mencari pekerjaan yang layak. " ucap Jono.
" Iya pak bos. Saya juga sudah ke sana kemari mencari pekerjaan, tapi gak dapat juga. Kayanya, kalau kami tidak mendapatkan pekerjaan yang sedikit layak, kami akan meneruskan usaha keluarga masing-masing. Biasalah pak bos, dagang kecil-kecilan di gerobak. " Joko tersenyum.
" Oh... gitu. Gimana kalau kalian coba melamar di perusahaan pratama? sebentar lagi perusahaan akan menyediakan lowongan pekerjaan untuk mencari kariawan baru. Kalian bisa mencobanya, siapa tau kalian bisa lolos seleksi. " ucap Abian menjelaskan.
" Wah... sungguh pak bos? " seolah mendapat angin segar, Jono dan Jono saat ini merasa beruntung.
" Ya. Aku serius, nanti aku kabari lagi tanggal dan waktu wawancaranya. " ucap Abian ramah.
" Wah... kita sangat beruntung. " Jono dan Joko tesenyum saling merangkul. Membuat Aisyah merasa terharu melihat kebahagiaan kedua temannya itu.
" Makasih a... " Aisyah tersenyum menatap Abian.
__ADS_1
" Sama-sama sayang. " Abian tersenyum manis masih memeluk Aisyah.
Tak lama terdengar suara mama Santi memanggil mereka. Aisyah dan Abian pun berpamitan kepada Joko dan Jono untuk menghampiri mama Santi yang terlihat sedang mengobrol bersama beberapa rekan bisnisnya.
" Sini sayang. " ucap Santi memanggil Abian dan Aisyah.
" Ini loh jeng anak dan menantuku. " Santi memperkenalkan Abian dan Aisyah kepada beberapa istri rekan bisnis Bagas yang baru kali ini bertemu.
" Oh... ini. Menantu jeng cantik ya, anak jeng juga tampan. Andai aja bertemunya lebih dulu sama putri saya, pasti udah jadi menantu saya sekarang. " ucap sala satu istri kolega bisnis Bagas. Mereka pun tertawa bersama.
" Udah lama nikahnya? " tanya sala satu istri kolega bisnis Bagas menatap Aisyah.
" Udah mau setahun tante. " ucap Aisyah ramah.
" Gimana, udah hamil? " tanya sala satu wanita yang lain.
Aisyah terdiam, merasa bingung harus menjawab apa. Sebenarnya pertanyaan yang di lontarkan oleh ibu-ibu itu adalah hal biasa. Namun, terasa sedikit menyentil di hati Aisyah yang sampai sekarang tak kujung hamil juga.
" Mohon doanya aja tante, semoga kami cepat di kasih momongan. " Abian ikut bicara, merangkul Aisyah erat. Abian tau, saat ini perasaan Aisyah sedang merasa tidak nyaman.
Setelah lama berbincang, Abian dan Aisyah mengundurkan diri dari kumpulan ibu-ibu istri dari para kolega bisnis Bagas itu. Aisyah berjalan mendekati meja untuk mengambil segelas air yang sudah tersedia, meninggalkan Abian di belakangnya.
Entah kenapa, saat ini Aisyah merasa tidak nyaman mendengar pertanyaan orang yang terdengar biasa namun sangat terasa sesak di hati.
Acara resepsi pernikahan Selin dan Leo berlangsung dengan meriah. Setelah acara hampir selesai, waktunya poto keluarga di lakukan. Berbagai gaya di lakukan untuk mendapatkan hasil poto yang bagus, Joko dan Jono pun ikut melakukan sesi poto bersama keluarga besar pratama.
" Akhh... lelah sekali. " gerutu Selin yang masih duduk di kursi pelaminan bersama Leo. Untungnya semua tamu sudah membubarkan diri, karna acara memang sudah selesai. Membuat Leo dan Selin bisa duduk dengan santai di pelaminan. Terlihat hanya ada beberapa kolega bisnis saja yang masih berbicang dengan Bagas.
" Lelah ya sayang? " Leo mendekatkan tubuhnya dengan Selin. " Belum malam pertama aja udah lelah, gimana kalau kita melakukannya nanti. " goda Leo membuat Selin tersipu malu.
" Idihh... mesranya. " goda Aisyah menghampiri bersama Abian. Ikut duduk di kursi samping pengantin.
" Gak nyangka, sekarang kalian udah Halal. Dan kau juga sekarang jadi adik iparku. " ucap Abian menunjuk Leo. Leo dan Selin tersenyum.
" Gimana, kalian berencana mau langsung memiliki momongan atau tidak? " tanya Aisyah.
" Tentu, jika tuhan berkehendak segera memberi kami momongan, kami akan sangat bahagia. " ucap Selin tersenyum menatap Leo.
" Iya, semoga hamilnya kita bisa barengan." ucap Aisyah antusias. Dan mendapat anggukan dari Selin.
Acara resepsi pun sudah selesai di laksanakan. Para tamu pun sudah pulang ke rumah mereka masing-masing. Dan pengantin pun sudah pergi ke kamar mereka untuk menikmati malam pertama mereka. Termasuk Abian dan Aisyah, mereka memutuskan pulang ke rumah untuk istirahat. Berbeda dengan Bagas dan Agus yang memilih menginap di sala satu kamar hotel tempat acara resepsi di selenggarakan.
__ADS_1
Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan tidak terasa mereka lalui dengan bahagia. Selin menjalani perannya menjadi ibu rumah tangga yang baik untuk Leo, dan sekarang Selin sudah mengandung anak pertama mereka, usia kandungannya baru menginjak dua bulan.
Joko dan Jono pun sekarang sudah bekerja menjadi sala satu kariawan baru di kantor pusat Pratama Group. Begitu juga dengan Aisyah dan Abian, mereka juga menjalani rumah tangganya dengan sangat bahagia.
Walaupun terkadang, mereka selalu di terpa isu yang tak sedap tentang Aisyah yang tak kunjung hamil. Abian dan Aisyah tetap tidak memperdulikan omongan orang di luar sana, mereka yakin suatu saat nanti tuhan akan memberikan mereka kepercayaan untuk mendapatkan momongan.
" Em... bumil, dari tadi makan buah aja. Makan yang lain juga dong biar seimbang dan sehat. " ucap Aisyah yang baru sampai di dapur, ikut duduk di samping Selin.
" Gak mau ah. Rasanya mual kalau makan yang lain, enaknya makan buah-buahan aja, rasanya seger gitu, mungkin bawaan dede bayi yang ada dalam kandungan aku." ucap Selin sambil memakan potongan buah yang di sajikan di atas piring.
" Ya. Itu benar, orang bilang kalau lagi hamil muda memang begitu, apalagi di trimester pertama. " tambah Aisyah.
" Em... anak sama menatu mamah lagi pada ngapain di sini? " Santi yang baru datang ikut bicara, tersenyum ramah.
" Lagi makan buah mah. " ucap Selin.
" Ya sudah, sekarang ikut mamah ke ruang keluarga. Teman-teman arisan mamah sudah pada datang. Nanti mamah kenalin kalian sama mereka. " ucap Santi mendapat anggukan dari Selin dan Aisyah.
Selin dan Aisyah yang sudah bergabung di ruang keluarga, ikut duduk di sofa bersama dengan ibu-ibu teman arisan Santi.
" Wah... ini putri sama menantu jeng 'kan? " tanya sala satu ibu-ibu.
" Iya jeng. Yang ini putri saya, dan yang itu menantu pertama saya istrinya Abian. " Santi menjelaskan.
" Ngomong-ngomong katanya putri jeng lagi hamil ya? " tanya Ibu-ibu yang lain.
" Iya jeng. Baru dua bulan. " ucap Santi tersenyum ramah.
" Wah... hebat ya. Belum genap setengah tahun mereka menikah, menantu jeng itu sudah bisa buat putri jeng hamil. " ucap ibu-ibu yang lain. Santi, Selin dan Aisyah hanya tersenyum menanggapi omongan mereka.
" Kalau menantu jeng yang ini udah hamil apa belum? " sala satu ibu-ibu menunjuk Aisyah. Membuat Aisyah terdiam seribu bahasa. Selin dan Santi saling tatap, mereka tau pertanyaan seperti itu pasti akan sedikit menyinggung hati Aisyah.
" Em... itu... menantu saya, istrinya Abian belum hamil jeng. Nanti juga kalau tuhan berkehendak, pasti menantu saya akan hamil juga. " ucap Santi yang secara tidak langsung membela Aisyah. Sementara Selin yang duduk di samping Aisyah, memegang tangan Aisyah, tersenyum menatap Aisyah mengangguk menyemangati.
" Hati-hati loh jeng. Nanti, kalau menantu jeng yang ini tidak hamil juga. Bisa-bisa anak jeng Abian mencari wanita lain di luar sana. " sindir ibu-ibu yang lain. Seketika suasana berubah semakin tegang. Mendengar perkataan orang lain seperti itu, membuat hati Aisyah terasa sesak dan sakit. Walaupun di luar Aisyah tersenyum tapi tidak dengan hatinya.
" Mah... Aisyah ke belakang dulu. Aisyah baru ingat, kalau Aisyah masih memiliki pekerjaan. " ucap Aisyah beralasan berdiri dari duduknya, tersenyum ramah berpamitan kepada seluruh ibu-ibu yang ada di sana.
Walaupun Aisyah bisa tersenyum di hadapan orang lain, tapi bagi Santi dan Selin senyuman Aisyah adalah senyuman yang di paksakan untuk menyembunyikan rasa sakit di hatinya karna mendengar sindiran orang lain.
Aisyah pergi ke kamarnya dan Abian di rumah Bagas. Masuk ke dalam kamar, menangis sendiri meratapi nasibnya yang tak kunjung hamil.
__ADS_1
Ya Alloh... apa salahku? hingga kau memberi cobaan yang sangat berat untuku... Sampai kapan aku harus menunggu kau memberikan keturunan untuku dan juga suamiku hiks... hiks...
Dalam kesendirian di dalam kamar, Aisyah menangis pilu menahan sakit dan sesak di hatinya.